Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SELASIH
Langit siang itu tampak begitu cerah, membentang biru tanpa sekat. Angin berembus lembut, menyapu hamparan sawah yang mulai menguning di sebuah desa kecil bernama Desa Sukamaju, sekitar satu hari perjalanan dari gerbang Perguruan Melati Putih.
Desa itu tampak tenang—terlalu damai untuk ukuran dunia persilatan yang saat ini sedang mendidih akibat perseteruan golongan hitam dan putih.
Namun bagi Rangga Nata, kedamaian sering kali hanyalah tabir tipis yang menutupi mata badai. Di dunia ini, tak ada tempat yang benar-benar aman bagi seorang pemegang pedang pusaka.
Rangga berjalan perlahan memasuki batas desa. Ia tidak lagi mengenakan jubah emasnya yang mencolok; kini ia memakai pakaian kain katun sederhana berwarna kelabu.
Pedang Naga Emas Seribu Langit dibungkusnya rapat dengan kain karung kasar, hingga menyerupai tongkat kayu biasa di pundaknya.
Tak ada penduduk desa yang menyangka bahwa pemuda berwajah tenang ini adalah sosok yang telah mengobrak-abrik Istana Macan Hitam dan menantang maut di Lembah Mayat.
Matanya yang tajam menyapu sekeliling dengan waspada. Ia mengamati setiap sudut: pedagang keliling, petani yang pulang dari sawah, hingga anak-anak yang bermain.
Namun, insting pendekarnya yang telah terasah tajam di bawah gemblengan Pertapa Gila mulai berdenyut.
Ada sesuatu yang ganjil. Suasana desa ini terasa seperti panggung sandiwara yang dipaksakan.
“Pergerakan antek Macan Hitam pasti sudah sampai ke titik ini…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia menghela napas panjang, berusaha meredam gejolak tenaga dalamnya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Langkahnya kemudian tertuju pada sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan yang teduh oleh pohon jati besar.
Warung itu kecil dan bersahaja, beratapkan rumbia yang sudah mulai menguning.
Beberapa meja kayu panjang tersusun seadanya. Aroma tumis kangkung dan sambal terasi tercium harum, menggoda selera siapa pun yang lewat.
Namun, suasana di dalamnya agak sepi, hanya ada satu atau dua pelanggan yang duduk berjauhan.
Rangga memilih meja paling sudut, membelakangi dinding agar ia bisa memantau seluruh ruangan dan pintu masuk.
Rangga memesan nasi putih dan sayur sederhana, namun pikirannya tidak benar-benar tertuju pada makanan. Inderanya tetap siaga, menangkap setiap suara gesekan alas kaki di atas tanah.
Tiba-tiba, seorang pelanggan baru mendekat ke mejanya.
Langkah kaki orang itu sangat ringan, hampir tak bersuara—tanda bahwa ia memiliki ilmu meringankan tubuh yang mumpuni.
Seorang gadis. Ia mengenakan pakaian kain biru sederhana yang sering dipakai rakyat jelata, namun wajahnya tertutup sebagian oleh caping bambu lebar yang menunduk ke bawah.
Tanpa sepatah kata pun dan tanpa izin, ia menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Rangga.
Rangga tidak langsung bereaksi secara fisik, namun di bawah meja, tangan kanannya sudah siap menyambar gagang pedang yang terbungkus kain.
Auranya menegang, siap meledak jika sosok di depannya melakukan gerakan mencurigakan.
“Tidak perlu setegang itu, Rangga Nata…”
Suara gadis itu terdengar pelan, halus, namun mengandung getaran batin yang sangat familiar di telinga Rangga.
Rangga sedikit mengernyitkan dahi. Ia menatap lebih tajam ke arah bayangan di bawah caping itu.
Gadis itu kemudian mengangkat sedikit pinggiran capingnya, memperlihatkan sepasang mata jernih yang masih menyisakan sedikit sembab.
“Selasih…” bisik Rangga, benar-benar terkejut.
Gadis itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang getir.
“Jadi kau masih mengenali murid Melati Putih ini setelah meninggalkannya begitu saja…”
Rangga menghela napas panjang, ketegangannya sedikit mengendur namun berganti dengan rasa bersalah.
“Kenapa kau ada di sini? Tubuhmu belum pulih benar dari racun Nini Suro.”
Selasih menurunkan kembali capingnya, menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang lain di warung.
“Seharusnya aku yang bertanya, Rangga. Kenapa kau pergi diam-diam di tengah malam tanpa sepatah kata pun? Apakah Melati Putih begitu buruk hingga kau tak sudi berpamitan?”
Rangga terdiam sejenak. Ia menatap piringnya yang masih mengepul.
“Karena aku tidak ingin membuat momen perpisahan menjadi lebih sulit bagi siapa pun. Terutama bagimu.”
Selasih tersenyum perih di balik capingnya.
“Menurutmu, membiarkan aku bangun dengan kamar kosong dan pesan singkat itu jauh lebih mudah? Kau salah, Rangga.”
Pelayan datang mengantarkan makanan, memutus perdebatan mereka sesaat. Suasana hening menyergap meja itu selama beberapa menit.
Selasih menunggu sampai pelayan itu benar-benar menjauh, lalu ia berkata dengan nada yang lebih dalam.
