NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Adella berdiri di depan gerbang besi setinggi tiga meter yang memisahkan jalanan aspal sunyi dengan kediaman megah keluarga Adwan di pinggiran kota. Rumah itu lebih mirip benteng kolonial daripada tempat tinggal; kokoh, angkuh, dan tertutup oleh tanaman merambat yang tampak seperti jeruji hijau. Di sinilah akar dari segala penderitaannya bermula. Jika Pak Adwan adalah penulis skenario yang sakit, maka pria di dalam rumah ini—Sang Kakek—adalah produser yang mendanai seluruh tragedi tersebut.

Adella meremas kotak musik di tangannya. Ia tidak punya senjata, hanya sebuah micro SD dan keberanian yang lahir dari keputusasaan. Ia menekan bel interkom di samping gerbang.

"Siapa?" suara berat dan mekanis menyahut dari speaker.

"Adella. Katakan pada Tuan Besar Adwan, koleksi kesayangan cucunya datang untuk mengembalikan utang ayahnya," jawab Adella tanpa nada ragu sedikit pun.

Hening sejenak. Kemudian, gerbang besi itu berderit terbuka secara otomatis. Adella melangkah masuk, menyusuri jalan setapak berkerikil yang diapit oleh patung-patung marmer tanpa wajah.

Di dalam perpustakaan pribadi yang dipenuhi aroma cerutu mahal dan kulit buku tua, seorang pria tua duduk di balik meja jati yang masif. Rambutnya putih sempurna, disisir ke belakang, dan matanya setajam elang yang sedang mengintai mangsa. Ini adalah Baron Adwan, pria yang namanya membuat para politisi gemetar.

"Duduklah, Adella," suara Baron terdengar tenang, jauh lebih dalam dan berwibawa daripada suara cucunya. "Cucuku bilang kamu adalah gadis yang spesial. Tapi melihatmu sekarang—kotor, berdarah, dan penuh amarah—kamu lebih terlihat seperti masalah daripada aset."

Adella duduk di kursi kayu di hadapan Baron. Ia meletakkan kotak musik itu di atas meja. "Pak Adwan terobsesi pada sastra, Tuan Baron. Tapi dia lupa bahwa dalam setiap cerita bagus, antagonis selalu hancur karena kesombongannya sendiri."

Baron terkekeh, sebuah suara kering yang tidak mencapai matanya. "Adwan memang emosional. Dia melihatmu sebagai puisi. Saya melihatmu sebagai investasi. Dan investasi yang membawa polisi ke depan pintu gedung saya adalah investasi yang buruk."

"Kalau begitu, Tuan harus melihat ini," Adella menyodorkan ponselnya yang sudah memutar rekaman suara percakapan antara Baron dan Pak Adwan yang ia temukan di kotak musik.

Baron mendengarkan rekaman itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Namun, Adella melihat otot rahang pria tua itu mengeras saat mendengar bagian di mana Pak Adwan menyebut kakeknya sebagai "pria tua yang kolot yang tidak mengerti keindahan".

"Cucu Tuan tidak hanya menculik siswi," lanjut Adella dengan suara dingin. "Dia menggunakan dana yayasan Tuan untuk membangun laboratorium pribadi di bawah perpustakaan kota. Dia mencuri dari kantong Tuan untuk memuaskan obsesinya yang tidak ada hubungannya dengan rencana Tuan menjadikanku 'ikon pendidikan'."

Adella memajukan tubuhnya. "Jika polisi menemukan bukti finansial yang aku kirimkan ke media malam ini, bukan hanya Pak Adwan yang jatuh. Yayasan Adwan, bank Tuan, dan seluruh dinasti ini akan diperiksa oleh KPK. Tuan tahu betul bahwa cucu Tuan telah menjadi liabilitas yang terlalu besar untuk dipertahankan."

Baron terdiam lama, menatap Adella seolah sedang menilai harga nyawa gadis itu. "Apa yang kamu inginkan? Uang untuk melunasi utang ayahmu? Kebebasan?"

"Aku ingin Ayahku kembali dengan selamat. Dan aku ingin Pak Adwan dihapus dari hidupku. Selamanya," tuntut Adella. "Hancurkan karirnya, cabut hak warisnya, kirim dia ke tempat di mana dia tidak bisa menyentuh pulpen lagi. Jika tidak, data cadangan yang aku simpan akan terbit di halaman depan berita nasional besok pagi."

Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbanting terbuka.

Pak Adwan berdiri di sana. Rambutnya berantakan, nafasnya memburu, dan matanya merah karena amarah. Ia baru saja bebas dengan jaminan, dan hal pertama yang ia lakukan adalah memburu Adella hingga ke rumah kakeknya.

"Jangan dengarkan dia, Kakek!" teriak Pak Adwan. "Dia memanipulasi kita! Dia adalah mahakaryaku, aku yang membentuknya!"

