NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Yang Retak

​Kanaya tidak bisa memejamkan mata meski jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kamar mewah ini terasa seperti peti mati yang dilapisi sutra. Pikirannya terus berputar pada ucapan Arkan : properti milikku. Kata-kata itu bukan sekadar penghinaan, itu adalah pengumuman perang.

​Tenggorokannya terasa sangat kering, seolah-olah ia baru saja menelan pasir. Kanaya bangkit dari ranjang, keluar kamar dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia butuh air untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.

​Lampu apartemen sudah redup, namun langkahnya terhenti saat melihat cahaya remang keluar dari celah pintu ruang kerja Arkan. Kanaya menoleh ke arah koridor menuju kamar Arkan. Sepi. Aturan nomor satu pria itu bergema di kepalanya: Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izin.

​"Persetan dengan aturanmu," bisik Kanaya pelan. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan ancaman Arkan.

​Ia mendorong pintu kayu jati itu perlahan. Ruangan itu kosong, hanya menyisakan aroma maskulin yang kental. Arkan mungkin sedang mandi atau berada di bagian lain apartemen ini. Kanaya masuk dengan jantung yang berdegup kencang, setiap langkahnya terasa seperti pengkhianatan terhadap nyawanya sendiri.

​Matanya langsung tertuju pada tumpukan berkas di atas meja besar yang diterangi lampu meja temaram. Ia membolak-balik kertas-kertas itu dengan cepat, hingga tangannya membeku pada sebuah map merah bertuliskan “Confidential – Project B”.

​Kanaya membukanya. Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan yang persis seperti yang dibawa ayahnya sebelum ditangkap. Namun, ada yang berbeda. Di lembar terakhir, terselip sebuah memo kecil yang ditulis tangan dengan tinta hitam tebal.

​“Baskara sudah diposisikan. Dana dialihkan ke rekening dummy atas namanya pukul 09.00. Eksekusi laporan polisi besok pagi sebelum dia bicara pada media.”

​Di bawah instruksi kejam itu, terukir sebuah tanda tangan yang sangat ia kenali. Tajam, angkuh, dan mutlak. Tanda tangan Arkan Dirgantara.

​Dunia Kanaya seakan berhenti berputar. Map itu bergetar hebat di tangannya. Jadi benar, semua ini bukan kebetulan. Arkan bukan penyelamat yang datang di saat terakhir. Arkan adalah sang sutradara yang menciptakan neraka ini hanya untuk memaksa Kanaya menyerahkan diri ke pelukannya.

​"Sudah puas membacanya, Nyonya Arkan?"

​Suara rendah itu memecah keheningan seperti ledakan bom. Kanaya tersentak hebat hingga map itu terlepas dari tangannya, kertas-kertasnya berhamburan di atas lantai marmer.

​Arkan berdiri di ambang pintu. Ia hanya mengenakan celana kain hitam, kemeja hitamnya dibiarkan terbuka sepenuhnya memperlihatkan dada tegapnya yang berkeringat. Rambutnya yang sedikit basah menandakan ia baru saja selesai berolahraga atau mandi. Tatapannya sangat dingin, lebih tajam dari sembilu.

​"Kamu... kamu pelakunya," suara Kanaya bergetar hebat, jarinya menunjuk kertas-kertas yang berserakan di lantai. "Tanda tangan ini. Tulisan ini. Kamu yang merencanakan semuanya! Kamu sengaja menjebak Ayah!"

​Arkan melangkah masuk dengan tenang. Ia tidak tampak panik sedikit pun rahasianya terbongkar. Pria itu justru menutup pintu dengan bunyi klik yang mengintimidasi, seolah-olah sedang mengunci mangsanya di dalam sangkar.

​"Kamu melanggar aturan nomor satu, Kanaya. Dan aku tidak suka orang yang tidak bisa diatur," ucap Arkan sambil membungkuk, memungut lembar demi lembar berkas yang berantakan dengan gerakan yang sangat lambat.

​"Persetan dengan aturanmu!" Kanaya menerjang, memukul dada Arkan dengan kedua tangannya yang terkepal. Air mata amarah meledak seketika. "Kenapa? Apa salah Ayah padamu? Dia setia pada perusahaanmu! Kenapa kamu harus menghancurkan hidup kami hanya untuk menjadikan aku jaminan?"

​Arkan menangkap kedua pergelangan tangan Kanaya dengan satu tangan besar, menguncinya dengan mudah lalu mendorong tubuh Kanaya hingga terdesak ke pinggiran meja jati itu. Ia mengunci Kanaya di antara kedua lengannya.

