NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Langkah kakiku terasa sangat berat, seolah ada beban ber ton-ton yang mengikat pergelangan kakiku. Aroma kayu tua dan minyak telon menyeruak saat aku melintasi ambang pintu rumah orang tua Mas Dika. Ruang tamu itu tampak begitu sunyi, hanya suara detak jam dinding kuno yang terdengar seperti suara palu hakim yang siap menjatuhkan vonis. Di sana, di atas kursi kayu jati yang kokoh, Bapak dan Ibu Mas Dika sudah duduk menunggu. Wajah mereka datar, namun ada aura ketegasan yang membuat nyaliku menciut hingga ke titik nadir.

"Assalamualaikum..." ucapku nyaris berbisik. Lidahku terasa kelu, dan tanganku yang dingin terus gemetar di balik lipatan jaket.

"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. Nada suara Ibu Mas Dika terdengar dingin, tanpa ada kehangatan sedikit pun yang menyambut kedatanganku. Kami berdua duduk berdekatan di hadapan mereka. Mas Dika seolah tahu betapa hancurnya mentalku saat ini; ia segera meraih tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat. Genggaman yang seharusnya menguatkan, namun saat ini justru membuatku ingin menangis karena merasa tak pantas mendapatkan pembelaan sebesar itu.

Mas Dika berdeham, berusaha memecah keheningan yang menyesakkan. "Pak, Bu... tadi yang Dika bicarakan di telepon, ada hal sangat penting yang harus kami sampaikan langsung di depan Bapak dan Ibu."

Bapak Mas Dika, seorang pria dengan gurat wajah yang tegas, menatap kami bergantian melalui kaca matanya yang melorot. Sementara itu, Ibu Mas Dika masih menatapku dengan tatapan tidak suka yang sudah sering kuterima selama tiga tahun ini.

"Kami berdua meminta restu Bapak dan Ibu. Izinkan kami berdua menikah secepatnya," ucap Mas Dika dengan suara yang meski pelan, namun terdengar sangat mantap.

Aku hanya bisa menunduk, menatap ujung kakiku sendiri. Jantungku berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Aku takut. Aku takut jika setelah kata-kata ini terucap, aku akan diusir seperti sampah. Aku takut jika perlindungan Mas Dika selama ini ternyata tidak cukup kuat untuk menghadapi amarah orang tuanya.

"Menikah?" ulang Bapak Mas Dika dengan nada heran. "Kenapa kok buru-buru sekali, Le? Bukannya kamu baru mulai stabil di pekerjaanmu? Menikah itu bukan urusan main-main."

Ibu Mas Dika langsung menyambar pembicaraan dengan nada yang lebih tajam. "Ibu kan sudah bilang berkali-kali sama kamu, Dik. Ibu nggak pernah setuju kamu berhubungan dengan dia. Kamu itu bisa dapat yang lebih baik, yang bibit, bebet, bobotnya jelas. Kenapa kamu malah bersikeras?"

Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hatiku. Aku tahu aku bukan menantu idaman, tapi mendengar penolakan mentah-mentah di depan wajahku membuat napas seolah berhenti. Mas Dika mempererat genggamannya, seolah memberi tanda bahwa badai yang sebenarnya akan segera datang.

"Pak, Bu... Dika minta maaf. Dika benar-benar minta maaf atas kelalaian Dika," Mas Dika menundukkan kepalanya dalam-dalam, suaranya mulai bergetar. "Tapi kami harus segera menikah karena... Aira sudah hamil. Aira mengandung anak Dika."

Hening.

Dunia seolah berhenti berputar. Udara di ruang tamu itu mendadak hilang, menyisakan kesunyian yang memekakkan telinga. Aku tidak berani mendongak, namun aku bisa merasakan tatapan Ibu Mas Dika yang kini berubah menjadi api yang membakar.

"Apa kamu bilang?" suara Ibu Mas Dika terdengar rendah namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Ulangi lagi, Dika!"

