NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. BAYI KU SAYANG.

Ayini terus bertanya dan menggoda, membuat Alvaro merasa sangat terpojok dan kesal karena rahasianya terbongkar.

"Ayini, diamlah. Kembali ke kasur," ucap Alvaro ketus, menyembunyikan rasa malunya.

Ayini yang melihat wajah kesal Alvaro justru merasa gemas.

Hilang sudah rasa segan yang tadi sempat muncul. Ia mendekati Alvaro dengan wajah usilnya.

"Aduh, bayi ku sayang... kok cemberut lagi sih? Tadi udah bagus lho senyumnya, manis kayak sirup marjan," ucap Ayini dengan nada manja yang bar-bar.

Gus Alvaro melotot tak percaya. "Bayi? Apa kamu bilang? Ayini, jaga lisanmu! Saya ini suamimu!"

"Iya, bayi gede yang lagi ngambek karena cemburu," goda Ayini lagi.

Ia mencondongkan wajahnya sedikit, menatap mata Alvaro yang mulai panik.

"Sini aku cium biar senang, biar nggak cemberut lagi."

Mendengar kata "cium", jantung Alvaro serasa ingin copot. Dag dig dug suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri.

Ia langsung berdiri dan menjauh tiga langkah dari Ayini, punggungnya menempel ke lemari.

"Astagfirullah... Astagfirullah alazim... Ayini!" Alvaro menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya sudah memerah padam sampai ke leher karena malu yang luar biasa.

"Jangan bilang yang nggak-nggak! Belum waktunya!"

"Lho, kan udah halal, Gus?" goda Ayini sambil tertawa terbahak-bahak melihat reaksi suaminya yang sangat polos itu.

"Tetap saja! Kamu... kamu harus belajar adab lagi!" Alvaro dengan langkah seribu langsung berbalik dan keluar dari kamar, menuju masjid untuk mendinginkan kepalanya yang terasa berasap.

Di dalam kamar, Ayini jatuh terduduk di lantai sambil memegangi perutnya karena tertawa.

"Ya Allah... ternyata bikin Gus Alvaro salting itu lebih seru daripada balapan motor di Muara Teweh!"

Tanpa Ayini ketahui, di jalan menuju masjid, Alvaro berkali-kali mengusap dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdetak liar.

"Gadis itu... benar-benar ujian iman yang nyata," gumamnya sambil tersenyum kecil lagi di kegelapan malam, kali ini tanpa rasa takut ketahuan.

Pagi itu, udara Barito Utara terasa sedikit mendung, namun semangat Ayini justru sedang membara.

Setelah kejadian "Bayi Sayang" semalam yang membuat Gus Alvaro melarikan diri ke masjid, Ayini merasa sedikit bersalah.

Ia ingin melakukan sesuatu yang benar-benar berguna sebagai seorang istri, meskipun ia sendiri ragu apakah ia mampu melakukannya.

"Umi, Ayini mau masak buat Mas... eh, buat Gus Alvaro," ucap Ayini saat menemui Umi Ayisah di dapur Ndalem.

Umi Ayisah tersenyum lebar, meski ada kilat kekhawatiran di matanya.

"Alhamdulillah, Ayini. Kamu mau masak apa? Alvaro itu suka sekali Sayur Asam khas Banjar dan Ikan Patin Bakar."

"Gampang itu, Mi! Ayini sering liat Mamah masak di rumah. Serahin sama Ayini," ucap Ayini dengan percaya diri tingkat tinggi, khas sifat bar-bar-nya.

Namun, kenyataan tak semudah teori. Begitu Umi Ayisah meninggalkannya sendirian karena harus menemui tamu, kekacauan dimulai.

Ayini mulai memotong sayuran dengan ukuran yang tidak beraturan—beberapa terlalu besar, beberapa terlalu kecil.

Saat menyalakan kompor, ia terlalu memutar knop gas hingga api menyambar tinggi.

"Astagfirullah alazim! Kebakaran!" teriak Ayini sambil melompat mundur.

Ia lupa adab dapur dan mulai mengomel sendiri. "Ini kompor apa naga sih? Galak bener!"

Bumbu-bumbu dimasukkan tanpa takaran. Ayini memasukkan garam dua sendok makan penuh karena mengira itu adalah gula, lalu menambah perasan asam jawa yang sangat banyak karena ingin sayurnya benar-benar "asam" sesuai namanya.

Belum lagi saat ia mencoba membakar ikan patin, asap tebal mulai memenuhi dapur Ndalem hingga tercium sampai ke ruang tamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!