NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang tak bisa disembunyikan

Suasana di sekitar pelataran Masjidil Haram sangat padat. Ribuan manusia dari berbagai penjuru dunia tumpah ruah setelah salat Asar. Sidik sedang menuntun Zaenab perlahan, menghindari desakan orang, ketika tiba-tiba sebuah suara serak memanggil nama aslinya—nama yang hanya digunakan saat ia masih mengenakan seragam hijau rimba.

"Sersan Sidik? Sersan Sidik Prawiro?"

Sidik tertegun. Langkahnya terhenti. Ia menoleh perlahan dan melihat seorang pria tua dengan satu kaki kayu, duduk di atas kursi roda yang didorong oleh seorang pemuda. Pria itu mengenakan peci hitam yang sudah pudar, namun sorot matanya masih setajam elang.

"Tugimin?" desis Sidik. Jantungnya berdegup kencang.

Tugimin adalah sahabat seperjuangannya di Batalyon infanteri, saksi hidup saat mereka merangkak di parit-parit pertahanan. Tugimin kini menetap di Makkah bersama anaknya setelah mendapat santunan dari kerabatnya yang sukses.

"Subhanallah! Ini benar kau, Sidik?" Tugimin memegang tangan Sidik dengan gemetar. "Bagaimana bisa? Aku dengar dari teman-teman veteran di Jakarta, permohonan paspormu ditolak mentah-mentah. Mereka bilang kau frustrasi dan menghilang di hutan Jawa. Tapi sekarang... kau berdiri di sini?"

Sidik melirik Zaenab yang tampak cemas, lalu kembali menatap Tugimin. Ia berusaha tetap tenang. "Allah punya jalan lain, Min. Aku di sini hanya untuk mengantar istriku."

Tugimin mengerutkan kening, ia melihat ke sekeliling dengan curiga. "Tapi Sidik, namamu tidak ada dalam manifest jemaah Indonesia tahun ini. Aku punya saudara yang bekerja di kantor urusan haji. Dia bilang tidak ada nama veteran bernama Sidik yang masuk ke Saudi. Bagaimana kau melewati pemeriksaan imigrasi Jeddah? Kau tahu kan, pemerintah di sini sangat ketat?"

Sidik terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia terbang di atas selembar serabut kelapa.

"Aku masuk lewat jalur doa, Min. Jangan banyak bertanya," jawab Sidik singkat, mencoba mengakhiri percakapan.

Namun Tugimin, dengan sisa-sisa jiwa intelijennya, merasa ada yang tidak beres. "Sidik, kau kawan baikku. Tapi hati-hati. Ada intelijen kita yang juga memantau veteran-veteran di sini. Kalau kau masuk tanpa dokumen resmi, kau bisa dianggap penyusup atau pelarian politik.

Zaenab meremas tangan Sidik. Ketakutan mulai merayap di hatinya. Impiannya untuk meninggal dengan tenang di sini seolah terancam oleh birokrasi yang dulu menolak mereka, kini justru mengejar mereka hingga ke tanah suci.

"Pulanglah ke kontrakanmu, Min. Anggap saja kau tidak pernah melihatku," ucap Sidik dengan nada final.

Saat Tugimin berlalu, Sidik menatap langit Makkah yang mulai berubah warna menjadi ungu. Ia tahu, kehadirannya yang tanpa jejak fisik di catatan pemerintah telah menciptakan lubang di dunia nyata.

"Kang, apakah mereka akan menangkap kita?" tanya Zaenab dengan suara bergetar.

Sidik menatap istrinya, lalu tersenyum tipis. "Zae, mereka punya catatan kertas, tapi aku punya restu bumi dan langit. Selama Mbah Pupus masih menjagaku, tidak ada mata manusia yang bisa menyentuhmu. Fokuslah pada ibadahmu, biarkan urusan paspor itu menjadi urusanku."

Malam itu, Sidik menyadari bahwa persembunyian mereka tidak lagi sesunyi sebelumnya. Masa lalu sebagai prajurit dan kekecewaannya pada pemerintah kini membayangi perjalanan spiritual mereka.

