NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka kembali. Masuklah Juniarta dengan langkah ringan dan wajah yang berseri-seri. Rambut hitamnya masih basah dan sedikit berantakan karena baru saja dibilas, tetesan air kecil sesekali jatuh dari ujung rambutnya ke bahu kemejanya. Aroma sabun mandi yang segar dan bersih ikut membawanya masuk, bercampur dengan wangi yang sudah ada di ruangan itu.

Penampilannya kini sudah berubah sepenuhnya. Dia tidak lagi memakai setelan jas rapi seperti tadi pagi, melainkan menggantinya dengan kemeja polo berwarna abu-abu yang nyaman dan celana bahan hitam. Gaya santai namun tetap sopan dan rapi, sesuai aturan berpakaian di kantor untuk jam istirahat atau suasana sore yang lebih santai.

"Wah, seger banget rasanya, Bos! Sumpah deh, kalau nggak dengar saran Bos tadi, mungkin saya udah meleleh di sini karena panas," celoteh Juniarta ceria sambil mengusap sisa air di rambutnya dengan handuk kecil yang dia bawa.

Sulthan yang sedang sibuk mengetik pun mendongak sejenak, menatap asistennya yang kini terlihat jauh lebih segar dan bersemangat dibandingkan tadi yang wajahnya sudah mulai berminyak karena gerah.

"Kan sudah kubilang. Cuaca hari ini memang lagi ekstrem. Mandi sebentar saja sudah cukup buat isi ulang energi," jawab Sulthan santai, lalu kembali menatap layar komputernya, meski jari-jarinya berhenti mengetik sejenak.

Juniarta meletakkan handuknya di kursi kerjanya, tapi bukannya langsung duduk dan bekerja seperti biasa, dia malah berjalan mendekat ke meja besar Sulthan. Dia menyandarkan pinggangnya di tepi meja, posisi yang biasanya hanya dia lakukan saat suasana sedang santai dan tidak ada orang lain selain mereka berdua.

"Ngomong-ngomong, Bos..." mulai Juniarta dengan nada bicara yang berubah menjadi lebih santai dan sedikit usil. Matanya menyipit membentuk senyum jahil. "Kalau kita lagi santai begini, saya jadi penasaran nih. Bos kan orangnya sukses, tampan, kaya raya, pokoknya paket lengkap deh. Tapi kok ya sampai sekarang masih sendirian saja? Nggak ada niat cari pendamping hidup atau setidaknya punya pacar gitu?"

Sulthan menghentikan kegiatannya sepenuhnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Juniarta dengan alis terangkat sedikit.

"Kok tiba-tiba bahas ini? Apa maksudmu?" tanya Sulthan, tapi wajahnya sudah mulai melengkungkan senyum, tahu saja asistennya ini suka sekali menggodanya soal urusan asmara.

"Ya iseng aja, Bos. Soalnya kan kemarin-kemarin ada lho anak baru di bagian administrasi yang sampai sengaja lewat-lewat di depan ruangan ini cuma mau ngelihat Bos sebentar. Atau yang anak pemasaran itu lho, yang cantik dan tinggi itu, dia sampai minta saya kenalin berkali-kali," cerita Juniarta dengan antusias, seolah dia adalah agen perjodohan. "Padahal kalau Bos mau, tinggal jentikkan jari, pasti banyak yang mau. Bahkan yang bukan karyawan kantor juga banyak yang ngejar-ngejar kan?"

Mendengar itu, Sulthan akhirnya tertawa kecil. Suara tawanya renyah dan jarang terdengar, hanya muncul saat dia benar-benar merasa santai bersama orang yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri.

"Kamu ini ya... iseng banget. Itu alasannya kamu mau mandi tadi supaya segar, tapi pikirannya malah melayang ke mana-mana soal cewek-cewek ya?" goda Sulthan balik.

Sulthan menggeleng-gelengkan kepala, lalu wajahnya berubah sedikit lebih serius namun tetap hangat.

