Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Pagi itu, udara terasa berat dan lembap sisa hujan semalam. Di ruang tamu yang sempit, Heri dan Tarjo duduk terpaku. Di depan mereka, di atas meja kayu penuh goresan, sebuah benda asing berkilau tajam.
Batu berlian sebesar kepalan tinju itu memantulkan cahaya matahari yang menyeruak masuk dari celah jendela bambu, menciptakan pendaran yang menyilaukan mata.
Keheningan menyergap. Hanya detak jam dinding tua dan suara ayam tetangga yang memecah suasana. Keduanya seolah kehilangan kata-kata.
“Wan,” suara Heri pecah, bergetar hebat. “Ini… ini beneran berlian?”
Tarjo mendekat, matanya nyaris keluar menatap batu itu. “Kalau ini asli, Wan, lo bukan lagi orang susah. Lo bisa kaya mendadak dalam semalam!”
Juan menatap dua sahabatnya dengan wajah tenang, namun ada kilat kepastian di matanya. Ia tersenyum tipis. “Aku juga berpikiran begitu. Tapi aku tidak mau jemawa sebelum ada bukti nyata.”
“Berlian segede ini bisa mengubah segalanya, Wan!” Tarjo meyakinkan, nadanya naik satu oktav. “Lo bisa lunasin semua utang, bangun rumah mewah, bahkan buka usaha apa saja yang lo mau.”
Juan mengangguk pelan. “Aku tahu. Karena itu, aku butuh kalian. Temani aku ke kota. Kita cari toko berlian paling besar untuk memastikan nilainya.”
Tanpa perdebatan, keduanya setuju. Mereka tahu betapa hancurnya hidup Juan belakangan ini, bekerja serabutan, dihina orang sekampung, dan ditinggalkan Laras dengan cara yang menyakitkan. Kini, kilau batu itu seolah menjadi napas baru bagi Juan.
Perjalanan ke kota memakan waktu dua jam dengan bus tua yang berguncang kasar. Sepanjang jalan, Heri dan Tarjo tak henti-hentinya berkhayal tentang harga batu itu.
Sementara itu, Juan lebih banyak diam. Matanya menatap kosong ke luar jendela, namun tangannya tak lepas dari liontin biru langit yang melingkar di lehernya.
Ada sensasi aneh yang menjalar di dadanya. Getaran halus, seolah ada sesuatu yang hidup di dalam liontin warisan ayahnya itu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setiap kali batu berlian di tasnya berdekatan dengan liontin itu.
Tapi Juan menepis pikiran itu. Fokusnya sekarang hanya satu, memastikan nilai batu berlian tersebut.
Tujuan mereka adalah pusat kota, menuju toko perhiasan termegah. Bangunannya menjulang angkuh dengan kaca-kaca besar yang berkilau. Orang-orang elit keluar masuk dengan pakaian mewah dan aroma parfum yang menyengat.
“Tempat ini saja?” tanya Heri, nyalinya sedikit menciut melihat kemewahan itu.
Juan mengangguk tegas. “Iya. Ini yang paling besar.”
Begitu pintu otomatis terbuka, aroma parfum mahal langsung menyergap indra penciuman mereka. Lantai marmer putih yang bersih memantulkan cahaya lampu kristal.
Di balik etalase, deretan kalung dan cincin berlian tersusun rapi dengan label harga yang bisa membuat orang biasa pingsan.
Seketika, percakapan di dalam toko mereda. Pengunjung dan staf menoleh. Tatapan mereka tajam dan penuh penghinaan, menilai tiga pemuda berpakaian sederhana yang tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.
Seorang resepsionis cantik mendekat. Senyumnya profesional, namun matanya memandang rendah. “Selamat datang di Elora Diamond, ada yang bisa saya bantu?”
Juan berusaha tetap sopan. “Kami ingin menjual batu berlian. Bisa panggilkan penilai ahli di sini?”
Senyum resepsionis itu langsung memudar, berganti menjadi tarikan bibir yang dingin. Ia memperhatikan sepatu Juan yang kotor terkena lumpur desa, baju Tarjo yang kusut, dan celana Heri yang sudah pudar warnanya.
“Menjual berlian?” tanyanya dengan nada sangsi. “Toko ini hanya menerima batu berkualitas tinggi. Biasanya klien kami membuat janji terlebih dahulu.”
