Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Mahkota Tanpa Wujud
Pagi di Pondok Al-Hikam terasa sangat bening. Sisa-sisa badai fitnah dan pengkhianatan Paman Surya seolah tersapu oleh embun yang menetes dari daun jati. Arjuna Wijaya duduk di emperan ndalem, masih dengan kesederhanaannya: sarung kusam dan tanpa alas kaki. Di depannya, ratusan santri berkumpul dengan wajah penuh harap.
Guntur melangkah maju, membawa sebuah kotak kayu ukiran kuno yang selama ini disimpan rapat oleh Bunda Siti Khotijah. Di dalamnya terdapat Sorban Hijau Lumut dan Tongkat Kayu Nagasari peninggalan kakek buyut mereka, Sang Sultan Wijaya Pertama.
"Mas Juna... sedaya santri, pengurus, lan keluarga sampun mupakat. Panjenengan niku Sultan Al-Hikam sing sah. Monggo dipun agem simbol kepemimpinan niki," ucap Guntur dengan nada takzim, sangat berbeda dengan Guntur yang dulu sombong.
(Mas Juna... semua santri, pengurus, dan keluarga sudah sepakat. Anda adalah Sultan Al-Hikam yang sah. Silakan dipakai simbol kepemimpinan ini.)
Arjuna menatap benda-benda pusaka itu dengan pandangan kosong. Ia tidak merasa bangga, justru ia merasa beban di pundaknya makin berat. Ia teringat perjalanannya sebagai musafir, tidur di emperan toko, dihina sebagai gembel, dan bertarung nyawa di Kediri.
"Guntur... mahkota sing sejati iku dudu sorban, dudu tongkat, lan dudu jabatan. Mahkota sing sejati iku asline 'Ilang' ing njeron donga," jawab Arjuna tenang.
Arjuna bangkit berdiri, namun ia tidak menyentuh sorban itu. Ia justru menghampiri si Kambing putih yang sedang asyik mengunyah rumput di pojok taman. Anehnya, hari ini kambing itu tidak lagi bertingkah laku seperti hewan. Ia berdiri tegak, menatap mata Arjuna dengan kedalaman yang luar biasa.
Tiba-tiba, di depan mata seluruh santri yang hadir, tubuh si kambing mengeluarkan cahaya putih keemasan yang sangat menyilaukan. Perlahan-lahan, wujud hewan itu memudar, berganti menjadi sosok kakek tua bersahaja dengan pakaian putih bersih dan aroma wangi mawar yang memenuhi seluruh pondok.
"Mbah...?" bisik Arjuna tak percaya.
Sosok itu tersenyum. Dialah manifestasi dari Syekh Nur Jati, guru gaib yang selama ini membimbing Arjuna dalam wujud seekor kambing kacamata hitam. "Juna, tugasku njogo kowe wis purna. Kowe wis lulus ujian dunya, ujian wanita, lan ujian paseduluran. Saiki, kowe wis dadi 'Sultan Musafir'—wong sing dadi ratu nanging atine tetep dadi pengembara ing ngarsane Gusti."
Para santri bersujud syukur, suasana menjadi sangat sakral. Sosok Syekh Nur Jati kemudian memberikan restsunya. "Elingo, Juna... pondok iki dudu nggonmu pamer kakuasaan. Gunakno bondo Wijaya kanggo madangi dalane wong-wong sing peteng atine."
Setelah berucap demikian, sosok itu menghilang bersama angin pagi, meninggalkan sepasang Kacamata Hitam yang tergeletak di atas rumput—kacamata yang dulu sering melingkar di leher si kambing. Arjuna mengambil kacamata itu, ia menyadari bahwa itu adalah simbol "Waspodo": kemampuan untuk melihat kebenaran di balik topeng kepalsuan dunia.
Arjuna berbalik menghadap massa. Ia mengambil sorban hijau itu, namun ia hanya menyampirkannya di pundak, tidak melilitkannya di kepala. Ia tetap ingin merasakan tanah di telapak kakinya.
"Mulai dino iki, Al-Hikam mboten badhe nolak tamu menungso model nopo wae. Sugih utawa mlarat, kabeh podo neng mripaté Gusti. Guntur, buka gerbang pondok selebar-lebare. Sidoarjo kudu dadi sumber cahaya, dudu sumber sengketa," perintah Arjuna.
"Sendika dhawuh, Gus Sultan!" jawab Guntur dan para santri serempak.
Namun, di tengah kedamaian itu, Arjuna melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang. Bukan polisi, bukan Mr. Richard, melainkan seorang pria asing berpakaian resmi dengan plat nomor korps diplomatik. Pria itu turun dan membawa sebuah undangan emas.
"Gus Arjuna Wijaya? Saya utusan dari forum ulama dunia. Nama Anda sudah sampai ke telinga para guru di Mekkah dan Madinah. Mereka mengundang Anda untuk hadir dalam pertemuan besar di sana," ucap pria itu dengan hormat.
Arjuna tersenyum tipis. Perjalanannya sebagai musafir lokal mungkin sudah selesai, namun panggilan untuk menjadi cahaya yang lebih luas baru saja dimulai. Sang Sultan Musafir kini harus menyiapkan diri untuk melangkah lebih jauh dari sekadar tanah Jawa.