"Aira hamil, Bu. Sudah berjalan enam bulan," Mas Dika menjawab dengan suara yang hampir menghilang di ujung kalimat.

"Keterlaluan kamu, Dik! Ibu membesarkan kamu bukan untuk jadi orang yang merusak anak orang! Kamu menghancurkan harapan Ibu!" teriak Ibu Mas Dika sembari berdiri. Wajahnya memerah padam, tangannya terangkat seolah ingin memukul anak lelakinya itu sebagai pelampiasan rasa kecewa yang luar biasa.

Namun, sebelum tangannya sampai ke wajah Dika, tubuh Ibu Mas Dika tiba-tiba limbung. Matanya terpejam rapat, dan dalam sekejap ia jatuh pingsan ke arah kursi.

"Ibu!" teriak Mas Dika panik.

Suasana berubah menjadi kacau. Bapak Mas Dika langsung sigap menangkap tubuh istrinya, sementara Mas Dika membantu membopongnya masuk ke dalam kamar. Aku hanya bisa berdiri mematung di tengah ruang tamu, gemetar hebat, dengan air mata yang mulai mengalir deras tanpa suara. Aku merasa seperti orang asing yang baru saja meledakkan bom di tengah kedamaian keluarga ini. Aku merasa sangat kotor, sangat bersalah.

Beberapa menit kemudian, Mas Dika keluar dari kamar dengan wajah yang tampak sangat layu. Ia menghampiriku yang masih berdiri lemas.

"Gimana, Mas? Ibu nggak apa-apa?" tanyaku dengan suara serak karena terlalu banyak menahan tangis.

"Sudah nggak apa-apa, Ibu hanya syok berat. Tadi sudah diberi minyak kayu putih," jawabnya pelan. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa lelah, bersalah, namun juga ada keinginan untuk tetap melindungiku.

Tak lama, Bapak Mas Dika keluar dari kamar. Wajahnya yang tadi tegas kini terlihat sangat tua dan penuh beban. Beliau menatapku sekilas, namun segera membuang muka. "Dika, antar dia pulang dulu. Tenangkan dirimu. Besok kita bahas lagi urusan ini sama Mbakyu-mu. Biar ada jalan keluarnya."

Mas Dika hanya manggut-manggut mengerti. Ia tidak berani membantah perintah ayahnya yang terdengar sangat dingin itu. Tanpa banyak kata lagi, Mas Dika membimbingku keluar dari rumah itu.

Di sepanjang perjalanan pulang di atas motor, tidak ada pembicaraan di antara kami. Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun rasa dingin di hatiku jauh lebih menyakitkan. Aku terus memikirkan reaksi Ibuku di rumah nanti. Jika Ibu Mas Dika saja pingsan, bagaimana dengan Ibuku? Bagaimana jika beliau jatuh sakit atau lebih parah lagi, membenciku selamanya?

Pukul sembilan malam, motor Mas Dika berhenti tepat di depan rumahku. Suasana rumahku sudah sepi, hanya lampu teras yang menyala redup.

"Sudah sampai, Dek," Mas Dika turun dari motor dan membantuku melepas helm. Ia mengusap pelan puncak kepalaku dengan gerakan yang sangat lembut. "Besok Mas janji, Mas akan ke sini bawa kedua orang tua Mas. Kamu jangan khawatir ya, kita berjuang bareng. Besok kita akan jelaskan semuanya ke orang tuamu. Kamu masuk rumah sekarang, istirahat, jangan kemana-mana. Tunggu Mas datang besok."

Aku hanya bisa mengangguk pelan, meski di dalam hati aku merasa ragu. Apakah "berjuang bareng" ini akan benar-benar terjadi, ataukah Mas Dika hanya melakukannya karena keterpaksaan tanggung jawab atas bayi di perutku? Aku menatap punggungnya yang menjauh bersama deru motor, menyisakan aku yang berdiri sendirian di depan pintu rumahku, siap menghadapi badai selanjutnya yang mungkin akan lebih menghancurkan.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!