NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Berantakan

"Vandini?" suara Satura memecah keheningan. Wajahnya berkerut ketakutan. "Kamu ngapain di sini?"

Jantung Vandini berdegup kencang. "Aku mau ajak kamu makan siang," jawabnya terbata.

"Makan siang?" ulang Satura dengan nada menuduh. "Kamu nggak seharusnya ada di sini. Ini bukan tempatmu."

Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut Vandini. Tak ada kata maaf, tak ada penjelasan, dan ia justru disalahkan.

Keterkejutannya berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang nggak seharusnya ada di tempat kayak gini!"

Satura membuang muka, rahangnya mengeras. "Kamu nggak ngerti, Van. Ini ... ini nggak ada hubungannya sama kita."

"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, haahh?"

...***...

Tiga hari sebelumnya ...

Pagi Vandini sangatlah berantakan. Susu tumpah, kaus kaki hilang, dan ia tahu hari ini pasti berat.

"Ma! Ini harus dikumpulin hari ini, tapi nggak ketemu-ketemu!" seru Connan, panik sambil mengacak-acak tumpukan kertas di meja.

"Tenang dulu, sayang. Tarik napas," jawab Vandini sambil mengelus rambut anaknya. "Nanti kita cari bareng. Kamu udah cek di dalem tas belum?"

"Udah! Nggak ada!" gerutu Connan. Wajahnya terlihat jelas, campuran kesal dan cemas.

Putri keduanya, Cia yang baru dua tahun, malah ikut mengamuk dan menangis kencang. Ia menolak pakai baju lain selain warna pink yang jadi favoritnya.

Dapur pun menjadi kacau balau. Berantakan dengan kotak bekal, sisa sarapan, dan catatan tempel yang ditulis terburu-buru.

Vandini berusaha menenangkan Cia sambil mata dan tangannya terus mencari tugas sekolah Connan. Pikirannya melayang memikirkan segudang pekerjaan yang menumpuk. Beban di bahunya terasa makin berat seiring waktu.

Ia melirik jam dinding, jantungnya berdegup makin kencang. Mobil jemputan bakal sampai dalam sepuluh menit, padahal sepatu Connan saja belum dipakaikan.

"Ya udah, ya udah sayang, sebentar lagi kok," gumam Vandini pelan sambil mengelus punggung putrinya.

Di tangan lainnya, ia memegang tumpukan kertas dan ponsel yang mulai bergetar. Ada pesan dari Satura yang bilang harus lembur, jadi ia harus mengubah jadwal dan menemani klien.

Vandini membaca pesan itu cepat. Ada rasa kesal, tapi ia sudah pasrah. Akhir-akhir ini memang selalu begini, pekerjaan Satura selalu jadi prioritas, dan Vandini yang harus menanggung semua perubahan mendadak itu sendirian.

"Ini urusan kantor, Van. Nanti tolong jemput anak-anak dan masak makan malam ya? Nggak bakal lama kok," begitu isi pesan Satura.

Vandini membalas singkat, "Oke, nggak apa-apa," padahal nyatanya jauh dari kata tidak apa-apa. Segala tugas makin menumpuk di daftarnya.

Terdengar bunyi klakson dari luar. Itu tanda jemputan Connan sudah datang. Anak laki-laki itu langsung lari ke pintu, dan secara ajaib tugas sekolahnya ketemu di saku jaket.

"Ketemu, Ma!" teriaknya sambil berlari keluar. Vandini hanya sempat melambaikan tangan pelan.

Vandini menarik napas panjang, lalu mengalihkan perhatiannya ke Cia. Untungnya anak itu sudah tenang dan kini nyaman dalam pelukan.

Untuk sesaat, Vandini memeluk putrinya erat. Tubuh kecil itu menempel di dada memberikan ketenangan, walau hanya sedetik saja.

Dulu, Vandini berharap Satura bisa berbagi tugas, hadir saat anak sakit atau ada di acara sekolah. Awalnya memang begitu. Tapi lama-kelamaan, jadwal Satura makin padat dan ia makin sering pulang larut.

Vandini tak pernah siap melakukan semua ini sendirian, tapi kenyataannya memang begitu rasanya hampir setiap hari.

Tiba-tiba Vandini teringat masa mudanya. Dulu saat masih awal dua puluhan, bangun siang dengan rasa pusing karena habis hang out adalah hal biasa.

Sekarang, dengan dua anak yang selalu merebut perhatiannya sejak pagi buta, bayangan untuk bisa bersantai seperti dulu terasa seperti kemewahan. Dengan helaan napas, Vandini memangku Cia lalu mengambil cangkir kopinya. Kopi itu masih panas, tapi ia butuh kafein itu untuk bertahan.

Ponselnya bergetar lagi, kali ini email dari kantor. Ada hal yang harus diselesaikan sebelum rapat. Vandini menggeleng tak percaya. Aneh sekali, sekarang ia justru merindukan masa-masa pusing karena begadang.

Jam baru menunjukkan pukul 08.30 pagi, tapi rasanya kendali atas harinya sudah mulai lepas dari tangan. Vandini menarik napas dalam, menegakkan bahu, dan kembali melanjutkan rutinitas pagi itu.

Ia ingin semuanya, keluarga bahagia dan karier yang sukses.

Lalu kenapa tidak?

Apa yang menghalanginya?

Malam harinya, Satura memang tak sempat ikut makan malam, tapi ia pulang tepat saat waktunya untuk menidurkan anak-anak. Saat pria itu keluar dari kamar anak-anak, wajahnya terlihat lebih santai. Melihatnya, Vandini tiba-tiba merasakan getaran aneh yang begitu kuat hingga nafasnya tercekat.

Tubuh Satura memang tak lagi sesegar saat muda, tapi justru kini terlihat lebih kokoh dan nyaman. Dada dan bahunya masih terlihat kekar. Lengannya yang kuat kini terasa lebih hangat, dan perutnya yang tak lagi datar justru memiliki lekukan yang pas.

Saat Satura semakin mendekat, Vandini merasakan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Rambutnya agak berantakan karena seharian beraktivitas, ada beberapa helai yang berdiri dan memantulkan cahaya. Uban halus mulai tumbuh di pelipis, dan Vandini selalu menyukainya.

Namun yang paling membuat Vandini terpana tetaplah matanya. Mata yang gelap dan teduh itu selalu bisa menenangkannya.

Di bawah cahaya yang redup itu, Satura menatapnya lama, senyumnya tak hilang. Kemudian, Satura menyentuh lembut tangan istrinya, lalu berbalik dan menuruni tangga.

Tak lama kemudian, Vandini mendengar suara TV menyala dari ruang tengah.

Vandini sadar, dia sangat merindukan suaminya. Dia rindu kedekatan dan kemesraan yang dulu mereka miliki sebelum hidup menjadi serumit ini.

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!