NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Yang Tersisa

Langit pagi masih berwarna pucat ketika Nayra berdiri di depan cermin kecil di kamarnya.Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding beberapa hari lalu, tapi ketenangan itu seperti tipis—rapuh, bisa pecah kapan saja.

Tangannya bergerak pelan merapikan rambut.

Di balik kaus longgar yang ia kenakan, tidak ada perubahan yang terlihat.

Tapi Nayra tahu.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang kini tidak bisa ia abaikan lagi.

“Na, udah siap belum?”Suara Sinta terdengar dari luar.

“Udah,” jawab Nayra pelan.

Ia menarik napas dalam sekali lagi, lalu mengambil tasnya.

Hari ini… mereka akan ke dokter.

Klinik itu tidak terlalu besar, tapi cukup bersih dan rapi.

Bau antiseptik langsung tercium begitu mereka masuk.

Nayra duduk di kursi tunggu, tangannya saling menggenggam erat.

Sinta duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah Nayra.

“Deg-degan?” tanya Sinta pelan.

Nayra tersenyum tipis. “Banget.”

Sinta mengangguk. “Wajar.”

Nayra menunduk.

Beberapa ibu hamil duduk di sekitar mereka. Ada yang ditemani suami, ada juga yang sendiri.

Pemandangan itu membuat dada Nayra terasa sesak.

“Sin…”

“Iya?”

“Aku… takut.”

Sinta langsung menggenggam tangannya. “Takut apa?”

Nayra menelan ludah. “Takut kalau… ini beneran.”

Sinta terdiam sejenak.

“Dan kalau bener?” tanyanya pelan.

Nayra mengangkat bahu lemah. “Berarti hidup Ku… bener-bener berubah.”

Sinta menatapnya lembut. “Na, hidup mu memang berubah. Tapi bukan berarti selesai.”

Nayra tidak langsung menjawab.

Namanya dipanggil.

“Nyonya Nayra.”

Tubuh Nayra langsung menegang.

“Aku temenin,” kata Sinta cepat.

Nayra mengangguk.

Mereka masuk ke dalam ruangan dokter.

Beberapa menit berlalu.

Suasana di dalam ruangan terasa hening.

Dokter wanita di depan mereka terlihat tenang, matanya fokus pada hasil pemeriksaan.

Nayra duduk kaku. Tangannya dingin.

“Bagaimana, Dok?” tanya Sinta akhirnya, tidak sabar.

Dokter itu mengangkat wajahnya.

Lalu menatap Nayra.

“Selamat,” ucapnya lembut.

Satu kata itu terasa seperti palu.

“Kehamilannya sudah masuk beberapa minggu.”

Nayra membeku.

“Jadi… benar?” suaranya pelan.

Dokter mengangguk. “Iya. Kondisinya juga cukup baik untuk usia kehamilan awal.”

Sinta langsung menoleh ke Nayra.

“Na…”

Nayra tidak menjawab.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Apakah ada keluhan?” tanya dokter.

Nayra menggeleng pelan. “Cuma… mual.”

“Itu normal,” jawab dokter. “Nanti saya beri vitamin. Dan mulai sekarang, jaga kondisi ya. Jangan terlalu capek.”

Nayra hanya mengangguk.

Ia tidak benar-benar mendengar semuanya.

Pikirannya berhenti di satu hal— Ini nyata.

Bukan dugaan lagi. Bukan kemungkinan. Tapi kenyataan.

Di luar klinik—

Langkah Nayra terasa lebih berat.

Ia berjalan pelan, seperti kehilangan arah.

Sinta berjalan di sampingnya.

“Na…” panggil Sinta.

Nayra berhenti.

“Aku beneran hamil…” ucapnya pelan.

Sinta mengangguk. “Iya…”

Nayra tertawa kecil.

Tapi suaranya terdengar rapuh.

“Aneh ya…” katanya. “Di dalam diriku… ada kehidupan.”

Sinta menatapnya.

Nayra memegang perutnya pelan.

Masih datar.

Tapi kini terasa berbeda.

“Aku takut…” lanjutnya.

Sinta langsung memeluknya.

“Takut itu wajar.”

Nayra menutup mata.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”

“Dari hari ini,” jawab Sinta.

Nayra membuka mata.

“Pelan-pelan. Nggak usah langsung mikir jauh,” lanjut Sinta.

Nayra mengangguk pelan.

**Di tempat lain ***

Arsen duduk di dalam ruang kerjanya.

Laptop terbuka di depannya.

Beberapa data terpampang di layar.

Nama-nama.

Semuanya sama.

“Nayra…”

Ia menyebut nama itu pelan.

Raka berdiri di depan meja.

“Dari data hotel, ada beberapa kemungkinan,” jelas Raka. “Tapi semuanya masih terlalu luas.”

Arsen menghela napas.

“Persempit.”

“Sedang saya coba, Pak. Tapi tanpa data lengkap, cukup sulit.”

Arsen menatap layar.

“Aku nggak butuh semua,” ucapnya. “Cuma satu.”

Raka tersenyum kecil. “Kalau sudah ketemu, mau diapakan?”

Arsen tidak langsung menjawab.

Ia bersandar di kursinya.

“Aku juga belum tahu,” katanya jujur.

Raka mengangkat alis. “Menarik.”

“Apanya?”

“Bapak biasanya selalu tahu tujuan.”

Arsen terdiam.

Untuk pertama kalinya— Ia tidak punya rencana pasti. Yang ia tahu hanya satu—

Ia harus menemukan gadis itu.

***Malam Hari****

Nayra duduk di atas ranjang. Lampu kamar redup dan Sinta sudah kembali ke kosnya.

Kini Nayla kembali sendiri. Sunyi.

Tangannya memegang hasil pemeriksaan dari dokter. Ia membacanya berulang-ulang.

Seolah berharap tulisannya berubah.

Tapi tidak. Semua tetap sama. Ia meletakkan kertas itu. Lalu perlahan berbaring. Matanya menatap langit-langit. Pikirannya kembali ke malam itu.

Hotel. Lampu redup.bDan seorang pria yang bahkan tidak ia kenal.

“Siapa kamu…” bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban.Hanya keheningan.

Nayra menutup mata. Air mata jatuh perlahan.

“Aku nggak butuh kamu,” ucapnya lirih.

Seolah berbicara pada seseorang yang jauh.

“Ini… hidupku.” Kalimat itu terdengar tegas.

Tapi hatinya… tidak sepenuhnya kuat.

**** Di apartemen****

Arsen berdiri di balkon apartemennya.

Angin malam berhembus pelan.

Ponselnya di tangan. Ia menatap layar kosong.bLalu membuka catatan kecil.

Hanya satu tulisan di sana. Nayra.

Ia menatap nama itu lama.

“Kamu nggak mungkin hilang begitu aja,” gumamnya. Matanya menyipit.

“ Aku pasti bakal menemukanmu." Dan untuk pertama kalinya— Ada tekad yang tidak biasa dalam dirinya.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!