NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Mobil SUV hitam milik Zaidan meluncur pelan membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan, menuju ke warung gado-gado langganan mereka yang terletak di sudut jalan yang cukup tenang.

Meskipun perutnya sudah terisi berbagai hidangan dari pesta pernikahan tadi, keinginan Sulfi untuk menyantap bumbu kacang yang gurih seolah tak bisa ditawar.

Zaidan memarkirkan mobilnya dengan rapi tepat di depan warung tenda yang tampak sederhana namun bersih tersebut.

Dengan sikap yang selalu sigap, ia mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi sang istri.

Mereka turun dari mobil disambut oleh aroma kacang tanah yang sedang digoreng, sebuah aroma yang biasanya sangat menenangkan bagi Sulfi.

Namun, baru beberapa langkah kaki mereka menginjak aspal menuju tenda, langkah Sulfi mendadak kaku.

Tubuhnya bergetar hebat, dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Sulfi terdiam saat melihat lelaki penyebab suaminya meninggal dunia sedang duduk santai di salah satu bangku kayu panjang warung tersebut.

Lelaki itu mengenakan jaket kulit gelap, tampak sedang menikmati sebatang rokok yang asapnya mengepul perlahan ke udara.

Kehadirannya di sana terasa begitu janggal dan terencana, seolah ia memang sedang menunggu kedatangan mereka.

Menyadari keberadaan Sulfi dan Zaidan, pria itu perlahan mendongakkan kepala.

Bukannya melarikan diri atau merasa bersalah, lelaki itu tersenyum sinis ke arah Sulfi.

Senyuman yang penuh dengan ejekan dan rasa puas, seolah sedang mengingatkan Sulfi pada malam berdarah bertahun-tahun yang lalu ketika suaminya menghembuskan napas terakhir di pelukannya.

Zaidan yang menyadari perubahan drastis pada istrinya langsung pasang badan.

Ia merasakan cengkeraman tangan Sulfi yang mendingin di lengannya.

Tatapan tajam Zaidan sebagai seorang perwira polisi langsung tertuju pada pria itu, sementara tangan kanannya secara refleks menyentuh pinggangnya—sebuah insting untuk melindungi harta paling berharganya dari ancaman masa lalu yang kini muncul kembali tepat di depan mata.

Suasana di depan warung gado-gado yang tadinya tenang seketika berubah menjadi mencekam.

Ketakutan yang selama ini terkubur dalam diri Sulfi mendadak bangkit kembali saat lelaki itu mendekat ke arah Sulfi dengan langkah yang tenang namun penuh intimidasi.

Bima, pria dengan tatapan sedingin es itu, berhenti tepat beberapa langkah di depan mereka.

Ia menatap Zaidan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan, lalu kembali menatap Sulfi yang kini pucat pasi.

"Suami baru? Dijaga ya suaminya nanti takutnya mengalami kecelakaan lagi," ucap Bima dengan nada suara yang rendah dan penuh ancaman terselubung.

Kata 'kecelakaan' diucapkan dengan penekanan yang seolah menyayat kembali luka lama di hati Sulfi.

Darah Zaidan mendidih seketika. Sebagai seorang suami dan polisi yang sudah bersumpah melindungi istrinya, ia tidak bisa membiarkan harga diri dan keselamatan Sulfi diinjak-injak oleh seorang pengecut.

Dengan gerakan kilat yang tak sempat diantisipasi oleh siapa pun, Zaidan mencengkeram erat leher lelaki itu yang bernama Bima.

"Berani kamu menyebut soal kecelakaan itu di depan istriku?" desis Zaidan dengan suara yang berat dan penuh amarah.

Cengkeramannya begitu kuat hingga wajah Bima mulai memerah, namun pria brengsek itu justru mengeluarkan tawa kecil yang serak.

"Mas Zaidan, lepas! Jangan di sini!" teriak Sulfi histeris, ia memegang lengan Zaidan, mencoba meredam amarah suaminya agar tidak terjadi keributan yang bisa berakibat fatal bagi karier Zaidan.

Zaidan tidak melepaskan cengkeramannya. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Bima, mengirimkan pesan yang jelas bahwa ia bukan lawan yang mudah.

"Aku bukan suami pertamanya yang bisa kamu celakai dengan mudah. Sekali lagi kamu muncul atau membuka mulutmu, aku pastikan kamu akan membusuk di sel yang paling gelap sebelum sempat melihat matahari terbit."

Di bawah lampu jalan yang temaram, konfrontasi antara masa lalu yang kelam dan pelindung masa depan ini menjadi awal dari babak baru perjuangan mereka.

Bima mungkin mengira ia bisa kembali meneror, namun ia tidak sadar bahwa kali ini, Sulfi memiliki perisai hidup yang siap mempertaruhkan segalanya.

Malam yang seharusnya berakhir manis dengan sepiring gado-gado kini berubah menjadi mencekam.

Amarah yang meluap di dada Zaidan tertahan demi keselamatan mental istrinya yang tampak sangat terguncang.

