Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahluk misterius dan pembunuhan pertama
Rifana membuka pintu dengan perlahan, mengekspos dunia baru yang kini telah berubah sepenuhnya.
'Mau gua liat berapa kali pun, rasanya gila' Gumamnya dalam hati 'Ngelihat langsung kaya gini rasanya beda dari saat gua ngintip di jendela, ini udah kaya dunia game soulslike sekarang"
Di hadapannya, langit yang gelap memiliki retakan aneh di berbagai tempat; Layaknya kaca yang terpecah, cahaya halus menyelinap masuk melalui celah retakan.
Cahaya itu menggantikan matahari sepenuhnya, konsep siang dan malam sepertinya hanya akan menjadi kenangan masa lalu.
Dunia baru ini akan berubah total.
Setiap retakan menyisipkan cahaya tipis yang menyinari kegelapan, Rifana mengendap keluar dengan hati-hati.
Dinding pagar di sekelilingnya membuatnya sedikit lebih leluasa, pagar setinggi tiga setengah meter itu setidaknya bisa membuatnya tak terlihat langsung dari luar.
Rifana melihat tikus mutan yang menggeliat lemah di tanah 'Nah saatnya pulang ke neraka' Dia menghampiri makhluk itu dengan cepat.
Pandangannya teralihkan, melihat pintu pagar yang bengkok tak terkunci Rifana mengubah arah dan menguncinya.
Dia mengambil batangan besi yang tergeletak di tanah dan membuatnya tersangkut menghalangi pintu pagar.
Terbaring lemah dengan kabel hitam panjang yang melilit lehernya.
Tikus itu telah pasrah sepenuhnya, ketakutan alaminya bahkan tak lagi muncul saat adanya makhluk kolosal itu.
Hewan pengerat besar itu menatap Rifana dengan aneh, seolah berkata; 'Apa yang dilakukan manusia ini? Cepatlah bunuh aku.'
Tatapan memohon itu ditunjukan pada Rifana, meski terlihat tenang, tangannya bergetar saat dia mengarahkan pisau itu ke wajah monster itu.
Setelah perdebatan batin yang menguras mental, dia pada akhirnya menusukkan pisau itu dengan keras.
"Jleb..."
Pisau menusuk tepat ke mata makhluk itu. Bilah besi yang dingin itu menembus retinanya hingga mencapai otak.
Memberikan kematian instan pada tikus itu.
Rifana menyaksikan cahaya kehidupan yang memudar dari tikus itu, yang dengan perlahan kehilangan nyawanya meninggalkan tatapan kosong pada dunia.
"Ugh..." Dia jatuh diantara kedua kakinya, kedua kakinya berdenyut cepat membawa rasa sakit yang nyata 'Tenang, tenang itu cuma tikus' Dia bergumam pada dirinya sendiri.
Sebuah kebiasaan yang tercipta dari kesendiriannya selama ini.
Saat makhluk itu mati, sesuatu menguap ke udara menciptakan seberkas cahaya yang diserap masuk ke dalam tubuh Rifana.
"Ini.." Rasa hangat mengalir ke seluruh tubunya, tubuh Rifana terasa segar; kekuatannya fisiknya sedikit meningkat setelah cahaya itu diserap
'Ha...'
Dia menghela nafas panjang saat perasaan asing itu menyelimuti dirinya, kakinya yang mati rasa perlahan rileks setelah semburan kehangatan yang intens.
Kelelahannya dihilangkan sepenuhnya, rasa kantuknya menghilang dan nyeri di tubuhnya terasa pulih secara perlahan.
Meskipun mentalnya masih kelelahan, pemulihan fisik itu sedikit menurunkan fluktuasi emosi Rifana. Membawanya kembali ke akal sehatnya.
"Jadi gua beneran bisa jadi kuat setelah membunuh monster"
Logika cerita yang diingatnya diterapkan di banyak karya fantasi, itu sudah seperti konsep yang digunakan secara global oleh banyak penulis cerita.
Mungkin itu efek khusus pembunuhan pertama, atau efek yang lainnya. Rifana tak yakin sepenuhnya; Dia hanya menebak nebak selama ini menggunakan sedikit pengetahuannya.
Sejauh ini, tak ada sistem apapun yang muncul di hadapannya.
