NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Delapan

Sinar mentari pagi yang menerobos celah-celah daun Pohon Memori menciptakan pola-pola geometris yang rumit di atas permukaan meja kayu Kedai Teh Kedamaian. Embun pagi yang menetes dari ujung daun teratai di selatan tidak lagi sekadar air, melainkan sari pati murni yang telah difilter oleh keberadaan Qin Shi di gudang benih. Sejak Sang Utusan Takdir itu mulai bekerja mengklasifikasikan benih, aura di sekitar Desa Jinan seolah-olah memiliki "tatanan" yang jauh lebih rapi. Angin bertiup dengan frekuensi yang tepat untuk menyerbuki tanaman, dan intensitas cahaya matahari seolah-olah diatur sedemikian rupa agar tidak membakar pucuk sawi primadona milik Zhou Ji Ran.

Zhou Ji Ran duduk di kursi goyangnya, memegang sebuah cangkir teh porselen yang permukaannya dihiasi lukisan pemandangan pegunungan yang sangat halus. Ia baru saja menyesap seduhan pertama dari "Teh Embun Takdir"—sebuah varietas baru yang tercipta karena Qin Shi tanpa sengaja meneteskan esensi ketelitiannya pada beberapa pucuk daun teh yang sedang dikeringkan. Rasa teh itu sangat unik; ia tidak hanya menghangatkan tenggorokan, tetapi juga memberikan kejernihan pikiran yang membuat seseorang bisa mengingat detail terkecil dari masa ribuan tahun yang lalu dengan sangat jernih.

"Qin Shi benar-benar memiliki sentuhan yang sangat teratur," gumam Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah gudang emas, di mana ia bisa melihat siluet Qin Shi yang sedang duduk tegak di depan ribuan kotak kayu kecil. Wanita itu tidak lagi mengenakan jubah awannya yang megah; ia kini mengenakan pakaian rami berwarna biru langit dengan celemek linen putih. Tangannya bergerak seperti bayangan, memilah setiap butir gandum berdasarkan potensi 'keberuntungan' yang terkandung di dalamnya.

Di sampingnya, Wu Tie sedang menghitung menggunakan sempoa kopi barunya, sesekali memberikan instruksi logistik kepada Lu Han. "Gandum kelas A di baris keempat harus segera didistribusikan ke sektor barat sebelum matahari mencapai puncaknya. Jika terlambat tiga detik, esensi buminya akan menguap sebesar nol koma lima persen. Itu adalah inefisiensi yang tidak bisa dimaafkan, Lu Han."

"Dimengerti, Kepala Akuntan Wu!" sahut Lu Han dengan semangat, memanggul dua karung gandum seolah-olah beratnya tidak lebih dari kapas.

Zhou Ji Ran tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Ia merasa bahwa timnya kini sudah hampir lengkap. Ia memiliki penata takdir, pengelola angka, pengatur logistik, dan pandai besi yang handal. Namun, matanya kemudian beralih ke arah lereng bukit bagian barat yang masih tampak kosong dan dipenuhi oleh semak belukar yang liar.

"Sigh... jembatan sudah selesai, pengairan sudah stabil, tapi kebun anggur hitamku belum juga dimulai," ucapnya pelan.

Ia berdiri, merenggangkan punggungnya hingga terdengar suara gemertak yang cukup keras, seolah-olah sendi-sendinya baru saja melepaskan tekanan dari beratnya hukum semesta. Ia memanggil Mo Ye, sang juru taman, yang sedang sibuk memotong rumput di tepi sungai agar tingginya tepat tiga milimeter dari permukaan tanah.

"Mo Ye! Hentikan obsesimu pada rumput itu sejenak. Ambil gunting besar dan cangkul cadangan. Kita akan mulai membersihkan lereng barat. Aku ingin menanam bibit 'Anggur Hitam Bintang' di sana sebelum musim gugur tiba," perintah Zhou Ji Ran.

Mo Ye berdiri tegak, membersihkan guntingnya dengan kain sutra. "Diterima. Menghitung luas lereng barat... estimasi pembersihan manual: empat jam dengan bantuan energi pemangkasan. Apakah Tuan ingin saya membentuk semak-semak itu menjadi pola tertentu sebelum dimusnahkan?"

