Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Beberapa hari berlalu, percakapan soal mimpi membuka butik itu masih terus menghantui pikiran Arka. Ia benar-benar ingin mewujudkannya, namun tembok keterbatasan dana terasa begitu tinggi dan sulit ditembus.
Uang tabungan mereka tinggal sedikit, aset-aset besar sudah habis terjual atau disita demi menutupi kerugian perusahaan, dan gaji yang ia dapatkan sekarang hanya cukup untuk makan sehari-hari dan kebutuhan Arfan yang paling mendesak saja.
Siang itu, saat Arka sedang duduk termenung memandangi sketsa-sketsa indah milik Aluna, pintu rumah kontrakan mereka diketuk. Ternyata itu adalah Kenzi.
Pria itu datang seperti biasa, membawa sedikit buah dan kebutuhan bayi, sekadar untuk menjaga silaturahmi dan memastikan Aluna serta Arfan baik-baik saja.
"Wah, banyak sekali gambar-gambar bagus di sini," ucap Kenzi saat matanya menangkap tumpukan kertas sketsa di atas meja. Ia mengambil satu per satu dan melihatnya dengan seksama.
"Desainnya benar-benar luar biasa, Aluna. Punya ciri khas sendiri, elegan, dan modern. Ini pasti punya nilai jual yang tinggi sekali," puji Kenzi tulus.
Aluna tersenyum kecil lalu menceritakan sedikit tentang keinginan mereka. "Iya Mas Kenzi. Kami memang pengen banget mulai usaha baju dari desain-desain ini. Tapi kan lagi susah dana nya. Belum ada modal sepeser pun buat beli bahan dan alat."
Kenzi mengangguk-angguk, lalu menatap Arka yang duduk diam di sana. Sebagai seorang pengusaha yang sukses, Kenzi melihat peluang besar di sini.
Dan sebagai teman yang baik, ia ingin membantu tanpa bermaksud merendahkan.
"Gini saja Mas Arka..." Kenzi memulai pembicaraan dengan nada serius namun sopan.
"Kalau kalian berdua tidak keberatan, bagaimana kalau kita bekerja sama?" ucap Kenzi menawarkan.
"Saya bersedia memberikan modal yang dibutuhkan. Mulai dari pembelian bahan baku, mesin jahit, hingga biaya promosi nanti. Saya yang tanggung semuanya."
"Tentu saja ini bukan pemberian cuma-cuma. Ini murni investasi bisnis. Keuntungan nanti kita bagi sesuai porsi yang adil. Mas Arka dan Aluna yang urus operasional dan desainnya, saya yang dukung dari sisi permodalan. Bagaimana?"
Tawaran itu terdengar sangat masuk akal, sangat menguntungkan, dan jelas-jelas akan menjadi jalan keluar paling cepat bagi masalah mereka saat ini.
Namun, mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kenzi, wajah Arka langsung berubah tegang. Rasa gengsi dan harga dirinya yang baru bangkit kembali seakan tersentil keras.
Ia mengingat betul kejadian di rumah sakit dulu, dan ia tidak ingin lagi merasa kecil hati atau merasa hidupnya ditopang oleh orang lain, apalagi pria yang pernah ia cemburui itu.
"Maaf Kenzi, tapi jawabanku tetap tidak bisa," sahut Arka datar dan tegas, tanpa ragu sedikitpun.
Kenzi tampak terkejut. "Kenapa Mas? Ini kan kesempatan bagus. Dengan cara ini usaha kalian bisa langsung besar dan cepat berkembang."
"Aku tahu itu," potong Arka, suaranya terdengar berat.
"Tapi aku ingin usaha ini benar-benar milik kami. Aku tidak ingin menerima suntikan dana dari pihak luar sekarang, apalagi dalam jumlah besar," tambahnya.
"Aku tidak ingin nantinya ada perasaan berhutang, atau merasa bahwa kesuksesan istriku ini dibeli oleh uangmu. Aku ingin membuktikan bahwa dengan bakat Aluna dan kerja keras kami, kami bisa bangkit dengan kekuatan sendiri."
"Jadi tolong maafkan aku, tapi tolong hargai keputusanku ini. Kami lebih baik memulainya dari yang sangat kecil dulu, asal itu murni hasil usaha dan keringat kami sendiri."
Suasana menjadi hening sejenak. Kenzi menatap mata Arka dalam-dalam, mencoba membaca ketulusan dan prinsip yang dipegang teguh oleh pria itu. Akhirnya ia menghela napas dan tersenyum mengangguk hormat.
"Baiklah Mas... Aku mengerti. Aku salut dengan prinsip dan kesungguhan kalian. Oke, aku tidak akan membahas soal modal lagi."
"Tapi ingat, kalau nanti kalian butuh bantuan lain yang bukan soal uang, atau sekadar saran bisnis, aku masih siap membantu kapan saja."
Setelah berbincang sedikit lebih lama, Kenzi pun pamit undur diri. Kini tinggalah Arka dan Aluna berdua di ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk.
Aluna mendekati suaminya, menggenggam tangan pria itu lembut. "Tuan benar-benar menolaknya ya? Padahal kan tawaran Mas Kenzi itu sangat membantu sekali posisi kita yang sedang sulit ini."
Arka menoleh, menatap wajah istrinya dengan senyum yakin. "Iya sayang, aku menolaknya. Bukan karena aku benci atau sombong, tapi karena aku ingin kita berjuang sepenuhnya."
"Memang sekarang kita tidak punya uang, tidak punya alat, dan tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi percayalah, Tuhan tidak akan menutup satu pintu rezeki tanpa membuka pintu lainnya yang jauh lebih baik."
"Kita akan cari caranya. Kita mulai dari apa yang ada di tangan kita sekarang. Mungkin besok atau lusa, akan ada jalan lain yang muncul yang jauh lebih membanggakan daripada sekadar menerima modal orang lain."
Aluna tersenyum, hatinya merasa tenang dan percaya pada suaminya. "Baiklah Tuan. Apapun keputusan Tuan, Aluna akan ikut dan mendukung terus. Kita cari jalan lain ya."
Meskipun rencana membuka butik itu masih tertahan di tahap angan-angan karena belum ada sepeser pun dana, namun semangat di hati mereka tidak luntur.
Mereka sadar, perjuangan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan kali ini mereka harus benar-benar mengandalkan keajaiban dari usaha dan doa.