NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: BERTAHAN DI TITIK NADIR

​Suara tetesan air hujan yang merembes dari atap asbes bocor jatuh berirama ke dalam ember plastik bekas di sudut ruangan. Udara di dalam rumah kontrakan petak berukuran tiga kali empat meter itu terasa pengap, bercampur dengan bau obat-obatan generik dan aroma karat dari kipas angin tua yang terus berputar memecah hawa panas pinggiran Jakarta.

​Di ruangan yang sempit itu, dua buah ranjang lipat besi diletakkan berhimpitan. Di atasnya, terbaring dua pria yang menjadi jangkar kehidupan Aaliyah Humaira. Kyai Abdullah bernapas melalui mesin oksigen portabel bekas yang berbunyi berderit setiap kali memompa udara, sementara di ranjang sebelahnya, Zayn Al-Fatih terbaring pucat dengan balutan perban di kepala dan lengannya yang mulai terlihat kusam.

​Aaliyah duduk di lantai semen yang hanya beralaskan tikar tipis. Lengan kirinya masih digantung menggunakan kain sling akibat luka tembak yang belum sembuh sempurna. Dengan tangan kanannya yang bebas, ia memeras waslap kecil ke dalam baskom berisi air hangat, lalu perlahan menyeka wajah Zayn yang berkeringat.

​Batin Aaliyah: Mutiara dari Timur... gelar itu kini terasa seperti lelucon yang kejam. Lihatlah di mana aku berada sekarang. Bersembunyi di gang sempit yang bahkan matahari pun enggan menyinarinya. Tidak ada lagi lantai pualam, tidak ada lagi ruang VVIP. Ben harus lari untuk menjadi umpan bagi polisi-polisi bayaran Sultan, meninggalkan aku sendirian merawat dua pria yang koma. Ya Allah... hamba tidak mengeluh. Setidaknya mereka masih bernapas. Setidaknya Engkau tidak mengambil nyawa mereka di malam jahanam itu.

​Aaliyah menatap wajah Zayn. Pria yang dulu selalu mengenakan setelan jas buatan penjahit Italia itu, kini hanya mengenakan kaus oblong putih pudar yang dibeli Aaliyah dari pasar loak dengan sisa uang recehan di sakunya. Rahang Zayn yang biasanya mengeras penuh arogansi, kini tampak sangat rapuh.

​Sentuhan waslap Aaliyah berhenti di bekas luka operasi di kepala Zayn. Hatinya kembali berdenyut nyeri.

​Batin Aaliyah: Singaku yang malang. Kau menukar mahkotamu demi nyawaku. Kau memberikan seluruh kerajaanmu untuk melindungiku, dan sebagai balasannya, aku hanya bisa memberimu ranjang besi berkarat ini. Maafkan aku, Zayn. Maafkan ketidakberdayaanku. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkanmu mati di tempat seperti ini.

​Tiba-tiba, suara batuk yang sangat berat terdengar dari ranjang Kyai Abdullah. Mesin oksigen bekas itu berkedip merah, menandakan tabungnya sudah hampir kosong, dan filter pemurninya sudah harus diganti.

​Aaliyah tersentak. Ia segera memeriksa indikator mesin tersebut. Baterai cadangan untuk mesin itu juga hanya tersisa dua puluh persen.

​"Ayah, bertahanlah... Aaliyah akan mencari cara," bisik Aaliyah panik, wajahnya semakin memucat.

​Aaliyah membuka dompet kainnya yang usang. Isinya hanya ada tiga lembar uang lima puluh ribuan. Uang itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu tabung oksigen oksigen medis di apotek, apalagi membeli antibiotik berdosis tinggi yang harus disuntikkan ke dalam infus Zayn setiap dua belas jam agar infeksinya tidak kembali menyebar ke otak.

​Rasa putus asa yang gelap mencoba merayap naik, mencekik kerongkongan Aaliyah. Ia ingin berteriak, ia ingin menangis hingga air matanya mengering. Namun ia sadar, air mata tidak memiliki nilai tukar di dunia yang kejam ini.

​Aku adalah H_Zero. Aku pernah meruntuhkan server keamanan tingkat militer. Apakah aku akan membiarkan keluargaku mati hanya karena beberapa lembar kertas bernilai uang? Tidak. Aku menolak menyerah pada kemiskinan ini.

​Aaliyah menarik napas panjang, menelan seluruh egonya. Ia mengambil ransel kedap airnya yang lusuh dari bawah ranjang dan mengeluarkan laptop perak peninggalan masa kejayaannya. Baterai laptop itu hanya tersisa empat puluh persen, dan ia harus menyambungkannya ke internet melalui tethering dari ponsel pintar bekas yang dibelinya dengan identitas palsu.