"Tidak perlu aneh-aneh, Mo Ye. Cukup bersihkan saja," jawab Zhou Ji Ran sambil tertawa kecil.

Pekerjaan di lereng barat pun dimulai. Zhou Ji Ran tidak hanya menonton; ia memegang cangkul tuanya dan mulai menggali lubang-lubang tanam dengan ritme yang sangat santai. Baginya, menyentuh tanah secara langsung adalah cara terbaik untuk tetap terhubung dengan realitas hidup yang ia pilih. Setiap kali cangkulnya menghantam tanah, sebuah getaran hangat merambat dari inti bumi menuju lengannya, sebuah bentuk komunikasi bisu antara sang mantan penguasa dan planet yang ia lindungi.

Huo Fen, sang pandai besi, ikut bergabung membawa beberapa batang tiang penyangga yang terbuat dari logam abadi sisa pembangunan jembatan. "Tuan Zhou, saya telah mengeraskan logam ini dengan api Inti Matahari. Anggur hitam ini nanti tidak akan pernah jatuh meskipun diterjang badai es sekalipun. Penyangga ini akan bertahan selama sepuluh ribu tahun tanpa berkarat."

"Bagus, Huo Fen. Letakkan setiap tiang dengan jarak tiga meter. Pastikan mereka sejajar dengan aliran energi dari Telaga Teratai di bawah sana," instruksi Zhou Ji Ran.

Sore hari di Desa Jinan biasanya adalah waktu yang paling damai, namun hari ini, sebuah anomali baru muncul di cakrawala. Udara yang tadinya hangat dan penuh dengan aroma melati, tiba-tiba menjadi sangat kering dan berbau seperti kertas tua yang terbakar. Langit di atas lereng barat tidak berubah menjadi merah atau hitam, melainkan berubah menjadi warna putih susu yang sangat kusam, seolah-olah seseorang sedang menutupi dunia dengan selembar kain kafan transparan.

Zhou Ji Ran menghentikan cangkulnya. Ia menyeka keringat di dahinya, matanya sedikit menyipit menatap ke arah jalan setapak yang menuju ke arah jembatan baru. Di sana, terlihat seorang pria tua berjalan dengan sangat perlahan. Pria itu mengenakan jubah berwarna kelabu yang dipenuhi dengan coretan angka-angka dan rumus-rumus yang terus bergerak secara acak. Di pundaknya, ia membawa sebuah timbangan gantung yang tidak memiliki piringan, melainkan dua buah bola kristal yang berisi galaksi kecil yang terus berputar.

Pria itu adalah Suan Ji, yang dikenal sebagai "Sang Auditor Kosmik". Jika Qin Shi adalah utusan takdir yang mengatur alur, dan Wu Tie adalah penagih hutang yang mengatur aset, maka Suan Ji adalah entitas yang bertugas melakukan 'Audit Eksistensi'. Ia dikirim langsung oleh para Pencetus Utama karena ketidakseimbangan yang ditimbulkan oleh Desa Jinan telah menyebabkan distorsi pada "Laporan Tahunan Energi Multisemesta".

Suan Ji berhenti tepat di tengah Jembatan Pertumbuhan. Ia menatap ke arah struktur jembatan dengan pandangan yang penuh dengan ketidakpuasan. "Bahan: Logam Abadi. Konstruksi: Teknik Matahari Purba. Fungsi: Penyeberangan Logistik. Status: Ilegal dan Tidak Terdaftar dalam Anggaran Realitas."

Setiap kali Suan Ji berbicara, angka-angka di jubahnya berkedip merah. Ia memutar timbangan di pundaknya, dan salah satu bola kristal mulai bercahaya. "Seluruh pengeluaran energi di desa ini melebihi kuota yang diberikan untuk zona fana tingkat empat. Berdasarkan aturan 'Keseimbangan Absolut', surplus kehidupan di sini harus dipotong dan dikembalikan ke gudang pusat energi."

Huo Fen yang sedang memasang tiang anggur seketika meradang. "Apa?! Kau menyebut jembatan buatanku ilegal? Aku membangunnya dengan keringat dan api jiwaku sendiri!"

Suan Ji tidak menoleh. Ia hanya menggerakkan jarinya di udara, menuliskan angka 'MINUS SATU' yang sangat besar. Seketika, salah satu tiang logam abadi yang baru saja ditanam Huo Fen tiba-tiba menyusut dan menghilang, seolah-olah ia tidak pernah ada di sana.

