Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Setelah tiga tahun tenggelam dalam kabut alkohol, penyesalan yang tidak berujung, dan pesta-pesta dekaden yang hanya menyisakan hampa, Kensington Valerio akhirnya memutuskan untuk menginjakkan kaki kembali di koridor yang dulu ia kuasai.
Bukan karena keinginan luhur untuk menjadi sarjana hukum, melainkan karena ancaman sang ayah yang ingin mulai memutus aliran dana dan asetnya jika ia tidak menyelesaikan dua mata kuliah terakhirnya.
Umur 25 tahun dan belum lulus dari sarjana hukum di saat teman-teman seangkatannya sudah mulai meniti karier di firma hukum ternama adalah sebuah lelucon besar di Los Angeles. Namun, Kensington tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ia berjalan menyusuri selasar fakultas dengan gaya yang seolah menantang dunia.
Perawakannya masih sempurna, namun jauh dari citra mahasiswa. Rambutnya hitam urakan, tidak disisir dan sedikit berantakan. Ia hanya mengenakan kaos hitam kebesaran yang kontras dengan kulit pucatnya.
Jaket kulit kesayangannya hanya ia sampirkan di bahu kanan dengan sebelah tangan di saku celana jeans yang robek di bagian lutut. Tindikan kecil di telinganya berkilat tertimpa lampu lorong, dan tato-tato gelap di lengannya menyembul dari balik lengan kaos, membentuk pola-pola yang menceritakan kegelapan jiwanya selama tiga tahun terakhir.
Tepat pukul sembilan pagi, ia berdiri di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Pintu ruang kerja—ruangan kembarannya, Lexington Valerio. Semalam, ia sudah menelpon Lexington, memberi tahu bahwa ia akan menyerah pada paksaan Daddy mereka.
Kensington mendorong pintu itu tanpa mengetuk.
Langkah kakinya terhenti. Di balik meja besar yang biasanya diisi oleh saudaranya, berdiri seorang wanita yang seolah-olah berasal dari dimensi yang berbeda.
Wanita itu memiliki perawakan yang sangat sempurna, namun kaku. Rambutnya disanggul sangat rapi, tanpa ada satu pun helai yang berani keluar dari tempatnya. Pakaiannya—sebuah blazer krem dengan potongan custom—terlihat mahal dan sangat formal. Wajahnya cantik, dengan tulang pipi tinggi dan kacamata berbingkai tipis yang menambah kesan intelektual sekaligus dingin.
Wanita itu adalah Catalonia Vera West.
"Keluar," ucap wanita itu ketus tanpa basa-basi. Matanya yang tajam memindai Kensington dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan, seolah-olah sedang melihat noda tinta di atas kertas putih yang bersih.
Kensington terpaku sejenak. Ia tidak terbiasa diusir, apalagi oleh wanita yang baru pertama kali ia temui. Baru lihat orang ganteng? batinnya sombong, meskipun ia tahu tatapan wanita itu sama sekali bukan tatapan kagum.
"Ini ruang kerja Profesor, bukan taman bermain untuk berandal," suara wanita itu terdengar lagi, tegas namun memiliki kelembutan yang anehnya justru terdengar menyebalkan di telinga Kensington.
Berandal? Kurang ajar, siapa wanita kaku ini? Kensington berbisik dalam hati. Ia tersenyum miring, senyum yang biasanya membuat mahasiswi di kampus ini meleleh, namun wanita di depannya tetap bergeming dengan wajah sedatar tembok.
"Aku menunggu Lexington," jawab Kensington singkat, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur setelah malam panjang di bar. "Kau pasti asisten barunya. Kau terlihat sangat... kaku. Seperti baru saja menelan penggaris besi."
Dalam benak Kensington, wanita seperti ini adalah tantangan baru. Berdasarkan semua novel drama yang pernah ia baca untuk membunuh waktu, wanita tipe ini harus dijawab dengan dingin agar semakin ketus dan "ngegas". Ia merindukan sensasi adrenalin dari sebuah perdebatan.
