NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:598
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Skincare Menolak Tua, Tapi Uban Tak Bisa Dusta

"Oh, saya akan berpikir. Saya akan berpikir tentang bagaimana cara terbaik untuk membuka mata semua orang tentang dirimu," Arsa membalas, suaranya tetap santai. "Termasuk mata si brondong itu. Jangan lupa, Ekantika, saya punya semua bukti. Semua video dan log chat manismu dengan Riton. Aku bisa menghancurkanmu kapan saja."

Ekantika tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah keluar dari restoran, meninggalkan Arsa sendirian dengan gelas wine dan senyum kemenangan. Setiap langkahnya terasa seperti pelarian. Rasa sakit, ketakutan, dan amarah berpadu menjadi satu di dadanya. Aku harus jujur. Aku tidak bisa membiarkan Arsa melakukan ini. Aku harus menyelamatkan Riton dari kehancuran yang akan datang.

Di dalam mobilnya, Ekantika mengambil napas dalam-dalam. Ia melihat pesan balasan dari Riton.

Riton: "Oke, Na. Di mana? Aku akan ke sana sekarang."

Ekantika menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Di mana? Di mana kita bisa bicara tanpa filter, tanpa topeng? Ia memikirkan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, kafe-kafe ramai di Tebet, taman kota yang romantis. Tidak ada yang terasa pas. Semua tempat itu sudah ternodai oleh kebohongannya.

Lalu ia teringat sebuah tempat. Atap gedung tua di dekat kantornya, tempat ia biasa melarikan diri saat stres melanda. Tempat yang sepi, tinggi, dan terbuka. Tempat di mana ia bisa melihat kota, namun tidak terlihat oleh kota.

Nana: "Di atap gedung lama sebelah kantorku. Kamu tahu kan? Nanti aku kasih tahu aksesnya."

Riton membalas cepat: "Oke. Sampai ketemu di sana."

*

Ekantika tiba di atap gedung tua itu beberapa saat kemudian. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, sedikit menenangkan gejolak di hatinya. Di tangannya, sebuah tas berisi pakaian kasual Nana, jaket hoodie, dan jeans. Ia tidak bisa datang sebagai Ekantika Asna. Setidaknya belum. Ia harus memulai sebagai Nana, persona yang Riton cintai, sebelum ia berani menelanjangi dirinya.

Ia mengganti pakaiannya di mobil, mengenakan hoodie abu-abu dan celana jeans yang nyaman. Riasannya dihapus sebersih mungkin, meninggalkan wajah aslinya yang lelah, namun jujur. Rambutnya diikat asal, memperlihatkan beberapa helai uban tipis di pelipisnya. Ini dia, Nana yang sesungguhnya. Wanita 35 tahun yang mencoba terlihat seperti 26 tahun.

Atap itu luas, dengan pagar pembatas setinggi pinggang dan beberapa unit pendingin ruangan raksasa yang tidak lagi berfungsi. Lampu-lampu kota Jakarta terhampar di bawahnya, seperti permadani berlian yang tak berujung. Sungai Ciliwung terlihat seperti garis perak yang meliuk di antara hutan beton. Suara klakson dari kejauhan, desiran angin malam, semuanya menciptakan orkestra kesunyian yang menenangkan.

Riton tiba tidak lama kemudian, mengenakan jaket kulit dan kaus gelap. Langkahnya mantap, namun tatapan matanya masih menyimpan keraguan yang dalam. Ia berjalan mendekat ke Ekantika, yang sudah berdiri di tepi pagar, menatap kota.

"Na," Riton memanggil, suaranya lembut.

Ekantika berbalik, memaksakan seulas senyum tipis. "Ton. Makasih sudah mau datang."

Riton mengangguk, lalu berdiri di sampingnya, ikut menatap pemandangan kota. "Nggak masalah. Kamu bilang ada masalah sama 'Tante' kamu. Aku khawatir." Ada jeda. "Dan juga... aku butuh penjelasan soal tadi di restoran. Arsa... dia menyebut nama kamu, Nana. Dan dia bilang banyak hal aneh tentang 'Tante' kamu."

Ekantika menelan ludah. Ini dia. Saatnya menghadapi konsekuensi. "Arsa memang orang yang jahat, Ton. Dia suka memanipulasi orang lain untuk keuntungannya sendiri." Ia menarik napas dalam-dalam. "Soal 'Tante'ku... Aku tahu ini akan sulit bagimu. Tapi... 'Tante'ku itu, dia punya banyak masalah. Dan dia itu... dia adalah aku."

Riton menoleh cepat, matanya melebar. "Maksudmu... kamu dan 'Tante'mu... mirip?"

