NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.

"KENAPA MALAH ENAK ENAKAN TIDUR, DI SAAT RUMAH ITU KOTOR DENGAN DARAH YAHG KELUAR DARI KAKIMU YANG KOTOR ITU. Nih lihat, anakmu juga gak kamu urus dengan benar. Seharian dirumah itu memangnya kamu ngapain aja, suami pulang karena capek kerja harusnya santai tinggal duduk nyaman. Lihat rumah bersih. Sekarang kamu gak lihat," ucap Ivan marah, sembari mencengkram kedua pipi kurus istrinya.

Bahkan kuku Ivan yang tajam menggores kedua pipi istrinya itu, kala Ivan memaksa wajah istrinya itu. Untuk berpaling dengan melihat ke arah sekeliling rumah, yang sekarang ini dalam keadaan berantakan dan juga terlihat kotor.

Seakan tahu, kesakitan apa yang dialami oleh ibu kandungnya. Reyhan anak Renata yang tadinya menangis. Sekarang tampak diam, padahal balita berumur 2 tahun itu sebenarnya haus dan juga lapar.

Padahal biasanya anak umur 2 tahun, hanya bisa menangis saat dia lapar atau pun haus.

Karena ibunya tidur di sofa dan meninggalkannya sendirian dikamar sejak kemarin sore.

"Maaf mas, aku tadi lemas dan juga pusing," ucap Renata dengan suara yang terdengar begitu lirih dan juga terbata bata.

"Maaf maaf sekarang ini bersihkan dan tidurkan dulu anakmu itu!" Ivan dengan kasar, menyerahkan anak yang tadi berada dalam gendongannya ke arah istrinya.

"Ya Allah, Reyhan maafin ibu ya sayang. Ibu gak denger kalau kamu itu dari tadi nangis." Renata terlihat menciumi, bahkan memeluk anaknya penuh kasih sayang.

Padahal Ivan sendiri merasa jijik dengan bau muntahan dan juga bau pampers anaknya yang sudah penuh. Tapi memanglah kasih sayang dan ketulusan dari seorang ibu memang sepanjang masa.

"Mana mungkin bisa dengar, telinga saja gak punya!" Ivan tampak menghina istrinya dengan suara yang terdengar begitu ketus.

Ivan sendiri sekarang sedang membersihkan sofa yang terkena noda darah istrinya. Karena Ivan takut, jika sampai kedua orang tuanya berburuk sangka. Saat nanti mereka berkunjung.

Renata sendiri terlihat menyusui anaknya, karena anaknya itu terlihat seperti orang kehausan.

Air mata Renata luruh, saat anak Renata menyusu sembari memegang pipinya itu dengan lembut.

Seakan anaknya itu menguatkan dirinya agar tetap kuat dan juga tegar.

Tak berselang lama, anaknya pun akhirnya tertidur diatas pangkuannya.

Renata sekuat tenaga berusaha untuk berdiri sendiri, dengan anaknya yang masih berada di pangkuannya.

Pandangan dirinya dan suaminya pun nampak beradu. Tapi suaminya itu buru buru memutus sepihak pandangannya. Dan pergi meninggalkan dirinya yang kesulitan untuk bangun begitu saja.

Padahal Ivan melihat, jika istrinya itu kesulitan jika berdiri sembari menggendong tubuh anaknya yang memang gemuk.

Tapi seakan memang rasa peduli Ivan itu untuk istrinya benar benar sudah menghilang.

Air mata jatuh dari kedua pelupuk Renata. "Ayolah Rena, buat apa kamu itu nangis. Buruan bangun dan bersihkan rumah ini."

Renata terlihat menyemangati dirinya sendiri, untuk segera bangun.

Akhirnya Renata bertumpu pada pinggiran kursi sofa, untuk bangun dari duduknya.

Mata Renata tiba tiba membulat sempurna, saat merasakan perih yang amat sangat, di kakinya yang terluka karena tergores pecahan kaca.

"Kenapa malah berdiri mematung, buruan itu ganti baju Reyhan dan tidurin lagi ke kamar. Kasihan dia, ntah sejak kapan dia itu bangun dan juga menangis," ucap Ivan ketus, dia bahkan kini tatapan keduanya kembali beradu.

Jika Renata memandang suaminya itu penuh rasa hormat dan juga sayang, sungguh berbeda dengan pandangan suaminya kepadanya. Tatapan Ivan penuh dengan kebencian yang mendalam.

Dengan menyeret satu kakinya, Renata pun berjalan menuju ke kamarnya. Sebuah kamar yang sempit, sungguh lebih pantas di buat gudang. Dari pada kamar.

Mata Renata membulat sempurna, kala suaminya itu, menarik dan mengeluarkan ranjang tidur milik anaknya.

"Mas, kok dikeluarin. Ini mau buat menidurkan Reyhan. Soalnya kasur aku kata mas kotor." Renata nampak bingung.