****

Tugimin, yang didorong oleh rasa khawatir berlebih dan loyalitas lamanya pada aturan militer, akhirnya membocorkan keberadaan Sidik kepada seorang kenalannya di kantor perwakilan. Ia mengira dengan melaporkan Sidik, sahabatnya itu akan dideportasi dengan hormat dan diberi paspor resmi. Ia tidak tahu bahwa bagi Sidik, kembali ke tanah air adalah luka yang tak ingin ia buka lagi.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat dan menyisakan bayangan panjang di antara bukit-bukit batu, beberapa pria berpakaian sipil dengan gerak-gerik tegap mulai terlihat di sekitar kontrakan kumuh tempat Sidik dan Zaenab tinggal.

"Kang, mereka datang..." bisik Zaenab dari balik jendela kecil. Wajahnya pucat pasi. Ia melihat dua orang pria mondar-mandir di bawah, memegang secarik kertas yang kemungkinan besar berisi foto masa muda Sidik.

Sidik mendekat, ia mengelus kepala istrinya. "Tenang, Zae. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat."

Tiba-tiba, pintu kontrakan mereka digedor dengan keras. "Pak Sidik! Kami dari perwakilan pemerintah. Kami hanya ingin bicara!"

Sidik tidak menjawab. Ia mengambil jubah pemberian Mbah Pupos yang ia simpan di dalam koper. Ia memejamkan mata, lalu merapal do'a - do'a.

"Zae, kemarilah, peluk aku," perintah Sidik.

Saat pintu didobrak paksa, para petugas itu masuk dengan senjata mental yang siap. Namun, mereka tertegun. Di dalam ruangan sempit itu, mereka tidak melihat siapa-siapa. Yang ada hanyalah sebuah ruangan kosong dengan sisa aroma kayu cendana yang kuat.

"Kosong! Bagaimana mungkin? Kita sudah mengepung semua pintu keluar!" teriak salah satu petugas.

Padahal, Sidik dan Zaenab berdiri tepat di depan mereka. Sidik berdiri mematung, merangkul Zaenab dengan jubah "halimun" yang tak kasat mata. Zaenab bisa melihat wajah panik para petugas itu dari jarak hanya beberapa jengkal, namun bagi para petugas, ruangan itu benar-benar tak berpenghuni.

"Ayo keluar lewat lorong belakang," bisik Sidik di telinga Zaenab. Suaranya tidak terdengar oleh orang lain.

Mereka berjalan perlahan menembus para petugas yang kebingungan. Namun, tantangan sebenarnya ada di luar. Makkah adalah kota yang tak pernah tidur, dan intelijen mulai memasang barikade di jalur-jalur menuju Masjidil Haram.

"Mereka mencari veteran tanpa dokumen!" teriak seorang petugas di radio panggil.

Sidik tahu, ia tidak bisa terus-menerus menggunakan ilmu halimun ini karena akan menguras tenaganya. Ia butuh cara yang lebih cepat. Mereka sampai di sebuah gang buntu yang dijaga oleh mobil patroli.

"Zae, kau masih ingat cara kita ke sini?" tanya Sidik.

Zaenab mengangguk mantap. Ia sudah tidak takut lagi. "Lakukan apa yang harus Akang lakukan. Aku hanya ingin bersama Akang, sampai di depan Kabah nanti."

Sidik mengeluarkan serabut kelapa yang lebih besar. Ia menghentakkan kakinya ke bumi Makkah. Tiba-tiba, angin puyuh kecil membawa debu pasir berputar di sekitar mereka, menciptakan tabir asap yang pekat.

Saat debu itu hilang, Sidik dan Zaenab sudah terbang melesat ke atas atap-atap bangunan tua, menghindari kejaran mata-mata yang terheran-heran melihat bayangan yang terbang secepat kilat.

Di atas bukit Jabal Nur, Sidik berhenti sejenak. Ia melihat ke bawah, ke arah cahaya Masjidil Haram yang abadi.

"Mereka punya hukum dunia, Zae. Tapi kita punya hukum cinta. Mereka takkan pernah bisa menangkap angin," ujar Sidik tegas.

Namun, di tengah pelarian itu, Zaenab tiba-tiba terbatuk darah. Tubuhnya melemah. Nampaknya, energi besar dari perjalanan magis dan ketegangan pengejaran mulai menggerogoti fisiknya yang renta.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!