​Aaliyah memangku laptop itu. Jari-jarinya mulai mengetik, namun kali ini ia tidak meretas sistem kepolisian atau korporasi. Ia memasuki The Dark Web—jaringan internet bawah tanah yang tidak tersentuh oleh mesin pencari biasa. Sebuah tempat di mana para kriminal, peretas bayaran, dan agen ganda bertransaksi menggunakan mata uang kripto.

​Batin Aaliyah bergetar: Bismillah... Ya Allah, hamba tahu tempat yang hamba masuki ini adalah sarang maksiat dan kejahatan digital. Hamba berjanji tidak akan mengambil uang dari orang yang tidak bersalah. Hamba hanya akan mencari pekerjaan 'Bounty' (Sayembara Peretasan) untuk menargetkan para koruptor. Hamba butuh uang itu malam ini juga. Jika tidak, Ayah dan Zayn tidak akan melihat matahari terbit besok.

​Layar laptop Aaliyah berubah menjadi antarmuka teks berwarna hijau terang di atas latar hitam pekat. Ia masuk ke dalam sebuah forum underground yang dikenal dengan nama The Silk Board.

​Ada puluhan tawaran pekerjaan ilegal di sana. Mulai dari meretas email pejabat, menghapus catatan kriminal di database kepolisian, hingga mencuri cetak biru teknologi perusahaan saingan. Semuanya dibayar mahal dengan Bitcoin.

​Mata Aaliyah menyisir daftar tersebut dengan cepat. Ia mencari target yang paling cepat bisa diselesaikan dengan risiko terendah, karena koneksi internet dari ponsel bekasnya sangat tidak stabil.

​Sebuah unggahan menarik perhatiannya:

"BOUNTY: 5.000 USD (Crypto). Target: Ekstraksi buku besar ganda (Double Ledger) dari Kasino Ilegal 'Red Dragon' di Makau. Sistem keamanan: Firewall Generasi ke-4."

​Lima ribu dolar. Itu lebih dari cukup untuk membeli tabung oksigen, antibiotik Zayn untuk satu bulan, dan menyewa genset yang lebih baik. Kasino ilegal... mereka beroperasi di luar hukum, uang mereka adalah uang kotor dari perjudian. Meretas mereka tidak akan melukai orang tak bersalah.

​Aaliyah mengeklik terima pada pekerjaan tersebut. Sang pemberi kerja anonim memberikan alamat IP target.

​"Ini akan sulit dengan koneksi ponsel murahan ini," gumam Aaliyah. "Setiap ping balasan (latency) bisa membuat seranganku tertunda dan memicu alarm mereka. Aku harus masuk, menyalin data, dan keluar dalam waktu kurang dari enam puluh detik."

​Aaliyah meregangkan lehernya, menghilangkan ketegangan. Ia memejamkan mata sesaat, membayangkan aliran kode yang akan ia hadapi. Saat ia membuka mata, tatapannya setajam pisau bedah. H_Zero kembali beraksi.

​Jemari kanannya yang sehat mulai menari di atas keyboard, dibantu oleh tangan kirinya yang bergerak terbatas karena sling. Kecepatannya sedikit berkurang, namun logikanya tidak tumpul sedikit pun.

​Ia meluncurkan script buatannya sendiri yang bernama "Shadow-Step", sebuah program pelumpuh port pasif yang meniru lalu lintas data biasa agar tidak terdeteksi oleh radar pelindung kasino tersebut.

​Tiga puluh detik. Ia berhasil menembus Firewall luar.

​Empat puluh detik. Ia menemukan database tersembunyi yang berisi nama-nama politisi korup yang menjadi pelanggan kasino tersebut.

​Lima puluh detik. Proses pengunduhan dimulai.

​10%... 45%... 70%...

​Napas Aaliyah tertahan. Matanya terus melirik ke indikator baterai ponsel dan sinyal jaringannya yang hanya mendapat dua baris (bar).

​Ayo... ayo cepat! Jangan putus sekarang! Jika koneksi ini putus, IP Address-ku akan terekspos karena sistem penyamaranku tidak akan sempat menutup jejak dengan sempurna.

​90%... 98%...

​Tiba-tiba, suara guntur menggelegar di luar kontrakan, diikuti oleh kilatan petir yang menyambar tiang listrik di ujung jalan gang kumuh itu.

​ZRAASH!

​Lampu bohlam di dalam kontrakan petak Aaliyah seketika mati. Sinyal ponsel bekasnya mendadak anjlok dari dua baris menjadi No Service (Tidak ada layanan) selama tiga detik yang paling fatal.

​"TIDAK!" Aaliyah menjerit tertahan.

​Pengunduhan berhenti di angka 99%. Jendela peringatan keamanan dari server kasino itu meledak di layarnya, menandakan bahwa keberadaannya telah terdeteksi akibat koneksi yang terputus mendadak.