Saat dia menarik keluar pisau daging dari mata tikus itu, pisau yang terlepas mengekspos mata yang terbelah
Melalui celah, sesuatu memancarkan cahaya lemah ke luar
"inti monster?" Rifana mencoba merasionalkan apapun yang ditemukannya, dia memotong daging itu hingga mencapai otaknya.
"Aneh.." Dengan daging dan kulit berdarah di genggamannya, bagaimana bisa dia begitu tenang 'Apakah akhirnya gua jadi gila? Yah persetan' Rifana terus membuat lebih banyak sayatan.
Normalnya, seseorang akan muntah jika melihat kekacauan berdarah ini. Namun Rifana tak merasa terganggu sama sekali, entah dia menjadi gila atau apa.
Setelah Rifana mengacaukan kepala tikus itu, dia akhirnya bisa mengambil inti monster berukuran kecil yang tertanam di otaknya.
Kini, dia dipenuhi darah dan kotoran.
Semua itu hanya untuk ini.
Bola transparan seukuran kelereng ini terletak di tengah otak tikus itu. Bola kecil ini memancarkan cahaya putih lemah setiap beberapa detik, membenarkan tebakan Rifana akan benda ini.
Dia tak melakukan hal lain lagi, Rifana meninggalkan mayat yang hancur itu di tempat semula dan masuk ke rumah.
Namun tetap saja, perubahan emosional yang begitu cepat dirinya sedikit khawatir.
"Ngaco nih otak gua nih" Rifana terus khawatir, tindakannya terkadang berada di luar kendalinya "Yah gua rasa.. Lebih baik gua manfaatin ini, lagian kalo bukan karena ini mungkin gua udah mati pas di minimarket itu"
Seharusnya tak mudah untuk menerima perubahan itu, namun entah kenapa Rifana menerima itu dengan lega.
Pikirannya hanya satu.
Mengapa mempermasalahkannya jika itu membantunya hidup?
"Yah sudahlah, mending gua mandi"
Saat Rifana berbalik untuk masuk ke rumah, tanah di bawahnya bergetar dengan keras.
Dum.. Dum..
Tekanan udara menggoyahkan Rifana saat rasa mual yang tak lazim bergolak di dalam perutnya, suhu naik dengan cepat mencapai ketinggian baru.
Rifana menoleh dengan lemah.
Dari balik tembok, di ujung penglihatannya.
Disinari oleh cahaya celah yang melimpah, makhluk kolosal dengan tubuh gelap melangkah di kejauhan. Sosoknya terekspos dengan jelas di kejauhan.
menjulang sejauh puluhan meter, sosok gelap itu menghancurkan segala yang dipijaknya.
Dengan bentangan langit penuh retakan, cahaya halus menyelimuti eksistensinya yang perkasa. Memancarkan aura penindasan yang menyebar sejauh puluhan kilometer.
...
Mata Rifana membelalak tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya, bulu kuduknya merinding dengan keringat dingin mengalir deras diseluruh tubuhnya.
Dum.. Setiap langkahnya membawa gempa kecil ke bumi di sekitarnya, sosok kolosal terpantul di mata Rifana; menjulang setinggi puluhan meter, makhluk humanoid itu menghancurkan tanah disetiap pijakannya.
"Wah, lu becanda sih" Keringat dingin mengalir deras di kulitnya, jiwanya terus berteriak untuk menyelamatkan diri 'Ini bener bener kiamat campuran jingannn...'
Rifana terpaku pada makhluk kolosal itu, menatapnya dari jarak yang begitu jauh. Matanya berkedut dan dalam beberapa kedipan makhluk itu berhenti.
'Sial. sialan...' Jantungnya terasa bergenti berdetak, kakinya telah lama kehilangan tenaganya membuat Rifana duduk pasrah tanpa daya.
Titan? Apakah itu semacam titan? Rifana ketakutan setengah mati, dia memuntahkan makanan setengah dicerna dari dalam perutnya, dia merasa pusing
Tanpa sadar, tubuhnya bergerak pergi.
Berusaha bersembunyi dari apapun itu, Rifana tak tau bagaimana bisa dia bergerak. Tenaganya telah dikuras habis oleh tekanan tak lazim yang memenuhi udara.
Dengan cepat.
Dia melesat melewati tikus yang sekarat itu dan bersembunyi di balik tembok kecil, berbaring menahan nafasnya.
Di kejauhan langkah yang bergemuruh menghentikan gerakannya, sosok kolosal itu memutar kepalanya.
Dan kini, makhluk itu..
Menatapnya.