"Dengar ya, Jun. Jujur saja, untuk saat ini dan mungkin waktu yang cukup lama ke depan, saya belum mau cari wanita dulu. Hidup saya sekarang sudah penuh dengan pekerjaan, target, dan rencana ekspansi seperti yang kita bahas tadi. Mojokerto baru permulaan, nanti kita masih mau masuk ke kota-kota lain lagi. Kalau saya sibuk urusan cinta-cintaan, siapa yang mau mikirin perusahaan ini?" jelas Sulthan panjang lebar.

Dia berhenti sejenak, memikirkan pesan neneknya dan juga harapan orang tuanya, tapi dia segera menepisnya kembali.

"Lagian, kamu juga tahu kan? Wanita-wanita yang mendekat selama ini kebanyakan hanya melihat apa yang saya punya, bukan melihat siapa saya sebenarnya. Saya capek menghadapi yang seperti itu. Daripada sakit hati atau buang-buang waktu sama orang yang salah, mending saya fokus bisnis saja dulu. Anggap saja jodoh saya masih bersembunyi entah di mana, atau mungkin memang takdir saya harus menunggu lebih lama lagi," tambahnya lagi.

Juniarta mendengarkan dengan seksama. Dia pun ikut tertawa, kali ini tawanya lebih lega dan setuju.

"Hahaha, ya sudah kalau itu keputusan Bos. Saya ngerti kok. Memang benar juga sih, kalau hati belum siap, dipaksa juga nggak bakal nyaman. Lagian Bos kan masih muda, umur 30 tahun itu masih muda banget buat pria. Masih banyak waktu," jawab Juniarta santai. "Tapi kalau suatu hari Bos butuh bantuan cari kenalan atau apa, panggil saya saja ya! Siap membantu!"

"Dasar kamu... sudah sana duduk di tempatmu," perintah Sulthan sambil menunjuk kursi kerja Juniarta, senyumnya masih terlihat di wajahnya. Wajahnya pun perlahan berubah kembali menjadi wajah CEO yang tegas dan disiplin.

Suasana santai itu tidak boleh berlangsung lama. Waktu adalah uang, dan waktu adalah segalanya bagi Sulthan.

"Nah, itu tadi cuma obrolan santai. Sekarang, tolong kembalikan fokusmu ke pekerjaan ya, Jun. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu hanya karena sudah makan kenyang dan badan sudah segar," ucap Sulthan dengan nada tegas yang khas. "Ingat, laporan detail dari tim survei di Mojokerto harus sudah ada di meja saya besok sore. Kamu pastikan mereka mengirimkan data yang lengkap, mulai dari kondisi tanah, lingkungan sekitar, sampai harga properti di sana. Jangan ada yang kurang."

Mendengar perintah itu, Juniarta pun langsung berubah sikap. Kesan santai dan usil tadi hilang seketika, digantikan oleh wajah asisten yang profesional dan siap perintah. Dia mengangguk mantap.

"Siap, Bos! Dimengerti seratus persen. Saya akan segera hubungi tim lapangan sekarang juga untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Tidak akan ada waktu yang disia-siakan," jawab Juniarta lantang.

Dia pun segera berjalan kembali ke mejanya. Dengan sigap, Juniarta mengambil telepon kantor dan menekan nomor kontak pimpinan tim survei di Mojokerto. Tak butuh waktu lama, sambungan tersambung.

"Halo, selamat sore. Ini Juniarta dari kantor pusat. Bisa bicara dengan Pak Wawan?" tanya Juniarta tegas, suaranya terdengar profesional.

"Ah, iya Mas Jun! Selamat sore. Ini saya Wawan. Ada apa, Mas? Lagi di jalan nih tapi aman kok," jawab suara dari seberang, terdengar ramah dan bersemangat. Itu adalah Pak Wawan, kepala tim survei yang sudah dipercaya perusahaan bertahun-tahun.

"Baik, Pak Wawan. Saya telepon karena Bos minta laporan terkini. Gimana situasi di sana? Sudah cek lokasi yang kita incar belum?" tanya Juniarta langsung pada intinya, sambil membuka buku catatan dan memegang pulpen untuk mencatat.

"Sudah dong, Mas Jun. Baru saja selesai survei keliling dari pagi tadi. Lokasinya mantap betul!" jawab Pak Wawan antusias. "Lahan yang ditargetkan itu posisinya pas di pinggir jalan raya utama, lebar jalannya besar, arus lalu lintas padat terus siang malam. Sangat strategis buat bangun toko emas."

