NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Xena segera mengganti kebaya pengantinnya yang terasa menyesakkan dengan pakaian rumahan yang lebih nyaman. Namun, ia tidak membiarkan dirinya beristirahat.

Sebagai dokter sekaligus kini seorang istri—meski tidak dianggap—ia memiliki kewajiban yang harus dijalankan.

Ia mengambil tas medisnya, menyiapkan dosis obat antidepresan dan vitamin yang telah ia resepkan untuk Prabu.

Dengan langkah ragu namun tetap berusaha tegar, ia keluar dari kamar tamu dan berdiri di bawah tangga.

"Mas Prabu, ayo waktu minum obat," panggil Xena dengan suara lembut namun cukup tegas agar terdengar ke lantai atas.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar dibanting di atas. Prabu muncul dengan wajah yang masih sangat keruh.

Tanpa menyahut, ia turun dengan langkah kaki yang menghentak, lalu langsung duduk di kursi ruang makan dengan sikap yang sangat tidak bersahabat.

Xena menghampirinya, meletakkan gelas berisi air putih dan dua butir obat di hadapan pria itu.

"Minum obat sebelum makan ya, Mas," ucap Xena perhatian.

"Jangan panggil aku dengan sebutan 'Mas'!" bentak Prabu tiba-tiba, matanya berkilat penuh kebencian.

"Jijik aku mendengarnya keluar dari mulutmu!"

Xena tersentak sejenak, namun ia mencoba menjaga wajahnya agar tetap tenang.

Di rumah sakit, ia sudah terbiasa menghadapi pasien yang emosional.

Ia menarik napas pendek dan mencoba memperbaiki panggilannya sesuai permintaan pria itu.

"Baik. Pak Prabu, tolong diminum dulu obatnya supaya kondisinya lebih stabil."

Prabu justru semakin meradang. Ia memukul meja makan dengan telapak tangannya hingga gelas di atasnya bergetar.

"Aku belum tua! Berhenti memanggilku dengan sebutan 'Pak'!"

Xena menghela napas panjang, merasa serba salah.

Di hadapannya, Prabu tampak seperti anak kecil yang sedang mengamuk karena luka batinnya sendiri, namun tetap memiliki ego yang setinggi langit.

"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Xena pelan, matanya menatap langsung ke netra Prabu yang tajam.

"Kamu tidak mau dipanggil Mas, tidak mau dipanggil Pak. Tapi kamu suamiku, dan saat ini kamu adalah pasienku. Aku butuh kerja samamu agar kamu bisa cepat sembuh dan mungkin... bisa segera terbebas dariku."

Mendengar kata "terbebas dariku", Prabu terdiam sejenak.

Ia menyambar obat itu dengan kasar dan menelannya sekaligus, lalu menenggak air putih hingga tandas.

"Panggil namaku saja. Itu cukup," desisnya sambil bangkit berdiri dan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Xena yang hanya bisa menatap punggungnya dengan rasa getir yang kian dalam.

Setelah memastikan obat itu tertelan, Xena tidak lantas pergi. Ia duduk di kursi sebelah Prabu, menjaga jarak yang aman namun cukup dekat untuk mengobservasi reaksi pasiennya.

Sebagai dokter jiwa, ia tahu bahwa fase awal setelah minum obat adalah saat-saat di mana emosi bisa menjadi sangat tidak stabil.

"Apa yang kamu rasakan sekarang, Prabu?" tanya Xena dengan nada suara yang rendah dan menenangkan.

Prabu tidak menjawab. Ia justru memejamkan matanya rapat-rapat. Namun, alih-alih ketenangan, kegelapan di balik kelopak matanya justru memunculkan mimpi buruk yang paling ia hindari.

Bayangan kobaran api, suara decit ban yang memekakkan telinga, dan wajah Tryas yang bersimbah darah tepat sebelum kecelakaan itu merenggut nyawanya, kembali hadir dengan begitu nyata.

Napas Prabu mulai memburu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Pergi! Pergi!" geram Prabu. Tangannya mulai mencengkeram kepalanya sendiri, menjambak rambutnya dengan kuat.

"Prabu, lihat aku! Fokus pada suaraku!" Xena mencoba meraih tangan Prabu, namun pria itu justru mengamuk.

Amarah Prabu meledak. Ia mulai memukul meja, menjatuhkan kursi, dan nyaris melukai dirinya sendiri karena serangan panik yang hebat.

Ia melihat Xena bukan sebagai istrinya, melainkan sebagai pengganggu dalam duka yang ia pelihara. Kondisinya sudah membahayakan.

Xena segera mengambil tindakan medis darurat. Dengan cekatan dan tenaga yang tidak disangka-sangka, ia mengambil jaket pengikat (straitjacket) medis yang memang sudah ia siapkan di dalam tas daruratnya untuk mengantisipasi fase manik atau agresif Prabu.

"Lepaskan! Sialan kamu, Xena!" teriak Prabu sambil meronta.

Dengan bantuan teknik yang ia pelajari selama bertahun-tahun sebagai dokter spesialis jiwa, Xena berhasil melingkarkan jaket itu dan menguncinya, memastikan Prabu tidak bisa menyakiti dirinya sendiri atau orang lain.

"Pra!! Sadar!! Itu hanya bayangan! Kamu ada di sini, bersamaku!" teriak Xena tepat di depan wajah Prabu, berusaha menembus kabut depresi yang menyelimuti pria itu.

Namun, respons yang didapat Xena justru membuat bulu kuduknya berdiri.