Suasana di depan pendopo Pondok Al-Hikam mendadak hening saat utusan diplomatik dari Jakarta itu menyodorkan undangan emas untuk konferensi ulama dunia. Guntur dan para pengurus pondok sudah bersiap-siap ingin merayakan momen "Go International" sang kakak. Mereka membayangkan Arjuna akan tampil gagah dengan sorban hijau dan tongkat kepemimpinan.
.
Namun, Arjuna Wijaya justru melakukan hal yang membuat semua orang terperangah.
.
Arjuna perlahan jongkok di tanah yang becek bekas siraman air wudhu. Tanpa rasa jijik, ia mengambil sepotong singkong rebus sisa sarapan santri yang sudah dikerubuti semut di pinggir selokan. Di depan kamera wartawan yang masih tersisa dan di depan utusan terhormat itu, Arjuna memakan singkong itu dengan lahapnya sambil sesekali menggaruk kakinya yang penuh lumpur kering.
.
"Gus... Gus Arjuna? Ini undangan dari Mekkah dan Madinah," ucap utusan itu dengan wajah bingung, antara hormat dan merasa mual melihat tingkah laku Arjuna.
.
Arjuna mendongak, matanya nampak "kosong" seperti orang linglung. "Mekkah? Madinah? Adoh tenan, Pak. Kulo niki mboten saged numpak pesawat, kulo niki mabuk darat. Lagian, kulo niki namung tukang angon wedhus sing kukur-kukur. Napa malih kulo niku nate dadi napi, nate dadi gembel. Napa mboten kleru ngundang wong koyo kulo?"
(Mekkah? Madinah? Jauh sekali, Pak. Saya ini tidak bisa naik pesawat, saya ini mabuk darat. Lagian, saya ini cuma tukang gembala kambing yang gatal-gatal. Apalagi saya ini pernah jadi napi, pernah jadi gembel. Apa tidak salah mengundang orang seperti saya?)
.
Guntur mencoba mendekat, "Mas! Jogo wibawamu! Iki utusan penting!" bisik Guntur dengan wajah merah padam karena malu.
.
Arjuna justru tertawa renyah, tawa yang terdengar "ngawur" di telinga orang waras. Ia berdiri lalu memeluk si Kambing putihnya yang bau prengus itu dengan erat. "Wibawa niku nopo, Guntur? Wibawa niku panganan nopo? Deloken wedhus iki, dheweke luwih mulyo tinimbang aku. Dheweke mboten nate pamer duso, mboten nate pamer amal."
.
Melihat tingkah Arjuna yang semakin "nyeleneh"—mulai dari bicara dengan kambing sampai menolak mentah-mentah undangan emas itu—utusan diplomatik itu akhirnya mundur teratur. Ia berbisik kepada asistennya, "Sepertinya kabar tentang kewalian Arjuna Wijaya itu berlebihan. Dia cuma orang stres yang kebetulan beruntung saja."
.
Para wartawan pun mulai mematikan kamera. "Wah, ternyata beneran gila ya. Sayang sekali, padahal tadi kita kira dia Sultan hebat." Satu per satu orang-orang yang tadinya mengagumi Arjuna mulai pergi dengan wajah kecewa, bahkan ada yang mencibir.
.
Inilah yang diinginkan Arjuna. Ia tersenyum dalam hati saat melihat punggung orang-orang itu menjauh. Beban "dipuja" manusia jauh lebih berat daripada beban "dihina".
.
"Mas... kowe ngrusak kabeh sing wis kito bangun," keluh Guntur sambil terduduk lemas di tangga pendopo.
.
Arjuna mendekati adiknya, sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat jernih dan penuh kasih, namun suaranya tetap rendah agar tidak terdengar orang lain. "Guntur, paseduluran kito mboten dibangun nganggo sorban utawa pujian wong liyo. Al-Hikam bakal dadi suci dudu mergo aku dadi Sultan ing Mekkah, nanging mergo kowe lan aku gelem dadi aspal sing diidak-idak demi santri-santri niki."
.
Bunda Siti Khotijah yang menyaksikan dari kejauhan hanya bisa menangis haru. Ia paham, anaknya sedang menjalankan laku Malamatiyah tingkat tinggi. Arjuna sengaja "membunuh" reputasinya agar hatinya tetap murni hanya milik Allah.
.
Malam itu, saat semua orang mengira Arjuna sedang tidur lelap karena "gila", Arjuna justru sedang sujud panjang di atas sajadah usangnya. Ia melepaskan kacamata hitam si kambing yang ia simpan di saku.
.
"Matur nuwun, Gusti... sampun maringi kulo 'klambi' hina niki. Mugi-mugi kulo tetep 'Ilang' ing njeron keramaian dunya," bisik Arjuna.
.
Tanpa diketahui siapapun, di saku baju Arjuna, liontin Kujang perak itu bersinar putih lembut. Rahasia besar keluarga Wijaya memang sudah terbuka, namun rahasia ketuhanan dalam diri Arjuna justru semakin tertutup rapat di balik tingkah konyolnya