Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Dansa
Olivia....
"Sialan!" Aku mendidih karena amarah sambil menggertakkan gigi. Sandra memperhatikan aku dengan ekspresi wajah bingung sementara Sonya menampilkan wajah simpati dan iba.
"Kenapa kamu kelihatan marah, Olivia?" Sarah bertanya namun tidak aku memilih mengabaikan pertanyaannya. Dia merasa bingung.
"Kapan kamu mendapatkan foto ini?" tanyaku serius, setelah beberapa saat aku terdiam untuk menenangkan diri. Wajahku dipenuhi rasa penasaran.
"Kemarin," jawab Sarah, suaranya terdengar ragu-ragu dan bingung.
Aku menatap kembali foto itu dengan wajah penuh rasa jijik. Mantan Alexander Stone, Claudia kemarin ada di kota ini. Segalanya kini menjadi jelas dan masuk akal, mengapa Alex meminta perceraian itu.
"Aku kebetulan bertemu dia di mall dan aku mengambil foto-foto itu supaya kamu percaya saat aku menceritakannya padamu," tambah Sarah ketika aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ketika pertama kali bertemu Alex, aku menyelidiki kehidupannya dan mengetahui bahwa dia baru saja putus dengan pacarnya yang bernama Claudia beberapa bulan sebelum bertemu denganku.
Foto-foto mereka tersebar di mana-mana di media sosial. Mereka tampak seperti pasangan serasi yang diimpikan semua orang. Aku bisa mengenali Claudia di mana pun dan kapan pun.
Meskipun hubungan mereka telah berakhir, Aku selalu merasa tidak percaya diri kalau sudah menyangkut Claudia. Aku merasa Alex tidak pernah berhenti mencintainya, dilihat dari cara dia membicarakannya pada awalnya.
Mereka mengakhiri hubungan mereka karena alasan yang bagus, Claudia harus pindah ke Paris, untuk fokus pada karir modelingnya. Mereka tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh sehingga terpaksa harus berpisah.
"Olivia, tenanglah," kata Sonya, ketika dia melihat kakiku yang mulai gemetar. "Kamu pasti bisa melewati semua ini. Kita akan mengurus masalah itu nanti."
Aku sebenarnya sudah siap untuk berhadapan dengan Alex di depan semua orang. "Sebenarnya ada masalah apa?" Sarah bertanya, dia masih terlihat bingung karena dia belum tahu masalah perceraian aku dan Alex.
Akhirnya, Sonya menjelaskan semua kepada Sarah.
"Olivia, kamu harus tenang," saran Adikku begitu Sonya selesai. menjelaskan semuanya.
"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang, Sarah! Dia berbohong padaku!" aku mendongak menahan air mata yang melesak keluar dan menghancurkan hasil riasan yang ku buat selama berjam-jam tadi. "Dia bilang perceraian kami bukan karena mantannya itu. "Sialan! Dia bilang dia tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Jadi, kalung mahal itu untuk wanita itu? Dia membelikannya untuk Claudia."
Tanpa sadar, tanganku bergerak mencengkeram rambutku saat aku menyadari bahwa pernikahanku di ambang kehancuran karena kehadiran mantan kekasih Alex. Selama bertahun-tahun ini, aku telah salah tentang Alex yang ternyata masih mencintai mantannya itu.
"Aku tidak bermaksud membelanya, tapi bukankah sebaiknya kamu bertanya dan minta penjelasan dulu pada Alex sebelum memutuskan segalanya," saran Sonya dengan suara lembut.
Aku menghela nafas, lagi dan lagi. Aku perlu menenangkan diri jika tidak maka aku bisa bertindak gila.
"Aku harus pergi sekarang," ujarku akhirnya seraya mengambil tasku dan buru-buru pergi meninggalkan tempat itu. Sonya buru-buru mencegahku. "Aku harus pergi, jadi jangan tahan aku. Aku tidak tahan di sini."
