"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keesokan paginya, suasana rumah Pradipta berubah menjadi sibuk. Ini adalah hari pertama Dewa kembali ke kantor secara resmi setelah pengumuman besar kemarin. Pelayan berlarian menyiapkan sepatu, tas, dan keperluan Dewa.
Aira sibuk membantu Dewa memakai dasi. Meskipun ada pelayan, Aira tetap bersikeras melakukannya sendiri.
"Mas, dasinya miring sedikit," ucap Aira serius sambil menjinjit.
Dewa hanya diam, menikmati kedekatan mereka. "Ai, kamu tahu tidak apa yang paling aku suka dari pagi ini?"
"Apa? Sarapan bakwannya?"
"Bukan. Tapi melihat kamu memakai gaun mahal tapi tetap punya aura istri sederhana yang galak kalau suaminya telat kerja," goda Dewa.
Aira mencubit perut Dewa. "Sudah! Cepat berangkat. Pak Bambang sudah tunggu di bawah."
Dewa mengecup kening Aira lama. "Doakan aku ya. Hari ini akan ada rapat besar soal proyek pembangunan panti asuhan yang dulu pernah kita impikan. Aku akan menamakannya 'Yayasan Aira Pradipta'."
Mata Aira berkaca-kaca. "Mas... kamu serius?"
"Sangat serius. Aku ingin harta ini punya manfaat, seperti kamu yang bermanfaat buat hidupku," Dewa mengedipkan mata, lalu melangkah pergi dengan gagah.
Setelah Dewa pergi, Aira memutuskan untuk membantu Nyonya Widya di ruang tengah. Hubungan mereka mulai membaik, meskipun Nyonya Widya masih sering mengkritik cara Aira memegang cangkir teh.
Tiba-tiba, seorang pelayan masuk dengan wajah ragu. "Maaf, Nyonya Besar, Nyonya Muda... ada tamu di depan. Dia bilang dia adalah teman lama Tuan Dewa dari masa lalu."
Aira dan Nyonya Widya saling pandang.
"Siapa? Bianca lagi?" tanya Nyonya Widya ketus.
"Bukan, Nyonya. Dia laki-laki. Namanya... Tuan Rangga."
Begitu mendengar nama itu, Nyonya Widya tampak sedikit terkejut. Aira yang tidak tahu apa-apa hanya mengerutkan kening.
Seorang pria muda, tampan dengan gaya yang sangat santai, jauh berbeda dengan Dewa yang kaku masuk ke dalam ruangan. Ia memakai jaket kulit dan membawa helm di tangannya.
"Halo, Tante Widya! Apa kabar?" sapa pria itu ramah. Lalu matanya beralih ke Aira. Ia tersenyum sangat manis, jenis senyum yang bisa membuat wanita mana pun salah tingkah. "Dan... ini pasti bidadari yang bikin Dewa rela jadi kuli bangunan itu ya? Kenalin, aku Rangga. Sahabat Dewa sejak kami masih suka balapan liar."
Aira menyambut uluran tangannya dengan ragu. "Aira..."
"Wah, Dewa memang pintar cari istri. Pantas saja dia tidak mau sama Bianca yang galaknya minta ampun itu," celetuk Rangga tanpa dosa. "Eh, Dewa-nya ada? Aku mau tagih janji dia. Katanya kalau dia sudah jadi CEO, dia mau traktir aku makan di restoran termahal di Jakarta."
Nyonya Widya menghela napas. "Dewa sedang di kantor, Rangga. Kamu ini tidak pernah berubah, selalu saja tiba-tiba muncul."
Rangga tertawa. Ia kembali menatap Aira dengan pandangan yang sulit diartikan, bukan pandangan jahat, tapi pandangan yang sangat penuh selidik namun jenaka.
"Nyonya Muda Aira, jangan terlalu serius ya di rumah ini. Nanti cepat tua seperti Dewa. Kalau Dewa lagi sibuk kerja, panggil aku saja. Aku siap jadi supir cadangan buat jalan-jalan ke pasar tradisional," bisik Rangga yang cukup keras untuk didengar Nyonya Widya.
