NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Suasana di dapur itu seketika menjadi hening total, sangat hening sampai suara jarum jatuh pun pasti akan terdengar. Bibi Asih yang tadinya mau memberikan air minum pun jadi ikut terdiam membeku di tempatnya, dan hanya bisa tersenyum-senyum sendiri melihat pemandangan romantis namun sangat canggung dan manis itu.

“Duh gusti… manisnya ya allah… liat itu non Aira mukanya merah banget kayak tomat merah gitu, tuan muda juga liatin terus gak berkedip, duh bikin baper orang tua nih liatnya,” batin bibi Asih senang bukan main melihat majikannya semakin dekat.e

Aira merasa kepalanya panas sekali rasanya, rasanya ingin sekali menghilang dari tempat itu atau masuk ke dalam lubang saja karena rasa malunya yang sudah memuncak ke ubun-ubun.

Ia merasa dirinya sangat ceroboh sekali hari ini. Pagi tadi sudah tumpahin kopi, sekarang siang-siang malah nabrak suami sendiri sampai bersentuhan begitu dekat dan intim.

“Ma…maaf ya mas…” Aira masih terus meminta maaf dengan suara yang sangat pelan dan gemetar, tangannya saling mencengkeram kuat di depan perutnya karena rasa gugup yang luar biasa. “Aira kan lagi mau kasih jalan buat mas lewat, eh malah kesenggol gitu. Maaf banget ganggu mas, maaf banget bikin mas kaget.”

Elvano menatap wajah istrinya itu lekat-lekat, matanya menyapu setiap detail wajah yang memerah padam itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada senyum tipis yang sangat sulit disembunyikan yang mulai mengembang di sudut bibirnya yang tipis dan tegas itu.

Ia justru merasa sangat suka dan sangat menikmati momen canggung dan manis seperti ini. Melihat Aira yang salah tingkah, melihat Aira yang memerah karena malu, melihat Aira yang begitu polos dan jujur dengan perasaannya, itu semua memberikan sensasi yang sangat baru dan sangat menyenangkan bagi hati Elvano yang selama ini dingin dan keras.

“Udah, jangan minta maaf terus…” ucap Elvano pelan, suaranya lembut sekali, hampir berbisik tepat di depan wajah Aira. “Kan gak sakit? Aku juga gak apa-apa kok. Lagian aku juga yang salah karena jalannya pelan dan tiba-tiba berhenti di belakang kamu.”

Aira akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahnya sedikit saja, ia melirik curi-curi pandang ke arah mata Elvano dengan ujung matanya yang berbinar.

“Be… beneran gak marah?” tanyanya polos sekali, suaranya masih terdengar ragu-ragu.

“Beneran dong.” Elvano mengangguk mantap, lalu ia tersenyum lebar sekali menampakkan deretan giginya yang putih rapi dan lesung pipi yang jarang sekali terlihat itu. “Masa aku marah cuma karena kesenggol dikit doang sama istri sendiri? Kan kamu istri aku, wajar dong kalau kita sering bersentuhan gini.”

Blar!!

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong tepat di kepala Aira!

Wajahnya yang tadinya sudah merah, kini makin merah menyala saja rasanya! Panasnya sampai ke ubun-ubun!

“Tapi… tapi kan tadi kan gak sengaja mas…” bantah Aira kecil, masih belum terima dengan logika suaminya itu.

“Gak sengaja atau sengaja, tetep aja kita suami istri kan?” Elvano malah semakin mendekatkan wajahnya, membuat jarak mereka semakin sempit dan udara di sekitar mereka terasa semakin panas dan kental. “Lagipula… tadi kan tangan kita juga sempat bersentuhan kan?”

Aira langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak kaget. “I… iya…”

“Rasanya aneh ya…” gumam Elvano seolah berbicara pada dirinya sendiri, tapi suaranya cukup keras buat didengar oleh Aira.

“An… aneh kenapa mas?” tanya Aira penasaran meski jantungnya makin berdegup kencang.

Elvano menatap tajam ke dalam manik mata hitam Aira, lalu ia berkata dengan suara yang berat, serak, dan sangat seksi.

“Rasanya hangat… listriknya kerasa banget sampai ke tulang sumsum. Dan yang paling penting… tangan kamu halus banget Ra. Gak nyangka sehalus ini dan selembut ini kulitnya. Kayak kapas, kayak awan, enak banget rasanya pas kesentuh.”

Blaaaaar!!

Kepala Aira rasanya mau meledak saja!

“Ma… mas Elvano!!” Aira langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena tidak tahan lagi dengan godaan suaminya itu. “Ih mas jahat banget sih! Suka godain Aira aja terus! Aira jadi makin malu tauuu!”

Elvano tertawa kecil melihat reaksi istrinya yang begitu polos dan menggemaskan itu. Tawanya renyah, lepas, dan sangat enak didengar.

“Kan aku cuma ngomong fakta doang kok. Emang beneran halus kan?” goda Elvano lagi sambil mencoba mengulurkan tangannya ingin menyentuh tangan Aira lagi untuk membuktikan ucapannya.