"Tapi kamu harus tinggal sampai acara dansa berpasangan." ucapnya, mataku mendelik memelototinya.
"Jika aku tidak pergi sekarang, aku takut tidak bisa menahan diri dan membuat keributan," ucapku dengan suara bergetar karena mencoba menahan amarah.
Sonya pun mengerti, dia akhirnya meminta Sarah untuk tetap di sana sementara dia sendiri berjalan keluar bersamaku.
Pada saat berjalan keluar, kami berpapasan dengan Alex dan dia mencoba menghentikan kami namun aku sama sekali tidak menghiraukan dirinya dan terus berjalan keluar.
Aku tahu, ketidakhadiranku di acara dansa berpasangan akan menimbulkan berbagai macam persepsi tapi aku sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut. Lagi pula, kami akan bercerai, jadi bukankah mereka lebih baik tahu bahwa ada masalah dengan pernikahan kami.
Sonya dan aku berjalan menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.
Kami masuk ke dalam mobil dan aku memintanya untuk pergi secepatnya dari tempat itu sebelum Alex mengutus seseorang untuk menghentikan kami.
Satu hal yang aku tahu tentang Alex, dia tidak suka di buat malu, dan ketidakhadiran ku di acara dansa itu sudah pasti akan membuatnya malu.
Dalam perjalanan pulang, Alex terus memborbardir ponselku dengan telepon dan teks di WhatsApp, namun aku sama sekali tidak merespon. Aku kemudian mematikan ponsel dan menyimpannya di dalam tas.
Ketika sudah dekat dengan rumah, aku meminta Sonya untuk berhenti sejenak. "Bisakah kita pergi ke rumah kamu saja. Malam ini, aku tidak ingin bertemu dengannya." Aku memohon pada Sonya.
Sonya mengangguk dan kembali menyalakan mobilnya. Dia memutar arah menuju ke rumahnya.
"Aku masih tak percaya, bisa-bisanya Alex berbohong padaku." omelku saat aku baru menginjakkan kaki di rumah Sonya. "
"Paling tidak, dia harusnya jujur mengatakan padaku tentang semuanya."
"Olivia, tenanglah!" kata Sonya, dia memberi tepukan di belakangku. "Sebaiknya kamu ganti baju dan pergi tidur. Kita akan mengurus masalah ini besok pagi, oke?"
Tapi aku ragu apakah aku akan bisa tidur nyenyak malam ini setelah mengetahui semua itu. Aku yakin sekali, sepanjang malam ini aku akan terus berpikir tentang luka dan pengkhianatan Alex padaku.
Aku menganggukkan kepala, dan Sonya membimbingku menuju kamar tidur tamu dimana aku akan tidur selama aku menginap di rumahnya.
"Alex menelponku," kata Sonya saat kami berjalan menuju kamar.
Aku meliriknya sekilas, tentu saja Alex akan menelponnya.
"Jangan hiraukan dia," perintahku dan dia mengangguk mengiyakan.
Setelah dia selesai mengantarku ke kamar, dia membiarkan aku sendiri di kamarku, sedangkan dia langsung kembali lagi ke kamarnya.
Saat sendirian di kamar, aku membuka handphone dan yang pertama kali aku lihat adalah pesan dari Alex.
(Kita telah setuju untuk menunggu sampai selesai pesta tapi kamu telah mempermalukan aku di hadapan tamu - tamuku.)
Setelah membaca pesan Alex , aku merasa sedikit bersalah dengan apa yang telah aku lakukan, tetapi amarah di dadaku mengaburkan perasaan itu, sehingga aku tak peduli akan hal itu lagi. Aku kembali mematikan ponselku, lalu mengganti bajuku sebelum tidur.
Aku membiarkan kemarahan di hati Alex, tanpa mau membujuknya atau minta maaf seperti yang dulu biasa aku lakukan. Sekarang, aku tak peduli lagi. Sungguh tidak peduli.