"Efisiensi adalah kebenaran tunggal," ucap Suan Ji datar. "Setiap materi yang tidak memiliki tujuan dalam skenario besar harus dieliminasi."

Zhou Ji Ran meletakkan cangkulnya di pundak. Ia berjalan menuruni lereng menuju jembatan dengan langkah yang sangat santai, seolah-olah ia tidak peduli dengan hilangnya tiang logamnya. "Kau tahu, Tuan Auditor, di tempatku ini, kami tidak mengenal anggaran realitas. Kami hanya mengenal 'panen' dan 'makan'. Jika kau ingin menghitung sesuatu, pergilah ke meja kasir Wu Tie. Dia sangat suka angka. Tapi jangan pernah menyentuh struktur jembatanku."

Suan Ji menatap Zhou Ji Ran. Timbangan di pundaknya bergetar hebat. "Zhou Ji Ran. Mantan Pemilik Sistem. Keberadaanmu adalah hutang terbesar bagi semesta. Kau telah mengonsumsi miliaran poin data selama masa aktifmu, dan sekarang kau menolak untuk melunasinya dengan cara menghilang. Tindakanmu menanam anggur hitam ini adalah pemborosan esensi yang sangat fatal."

"Pemborosan?" Zhou Ji Ran terkekeh, ia berdiri di depan Suan Ji dengan tangan di saku celana raminya. "Kau menyebut kehidupan sebagai pemborosan? Kau terlalu lama duduk di depan neraca hingga kau lupa bahwa satu buah anggur yang manis jauh lebih berharga daripada seluruh buku besar milik Pencetus Utamamu itu."

Suan Ji mengangkat timbangannya. "Jika kau menolak untuk diaudit secara sukarela, maka aku akan menggunakan 'Timbangan Penolakan'. Aku akan menghitung nilai jiwamu, dan jika nilainya tidak sebanding dengan gangguan yang kau buat, maka desa ini akan diformat ulang menjadi ruang hampa."

Bola kristal berisi galaksi itu melayang ke arah Zhou Ji Ran, memancarkan sinar pemindai yang sangat intens. Sinar itu mencoba menelusuri setiap jalur memori, setiap titik kekuatan, dan setiap kesalahan yang pernah dilakukan Zhou Ji Ran selama hidupnya.

Seluruh penghuni desa menahan napas. Mereka merasakan sebuah tekanan mental yang luar biasa, seolah-olah hidup mereka sedang diukur dan dinilai oleh entitas yang tidak memiliki belas kasihan. Bahkan Ye Hua dan Qin Shi yang berada di kejauhan tampak sangat waspada.

"Auditing dimulai," suara Suan Ji bergema.

Namun, saat sinar pemindai itu masuk ke dalam jangkauan aura Zhou Ji Ran, sebuah fenomena unik terjadi. Sinar itu tidak menemukan data angka atau kekuatan tempur. Sebaliknya, sinar itu justru membiaskan gambaran tentang kebun sawi yang hijau, aroma teh melati di sore hari, dan suara tawa Lin Xiaoqi saat mereka sedang makan malam.

"Error... Data tidak valid... Nilai kebahagiaan terdeteksi di luar parameter kuantitatif..." suara Suan Ji terdengar sedikit terganggu.

Zhou Ji Ran hanya berdiri diam, tersenyum tipis. "Masalahmu adalah kau mencoba menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung. Bagaimana kau bisa memberi nilai pada rasa syukur seorang jenderal yang akhirnya bisa menanam padi? Bagaimana kau bisa menghitung beratnya kedamaian yang dirasakan seorang penilai takdir saat dia menyortir benih?"

Zhou Ji Ran mengambil sebuah batu kecil dari lantai jembatan. Ia melemparkan batu itu ke arah bola kristal galaksi tersebut. Batu itu tidak terbang dengan kecepatan tinggi, ia melayang dengan santai. Namun, saat batu itu menyentuh bola kristal, bola kristal itu seketika pecah berkeping-keping. Bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena 'Realitas' dari batu tersebut jauh lebih padat daripada 'Abstraksi' dari galaksi di dalam kristal itu.

