SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Deru Mesin dan Aspal Malam
Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang perlahan tertutup asap kendaraan di depan bengkel. Askara menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang sudah berubah warna menjadi abu-abu karena debu dan oli.
Tangannya yang kasar baru saja selesai merakit kembali mesin motor pelanggan terakhirnya hari itu. Tubuhnya pegal, punggungnya terasa kaku karena terus-menerus membungkuk, tapi Aska tidak punya waktu untuk mengeluh.
Pemilik bengkel menghampirinya, memberikan beberapa lembar uang hasil keringatnya hari itu. "Ini jatah kamu, Ka. Makasih ya, hari ini rame banget."
"Makasih, Bang," jawab Aska singkat. Ia menyimpan uang itu di saku celananya dengan hati-hati. Uang itu nyawanya—untuk beras, untuk susu adiknya, dan tentu saja untuk obat ibunya.
Namun, pekerjaan Aska belum selesai. Begitu azan Magrib berkumandang, ia membersihkan wajahnya sekilas di keran air bengkel, meski noda oli di sela-sela kukunya tetap membandel. Ia segera mengganti kausnya dengan jaket tebal.
Inilah alasan utama kenapa Aska tidak pernah mau menjual motor bututnya meski teman-temannya di sekolah sering mengejeknya. Motor ini bukan sekadar kendaraan; motor ini adalah alat tempurnya untuk mencari nafkah sebagai kurir makanan daring (*GoFood*) di malam hari.
*Double job*. Itulah realita hidup Askara Mahendra setelah matahari terbenam.
Sambil menunggu pesanan pertama masuk di aplikasinya, Aska duduk di atas motornya, menatap nanar ke arah jalanan. Pikirannya melayang pada masa lalu yang sering dibisikkan teman-teman Aruna di sekolah.
Mereka benar, dulu keluarga Aska bukan orang sembarangan. Ia pernah merasakan hidup nyaman, pulang-pergi diantar mobil mewah, dan tinggal di rumah besar yang sejuk.
Semua hancur ketika ambisi ayahnya membutakan segalanya. Ayahnya terlilit hutang dan gaya hidup, hingga akhirnya nekat melakukan korupsi besar-besaran di perusahaannya. Ibunya, wanita yang menjunjung tinggi kejujuran, adalah orang pertama yang menentang keras saat mengetahui asal-usul uang tambahan yang dibawa ayahnya pulang.
*"Aku nggak mau anak-anak makan dari uang haram!"* Kalimat ibunya malam itu masih terngiang jelas di telinga Aska.
Pertengkaran hebat meledak. Ibunya memilih pergi dan menggugat cerai demi menyelamatkan martabat anak-anaknya. Sementara sang ayah? Bukannya bertanggung jawab atau menebus kesalahan, pria itu justru kabur entah ke mana, meninggalkan setumpuk hutang dan membiarkan mereka jatuh miskin dalam semalam.
*Denting!*
Ponselnya berbunyi. Ada pesanan masuk. Aska langsung memakai helmnya, menghalau segala kenangan pahit itu ke sudut terjauh pikirannya. Ia harus fokus.
Malam itu, Aska membelah jalanan kota yang dingin. Ia mengantar martabak ke perumahan elit, lalu mengantar ayam bakar ke apartemen tinggi. Berkali-kali ia harus naik-turun tangga dan menembus angin malam yang menusuk tulang. Lelahnya berkali-kali lipat dibanding berdiri satu kaki di depan kelas Pak Irwan tadi siang.
Sekitar pukul delapan malam, saat ia berhenti di lampu merah, matanya menangkap sosok yang familiar. Di dalam sebuah mobil sedan putih yang berhenti tepat di samping motornya, ia melihat Aruna. Gadis itu tampak sedang menyandarkan kepala di kaca jendela, terlihat lelah setelah mungkin pulang dari bimbingan belajar tambahan.
Aska segera menurunkan kaca helmnya sedikit, tidak ingin Aruna melihatnya dalam kondisi seperti ini—dengan jaket kurir yang agak kusam dan wajah yang kelelahan.
*Kita beda dunia, Na,* batinnya saat lampu berubah hijau dan mobil itu melesat lebih dulu.
Aska menarik gas motornya, kembali menyusuri aspal. Meski ayahnya pergi dan hidupnya berantakan, Aska tidak pernah membenci ibunya karena memilih kemiskinan daripada uang korupsi. Justru karena itulah, ia rela bekerja sampai titik darah penghabisan.
Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak, membiayai sekolah adiknya, dan mengobati ibunya dengan uang yang benar-benar bersih—uang yang ia dapatkan dari setiap baut yang ia putar dan setiap kilometer yang ia tempuh di dinginnya malam.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