Aira hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa Rangga adalah orang yang menyenangkan, tapi ia juga tahu Dewa pasti tidak akan suka jika tahu sahabat balap liarnya ini menggoda istrinya.
~~
Sore harinya, Dewa pulang dengan wajah sedikit lelah. Namun, wajahnya langsung berubah mendung saat melihat sebuah motor sport besar terparkir di halamannya.
"Siapa yang datang, Hans?" tanya Dewa ketus saat masuk ke rumah.
"Tuan Rangga, Tuan Muda. Beliau sedang di taman belakang bersama Nyonya Muda... sedang makan bakso," jawab Hans dengan wajah datar andalannya.
Dewa langsung melangkah lebar ke taman belakang. Di sana, ia melihat Aira sedang tertawa lepas mendengar cerita Rangga, sementara di depan mereka ada dua mangkuk bakso yang uapnya masih mengepul.
"Ehem!" Dewa berdehem sangat keras.
Aira menoleh. "Mas! Mas sudah pulang? Sini, Mas! Rangga beliin bakso enak banget, katanya ini langganan kalian dulu."
Rangga melambai santai. "Woi, CEO! Telat dikit, baksonya habis dimakan istrimu yang doyan makan ini."
Dewa duduk di antara Aira dan Rangga dengan wajah kaku. Ia menarik mangkuk bakso Aira ke arahnya. "Ini punya aku. Kamu jangan makan bakso sembarangan, nanti sakit perut."
Aira melongo. "Tapi Mas, itu kan punya aku..."
"Sekarang punya aku," potong Dewa cepat. Ia menatap Rangga dengan tajam. "Ngapain kamu ke sini, Ngga? Mau balapan lagi?"
"Galak amat bos kita satu ini," Rangga tertawa. "Tenang, Dewa. Aku cuma mau lihat siapa wanita hebat yang bisa bikin kamu tobat dari dunia malam. Dan ternyata, Aira memang spesial. Dia lebih asyik diajak ngobrol daripada kamu yang isinya cuma saham dan semen."
Dewa merangkul bahu Aira dengan sangat protektif. "Sudah lihat kan? Sekarang silakan pulang. Istriku mau istirahat."
Rangga bangkit sambil tertawa terbahak-bahak. "Oke, oke! Paham! Ada yang takut istrinya kecantol cowok keren. Aira, aku pamit ya! Jangan lupa, kalau Dewa galak, telepon aku saja!"
Setelah Rangga pergi dengan suara motornya yang berisik, Dewa masih tampak kesal. Ia memakan bakso sisa Aira dengan lahap.
"Mas... Mas cemburu ya?" tanya Aira sambil menahan tawa.
"Tidak. Siapa yang cemburu sama bocah seperti Rangga?" sahut Dewa gengsi.
"Tapi itu baksonya dimakan sampai habis, padahal tadi Mas bilang aku jangan makan bakso sembarangan," ledek Aira.
Dewa berhenti mengunyah. Ia menatap Aira, lalu tiba-tiba menarik Aira ke pangkuannya di kursi taman itu. "Aku cuma tidak suka ada laki-laki lain yang bikin kamu tertawa lepas seperti itu, Ai. Tertawamu itu cuma boleh buat aku. Paham?"
Aira melingkarkan tangannya di leher Dewa, menyandarkan keningnya di kening suaminya. "Iya, Mas CEO yang paling posesif. Lagipula, mana mungkin aku berpaling dari kuli bangunan yang sudah membelikanku lima puluh daster baru?"
Dewa tersenyum, hatinya luluh seketika. Di bawah langit senja Jakarta, mereka kembali menemukan kedamaian. Tidak ada konflik berat, tidak ada ancaman penjara, hanya ada rasa hangat dari dua orang yang saling memiliki.
...----------------...
To Be Continue ....