"Apa?! Galaksi Auditor-ku... dihancurkan oleh sebuah batu sungai?!" Suan Ji jatuh terduduk di atas jembatan, timbangannya miring dan mengeluarkan suara statis yang menyakitkan.

"Itu karena batu itu adalah bagian dari Desa Jinan. Ia nyata. Sedangkan duniamu hanyalah sekumpulan angka yang ketakutan," ucap Zhou Ji Ran. Ia mengulurkan tangannya, membantu Suan Ji untuk berdiri. "Dengar, Tuan Auditor. Kau memiliki kemampuan untuk menghitung dan merencanakan sesuatu dengan sangat detail. Kebetulan sekali, aku sedang merencanakan perluasan desa menuju ke arah hutan timur untuk dijadikan area peternakan kambing gunung. Kami butuh seseorang yang bisa menghitung anggaran pakan, siklus reproduksi, dan proyeksi hasil susu secara akurat."

Suan Ji menatap Zhou Ji Ran dengan pandangan yang kosong. Seluruh dunianya yang didasarkan pada audit energi telah runtuh hanya dengan sebutir batu. "Kau... kau ingin aku menghitung... kambing?"

"Ya. Dan susu kambing itu sangat bagus untuk dicampur ke dalam teh melati. Itu akan menjadi menu baru di kedai teh. Tugasmu adalah memastikan tidak ada satu butir pun pakan yang terbuang sia-sia. Bukankah itu adalah puncak dari efisiensi yang kau cari?" tanya Zhou Ji Ran dengan nada yang sangat persuasif.

Wu Tie yang melihat kejadian itu dari jauh segera mendekat sambil membawa buku besar cadangan. "Selamat datang di tim manajemen, Tuan Auditor. Saya sedang butuh asisten untuk melakukan rekonsiliasi data inventaris mingguan. Mari, saya akan tunjukkan kantor barumu di sebelah gudang benih."

Suan Ji, dengan jubah kelabunya yang kini sudah tidak lagi bercahaya, berjalan mengikuti Wu Tie dengan langkah yang agak gontai. Ia menyadari bahwa di Desa Jinan, tidak ada tempat untuk menghitung kehancuran; hanya ada tempat untuk menghitung pertumbuhan.

Sore harinya, pemandangan di lereng barat menjadi jauh lebih menarik. Dengan bantuan Mo Ye yang memangkas semak dengan kecepatan tinggi dan Huo Fen yang memasang tiang dengan presisi, bibit-bibit Anggur Hitam Bintang akhirnya selesai ditanam. Zhou Ji Ran menyiram bibit-bibit tersebut menggunakan air yang dicampur dengan sedikit sari pati dari Telaga Teratai.

"Tuan, apakah benar Anggur ini akan berbuah dalam waktu singkat?" tanya Bai Ling yang ikut membantu merapikan tanah di sekitar bibit.

"Di bawah tanah yang dikelola oleh Gui Xu, tidak ada yang lambat pertumbuhannya, Bai Ling. Esok pagi, kau akan melihat tunasnya sudah mulai merambat ke tiang Huo Fen," jawab Zhou Ji Ran puas.

Kehidupan di Desa Jinan kembali ke normalitas yang surreal. Jenderal Lu Xing dan pasukannya kini sedang sibuk membantu Suan Ji membangun kandang kambing yang efisien, sementara Sembilan Tetua Awan mulai menanam bunga di sepanjang pagar jembatan sesuai dengan perdebatan estetika pagi tadi.

Di Kedai Teh Kedamaian, Zhou Ji Ran kembali ke kursi goyangnya. Lin Xiaoqi membawakannya sepiring kue bulan kecil berisi pasta kacang hitam.

"Tuan, apakah Anda merasa bahwa dengan adanya Auditor ini, semuanya akan menjadi lebih teratur?" tanya Lin Xiaoqi.

"Teratur dalam arti yang baik, Xiaoqi. Setidaknya sekarang aku tidak perlu repot menghitung berapa banyak pupuk yang harus kita pesan bulan depan. Biarkan Suan Ji yang pening kepalanya dengan angka-angka itu," jawab Zhou Ji Ran sambil tertawa.