"Aku lupa memberitahu mu, soalnya nanti bapak sama ibuk, mau datang kesini. Dan aku itu ngantuk, capek habis lembur. Takutnya mereka itu bilang sore, tau tau datangnya pagi. Nanti Reyhan menidurkan di kamar aku aja, sama baju daster milik ibukku yang masih bagus. Udah aku taruh di gantungan kamar mandi, jangan lupa daster bekas ibuku itu di pakai. Ingat kamu gak boleh tidur, harus bersihkan rumah ini, sampai benar benar bersih!" Ivan terlihat berbicara dengan nada meninggi pada istrinya.

Ivan bahkan memandang baju istrinya yang lusuh itu, dengan tatapan benci.

"Iya, mas," ucap Renata patuh.

"Bagus."

Setelah selesai mengganti pakaian anaknya, Renata pun pergi ke kamar suaminya, guna segera menidurkan anaknya itu disana.

Ceklek

Renata membuka pintu kamar suaminya itu dengan perlahan, karena Renata sangat menghindari amukan suaminya.

Renata berjalan dengan langkah kaki yang sangat pelan, sembari menggigit bibir bawahnya. Guna menahan rasa sakit yang kini dia rasakan di perut maupun dikakinya yang terluka karena pecahan kaca, vase bunga yang pecah kemarin siang.

Bahkan sampai sekarang, Renata belum mengobati kakinya itu. Dia memilih mengurus anaknya dahulu.

Setelah menidurkan anaknya, Renata terlihat berjalan mendekat ke arah ranjang milik suaminya. Sebuah ranjang yang sangat empuk dan juga nyaman, sungguh berbanding terbalik dengan kasur lantai yang ada di kamarnya. Suaminya sendiri sekarang sedang tertidur pulas.

Tiba tiba Renata menghentikan langkah kakinya, bahkan dia juga mengernyitkan dahinya. Kala mencium sebuah bau, yang sungguh tiadak asing. Sebuah bau Aroma cerry blossom kesukaan sahabat baiknya Esther.

Tapi ada hal yang membuat Renata itu bingung. Seingatnya saat dia menikah dengan suaminya. Sahabatnya itu mengado dirinya sebuah parfum dengan aroma cherry blossom. Tapi suaminya itu malah membuang parfum itu. Dengan alasan gak suka bau itu, tapi kenapa sekarang hidungnya mencium bau aroma parfum Cherry blossom itu.

Renata pun terlihat menggelengkan kepalanya. Guna menghilangkan pikiran buruk yang tiba tiba melintasi otaknya saat ini.

Renata melanjutkan jalannya lagi, ke arah ranjang suaminya. Sekarang dia sedang memandang wajah suaminya itu dengan melengkungkan seulas senyum, bahkan tanpa Renata sadari tangannya mengelus elus pipi suaminya.

Renata tersenyum getir, sudah 2 tahun lebih, suaminya itu tidak menyentuh dirinya. Jangan kan menyentuh dengan memberikan sebuah nafkah batin.

Mencium ataupun memeluk dirinya saja suaminya itu tidak pernah, bahkan suaminya juga tidak pernah membiarkan dirinya untuk menyentuhnya.

Walaupun hanya mencium punggung tangan saja, suaminya tidak memperbolehkannya. Seakan suaminya itu selalu memasang wajah jijik ke arahnya.

Sebulir air mata milik Renata pun jatuh mengenai pipi suaminya.

Seketika suaminya itu bangun dari tidurnya. Dia duduk lalu merik tajam ke arah Renata.

"Kau meludah ke arah ku. Jangan pegang pegang pipiku dengan tangan KOTORMU itu, sungguh menjijikan. Pergi kau dari kamarku ini," ucap Ivan dengan suara meninggi dan wajah merah padam.

Renata yang terkejut, dan takut amarah suaminya.

Dia pun langsung berlari keluar dari dalam kamar suaminya.

Tak lupa Renata menutup pintu kamar suaminya lagi.

Jantung Renata seakan mau copot, melihat kemarahan suaminya.

Membuat perutnya itu kembali terasa sakit.

"Ya Allah, apakah orang sepertiku tidak pantas mendapatkan sebuah kebahagiaan atau pun cinta. Kenapa orang orang yang aku sayangi dan cintai dengan tulus membuangku. Memperlakukan ku seperti sampah begini. Seperti suamiku sekarang atau pun mantanku dulu Leon. Bahkan kedua orang tuaku juga pergi meninggalkan ku sendiri di dunia ini, tanpa mengajak ku," gumam Renata sembari memeluk tubuh nya sendiri.

Renata tampak tegar lalu, dia kembali melanjutkan untuk bersih bersih rumah. Tanpa memikirkan kakinya atau pun perutnya. Yang semuanya membutuhkan pengobatan.

1
Uthie
Biar kena karma yg lebih menyakitkan tuhhhh buat wanita super jahat dan berhati keji macam si Esther itu Thor👍👍👍😡😡😡
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!