"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang berbeda
Keesokan harinya, sinar matahari masuk melalui celah gorden. Lara bangun dengan semangat yang berbeda. Hari ini adalah perayaan emas kampusnya, dan ia tahu ia akan berdiri di samping orang yang paling berpengaruh di sana.
Lara memilih pakaian terbaiknya yang tetap sopan namun memberikan kesan elegan sebagai pendamping ketua panitia. Ia memoles wajahnya dengan lebih teliti, memastikan tidak ada lagi sisa-sisa wajah pucat dari kejadian kemarin.
Di bawah, suara deru mesin mobil sport yang sudah sangat ia kenali terdengar berhenti tepat di depan gerbang. Baskara datang lebih awal dari janji mereka.
"Lara! Baskara sudah menjemput di bawah!" seru Mama dari lantai satu.
Lara mengambil tasnya, menarik napas dalam untuk menenangkan debaran jantungnya, dan melangkah turun. Di ruang tamu, ia melihat Baskara sedang berbincang akrab dengan Papanya. Baskara terlihat sangat gagah dengan kemeja formal dan jas almamater yang disetrika sempurna.
Begitu melihat Lara turun, pembicaraan Baskara terhenti. Matanya menatap Lara tanpa berkedip selama beberapa detik, seolah terpesona dengan transformasi gadis itu pagi ini.
"Sudah siap?" tanya Baskara sambil berdiri.
Lara mengangguk malu-malu. "Sudah, Kak."
Setelah pamitan yang penuh rasa percaya dari orang tua Lara, Baskara membukakan pintu mobil sportnya dengan sangat sopan.
Baskara sengaja tidak memarkirkan mobilnya di area depan yang sudah dipenuhi oleh kerumunan mahasiswa dan panitia. Ia memutar kemudi menuju gerbang belakang kampus, jalur pintas yang biasanya hanya digunakan oleh staf khusus atau untuk keperluan logistik.
Mobil berhenti di area parkir yang jauh lebih tenang, terlindung oleh rimbunnya pohon-pohon besar. Baskara mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Ia menoleh ke arah Lara yang tampak sedang mengatur napasnya.
"Kita lewat sini agar kamu tidak langsung diserbu pertanyaan oleh teman-temanmu," ucap Baskara lembut. "Dan yang terpenting, saya ingin kita masuk ke gedung utama tanpa sepengetahuan Manda terlebih dahulu. Biar dia mengira rencananya berhasil sampai dia melihatmu berdiri di samping saya di atas podium nanti."
Lara mengangguk, mengagumi cara berpikir Baskara yang selalu selangkah lebih maju. "Terima kasih, Kak. Aku memang belum siap kalau harus berdesakan di depan sekarang."
Baskara turun dan membukakan pintu untuk Lara. Mereka berjalan melewati lorong-lorong sepi yang menghubungkan gedung belakang dengan aula utama. Ironisnya, mereka melewati jalan yang tidak jauh dari lokasi gudang tempat Lara dikurung kemarin. Langkah Lara sempat terhenti sejenak saat melihat pintu besi itu dari kejauhan.
Baskara yang menyadari perubahan raut wajah Lara, segera menggenggam jemari gadis itu dengan erat. "Jangan lihat ke sana. Lihat ke depan. Mulai detik ini, tempat itu hanya bagian dari masa lalu yang tidak akan terulang lagi."
Sentuhan tangan Baskara yang hangat memberikan keberanian instan bagi Lara. Ia mempererat genggamannya dan berjalan tegak di samping Baskara.
Saat mereka tiba di balik tirai panggung utama, suara riuh penonton di lapangan luar terdengar jelas. Manda sedang berdiri di atas podium, memberikan sambutan pembukaan dengan nada suara yang terdengar dipaksakan ceria, meski matanya terus-menerus melirik ke arah pintu masuk, mencari-cari apakah ada kekacauan yang terjadi.
Ia tidak sadar, bahwa tepat di belakangnya, Baskara dan Lara sudah berdiri dengan penuh wibawa, menunggu momen yang tepat untuk muncul dan membalikkan keadaan.