Prabu berhenti meronta, namun ia tiba-tiba mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

Suaranya menggema di ruang makan yang sunyi, tawa yang terdengar sangat kosong, getir, dan penuh kegilaan.

"Sadar? Untuk apa aku sadar, Dokter?" Prabu menatap Xena dengan mata yang melotot dan tawa yang belum berhenti.

"Supaya aku bisa melihat wajahmu dan menyadari kalau dunia ini benar-benar sudah gila? Kamu pikir jaket ini bisa mengikat rasa bersalahku? Hahaha!"

Xena mematung, jantungnya berdenyut nyeri. Ia menyadari bahwa luka di jiwa suaminya jauh lebih dalam dan jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan selama ini.

Brak!

Benturan keras itu terjadi begitu cepat. Prabu, yang masih dalam kungkungan jaket pengikat, menghantamkan dahi tegapnya ke dahi Xena dengan kekuatan penuh.

Rasa sakit yang hebat seketika menyerang Xena, pandangannya memburam, dan cairan hangat mulai mengalir perlahan dari keningnya, menetes melewati pelipis hingga membasahi pipi.

Namun, Xena tidak bergerak mundur. Ia bahkan tidak menyentuh lukanya yang mulai berdenyut nyeri.

Sebagai dokter yang sudah sering menghadapi pasien dalam kondisi tidak stabil, fokusnya hanya satu: keselamatan Prabu.

"Sudah cukup, Prabu," bisik Xena, suaranya tetap tenang meski napasnya sedikit tersengal.

Prabu terengah-engah, tatapannya masih liar dan penuh kebencian, namun ia tampak terkejut melihat Xena yang sama sekali tidak menghindar ataupun mengaduh kesakitan.

Darah merah segar yang mengucur di wajah Xena tampak kontras dengan jas putih yang ia kenakan.

Tanpa membuang waktu, Xena mengambil suntikan yang sudah ia siapkan di atas meja.

Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia mendekati Prabu yang masih meronta kecil.

Jleb.

Jarum suntik itu masuk ke lengan Prabu. Xena menekan cairannya hingga habis.

"Ini akan membantumu istirahat. Lepaskan semua beban itu sebentar saja," ucap Xena lirih tepat di samping telinga suaminya.

Perlahan, tubuh Prabu yang tadinya kaku mulai melemas.

Rontaannya menghilang, dan tawa gila yang tadi menggema kini berubah menjadi embusan napas yang berat.

Matanya yang merah perlahan-lahan meredup, hingga akhirnya kepalanya terkulai di bahu Xena.

Xena membiarkan kepala suaminya bersandar di sana selama beberapa saat. Ia tidak mempedulikan rasa perih di keningnya yang terus mengeluarkan darah.

Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, Xena hanya bisa memejamkan mata, memeluk sosok pria yang begitu membencinya namun sangat membutuhkannya.

"Seandainya kamu tahu, Pra. Luka ini tidak sebanding dengan rasa sakit melihatmu seperti ini," gumamnya pelan sambil mengusap rambut Prabu dengan satu tangannya yang bebas, sementara darahnya sendiri menetes di atas lantai marmer rumah baru mereka.

Xena mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menyeret tubuh Prabu yang sudah tak berdaya akibat pengaruh obat penenang.

Dengan napas tersengal, ia membaringkan suaminya di sofa ruang tamu yang empuk. Setelah memastikan posisi Prabu nyaman, Xena beranjak mengambil kotak P3K.

Sambil menahan perih, ia membersihkan darah yang mulai mengering di keningnya sendiri.

Matanya tak lepas menatap wajah Prabu yang kini tampak tenang dalam tidurnya—wajah yang sangat ia rindukan, namun terasa begitu asing karena kebencian yang terpancar darinya.

"Pra, cintamu sangat besar kepada Tryas sampai membuatmu seperti ini..." gumam Xena lirih.

Air matanya jatuh menetes, bercampur dengan cairan antiseptik di kapas yang ia pegang.

Ia merasa kerdil di hadapan bayang-bayang masa lalu suaminya.

Xena kemudian menghubungi Dwi. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu lelah untuk memasak atau sekadar keluar mencari obat tambahan yang mulai menipis.

Tak lama kemudian, Dwi datang membawa bungkusan makanan dan obat-obatan.

Begitu masuk dan melihat kening Xena yang dibalut perban serta pemandangan Prabu yang tertidur dalam kondisi berantakan, Dwi langsung menggelengkan kepalanya dengan tatapan tak percaya.

"Malam pertama macam apa yang seperti ini?" seru Dwi dengan nada frustrasi. Ia meletakkan makanan di meja dengan kasar.

Dwi menatap sahabatnya yang tampak sangat rapuh itu.

"Tinggalkan dia, Xena! Aku tahu kamu sangat mencintainya sejak SMA, tapi lihat apa yang kamu terima sebagai balasan? Kamu hampir celaka!"

Xena hanya diam, menunduk dalam sambil meremas jemarinya.

"Dia pasienku, Dwi. Dan sekarang, dia juga suamiku," jawab Xena pelan, meski suaranya bergetar.

"Tapi dia bukan Prabu yang kamu kenal dulu, Xen! Dia monster yang sedang terluka, dan dia akan terus melukaimu selama dia belum rela melepaskan Tryas!"

Dwi mencoba menyadarkan sahabatnya, namun ia tahu betapa keras kepalanya Xena jika sudah menyangkut pria itu.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!