Juniarta mengangguk-angguk, matanya tajam mencerna informasi. "Oke, bagus. Terus soal kondisi tanah dan lingkungan sekitarnya gimana, Pak? Aman kan? Bukan daerah rawan banjir atau tanahnya lembek?"

"Insyaallah aman seratus persen, Mas. Tanahnya datar, keras, dan sudah lama jadi lahan kosong terawat. Jauh dari sungai atau selokan besar, jadi risiko banjir hampir nol. Lingkungannya juga bagus, sebelah-sebelahnya itu toko bangunan besar dan kantor pelayanan publik. Aman, bersih, dan terawat," jelas Pak Wawan rinci.

"Terus soal harga dan perizinan gimana? Apa ada kendala?" tanya Juniarta lagi, mendalami.

"Untuk harga, masih dalam range yang kita prediksi malah sedikit lebih murah dari harga pasar saat ini, Mas. Soal perizinan pun insyaallah mulus, karena Pemkot sana justru mendukung investasi masuk buat ngehidupkan ekonomi daerah. Cuma..." Pak Wawan berhenti sejenak.

"Cuman apa, Pak?" Juniarta sigap menyela.

"Cuman di bagian belakang lahan itu ada pohon beringin tua yang cukup besar, Mas. Tapi itu justru jadi nilai plus sih, bisa kita manfaatkan buat taman atau tempat tunggu yang asri. Nanti tinggal kita rapikan saja akar-akarnya supaya aman buat fondasi bangunan," tambah Pak Wawan menjelaskan.

"Wah, oke juga tuh ide nya. Jadi kesannya nanti mewah tapi tetap ada unsur alamnya ya," komentar Juniarta sambil mencatat cepat. "Terus potensi masyarakat sekitar gimana, Pak? Daya belinya kuat nggak? Soalnya kita mau bangun yang kelas atas lho."

"Kuat banget, Mas Jun! Jangan salahkan, Mojokerto itu banyak pengusaha sukses, banyak petani yang kaya, dan budaya masyarakatnya juga suka pakai emas buat perhiasan maupun tabungan. Target pasar kita jelas banget di sana. Bahkan tadi pas kita survei, banyak orang yang nanya 'ini mau dibangun apa, Mas? Kalau toko emas bagus dong, jadi nggak perlu jauh-jauh ke Surabaya'," cerita Pak Wawan bersemangat.

"Wah, mantap itu! Berarti respon masyarakat sudah positif duluan," kata Juniarta senang.

"Iya betul. Fasilitas umum juga lengkap, Mas. Dekat dengan alun-alun, dekat hotel, dan akses ke jalan tol juga gampang. Pokoknya recommended banget lokasinya. Nanti sore foto-foto dan video dokumentasinya saya kirim lewat email ya, lengkap dengan ukuran panjang lebarnya."

"Siap, Pak Wawan. Terima kasih banyak ya kerjanya cepat dan detail. Tolong pastikan semua datanya akurat ya, soal ini bakal saya laporkan langsung ke Bos," pesan Juniarta.

"Sip, Mas Jun! Pasti akurat. Nanti saya kabari lagi kalau ada perkembangan terbaru. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Pak."

Juniarta menaruh gagang telepon dengan wajah berseri-seri. Dia langsung menulis rangkuman laporan itu di kertas dengan tinta hitam tebal.

Di seberang meja, Sulthan yang sejak tadi diam dan pura-pura bekerja, sebenarnya mendengarkan seluruh percakapan itu dengan saksama. Perlahan tapi pasti, senyum tipis mulai terukir di bibirnya.

Mendengar penjelasan yang begitu rinci dan meyakinkan dari mulut Pak Wawan, serta melihat bagaimana Juniarta bertanya dengan sangat teliti dan cerdas, membuat hati Sulthan menjadi sangat tenang dan yakin.

Rencana pembukaan cabang di Mojokerto ini sepertinya memang keputusan yang tepat. Segala sesuatunya terlihat berjalan lancar dan penuh harapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!