Tarjo mulai panas. “Mbak, tolong dilihat saja dulu barangnya. Kalau memang tidak layak, kami pergi.”
Resepsionis itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Baik, tunggu sebentar.”
Baru saja ia hendak berbalik, sebuah tawa pecah dari arah belakang.
“Lho, ini siapa? Juan?”
Juan menoleh. Dadanya seketika menegang. Seorang pria berjas abu-abu mahal berdiri di sana, menggandeng seorang perempuan cantik bergaun merah muda yang ketat menonjolkan lekuk tubuhnya, apalagi bagian bukit kembar yang begitu menonjol.
Pria itu adalah Ferdiyan, keturunan bangsawan Suryadarma. Dan perempuan di sampingnya tidak lain adalah Laras, mantan kekasih Juan yang telah berkhianat.
Waktu seolah membeku. Laras menatap Juan dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan jijik. Senyum sinis terukir di bibirnya yang merah.
“Ya ampun, Juan. Aku hampir tidak mengenali kamu. Masih betah pakai baju kumal seperti itu?”
Ferdiyan tertawa pendek, penuh kemenangan. “Ngapain kamu ke sini, Juan? Nyasar? Ini toko berlian kelas atas, bukan pasar kaget loh.”
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari pengunjung lain.
“Siapa itu?”
“Pasti orang miskin, lihat saja penampilannya.”
Juan menarik napas panjang, menekan amarahnya. “Aku ke sini mau menjual berlian.”
Kata-kata itu justru membuat tawa Ferdiyan pecah lebih keras. Ia menepuk-nepuk bahu Laras. “Dengar itu, Sayang? Si pengangguran ini mau jual berlian! Aku bisa mati tertawa.”
Laras menutup mulutnya, terkikik penuh hinaan. “Juan, jangan bercanda. Dulu saja kamu beli cincin perak untukku harus mencicil dua bulan. Mau jual berlian dari mana? Berlian plastik?”
Tarjo sudah mengepalkan tangan. “Hei, jaga mulut kalian!” bentaknya. Namun Juan menahan lengan sahabatnya itu.
“Sudah, Jo. Biarkan saja,” kata Juan datar, meski matanya menatap tajam ke arah Ferdiyan.
Ferdiyan melangkah maju, menatap Juan dengan pandangan penuh ejekan. “Orang seperti kamu tidak pantas menginjakkan kaki di sini. Lihat sekelilingmu... semua pembeli di sini adalah orang berduit. Kamu hanya merusak pemandangan.”
Suasana semakin panas. Beberapa pembeli ikut memprovokasi.
“Usir saja!”
“Bajunya saja dekil, pasti mau menipu.”
Resepsionis yang tadi berdiri di sana kini tersenyum puas. “Maaf, Pak, sebaiknya Anda dan teman-teman Anda segera keluar.”
Juan tetap bergeming. “Aku datang baik-baik. Aku membawa barang berharga untuk dinilai. Kenapa harus diusir?”
Ferdiyan mengangkat suaranya agar didengar semua orang. “Karena kamu tidak level di sini, Juan! Ini tempat orang yang punya martabat dan uang, bukan buat gembel kampung kayak kamu!”
Dua petugas keamanan bertubuh besar segera mendekat setelah mendapat isyarat dari Ferdiyan.
“Permisi, Pak. Tolong keluar sekarang, jangan membuat keributan di sini.”
Juan menatap kedua petugas itu dengan mata sedingin es. “Aku tidak membuat keributan. Aku hanya ingin barangku dinilai. Setelah itu aku pergi.”
Ferdiyan semakin menjadi. “Kalian dengar? Dia keras kepala! Cepat seret keluar sebelum dia mengotori toko!”
Heri menarik baju Juan. “Wan, sudah… kita keluar saja,” bisiknya cemas. Namun Juan menggeleng. Rahangnya mengeras, auranya berubah seketika.
“CUKUP!”
Suara Juan menggelegar, memenuhi seisi ruangan. Semua orang terdiam seketika.
“Dari tadi kalian hanya menilai orang dari pakaian. Apa kalian pikir orang yang kalian anggap miskin tidak punya hak untuk datang ke sini? Aku datang untuk menjual berlian, bukan untuk meminta sedekah!”
Dua petugas keamanan itu berhenti melangkah, tampak ragu melihat tatapan Juan yang begitu mengintimidasi.