“Ih jangan!!” Aira langsung mundur selangkah sambil terkikik panik. “Mas jangan nakal dong! Kan ada bibi Asih juga di situ lhooo!”

Mereka berdua pun tertawa bersama. Suasana kaku yang tadinya ada seketika itu juga lenyap terbawa angin, berganti menjadi suasana yang sangat akrab, sangat hangat, dan penuh dengan cinta kasih yang mulai tumbuh subur di antara mereka berdua.

Di sudut dapur, bibi Asih yang sejak tadi menyimak dengan senyum lebar akhirnya mengangguk-angguk puas.

“Alhamdulillah… alhamdulillah… akhirnya tuan muda bisa ketawa lepas juga kayak gini. Non Aira emang bidadari penyejuk hati yang dikirim allah khusus buat tuan muda. Rumah ini jadi makin hidup dan cerah aja rasanya,” batin bibi Asih bahagia sekali.

Beberapa saat setelah kejadian seru dan memalukan itu, Elvano kembali naik ke lantai atas untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Suasana di dapur kembali tenang, namun rasa hangat dan getar-getar aneh yang manis itu masih tertinggal lama di dalam dada Aira dan tidak mau hilang-hilang.

Aira pun pamit pada bibi Asih untuk naik ke kamar sebentar, atau duduk santai di ruang keluarga, karena rasanya pipinya masih terasa panas sekali dan jantungnya masih berdegup tidak karuan.

Ia duduk bersandar di sofa besar yang empuk dan nyaman itu, memegang dadanya sendiri yang masih terasa berdebar-debar kencang.

“Ya allah… ya allah… kenapa jadi begini sih rasanya…” gumam Aira pelan pada dirinya sendiri sambil menghela napas panjang berkali-kali. “Padahal cuma kesenggol doang, padahal kan kita udah halal, udah suami istri sah… tapi kenapa rasanya kayak mau pingsan gitu ya? Panas, gemetar, keringat dingin keluar, tapi rasanya… seneng banget juga ya allah…”

Aira menatap tangannya sendiri, tangan kanan yang tadi bersentuhan dengan tangan Elvano. Ia masih bisa merasakan dengan jelas hangatnya sentuhan tangan besar itu tertinggal di sana, seolah-olah bekas genggamannya masih terasa melingkar di pergelangan tangannya.

“Mas Elvano…” bisiknya pelan, matanya berbinar-binar penuh. “Ternyata… sentuhan dia bikin deg-degan banget ya. Bikin Aira merasa… merasa sangat dilindungi dan disayang.”

Aira tersenyum kecil sendiri, tersipu malu seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen manis. Ia sadar sekarang, bahwa perasaannya pada pria itu bukan lagi sekadar rasa hormat, rasa takut, atau rasa terima kasih karena sudah dinikahkan.

Tapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang hangat membara, sesuatu yang membuat jantungnya berpacu dengan kencang, sesuatu yang membuat pipinya memerah hanya karena dipanggil namanya saja.

“Apakah ini namanya… jatuh cinta?” tanyanya dalam hati pelan, penuh harap.

Tiba-tiba…

Tring… Tring… Tring…

Ponsel di tangan Aira berdering nyaring dengan nada lagu yang ceria dan riang. layar ponsel itu menyala terang memperlihatkan nama pemanggil.

“Dinda ❤️”

Aira langsung tersenyum lebar dan matanya berbinar. Tanpa menunggu lama, ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

“Halo Din…” sapa Aira, suaranya terdengar lembut dan masih sedikit malu-malu.

“Halo cantikkkk!! Halo istri muda!! Gimana gimana?! Hari ini gimana ceritanya?! Ada kabar bagus gak?! Ada kejadian seru apa hari ini hihihi?!” terdengar suara Dinda yang sangat heboh, berteriak-teriak di seberang sana dengan suaranya yang melengking dan penuh dengan energi seperti biasa.

Aira tertawa kecil mendengar suara sahabatnya yang memang tidak pernah berubah itu, selalu saja heboh dan penuh semangat yang menyala-nyala.

“Iya Din… ada kok…” jawab Aira pelan, suaranya tiba-tiba menjadi lemah dan malu-malu sekali.

“Hah?! Beneran?! Gila deh serius?! Astaga akhirnya!!” Dinda langsung menjerit kegirangan di telepon. “Cepat cepat cerita semuanya Ra! Jangan ada yang dihilangkan satu huruf pun! Detail semuanya! Aku mau tau semuanya! Gimana suami ganteng lo?! Gimana interaksi kalian?!”

Aira pun menghela napasnya panjang, lalu mulai membuka ceritanya secara panjang lebar dan sangat detail kepada sahabat satu-satunya itu.