Dengan napas yang masih memburu, Zaidan memutuskan untuk membawa pulang istrinya, membatalkan niat makan malam mereka karena suasana sudah terlalu keruh oleh kehadiran sosok dari masa lalu.

Sesampainya di rumah, Zaidan mengganti pakaian Sulfi yang masih lemas.

Tubuh Sulfi seolah kehilangan tulang; ia hanya diam mematung dengan pandangan kosong.

Zaidan dengan sangat telaten dan lembut membantu istrinya mengenakan pakaian tidur yang nyaman, lalu menyelimutinya di atas tempat tidur.

ia mengecup kening Sulfi berkali-kali, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Istirahatlah, Sayang. Aku di sini. Dia tidak akan menyentuhmu," bisik Zaidan parau.

Sambil menggenggam tangan istrinya yang dingin, ingatan Sulfi terlempar ke masa kelam itu.

Flashback di mana Bima bisa lolos karena kasus tabrak lari dan Bima mulai meneror mereka kembali berputar seperti film horor di kepalanya.

Saat itu, Sulfi adalah seorang pengacara muda yang ambisius.

Sulfi yang menjadi pengacara korban dari keluarga sederhana yang anaknya tewas ditabrak oleh mobil mewah yang dikendarai Bima.

Sulfi bekerja tanpa lelah mengumpulkan bukti, mengabaikan setiap pesan kaleng dan ancaman yang datang ke kantornya.

Bima, yang memiliki koneksi kuat, merasa terancam oleh keteguhan Sulfi.

Teror pun mulai bergeser; bukan lagi kepada Sulfi, melainkan kepada mendiang suaminya.

Puncaknya, sebuah kecelakaan tragis yang dirancang sedemikian rupa merenggut nyawa suaminya tepat di depan mata Sulfi, sementara

Bima melenggang bebas karena semua bukti fisik mendadak lenyap dari kantor polisi saat itu.

Kini, senyum sinis Bima di warung tadi adalah pesan jelas bahwa sang predator telah kembali dari persembunyiannya.

Sulfi merapatkan selimutnya, air mata mengalir membasahi bantal.

Ia menyadari bahwa pernikahan bahagianya dengan Zaidan kini berada dalam bidikan orang yang sama yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu. Namun kali ini, di sampingnya ada Zaidan—seorang perwira yang tak akan membiarkan sejarah berdarah itu terulang kembali.

Zaidan duduk di tepi tempat tidur, terus menggenggam tangan Sulfi yang masih terasa dingin.

Ia bisa merasakan sisa-sisa trauma yang merambat dari tubuh istrinya, sebuah luka lama yang kini terbuka kembali karena ulah Bima.

Dengan penuh kasih, ia menarik selimut hingga sebatas dada Sulfi dan mengusap sisa air mata di pipi wanita yang sangat ia cintai itu.

"Sudah, jangan dipikirkan lagi untuk malam," ucapnya dengan suara bariton yang menenangkan, seolah menjadi jangkar di tengah badai emosi yang melanda Sulfi.

"Kamu aman di sini, Sayang. Rumah ini sudah aku jaga ketat."

Sulfi menatap suaminya dengan tatapan yang masih rapuh.

Ada rasa bersalah yang besar karena merasa telah membawa bahaya ke dalam hidup Zaidan, namun sorot mata Zaidan justru menunjukkan kesiapan untuk bertempur.

"Besok aku akan ke rumah Kompol untuk membantu membuka kasus ini," ucap Zaidan dengan nada tegas tanpa keraguan.

"Kita tidak akan membiarkan Bima terus berkeliaran dengan rasa bangga di atas penderitaanmu. Aku akan berkoordinasi dengan Komandan Hendrawan dan Yuana untuk mengumpulkan kembali berkas-berkas yang dulu sempat 'hilang'. Kita akan seret dia ke tempat yang seharusnya."

Mendengar janji itu, Sulfi merasa sedikit tenang. Ia tahu bahwa membuka kembali kasus tabrak lari dan teror masa lalu itu akan menjadi perjalanan yang sangat berbahaya, apalagi jika melibatkan orang-orang kuat di belakang Bima.

Namun, melihat punggung kokoh Zaidan dan mengingat dukungan dari tim hukumnya, ia sadar bahwa kali ini ia tidak berdiri sendirian di ruang sidang.

"Terima kasih, Mas," bisik Sulfi pelan sebelum perlahan memejamkan mata.

Zaidan mengecup kening istrinya sekali lagi, lalu ia bangkit berdiri dan melangkah menuju jendela. Ia menatap ke luar, ke arah kegelapan malam yang menyembunyikan banyak rahasia.

Di balik wajahnya yang tenang di depan istri, ada amarah yang membara dan rencana taktis yang mulai tersusun di kepalanya.

Baginya, menyentuh Sulfi adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Bima, dan ia akan memastikan itu adalah kesalahan terakhir pria brengsek itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!