Vera mengernyitkan dahi, bibirnya yang dipoles lipstik nude menipis. "Tuan Valerio tidak menerima tamu tanpa janji temu. Dan melihat perawakanmu, aku sangsi kau punya urusan akademis di sini. Pergilah sebelum aku memanggil keamanan."
Wah, dia benar-benar gadis galak, batin Kensington lagi. Ia melangkah maju, masuk ke dalam ruangan tanpa mempedulikan peringatan Vera. "Tadi dia berkata kami bertemu saja di ruangannya jam sembilan. Kenapa? Kau asisten barunya? Terlalu disiplin untuk departemen yang biasanya santai."
"Beraninya kau," suara Vera naik satu oktav. Wajahnya mulai memerah karena menahan amarah. "Kau adalah polusi visual di gedung ini. Jika kau punya hubungan dengan Lexington—entah itu urusan utang atau masalah klub malam—sebaiknya kau tunggu di luar!"
Tepat saat suasana memanas, pintu terbuka kembali. Seorang pria dengan setelan jas tiga lapis yang sangat rapi masuk. Wajahnya identik dengan Kensington, namun auranya sangat berbeda.
Jika Kensington adalah api yang liar, maka Lexington adalah es yang tenang dan berwibawa.
"Kenapa?" tanya Lexington datar. Ia berhenti sejenak, melihat saudaranya yang tampak seperti gelandangan kelas atas di tengah ruangan kantornya yang suci.
"Kau berniat melanjutkan studimu?" lanjut Lexington sambil meletakkan tas kulit mahalnya di meja, mengabaikan ketegangan antara Vera dan saudaranya.
Kensington menyeringai. "Tebakanmu benar, Brother. Daddy memaksaku. Aku malas mengurus administrasinya sendiri, jadi aku siap masuk kelas Profesor Miller pagi ini. Kau tahu kan, dia benci jika aku terlambat sepuluh detik saja."
Vera—yang selama ini dikenal sebagai Late Vera karena ketelitiannya terhadap waktu—terpaku. "Kensington?" gumamnya tak percaya.
Ia tahu Lexington memiliki saudara kembar yang "bermasalah", namun ia tidak menyangka perbedaannya akan se-ekstrem ini. Baginya, melihat Kensington adalah sebuah kegagalan estetika dari genetik Valerio yang seharusnya unggul.
Lexington menghela napas panjang, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan jika berurusan dengan kembarannya. "Vera, berikan dia formulir pendaftaran riset untuk kelas Miller. Dan Ken, jangan membuat keributan di departemenku."
Vera bergerak ragu, namun ia mengambil lembaran kertas di laci mejanya. Saat ia menyodorkannya, Kensington merasuh formulir itu dengan kasar, sengaja membiarkan jemarinya yang kasar bersentuhan dengan kulit tangan Vera yang halus.
Vera menarik tangannya seketika, seolah-olah baru saja tersengat listrik ribuan volt. Matanya menatap Kensington dengan penuh kebencian.
"Terima kasih... Late," ucap Kensington dengan nada yang sengaja merendahkan dan mempermainkan nama panggilannya.
Ia berbalik untuk keluar, namun berhenti tepat di ambang pintu. Ia menoleh perlahan melalui bahunya, memberikan tatapan yang membuat Vera merasa tidak nyaman.
"Jika pagimu rusak hanya karena melihatku, mungkin kau harus membuat surat undur diri sekarang," ucap Kensington dingin. "Dunia pendidikan terlalu berat untuk gadis yang hanya peduli pada kerapian rambut."
BRAK.
Pintu tertutup rapat. Kensington berjalan menjauh dengan seringai yang masih menempel di bibirnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Wanita tadi, Catalonia Vera West, telah memberikan sebuah sinyal bahaya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sebuah sinyal bahwa mulai hari ini, kehidupannya yang membosankan mungkin akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menantang.
Di dalam ruangan, Vera masih menatap pintu yang tertutup itu dengan napas memburu. "Berandal sombong," desisnya. Ia tidak tahu bahwa ini hanyalah awal dari sebuah kekacauan yang akan menjungkirbalikkan dunianya yang tertata rapi.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