Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun Setelah 200 Tahun
Cahaya remang menyusup di antara pilar batu putih yang menjulang tinggi. Ratu Medusa melangkah tanpa suara, jubah merahnya menyapu lantai marmer dengan irama yang tenang namun berwibawa.
Di ujung lorong yang hanya diterangi batu mustika, sebuah pintu berat berukir naga dan ular terbuka perlahan. Dingin yang menusuk segera menyapa kulitnya.
Di tengah ruangan itu, sebuah peti giok biru es tergeletak kaku. Permukaannya dilapisi segel cahaya yang rumit, menjaga sesuatu yang ada di dalamnya, dari aliran waktu yang kejam.
Medusa menghela napas panjang, matanya yang tajam sejenak melembut. Dengan satu lambaian tangan, segel-segel itu pecah menjadi butiran cahaya.
Tutup peti itu bergeser. Suara gesekan batu yang berat bergema di ruangan yang sunyi. Uap dingin membubung tinggi, menyelimuti sosok pemuda yang baru saja membuka matanya.
Lin Tian tersentak.
Paru-parunya mendadak dipaksa menghirup udara yang sudah tidak ia rasakan selama dua abad. Ia bangkit dengan gerakan kaku, menatap tangannya yang tetap sama seperti saat ia berusia delapan belas tahun. Pemuda itu kemudian menoleh ke arah wanita yang berdiri di hadapannya.
"Dua ratus tahun, Ibu. Kau benar-benar melakukannya," suara Lin Tian terdengar serak, namun tetap tenang.
Medusa mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh pipi Lin Tian. "Dunia luar saat itu terlalu berbahaya untuk emosimu yang tidak stabil, Tian. Kau terlalu keras kepala ingin mencari sesuatu yang tidak ada."
Lin Tian menepis tangan ibunya dengan halus. Ia melangkah keluar dari peti giok, menggerakkan lehernya yang terasa kaku. Ingatannya masih sangat tajam. Sebelum segel es itu membekukannya, ia sempat beradu argumen dengan ibunya. Ia ingin tahu siapa ayahnya, ingin tahu mengapa di seluruh wilayah ras ini, hanya dia yang memiliki tubuh manusia sempurna tanpa sisik sedikit pun.
"Dua ratus tahun atau seribu tahun pun... tujuanku tidak akan berubah," ucap Lin Tian datar. Ia menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan halaman dari ketinggian istana.
"Apakah sekarang ibu akan membiarkanku pergi?"
Medusa terdiam sejenak. Ia merasakan kerinduan yang membuncah, namun juga rasa bersalah yang tertimbun lama. Putranya kini sudah bangun, namun jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari sekadar waktu dua abad.
"Lingzhou bukan lagi tempat yang sama seperti saat kita pertama kali tiba disini. Sekte-sekte manusia di sini sangat kuat dan licik. Mereka tidak akan menyambutmu dengan tangan terbuka, jika tahu kau berasal dari istana ini," Medusa memperingatkan.
Lin Tian berbalik, menatap ibunya dengan tatapan menyelidik.
"Justru itu yang aku cari. Aku butuh berada di antara manusia. Di sini, aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Mengapa mereka semua memiliki tubuh ular, sementara aku tidak? Dan aku... aku merasa ada sesuatu yang hilang."
Ia meraba dadanya. Ada kehampaan yang menetap di sana sejak ia masih kecil. Sejak sosok kakek yang ia sayangi pergi meninggalkannya.
Medusa membuang muka. "Kau hanya perlu berlatih lebih keras, Tian. Kekuatan adalah jawaban dari segalanya."
"Kekuatan tidak bisa memberitahuku siapa ayahku yang sebenarnya," potong Lin Tian cepat. "Aku ingin masuk ke sekte manusia. Aku ingin hidup seperti mereka, berlatih bersama mereka. Mungkin di sana... aku bisa menemukan petunjuk tentang siapa pria yang ibu sembunyikan dariku selama ini."
Melihat tekad putranya yang tidak goyah sedikit pun, Medusa akhirnya mengangguk lemah. Keegoisannya untuk mengurung Tian selama dua ratus tahun telah mencapai batasnya. Jika ia terus menahan pemuda ini, hubungan mereka mungkin akan benar-benar retak.
"Pergilah. Tapi ingat satu hal," Medusa menatap mata Lin Tian dengan intensitas yang mengerikan. "Jika ada orang atau sekte mana pun yang berani menyentuh seujung rambutmu... panggil ibu melalui segel jiwamu. Aku sendiri yang akan datang meratakan seluruh wilayah mereka tanpa sisa."
Lin Tian tertegun sejenak, lalu secara spontan ia menepuk jidatnya sendiri.
"Ibu, kalau ibu selalu ikut campur dengan cara seperti itu... petualanganku akan terasa sangat hambar. Aku pergi untuk mencari jawaban, bukan untuk memulai perang antar ras."
Medusa hanya mendengus dingin, tidak peduli dengan keluhan putranya. Baginya, keamanan Tian adalah harga mati.
Lin Tian menghela napas, mencoba memaklumi sifat posesif ibunya yang sudah mendarah daging. Ia menyentuh cincin penyimpanan yang melingkar di jarinya. Di dalam sana, ia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang hangat.
Pedang Ao Mo.
Senjata dengan gagang naga emas melingkar dan bilah perak yang selalu memancarkan aura merah darah. Pedang yang diberikan ibunya saat ia menangis di pemakaman kakek Han dahulu. Ia masih ingat kata-kata ibunya... bahwa kakek ingin Lin Tian menjadi pendekar pedang yang hebat.
"Terima kasih atas izinnya, Ibu," ucap Lin Tian pelan.
Ia berjalan menuju pintu, tidak membawa banyak barang. Hanya tekad yang tenang dan pedang warisan di dalam cincin penyimpanannya. Saat kakinya melangkah keluar dari ruangan dingin itu, ia tahu bahwa dunia di luar sana sedang menantinya.
Dua ratus sembilan tahun sejak mereka menginjakkan kaki di Benua Lingzhou, Lin Tian akhirnya benar-benar memulai perjalanannya. Ia akan menjadi manusia di antara manusia, menembus kabut rahasia yang telah disimpan rapat oleh ibunya selama ini.