seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. JEBAKAN MAKAN MALAM DAN ULTIMATUM SANG UMI.
"Ayini, jujur sama Umi. Kalian ada masalah? Kenapa Alvaro wajahnya ketakutan begitu kalau liat kamu?"
Ayini pun menceritakan semuanya, mulai dari permintaannya soal bayi sampai insiden "handuk" semalam.
Bukannya marah karena kelakuan bar-bar menantunya, Umi Ayisah justru tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang pinggiran meja.
"Ya Allah, Ayini! Kamu benar-benar nekat! Tapi Umi suka semangatmu," ucap Umi Ayisah setelah tawanya mereda.
"Sebenarnya, Alvaro itu hanya terlalu khawatir. Dia merasa kamu masih tanggung jawabnya untuk dididik, dia takut kalau punya anak sekarang, kamu jadi kehilangan masa mudamu."
"Tapi Ayini mau, Mi. Ayini pengen ada yang nemenin di Ndalem kalau Mas Alvaro sibuk," keluh Ayini manja.
Umi Ayisah tersenyum penuh arti. "Tenang saja. Umi ada di pihakmu. Biar Umi yang kasih 'sedikit' dorongan buat kulkas itu supaya cepat mencair."
Malam harinya, Umi Ayisah meminta Abi Vero untuk makan malam di luar bersama kolega, sengaja meninggalkan Alvaro dan Ayini berdua saja di Ndalem.
Tidak hanya itu, Umi juga menyiapkan menu makanan yang "istimewa"—banyak mengandung rempah-rempah yang konon meningkatkan stamina.
Alvaro pulang dengan perasaan was-was. Ia melihat Ndalem sangat sepi. Di meja makan, sudah tersedia lilin aromaterapi dan makanan yang ditata sangat rapi oleh Umi sebelum pergi.
"Mas... sini makan," panggil Ayini yang kali ini mengenakan gamis sutra lembut pemberian Umi.
Ia tampak sangat cantik dan lebih dewasa, tidak seperti Ayini yang biasanya bar-bar.
Alvaro duduk dengan kaku. "Umi dan Abi ke mana?"
"Lagi pergi. Kita disuruh makan berdua aja," jawab Ayini singkat.
Suasana makan malam itu sangat sunyi, hanya terdengar denting sendok.
Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel Alvaro bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari Umi Ayisah masuk.
“Alvaro, Umi sudah bicara sama Ayini. Umi setuju kalau kalian mau program punya cucu sekarang. Ayini sudah siap, Umi juga siap bantu jaga. Jangan kaku terus, kasihan istrimu. Ingat, menikah itu untuk ibadah, dan punya keturunan itu berkah. Jangan pakai alasan usia terus kalau hatimu sendiri sebenarnya sudah ingin.”
Alvaro hampir menjatuhkan ponselnya.
Ia merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ibunya sendiri sudah memberi lampu hijau secerah matahari Barito!
Ayini, yang sudah tahu rencana Umi, bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju belakang kursi Alvaro.
Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga suaminya yang sudah panas membara.
"Gus... Umi udah kasih izin lho. Mas Alvaro masih mau lari ke masjid lagi malam ini?"
Alvaro memejamkan mata erat-erat. Pertahanannya yang sekeras baja selama ini benar-benar terasa runtuh.
Ia berbalik, menatap Ayini yang kini berdiri sangat dekat dengannya. Keseriusan di mata Ayini dan dukungan dari ibunya membuat Alvaro menyadari satu hal: ia tidak bisa terus-menerus menganggap Ayini sebagai bocah kecil.
Gadis di depannya adalah istrinya, belahan jiwanya.
"Ayini... kamu benar-benar yakin?" tanya Alvaro dengan suara berat yang dalam, tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan getaran perasaan yang tertahan.
Ayini mengangguk mantap, senyum nakalnya menghilang berganti dengan ketulusan yang murni.
"Yakin, Mas. Ayini mau kita jadi keluarga yang lengkap."
Alvaro menarik napas panjang, lalu perlahan ia berdiri. Ia tidak melarikan diri kali ini.
Ia memegang kedua bahu Ayini, menatap istrinya itu dengan pandangan yang membuat Ayini sendiri mendadak gugup.
"Baiklah. Tapi janji satu hal... jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah berhenti menjadi Ayini yang ceria ini," ucap Alvaro lembut.
Ia kemudian mengecup dahi Ayini dengan sangat lama, sebuah kecupan yang menandakan bahwa sang "Gus Kulkas" akhirnya benar-benar telah menyerah pada takdir cintanya yang indah.
Malam itu, di bawah langit Barito yang penuh bintang, babak baru dalam kehidupan mereka pun dimulai, meninggalkan semua keraguan dan kekakuan masa lalu.