"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: GERBANG NERAKA TERBUKA
Jakarta baru saja melewati tengah malam, tapi bagi penghuni Gedung Sanjaya Tower, malam baru saja dimulai. Gedung pencakar langit berlantai lima puluh itu berdiri angkuh, seolah-olah tumpukan beton dan kaca itu bisa melindungi dosa-dosa pemiliknya dari hukum karma.
Di lantai paling atas, Abraham Sanjaya masih memutar gelas wiskinya, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan wajah-wajah ketakutan anak-anak panti asuhan. "Sepuluh menit lagi, dan Arka belum muncul," gumamnya pada keheningan ruangan. "Mungkin dia bukan pahlawan. Mungkin dia cuma pengecut yang kebetulan punya mata bagus."
Tepat saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah getaran hebat mengguncang gedung. Bukan gempa bumi. Tapi sesuatu yang jauh lebih terfokus.
BUM!
Sensor keamanan di lobi utama mendadak mati total. Di layar monitor keamanan lainnya, Abraham melihat pemandangan yang bakal menghantui mimpinya. Pintu kaca setebal sepuluh sentimeter yang diklaim antipeluru hancur berkeping-keping, bukan karena diledakkan, tapi karena dilewati oleh seseorang dengan kecepatan yang memecah batas suara.
Arka sudah masuk.
"Berhenti! Siapa k—"
KRAK!
Dua penjaga elit di lobi bahkan belum sempat mengangkat senjata otomatis mereka saat sebuah bayangan emas melesat di antara mereka. Dalam satu kedipan mata, keduanya sudah terkapar dengan leher yang terkilir ke arah yang salah. Arka tidak berhenti untuk melihat mereka. Dia terus bergerak.
Setiap langkah Arka di atas lantai marmer itu meninggalkan bekas retakan yang dalam. Aura di sekelilingnya begitu panas sampai-sampai sistem sprinkler di langit-langit pecah, menyemburkan air yang langsung berubah jadi uap saat menyentuh "area" Arka.
"Tembak! Bunuh dia!" teriak seorang komandan keamanan melalui interkom.
Dari koridor kiri dan kanan, tiga puluh orang pasukan keamanan dengan seragam taktis lengkap muncul. Mereka bukan preman pasar; mereka adalah mantan tentara bayaran. Moncong senjata M4 mereka mulai memuntahkan timah panas secara membabi buta.
RATATATATATA!
Peluru-peluru itu memenuhi udara. Namun, di mata Arka, peluru-peluru itu bergerak lambat, seolah-olah sedang berenang di dalam sirup kental.
Arka mendongak. Mata sakti miliknya kini tidak lagi sekadar berpendar emas; pupilnya berubah menjadi bentuk hexagon yang berputar perlahan.
‘Mode Analisis: Lintasan Proyektil Terdeteksi. Mengaktifkan Ruang Hampa.’
Arka hanya mengayunkan tangannya secara horizontal di depan dada. Udara di depannya mendadak memadat, menciptakan dinding tekanan udara yang luar biasa kuat. Puluhan peluru itu berhenti di udara, menggantung beberapa senti dari wajah Arka, lalu jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam yang mengerikan.
"M-Mustahil..." salah satu penembak menjatuhkan senjatanya. Wajahnya pucat pasi. "Dia bukan manusia! Dia iblis!"
Arka menatap mereka. Tatapannya dingin, tanpa emosi, seperti seorang hakim yang sedang membacakan vonis mati.
"Kalian bekerja untuk orang yang salah," ucap Arka pelan.
Dalam sekejap, Arka menghilang dari pandangan. Yang terdengar kemudian hanyalah suara hantaman daging, patahan tulang, dan teriakan singkat yang langsung hilang. Arka bergerak seperti hantu; dia muncul di belakang satu orang, menghantam tengkuknya, lalu sudah berada di depan orang lain untuk mematahkan rusuknya.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, tiga puluh tentara bayaran itu bertumpuk di lantai. Tak satu pun dari mereka bisa bangun lagi.
Arka berjalan menuju lift. Dia menekan tombol lantai lima puluh. Namun, lift itu tidak bergerak. Abraham rupanya sudah memutus aliran listriknya.
"Kamu pikir ini bisa menghentikanku, Abraham?" bisik Arka.
Dia berbalik menuju celah tangga darurat. Dengan satu lompatan, Arka melesat naik sepuluh lantai sekaligus, berpijak pada dinding beton seolah-olah gravitasi hanyalah saran, bukan hukum alam.
Sementara itu, di Panti Asuhan Kasih Bunda, suasananya makin mencekam. Seorang pria bertato kalajengking di lehernya—tangan kanan Abraham untuk urusan kotor—memegang sebuah jerigen bensin.
"Oke, bocah-bocah kecil. Karena abang kalian nggak datang, mungkin kita perlu sedikit pesta api supaya dia tahu jalan pulang," tawa pria itu meledak. Dia mulai menyiramkan bensin ke pintu kayu panti yang rapuh
Anak-anak di dalam menangis histeris. Ibu Panti, seorang wanita tua yang wajahnya penuh keriput namun teduh, berdiri di depan mereka sambil memegang salib kayu. "Tolong, jangan sakiti mereka. Mereka tidak tahu apa-apa!"
"Diem lu, tua bangka!" Pria itu mengangkat pemantik api Zippo-nya.
Tepat saat jarinya hendak memutar roda pemantik, sebuah suara dingin terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja dekat situ. Ponsel itu terhubung langsung dengan Abraham di gedung pusat.