“Rangga… Jawab aku dengan jujur kali ini.”
Rangga meletakkan gelasnya, menatap Selasih dengan serius. “Katakanlah.”
“Kenapa kau menolak permintaan Guru? Kenapa kau menolak untuk menetap dan… menolak perjodohan itu?” tanya Selasih. Suaranya bergetar di akhir kalimat, menahan emosi yang selama tiga hari ini ia pendam.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia meneguk air putih perlahan, seolah setiap tetesnya memberinya waktu untuk menyusun kata-kata yang paling tidak menyakitkan.
“Karena aku merasa tidak pantas, Selasih.”
Selasih terkejut, kepalanya terangkat sedikit.
“Tidak pantas? Kau menyelamatkan kami semua! Kau adalah pahlawan bagi Melati Putih!”
Rangga menggeleng pelan.
“Bukan soal jasa, Selasih. Gurumu menginginkan yang terbaik untuk masa depanmu, dan masa depan perguruan.”
“Dan menurutmu kau bukan yang terbaik?” potong Selasih cepat, nada bicaranya mulai meninggi karena kesal.
Rangga tersenyum tipis, kali ini senyumannya penuh kedewasaan.
“Bukan begitu. Aku adalah orang yang berjalan di jalan setapak yang penuh jurang dan duri. Aku tidak punya tempat tinggal tetap.
Aku tidak punya tujuan yang pasti selain mengejar keadilan yang abstrak. Dan yang terpenting… aku tidak tahu apakah besok aku masih bisa melihat matahari atau tidak.”
Selasih terdiam, menatap jemarinya yang menggenggam pinggiran meja dengan kuat.
“Orang seperti itu,” lanjut Rangga dengan suara rendah, “tidak pantas untuk mengikat hidup orang lain dalam janji setia. Itu bukan cinta, itu adalah keegoisan yang akan membawamu ke dalam penderitaan.”
“Jadi… kau menolak bukan karena kau tidak menyukaiku?” Selasih menelan ludah, suaranya hampir hilang.
“Tapi karena kau… takut melukaiku di masa depan?”
Rangga tidak mengelak. Ia menatap mata Selasih dengan kejujuran yang murni.
“Ya.”
Sunyi menyergap kembali, kini lebih hangat namun tetap terasa pilu. Selasih menunduk cukup lama, membiarkan kalimat Rangga meresap ke dalam sanubarinya.
“Kalau begitu…” Selasih mengangkat wajahnya kembali, matanya kini menatap lurus ke dalam pupil mata Rangga.
“Kalau suatu hari nanti jalanmu sudah selesai… jika Macan Hitam sudah tumbang dan dunia sudah tenang… apakah kau akan berubah pikiran?”
Rangga tersenyum hangat, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
“Kalau hari itu benar-benar datang, barangkali aku sudah menjadi orang yang berbeda. Barangkali aku bukan lagi Naga Emas yang haus darah.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Kalau pada saat itu kau masih menginginkan jawaban yang sama dariku… aku berjanji, aku tidak akan lari lagi.”
Selasih tersenyum kecil di balik capingnya. Setetes air mata jatuh ke pangkuannya, namun ia segera menghapusnya.
“Jawabanmu benar-benar menyebalkan, Rangga Nata. Sangat filosofis dan tidak memberi kepastian.”
Rangga tertawa kecil, tawa pertama yang tulus sejak ia menginjakkan kaki di Gunung Tiga Puluh.
“Maafkan aku.”
“Namun… aku mengerti sekarang,” lanjut Selasih, suaranya kini terdengar lebih lega seolah beban berat telah diangkat dari hatinya.
“Setidaknya kau tidak berbohong padaku dengan janji-janji manis yang palsu.”
Rangga mengangguk, mengakui keberanian gadis itu. Mereka pun mulai menyantap makanan yang mulai mendingin dalam keheningan yang jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Namun, di balik ketenangan itu, insting Rangga kembali berteriak.
Tiba-tiba, Rangga sedikit menolehkan kepalanya ke arah samping, tanpa mengubah posisi duduknya. Matanya menyipit tajam.
“Selasih…”
“Ya?”
“Sejak kapan kau menyadari… bahwa kita sedang diawasi oleh setidaknya empat pasang mata dari arah yang berbeda?” tanya Rangga dengan nada suara yang berubah drastis menjadi dingin.
Selasih tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sebagai murid terbaik Melati Putih, indera perasanya juga sudah pulih. Ia tetap tenang menyuap nasi. “Sejak aku duduk di hadapanmu. Dua di pojok warung, dan dua lagi di balik pohon beringin di luar.”
Rangga tersenyum bangga. “Bagus. Ternyata racun itu tidak merusak ketajaman inderamu.”
Ia meletakkan sumpitnya perlahan ke atas meja. Matanya berkilat, memancarkan aura membunuh yang terkendali.
“Sepertinya… perbincangan nostalgia kita harus ditunda sebentar, Selasih.”
Di sudut warung, dua orang pria bertubuh kekar dengan pakaian pengembara tiba-tiba berdiri. Tangan mereka bergerak perlahan ke balik jubah, mencari hulu senjata.
Badai yang sesungguhnya telah menyusul mereka ke desa ini. Dan kali ini, tak ada jalan untuk menghindar selain menerjangnya.
Bersambung…