Ia menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya beberapa menit yang lalu dengan sangat rinci. Mulai dari insiden saat ia sedang memotong buah, ia mundur tidak sengaja, punggungnya terbentur dada bidang Elvano, tangan mereka yang saling bersentuhan, bagaimana rasanya panas seperti disetrum listrik, bagaimana wajahnya memerah padam sampai ke leher, bagaimana kakinya lemas, sampai bagaimana Elvano memuji tangannya halus dan suaranya yang jadi berat, serak, dan sangat seksi itu.

Aira menceritakan semuanya dengan jujur, termasuk perasaannya yang campur aduk antara takut, malu, tapi juga sangat bahagia dan berbunga-bunga.

“Yeeeeeeeeee gila baby!! Gokil abis!! Mantap jiwa!!” teriak Dinda begitu keras sampai Aira harus menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga karena kupingnya terasa berdenging. “Gitu dong gitu! Itu yang namanya chemistry! Itu yang namanya sentuhan cinta! Itu tanda-tanda jodoh sejati Ra! Gue bilang apa dari dulu hah?! Pasti bakal ada getar-getar aneh yang manis kan?!”

“Iya Din… Aira deg-degan banget tau…” jawab Aira pelan sambil menggeser-geserkan ujung jarinya di atas kain sofa yang empuk itu, wajahnya masih terasa hangat membara. “Rasanya aneh banget Din. Panas dari ujung kaki sampai ujung kepala, gemetar seluruh badan, keringat dingin keluar, tapi rasanya… seneng juga gitu lho Din. Rasanya pengen dipegang lagi gitu hehe…”

“Lah emang gitu rasanya dong sayangkuuu!” jawab Dinda panjang lebar dengan nada yang sangat ahli dan penuh dengan keyakinan. “Waktu jantung lo berdebar kencang gitu, waktu wajah lo merah padam gitu, waktu lo grogi dan salah tingkah gitu, itu artinya lo udah jatuh cinta total Ra! Lo udah kalah sama perasaan lo sendiri! Dan tau gak?! Itu tandanya dia juga sama persis kayak lo!”

“Haah? beneran gak Din?” tanya Aira polos penuh harap, matanya membelalak.

“Seratus persen beneran dong! Gue ini ahli soal ginian!” Dinda tertawa riang dan bangga sekali. “Kalau dia gak suka atau gak ada rasa, pas kesentuh gitu dia pasti langsung narik tangan kaget dan marah atau jijik gitu kan? Tapi ini apa?! Dia malah diem, dia nikmatin, dia muji tangan lo halus, dia senyum-senyum sendiri! Itu artinya dia juga ngerasain hal yang sama! Jantungnya juga berdegup kencang! Dia juga suka sama lo Ra! Gila deh, berarti babak belur tuh kalian saling jatuh cinta!”

Aira tersenyum lebar sekali mendengar penjelasan sahabatnya itu. Rasanya lega sekali dan bahagia sekali. Ternyata ia tidak sendirian yang merasakan hal aneh dan manis ini. Ternyata suaminya juga merasakan hal yang sama persis.

“Terus terus Ra! Cerita lagi! Terus dia ngomong apa lagi?! Dia pegang lama gak? Jari-jarinya nyangkut gak? Terus mukanya gimana? Kelihatan gak kalau dia juga salah tingkah?” desak Dinda tidak sabaran ingin tau lebih banyak lagi.

“Enggak Din, cuma sebentar doang kok. Terus Aira kan malu banget jadi langsung narik tangan dan ngelawak malu gitu. Terus dia kan godain amAira bilang ‘tangan kamu halus banget ya’ terus suaranya itu lho Din… jadi berat gitu, serak gitu… ih bikin meleleh deh pokoknya!” cerita Aira dengan antusias, rasa malunya perlahan hilang digantikan oleh rasa bahagia.

“Haaaaaah?! suami lo emang the best banget sih! Romantis level dewa! Gila deh Ra, lo beruntung banget sumpah! Dapat suami tampan parah, kaya raya, perhatian, bisa bikin jantung meletup-letup gitu, romantis pula! Banyak orang yang ngarepin, mati juga gak bakal dapat yang kayak suami lo tau!” seru Dinda penuh dengan kekaguman.

“Iya Din makasih ya… Aira juga bersyukur banget sama allah dikasih mas Elvano.”

“Tapi inget ya Ra, inget! Ini baru awal doang lho! ini kan masih fase kaku, fase sentuhan tak sengaja, fase saling curi pandang! Nanti lama kelamaan, udah makin akrab, udah makin sayang, wah bisa gila gak itu rasanya! Siapin mental dong buat jadi istri yang baik dan siapin jantung yang kuat biar gak copot!” nasihat Dinda panjang lebar.

“Siap bos! Siap laksanakan!” jawab Aira sambil tertawa renyah.

Mereka berdua pun terus mengobrol sangat lama sekali, hampir satu jam lebih mereka bicara. membahas segala hal, membahas rencana Dinda yang mau main ke rumah, membahas betapa bahagianya Aira sekarang, dan betapa Dinda sangat bangga memiliki sahabat sebaik dan seberuntung Aira.

Obrolan itu diakhiri dengan tawa dan rasa bahagia yang meluap-luap di hati keduanya.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!