NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinju Melawan Tanah

Suasana di pinggir sungai itu mendadak menjadi sangat mencekam. Suara gemuruh air terjun yang biasanya mendominasi kini seolah tertutup oleh aura kemarahan yang terpancar dari tubuh Gort. Pria bertubuh besar itu berdiri dengan kaki kokoh, menatap Arlan seolah bocah di hadapannya adalah seekor serangga yang siap dia injak kapan saja. Di belakang Gort, para pengawal desa sudah menghunus pedang dan tombak mereka, bersiap untuk mengepung jika Arlan mencoba melarikan diri.

Arlan berdiri diam, membiarkan air sungai menetes dari ujung rambut peraknya yang basah. Dia merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya, namun di dalam tubuhnya, energi dari Gerbang Pertama terus berputar, memberikan rasa hangat yang aneh. Arlan menatap Gort tanpa berkedip. Dia tidak melihat seorang pemimpin desa yang berwibawa, dia hanya melihat seorang pria sombong yang merasa paling kuat karena sedikit kekuatan yang dipinjamkan oleh dewa.

"Kamu punya nyali yang besar untuk tetap berdiri di depanku, Arlan," suara Gort menggelegar, penuh dengan nada merendahkan. "Bram adalah putraku. Dia memiliki masa depan yang cerah sebagai ksatria kerajaan. Dan kamu, seorang sampah dari keluarga pengkhianat, berani merusak tangannya? Kamu tahu apa hukumannya bagi sampah yang melukai bangsawan desa?"

Arlan sedikit memiringkan kepalanya. "Dia menyerang ku duluan. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Jika kamu mendidik anakmu dengan benar, mungkin dia tidak akan berakhir menyedihkan seperti kemarin."

Mendengar kata-kata itu, wajah Gort semakin merah padam. Urat-urat di lehernya menonjol, menunjukkan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya. "Bicara sesukamu selagi kamu masih punya lidah! Aku akan mematahkan setiap tulang di tubuhmu dan menyeret mu ke hadapan ibumu agar dia melihat betapa tidak bergunanya keturunan Vandermir!"

Gort menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras. Seketika, getaran hebat terjadi di bawah kaki Arlan. Tanah di sekitar sungai mulai retak, dan dua pilar batu tajam mencuat keluar dari bawah tanah, mengarah langsung ke dada Arlan. Ini adalah kemampuan Berkah Tanah tingkat menengah yang dimiliki Gort Manipulasi Bumi.

Arlan tidak panik. Matanya yang tajam merekam setiap pergerakan pilar batu itu. Di kehidupan lamanya, Adit selalu diajarkan bahwa untuk memenangkan persaingan, seseorang harus tenang di bawah tekanan. Arlan melompat ke samping dengan sangat ringan, sebuah gerakan yang tidak mungkin dilakukan oleh anak seusianya jika bukan karena pengaruh Gerbang Pertama yang sedang terbuka.

Duar!

Pilar batu itu menghantam tanah tempat Arlan berdiri sebelumnya hingga hancur berkeping keping. Arlan mendarat dengan stabil di atas sebuah batu besar, napasnya tetap teratur.

Gort tertegun sejenak melihat kelincahan Arlan. "Hanya keberuntungan! Mari kita lihat berapa kali kamu bisa menghindar!"

Gort kembali menggerakkan tangannya. Kali ini, dia menciptakan beberapa bola tanah keras berukuran kepalan tangan yang melayang di sekelilingnya. Dengan satu lambaian tangan, bola-bola itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Arlan seperti peluru meriam.

Arlan menyadari bahwa dia tidak bisa terus-menerus menghindar. Tubuh kecilnya memiliki batas stamina, dan bertarung jarak jauh dengan pengguna elemen tanah adalah kerugian besar. Dia harus mendekat. Dia harus menggunakan keunggulan utamanya: Taijutsu jarak dekat.

Arlan mulai berlari. Dia tidak berlari menjauh, melainkan berlari lurus ke arah Gort.

"Bocah gila! Kamu ingin mati?" teriak Gort sambil menembakkan bola-bola tanahnya.

Arlan bergerak dengan pola zig zag. Setiap kali bola tanah hampir mengenainya, dia menepisnya dengan telapak tangan yang sudah diperkuat oleh aliran energi internal. Suara benturan kulit dan tanah keras terdengar berkali kali. Meskipun tangannya terasa panas dan perih, Arlan terus memacu langkahnya.

Dalam hitungan detik, Arlan sudah berada di dalam jangkauan serangan Gort.

Gort terkejut dengan kecepatan Arlan. Dia segera menyelimuti tangan kanannya dengan lapisan batu tebal, menciptakan sebuah sarung tinju raksasa dari tanah. "Mati kau, sampah!"

Pukulan besar Gort mengayun dengan kekuatan penuh. Arlan bisa merasakan tekanan udara yang ditimbulkan oleh serangan itu. Namun, alih-alih mundur, Arlan justru merendahkan tubuhnya. Dia mengingat pelajaran dari kakek misterius itu: Gunakan titik tumpu lawan untuk menghancurkannya.

Arlan menyelinap di bawah ketiak Gort yang terbuka saat memukul. Dengan cepat, Arlan memutar tubuhnya dan menghantamkan tinju kanannya ke arah rusuk kiri Gort.

"Pukulan Penghancur Saraf!" bisik Arlan.