Namun, di balik tawa tersebut, Zhou Ji Ran menatap ke arah langit malam yang mulai muncul. Ia merasakan adanya sebuah riak yang sangat jauh, dari tempat yang bahkan lebih tinggi dari Paviliun Takdir. Sebuah kesadaran yang sangat purba sedang menatap ke arah desanya. Kesadaran yang tidak peduli pada angka, tidak peduli pada takdir, dan tidak peduli pada kekayaan.

"Tuan Pencetus Pertama... akhirnya kau mulai menyadari keberadaanku," bisik Zhou Ji Ran dalam hati.

Ia mengambil cangkir tehnya, mengangkatnya sedikit ke arah bintang-bintang seolah sedang memberikan penghormatan pada musuh yang paling besar. "Jika kau ingin datang, datanglah sebagai seorang teman yang ingin belajar bertani. Jika tidak, bersiaplah untuk menjadi pengawas kebun sayurku yang paling kuat."

Malam mulai turun menyelimuti desa dengan kehangatan dan cahaya lampion. Suara tawa dari restoran Chen Long, denting sempoa dari kantor Wu Tie, dan suara petikan kecapi Su Ruo menyatu menjadi sebuah harmoni kehidupan yang murni. Zhou Ji Ran memejamkan matanya, menikmati setiap detik dari kebebasannya.

Segala sesuatu berjalan perlahan, penuh dengan kejutan konyol yang menyenangkan. Perjalanan tanpa instruksi ini telah membawanya ke sebuah titik di mana ia bukan lagi seorang pemain, melainkan seorang arsitek dari kebahagiaannya sendiri. Dan di Desa Jinan, tidak ada yang lebih berharga daripada semangkuk nasi hangat dan senyum dari orang-orang yang dicintai.

"Besok adalah hari pembersihan area peternakan," gumam Zhou Ji Ran sebelum akhirnya terlelap dalam tidurnya yang damai.

Satu hari lagi telah berakhir, membawa serta satu lagi musuh besar yang bertransformasi menjadi tenaga kerja yang berguna. Di bawah bimbingan sang mantan pemilik sistem, Desa Jinan terus tumbuh menjadi pusat dari segala sesuatu yang nyata di seluruh penciptaan. Dan sang legenda akan terus berdiri menjaga dunianya, memastikan bahwa sawinya tidak dimakan ulat, dan jiwanya tidak dimakan oleh kesunyian sistem.

Kehidupan memang benar-benar luar biasa. Tanpa skenario, tanpa perintah, hanya keberadaan yang tulus di atas tanah yang subur. Dan itu adalah hadiah terbesar yang pernah ia dapatkan dalam seluruh eksistensinya yang tak terbatas.

Fajar berikutnya akan segera tiba, membawa tantangan baru dan keajaiban baru bagi sang petani legenda. Dan ia akan selalu siap menyambutnya dengan cangkul di tangan dan teh pahit di meja. Semuanya berjalan sesuai rencana hidupnya yang sederhana namun luar biasa.

Malam semakin larut, dan Desa Jinan pun tenggelam dalam ketenangan yang murni, menanti matahari esok untuk kembali memulai ritual kehidupan yang penuh makna. Sang penguasa sejati telah menemukan rumahnya, dan ia tidak akan pernah menukarnya dengan apa pun di seluruh multisemesta yang luas.

"Selamat tidur, dunia. Esok kita bekerja lagi," bisik angin di sela-sela daun Pohon Memori yang kini bersinar terang di tengah kegelapan malam.

Dan di kejauhan, di atas takhta galaksi yang membeku, Sang Pencetus Pertama mulai menyadari bahwa penghancuran Zhou Ji Ran bukanlah pilihan yang bijak. Ia mulai berpikir untuk memesan tempat di Kedai Teh Kedamaian, hanya untuk merasakan apa yang disebut sebagai 'Kebahagiaan' yang telah mengguncang pondasi seluruh sistemnya. Perjalanan ini masih sangat panjang, namun di setiap jengkal tanah Jinan, kedamaian telah menang secara mutlak. Kehidupan ini memang sangat indah._

1
Kairon
dah balik kerumahnya
gak balik jadi orang2ngan sawah soalnya..🤣🤣
Luthfi Afifzaidan
up lg
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
oya thor wanita yg datang sama pangeran long wei kemana ya thor?
Kairon
dijadiin orang2ngan sawah bang🤣🤣
Luthfi Afifzaidan
oya thor Prajurit yg dibawa jendral han di kemanain ya thor?
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!