"Hentikan dulu," suara Abraham terdengar lewat speaker. "Biarkan dia melihat ini lewat videocall. Aku mau dia sampai di sini dan melihat rumahnya terbakar dari lantai lima puluh. Itu akan jadi pemandangan yang indah."
Pria bertato itu mendengus kecewa, tapi dia menurut. Dia mengambil ponsel itu dan mengarahkannya ke wajah Ibu Panti yang sedang berdoa. "Berdoa yang kencang, Nek. Siapa tahu Tuhan denger sebelum bensin ini nyamber."
Kembali ke Gedung Sanjaya.
Arka sudah sampai di lantai empat puluh sembilan. Dia tidak lagi menggunakan tangga. Dia berada di lorong panjang menuju kantor utama. Namun, kali ini, jalannya tidak kosong.
Di depan pintu besar berbahan kayu jati yang dilapisi baja, berdirilah tiga orang dengan jubah panjang berwarna abu-abu. Mereka tidak membawa senjata modern. Masing-masing memegang sebuah tongkat kayu dengan permata di ujungnya.
Mereka adalah 'Tiga Tetua Bayangan', aset tersembunyi keluarga Sanjaya yang berasal dari sekte kultivasi kecil di pegunungan.
"Anak muda, langkahmu cukup sampai di sini," ucap tetua yang berada di tengah. "Mata yang kamu miliki adalah berkah dewa, tapi jiwamu terlalu dangkal untuk menguasainya. Serahkan matamu, dan kami akan memberimu kematian yang cepat."
Arka berhenti sepuluh meter di depan mereka. Dia merasakan tekanan energi (Qi) yang berbeda dari lawan-lawan sebelumnya. Ini bukan lagi soal fisik; ini soal energi spiritual.
"Tiga orang tua bangka yang sudah bau tanah," Arka mendengus sinis. "Kalian bicara soal jiwa? Kalian menghamba pada orang yang menyandera panti asuhan, dan kalian berani bicara soal dewa?"
"Lancang!"
Ketiga tetua itu menghentakkan tongkat mereka secara bersamaan. Seketika, lantai di bawah kaki Arka berubah menjadi lumpur hitam yang lengket, mencoba menariknya masuk ke dalam "telan bumi". Di saat yang sama, petir-petir kecil mulai menyambar dari langit-langit koridor.
Arka merasakan kakinya mulai tenggelam. Dia merasa energinya sedang disedot oleh teknik ini.
‘Peringatan: Medan Energi Negatif Terdeteksi. Rekomendasi: Gunakan Mata Tahap Dua.’
"Tahap dua?" Arka bergumam. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia mengingat rasa lapar, rasa dihina, dan rasa kasih sayang dari Ibu Panti. Semua emosi itu dia murnikan menjadi satu titik fokus di tengah keningnya.
Saat dia membuka mata, seluruh koridor itu mendadak hening.
Mata Arka kini benar-benar putih bersih tanpa pupil, tapi memancarkan cahaya yang menyilaukan.
"Mata Sakti Tahap Dua: Penembus Dimensi!"
Arka tidak bergerak, tapi sebuah gelombang kejut berwarna transparan keluar dari tubuhnya. Lumpur hitam di bawah kakinya langsung menguap jadi debu. Petir di langit-langit terhenti di udara dan berbalik arah menghantam ketiga tetua itu.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Tetua di tengah berteriak panik saat melihat tekniknya berbalik menyerang dirinya sendiri.
Arka muncul di depan tetua itu secepat pikiran. Dia tidak memukul. Dia hanya menyentuh ujung tongkat kayu itu dengan jari telunjuknya.
CRACK!
Tongkat itu hancur menjadi serpihan kecil. Energi yang tersimpan di dalamnya meledak, melemparkan ketiga tetua itu menembus dinding gedung dan jatuh ke kegelapan di luar lantai empat puluh sembilan. Mereka bahkan tidak sempat berteriak saat tubuh mereka ditelan malam.
Arka menendang pintu baja menuju ruangan Abraham sampai terlepas dari engselnya.
Di dalam, Abraham Sanjaya berdiri mematung di balik meja kerjanya. Wiskinya sudah tumpah di atas karpet. Dia melihat Arka yang berlumuran debu dan sedikit darah, tapi dengan mata putih yang memancarkan aura kematian yang tak terbantahkan.
"Abraham," suara Arka bergetar karena amarah yang ditahan. "Telepon orang-orangmu di panti. Sekarang. Sebelum aku memutuskan untuk merobek setiap saraf di tubuhmu tanpa membuatmu mati."
Abraham gemetar. Dia mencoba meraih pistol di bawah mejanya, tapi dengan satu lambaian tangan Arka, pistol itu hancur berkeping-keping seperti kerupuk.
"T-Tunggu! Arka! Kita bisa bicara! Aku bisa kasih kamu uang, jabatan, bahkan Clarissa! Semuanya!" teriak Abraham histeris.
Arka berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat layar-layar monitor di ruangan itu meledak satu per satu.
"Uangmu nggak bisa beli nyawa yang kamu ancam," ucap Arka. Dia menarik kerah baju Abraham dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah jendela kaca yang sudah pecah, memperlihatkan ketinggian ratusan meter di bawah mereka.
"Sekarang telepon, atau kita berdua akan tahu seberapa keras aspal di bawah sana."
semangat kak👍