Arlan tidak hanya menggunakan kekuatan ototnya. Dia melepaskan seluruh energi dari Gerbang Pertama ke satu titik di kepalan tangannya tepat saat bersentuhan dengan tubuh Gort.

Bukk!

Suara hantaman itu tidak keras, namun efeknya sangat mengerikan. Gort yang beratnya mungkin empat kali lipat dari Arlan, seketika terlempar ke samping sejauh tiga meter. Lapisan batu di tangan Gort langsung hancur, dan pria besar itu jatuh tersungkur sambil memegangi rusuknya. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi pucat. Dia mencoba menarik napas, namun paru parunya terasa lumpuh.

Para pengawal desa ternganga. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Kepala desa mereka, seorang pengguna Berkah Tanah tingkat menengah, dijatuhkan oleh satu pukulan dari seorang anak kecil tanpa kekuatan dewa.

"Tuan Gort!" teriak salah satu pengawal sambil berlari menghampiri pemimpinnya.

Gort terbatuk darah, matanya menatap Arlan dengan ketakutan yang mendalam. "Apa... kekuatan apa ini? Kamu tidak punya sihir... bagaimana bisa...?"

Arlan berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Mengeksekusi teknik itu dengan tubuh tujuh tahun benar-benar menguras tenaganya. Namun, dia tidak menunjukkan kelemahannya. Dia menatap para pengawal desa dengan pandangan yang sangat dingin, membuat mereka yang tadinya ingin menyerang langsung terhenti di tempat.

"Aku sudah bilang," ucap Arlan dengan suara yang tenang namun menusuk. "Kekuatan yang kalian banggakan itu hanyalah pinjaman. Saat kalian menghadapi kekuatan yang berasal dari usaha sendiri, kalian bukan apa-apa."

Kakek tua yang memperhatikan dari atas pohon tersenyum lebar. "Bagus. Dia tidak hanya menghantam fisiknya, dia menghantam mental lawannya. Itu adalah jiwa seorang pemenang."

Namun, Arlan tahu dia tidak bisa membunuh Gort di sini. Jika dia membunuh kepala desa, kerajaan akan mengirim pasukan ksatria yang jauh lebih kuat, dan dia belum siap untuk itu. Dia juga harus memikirkan keselamatan ibunya.

"Pergi dari sini," perintah Arlan. "Bawa pemimpin kalian yang lemah ini. Dan ingat satu hal, jika kalian menyentuh rumahku atau ibuku lagi, aku tidak akan hanya mematahkan rusuk kalian. Aku akan memastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari esok hari."

Para pengawal desa itu ketakutan. Mereka segera membopong Gort yang masih sesak napas dan melarikan diri menuju desa. Mereka tidak berani menoleh ke belakang, seolah olah Arlan adalah hantu yang sedang mengejar mereka.

Setelah mereka menghilang dari pandangan, Arlan tiba-tiba berlutut. Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang seluruh tubuhnya. Menggunakan teknik gerbang energi secara paksa benar-benar memberikan beban berat pada jantungnya. Dia memuntahkan sedikit darah gelap ke tanah.

"Jangan terlalu bangga dulu, bocah," suara kakek tua itu terdengar saat dia melompat turun dari pohon. "Kamu baru saja mengalahkan katak di dalam sumur. Di luar sana, ada orang-orang yang bisa menghancurkan kota hanya dengan satu kata. Jika kamu puas dengan ini, maka kamu akan mati di tangan musuh yang sebenarnya."

Arlan mengusap darah di mulutnya dengan punggung tangan. Dia menatap kakek itu dengan mata yang masih penuh ambisi. "Aku tidak puas. Aku hanya sedang memulai."

"Bagus," kakek itu memberikan botol obat lagi. "Istirahatlah malam ini. Karena besok, latihanmu bukan lagi di sungai. Kita akan pergi ke bagian dalam hutan, tempat binatang sihir tingkat rendah berkumpul. Kamu harus belajar cara membunuh, bukan hanya sekadar melumpuhkan."

Arlan menerima botol itu. Dia tahu bahwa hidupnya di desa ini tidak akan pernah sama lagi setelah kejadian hari ini. Dia sudah menabuh genderang perang dengan otoritas lokal. Namun, Arlan tidak merasa menyesal. Di kehidupan lamanya, dia hancur karena dia terlalu takut untuk melawan. Di kehidupan ini, dia akan menjadi badai yang menghancurkan siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya.

Malam itu, Arlan kembali ke gubuknya. Dia melihat Elena yang menunggu dengan cemas di depan pintu. Saat melihat Arlan yang basah dan terlihat lelah, Elena langsung memeluknya tanpa bertanya apa pun. Arlan merasakan kehangatan itu, namun di dalam kepalanya, dia sudah mulai menyusun rencana. Dia tahu bahwa dia harus segera menjadi cukup kuat untuk membawa ibunya pergi dari tempat terkutuk ini sebelum musuh yang lebih besar datang.

"Dunia ini adalah tempat bagi yang kuat," gumam Arlan dalam hati saat dia berbaring di tempat tidurnya yang keras. "Dan aku akan menjadi yang terkuat di antara mereka semua."

Bab ini berakhir dengan Arlan yang tertidur dalam kondisi waspada, sementara di kediaman kepala desa, rencana pembalasan dendam yang lebih licik mulai disusun. Namun, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berurusan dengan jiwa seorang pria yang tidak lagi mengenal rasa takut akan kematian.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!