​"Dengar, Kanaya. Jangan jadi naif," desis Arkan tepat di depan wajah Kanaya. "Ayahmu menemukan bukti penggelapan yang dilakukan oleh dewan direksi lama yang ingin menggulingkanku. Kalau aku tidak 'mengamankannya' di penjara dengan tuduhan palsu buatanku sendiri, orang-orang itu akan melenyapkannya secara permanen. Aku tidak menjebaknya untuk menghancurkannya. Aku menjebaknya agar aku punya alasan legal untuk menyembunyikannya di tempat yang hanya aku yang bisa menyentuhnya."

​"Bohong!" Kanaya meludah tepat di depan wajah Arkan. "Kamu cuma butuh alasan untuk memaksaku menikahimu. Kamu monster, Arkan! Kamu memanfaatkan nyawa orang tua untuk obsesi gila ini!"

​Arkan menyeka wajahnya perlahan dengan punggung tangan, lalu mencengkeram rahang Kanaya dengan kasar hingga wanita itu meringis kesakitan. "Ya, aku memang butuh alasan. Dan aku butuh kamu. Kamu pikir aku akan membiarkan wanita sepertimu berakhir dengan pria sampah seperti Vandiko? Tidak akan. Kalau aku harus membakar dunia hanya untuk membuatmu berdiri di sampingku, akan kulakukan."

​"Aku bukan barang milikmu yang bisa kau beli dengan cara kotor begini!"

​"Setelah tanda tangan di kontrak itu, setiap inci dari tubuhmu dan setiap napas yang kamu hirup adalah milikku," bisik Arkan dengan nada yang sangat rendah namun mengancam. "Kamu tahu apa konsekuensinya kalau kamu mencoba lari atau membocorkan dokumen ini ke media? Ayahmu tidak akan kembali ke penjara. Dia akan menghilang dari muka bumi tanpa jejak. Paham?"

​Kanaya mematung. Seluruh sendinya terasa lemas. Ia menatap mata Arkan, mencari setitik rasa penyesalan, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang absolut. Pria ini tidak hanya menjebak ayahnya, dia telah menyandera seluruh masa depan Kanaya.

​"Kenapa harus aku? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" isak Kanaya, suaranya kini terdengar sangat putus asa.

​"Karena sejak pertama kali aku melihatmu di acara kantor tahun lalu, aku sudah memutuskan bahwa kamu harus menjadi milikku," jawab Arkan singkat. Ia melepaskan cengkeramannya dan mendorong Kanaya menjauh hingga wanita itu nyaris jatuh. "Sekarang kembali ke kamar. Dan jangan pernah berpikir untuk masuk ke sini lagi kalau kamu masih ingin melihat ayahmu menghirup udara bebas besok pagi."

​Kanaya mundur perlahan, menatap Arkan dengan kebencian yang mendalam yang kini sudah mendarah daging. "Aku akan mencari cara untuk menghancurkanmu, Arkan. Aku bersumpah demi nyawaku."

​Arkan hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman meremehkan yang sangat menyakitkan. "Silakan coba, Istriku. Tapi ingat, setiap langkah yang kamu ambil, aku selalu berada sepuluh langkah di depanmu. Sekarang, keluar."

​Kanaya berlari keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan jatuh terduduk di balik pintu kayu yang tebal. Ia meremas dadanya yang terasa mau pecah. Fakta ini jauh lebih pahit dari yang pernah ia bayangkan. Pria yang kini menjadi suaminya, pria yang dipuji dunia sebagai CEO jenius, adalah orang yang menciptakan neraka bagi keluarganya.

​Di luar, ia mendengar suara langkah Arkan yang menjauh menuju kamarnya sendiri. Kanaya menyeka air matanya. Ia tidak boleh hanya menangis dan meratapi nasib. Jika Arkan adalah sutradara yang licik, maka ia akan menjadi pemain yang akan merusak seluruh naskah indahnya dari dalam.

​Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

​“Aku tahu apa yang Arkan sembunyikan darimu. Temui aku besok jam 10 pagi di kafetaria lobi rumah sakit tempat ayahmu dirawat. Jangan bawa siapa pun jika ingin ayahmu benar-benar bebas.”

​Jantung Kanaya berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Apakah ini jebakan baru dari musuh Arkan, atau satu-satunya kesempatan untuk membalas dendam? Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Apapun risikonya, ia tahu ia harus melangkah maju. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia tidak akan berhenti sampai Arkan merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya.

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!