Baron berdiri perlahan. Aura kekuasaan di ruangan itu mendadak menjadi sangat berat. "Kamu yang membentuknya, Adwan? Kamu hampir menghancurkan bisnis keluarga kita hanya karena seorang siswi yang bahkan tidak bisa kamu kendalikan di dalam mobilmu sendiri."

"Tapi Kakek—"

"Diam!" Baron menghantam meja dengan tangannya. "Kamu ceroboh. Kamu membiarkan dia mengambil kartu emas itu. Kamu membiarkan dia masuk ke server pusat. Kamu bukan seorang seniman, Adwan. Kamu adalah kegagalan."

Pak Adwan menatap kakeknya dengan tidak percaya, lalu beralih ke Adella. Di matanya, Adella bisa melihat kegilaan yang sudah mencapai puncaknya. Pria itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah pulpen hitam—kali ini bukan pulpen pelacak, melainkan sesuatu yang tampak seperti pisau bedah kecil yang disembunyikan dalam casing alat tulis.

"Kalau aku tidak bisa memilikimu sebagai mahakarya yang hidup, maka aku akan memilikimu sebagai kenangan yang abadi!" Pak Adwan menerjang ke arah Adella.

Adella mencoba menghindar, namun Pak Adwan terlalu cepat. Namun, sebelum ujung tajam itu menyentuh leher Adella, sebuah suara tembakan yang diredam bergema di ruangan itu.

Phut.

Pak Adwan tersungkur di lantai, memegangi kakinya yang tertembak. Di ambang pintu, dua pria berseragam safari—penjaga pribadi Baron—berdiri dengan senjata di tangan.

Baron menatap cucunya dengan tatapan jijik yang dingin. "Bawa dia keluar. Kirim dia ke fasilitas kita di luar negeri. Fasilitas yang sebenarnya, bukan panti rehabilitasi mainan yang dia kelola. Pastikan dia tidak akan pernah melihat matahari Indonesia lagi."

"Kakek! Tidak! Adella!" teriak Pak Adwan saat ia diseret keluar oleh para penjaga. Suaranya perlahan menghilang di lorong gedung yang luas, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam perpustakaan.

Adella gemetar, namun ia tetap berdiri tegak. Ia menatap Baron. "Dan Ayahku?"

Baron duduk kembali, menghela napas panjang. "Ayahmu adalah pria kecil dengan hutang besar. Saya sudah mengirimnya ke lokasi aman. Utangnya dianggap lunas sebagai kompensasi atas... ketidaknyamanan yang diberikan cucu saya. Kamu bebas, Adella."

Baron menyesap cerutunya. "Tapi ingat satu hal. Jika ada satu kata saja keluar dari mulutmu tentang apa yang terjadi di ruangan ini, atau tentang bisnis keluarga kami... kamu akan menyadari bahwa cucu saya hanyalah seorang amatir dalam hal 'melenyapkan' orang."

Adella tidak menjawab. Ia mengambil ponsel dan kartu emasnya dari meja, lalu berbalik tanpa mengucapkan terima kasih. Ia berjalan keluar dari rumah itu, melewati gerbang besi yang kini terasa tidak lagi menakutkan.

Saat ia berdiri di pinggir jalan raya, matahari mulai terbit di ufuk timur, memberikan warna jingga pada langit yang tadinya kelam. Adella menarik napas dalam, merasakan udara pagi yang segar masuk ke paru-parunya.

Ia merogoh sakunya dan menemukan sebuah benda kecil. Itu adalah kunci rumahnya yang tadi sempat diletakkan Pak Adwan di atas meja sebelum dia diseret keluar. Adella menatap kunci itu, lalu melemparnya jauh-jauh ke dalam semak-semak.

Ia bukan lagi murid Pak Adwan. Ia bukan lagi aset Baron. Ia adalah Adella, yang telah menulis akhir ceritanya sendiri.

Namun, saat ia berjalan menjauh, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor yang terenkripsi muncul.

"Bab 18 mungkin berakhir, Adella. Tapi setiap buku memiliki sekuel. Sampai jumpa di universitas."

Adella membeku. Ia menatap layar ponselnya. Pesan itu bukan dari Pak Adwan, juga bukan dari kakeknya. Gaya bahasanya... sangat mirip dengan Viona.

Adella menyadari bahwa jaring-jaring keluarga Adwan jauh lebih luas dari satu orang guru gila. Pak Adwan hanyalah satu bab, dan ia baru saja membuka lembaran bab selanjutnya yang jauh lebih berbahaya. Perjalanannya menuju episode 50 masih panjang, dan kali ini, Adella tahu ia tidak bisa lagi bermain sendirian.

Ia menoleh ke arah matahari terbit, matanya tajam. "Bawa saja semuanya," bisiknya. "Aku akan menghapus kalian satu per satu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!