Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA PARFUM YANG MEMUDAR
Rumah sakit telah menjadi semesta baru bagi Clarissa. Tidak ada lagi aroma parfum mahal yang menyengat, kini hanya ada bau antiseptik dan oksigen yang dipaksakan masuk ke paru-parunya. Rambut hitam yang dulu selalu ia banggakan, kini mulai rontok di bantal, helai demi helai, seperti gugurnya harapan yang ia miliki.
Pagi itu, Clarissa meminta Bastian untuk membantunya duduk di kursi roda. Ia ingin melihat matahari.
"Lo yakin? Udara di luar dingin, Clar," Bastian memastikan sembari memakaikan syal tebal di leher adiknya. Tubuh Clarissa kini sangat ringan, seolah-olah ia hanya terdiri dari tulang dan kulit yang rapuh.
"Gue bosan lihat tembok putih, Bas. Gue mau lihat warna lain sebelum mata gue menyerah," jawab Clarissa dengan suara parau yang dipaksakan ceria.
Bastian mendorong kursi roda itu pelan menuju taman rumah sakit. Di sana, Clarissa terdiam menatap bunga-bunga yang bermekaran. Ia teringat masa-masanya di kampus. Betapa ia dulu merasa seperti matahari, namun sebenarnya ia hanyalah badai yang menghancurkan sekitarnya.
Saat mereka sedang menikmati keheningan, empat gadis muncul dari balik koridor taman. Mereka adalah The Diamonds. Namun, kali ini tampilannya berbeda. Tidak ada Bianca yang angkuh atau Vanya yang sinis. Mereka datang dengan wajah polos tanpa riasan berlebihan, membawa kotak-kotak makanan dan balon-balon berwarna cerah.
"Clar..." Bianca memulai, suaranya bergetar melihat kondisi sahabatnya. "Kenapa lo nggak pernah bilang? Kita ini geng, kan? Harusnya kita ada buat lo."
Clarissa tersenyum lemah. "Gue nggak mau kalian lihat gue kayak gini. Gue mau kalian ingat gue sebagai ratu yang jahat, bukan pasien yang sekarat."
"Lo tetep ratu buat kita, Clar," sahut Sherly sambil menghapus air matanya. "Tapi kali ini, lo nggak perlu berjuang sendirian. Kampus sepi tanpa teriakan lo. Bahkan dosen-dosen nanyain lo."
Clarissa terkekeh pelan, namun itu berakhir dengan batuk yang menyakitkan. Ia menyadari satu hal: selama ini ia membangun tembok kebencian, namun ternyata masih ada orang yang mau berjalan menembus tembok itu untuknya.
Setelah teman-temannya pergi, Clarissa meminta Bastian mengambilkan kertas dan pulpen. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mulai menulis.
"Lo nulis buat siapa?" tanya Bastian.
"Buat semua orang, Bas. Terutama buat Maya. Dan... buat Adrian."
Clarissa menuliskan kata-kata yang selama ini terkunci di balik egonya. Ia meminta maaf atas setiap air yang ia siramkan, setiap hinaan yang ia lontarkan, dan setiap luka yang ia goreskan. Ia menjelaskan bahwa kemarahannya adalah cermin dari rasa takutnya akan kematian dan ketidakberdayaannya atas kasih sayang keluarga.
“Untuk Maya... Maaf karena aku mencoba memadamkan cahayamu hanya karena aku merasa gelap di dalam. Kamu adalah orang baik, tetaplah begitu.”
“Untuk Adrian... Terima kasih karena pernah menjadi alasan aku ingin terlihat cantik, meski caraku salah.”
Setelah selesai, ia melipat kertas itu dan memberikannya pada Bastian. "Tolong kasih ini ke mereka kalau... kalau waktunya sudah tiba."
"Jangan ngomong gitu, Clar! Dokter lagi usahain donor sumsum dari gue. Kita punya kecocokan meski nggak seratus persen. Lo harus kuat!" bentak Bastian, ia tidak sanggup mendengar nada pasrah di suara adiknya.
Malam harinya, kondisi Clarissa menurun tajam. Demamnya mencapai 40 derajat Celsius. Seluruh tubuhnya memar-memar biru keunguan tanpa sebab tanda bahwa trombositnya telah mencapai titik terendah.
Pak Gunawan duduk di pinggir ranjang, menggenggam tangan putrinya yang dingin. Pria itu kini tidak lagi memegang ponsel atau tablet. Ia hanya menatap wajah Clarissa, menyadari betapa banyak waktu yang ia buang demi harta yang kini terasa tak berarti.
"Maafkan Papa, Clarissa... Papa gagal jadi Ayah yang baik buat kamu," bisik Pak Gunawan dengan suara pecah.
Clarissa membuka matanya sedikit. Ia menatap Ayahnya dan Bastian secara bergantian. "Pa... Bas... Jangan berantem lagi ya setelah aku pergi. Jangan salahkan aku lagi soal Mama. Aku sayang kalian..."
"Clar, bertahan! Clarissa!" Bastian berteriak saat monitor jantung mulai menunjukkan irama yang tidak beraturan.
Tim medis masuk dengan tergesa-gesa. Bastian dan Pak Gunawan dipaksa keluar ruangan. Di luar pintu, Bastian luruh ke lantai. Ia memukul dinding dengan tangan kosong, merutuki setiap detik yang ia gunakan untuk membenci kembarannya itu.
Di dalam ruangan, di tengah kebisingan alat medis, Clarissa merasa dirinya mulai melayang. Rasa sakit di tulang-tulangnya perlahan hilang, digantikan oleh rasa damai yang asing. Ia melihat bayangan seorang wanita cantik berbaju putih yang tersenyum padanya di ujung lorong cahaya.
"Mama?" bisik Clarissa dalam hati.
Detak jantung di monitor memanjang menjadi satu garis lurus yang memekakkan telinga.