Ekantika menggeleng, menatap Riton lurus. "Bukan. Maksudku... 'Tante'mu itu, aku. Ekantika Asna itu adalah aku, Riton." Ia mengucapkan kata-kata itu, setiap suku kata terasa seperti pecahan kaca yang melukai lidahnya. Tubuhnya bergetar. Ia menunggu reaksi Riton, siap menghadapi amarah, jijik, atau penolakan.

Namun, Riton hanya menatapnya, ekspresinya kosong. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang panjang.

"Aku... aku tidak mengerti, Na," Riton berkata, suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Kamu bilang... kamu Ekantika Asna?"

Ekantika mengangguk, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Iya, Ton. Aku Ekantika Asna. Aku... aku membohongimu tentang umurku, tentang pekerjaanku, tentang segalanya. Aku... aku minta maaf."

Riton mengalihkan pandangannya kembali ke kota, keheningan menyelimuti mereka lagi. Udara dingin terasa menusuk. Hanya ada suara angin yang berdesir. Ekantika tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa berdiri di sana, rapuh, telanjang di hadapan kebenaran yang baru saja ia ungkapkan.

"Kenapa, Na?" Riton bertanya, suaranya terdengar hampa. "Kenapa kamu melakukan ini?"

Ekantika merasakan air matanya mengalir deras di pipinya. Ia tidak bisa lagi menahannya. "Aku... aku takut, Ton. Aku takut menjadi 'janda CEO' berusia 35 tahun yang tidak diinginkan siapa pun. Aku takut melihat diriku menua. Aku takut... aku tidak bisa lagi dicintai apa adanya."

Ia mulai menceritakan semuanya, bukan sebagai Nana, bukan sebagai Ekantika, tapi sebagai dirinya sendiri. Sebagai seorang wanita yang terperangkap dalam ketakutan dan ekspektasi.

"Ada seorang wanita," Ekantika memulai, suaranya serak karena tangisan. "Seorang wanita yang telah berjuang seumur hidupnya untuk membangun karier. Dia sukses, dia dihormati, dia punya segalanya yang orang lain inginkan. Tapi di balik semua itu, dia merasa kosong. Dia merasa kehilangan dirinya yang dulu ceria, yang dulu riang, yang dulu percaya pada cinta."

Riton mendengarkan, tatapannya masih tertuju pada kota, namun ada ketegangan di bahunya.

"Wanita itu," Ekantika melanjutkan, "Dia dijuluki 'Janda CEO'. Sebuah label yang terasa seperti cap merah di dahinya. Orang-orang melihatnya dengan tatapan kasihan, atau tatapan curiga. Mereka berpikir, 'pasti ada yang salah dengannya sehingga dia ditinggalkan suaminya'. Mereka melihatnya sebagai wanita yang terlalu kuat, terlalu ambisius, terlalu tua untuk dicintai lagi."

Ia menghela napas, mengusap air matanya. "Lalu dia bertemu seorang pria. Pria yang jauh lebih muda darinya. Pria yang tulus, baik hati, dan punya mimpi besar. Pria yang melihatnya bukan sebagai 'Janda CEO', melainkan sebagai seorang wanita yang menarik, cerdas, dan menyenangkan. Tapi wanita itu... dia terlalu takut. Terlalu takut jika pria itu tahu siapa dia sebenarnya. Takut pria itu akan lari jika tahu dia sudah tua, dia janda, dia punya masa lalu yang kelam."

Ekantika menatap profil Riton, berharap ia akan melihat kebenaran di balik metafora ini. "Jadi, wanita itu menciptakan sebuah topeng. Sebuah identitas baru. Dia ingin dicintai bukan karena kekuasaannya, bukan karena uangnya, tapi karena dirinya yang sebenarnya. Dirinya yang sudah lama hilang. Dia ingin kembali menjadi gadis yang ceria, yang bebas, yang tidak terbebani oleh stigma."

Riton terdiam. Ia tidak bergerak. Ekantika tidak tahu apakah Riton menelan mentah-mentah cerita metafora ini, atau apakah ia sudah menangkap inti kebenarannya.

"Tapi semakin lama dia bersembunyi di balik topeng itu," Ekantika berkata, suaranya bergetar, "semakin ia menyakiti pria yang ia cintai. Setiap kebohongan, setiap drama, setiap manipulasi, terasa seperti pisau yang ia tusukkan ke hati pria itu. Dan yang paling menyakitkan... adalah dia tahu, suatu hari nanti, topeng itu akan runtuh. Dan saat itu terjadi, dia akan kehilangan segalanya. Kehilangan pria yang ia cintai, kehilangan kepercayaan, kehilangan dirinya sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!