​Aaliyah memukul lantai dengan frustrasi. Namun, tiga detik kemudian, sinyal ponselnya kembali masuk berkat pergantian jaringan otomatis.

​Batin Aaliyah: Aku harus memaksanya! Uang itu! Uang itu adalah nyawa Zayn dan Ayah! Aku tidak peduli jika ini meninggalkan sedikit jejak, aku akan memaksakan unduhan ini selesai!

​Aaliyah dengan nekat memintas protokol keamanannya sendiri dan menarik paksa sisa 1% data tersebut secara brutal.

​100%. DOWNLOAD COMPLETE.

​Aaliyah segera mengirimkan file tersebut ke pemberi kerja anonim di forum dark web. Hanya butuh waktu dua menit yang terasa seperti menyiksa diri di neraka, sebelum sebuah notifikasi hijau yang sangat ia nanti-nantikan muncul.

​PAYMENT RECEIVED: 0.08 BTC (Est. 5.000 USD) TRANSFERRED TO YOUR ANONYMOUS WALLET.

​Aaliyah menyandarkan kepalanya ke dinding yang lembap. Air mata kelegaannya tumpah. Ia langsung menukar crypto tersebut ke rekening bodong lokal yang ia buat dan mengirimkan pesanan obat-obatan darurat serta tabung oksigen melalui kurir anonim pasar gelap yang akan tiba dalam satu jam.

​Ia berhasil. Ia telah menyelamatkan mereka untuk hari ini.

​Namun, keputusannya untuk memaksakan pengunduhan tadi harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

​Di sebuah gedung pencakar langit yang mewah di pusat bisnis Jakarta, Sultan sedang duduk bersila di kursinya sambil memutar gelas wine. Di depannya, Rian sedang bekerja di balik tiga monitor raksasa.

​Sistem keamanan baru yang Rian ciptakan tidak digunakan untuk menjaga perusahaan Al-Ghifari, melainkan digunakan sebagai radar pasif untuk menyaring seluruh anomali jaringan dark web di area Jabodetabek.

​Salah satu monitor Rian tiba-tiba berbunyi dengan nada bip yang tajam. Sebuah gelombang data berwarna merah terdeteksi.

​Rian tersenyum lebar, gigi-giginya tampak mengerikan di bawah cahaya monitor.

​"Tuan Sultan," panggil Rian dengan nada kemenangan yang absolut. "Ikan kita baru saja menggigit umpan. Sistemku mendeteksi lonjakan data paksa dari pengguna anonim di dark web."

​Sultan menghentikan putaran gelasnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau yakin itu dia? Mutiara palsu itu?"

​"Hanya ada satu peretas di negara ini yang cukup gila untuk menembus firewall Kasino 'Red Dragon' di Makau dalam waktu kurang dari semenit, dan cukup bodoh untuk meninggalkan jejak latency lokal karena koneksi internet yang buruk," Rian memperbesar peta di monitornya. "Dia menggunakan proxy, tapi saat koneksinya terputus sesaat, ping aslinya bocor."

​Sultan berdiri dari kursinya. Luka di rahangnya akibat hantaman tabung oksigen tempo hari masih tampak memar kebiruan, membuat wajahnya semakin menyeramkan.

​"Di mana dia bersembunyi?" tanya Sultan dingin.

​"Sinyalnya memantul dari menara BTS di sebuah kawasan pemukiman kumuh di pinggiran Bekasi Barat. Radiusnya sekitar lima ratus meter. Aku bisa mempersempitnya jika dia kembali online," jelas Rian.

​Sultan tersenyum licik. "Tidak perlu dipersempit. Aku ingin kau mengirimkan sepuluh mobil preman bayaran ke sana sekarang juga. Bakar seluruh radius lima ratus meter itu. Aku ingin melihat apakah Zayn Al-Fatih bisa lari dari kobaran api saat dia sedang tertidur pulas."

​Kembali ke kontrakan petak di Bekasi.

​Aaliyah baru saja selesai menutup layar laptopnya. Rasa lelah yang luar biasa menghantam fisiknya. Ia merangkak ke samping ranjang Zayn, meletakkan kepalanya di lengan pria itu yang tidak terluka. Ia ingin tertidur, walau hanya untuk lima menit.

​Namun, telinganya yang terlatih oleh ketakutan menangkap sebuah suara.

​Bukan suara hujan. Bukan suara derit kipas angin.

​Itu adalah suara derap langkah sepatu bot yang berat, berjalan perlahan di gang sempit yang becek tepat di depan pintu kontrakannya. Langkah itu berhenti. Lalu, terlihat bayangan sepasang kaki hitam dari celah bawah pintu kayunya yang rapuh.

​Ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintunya. Dan orang itu tidak sedang mengantarkan oksigen.

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!