NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

BAB 35: Isolasi Hangat di Balik Kanvas dan Batas yang Nyaris Runtuh

Siang hari di kawasan perkemahan agrowisata Bogor bergulir bersama sapuan angin pegunungan yang membawa hawa sejuk, membelai barisan pohon pinus yang menjulang tinggi. Sebagian besar murid kelas tiga SMA Pelita sudah bergerak menuju area hilir desa untuk melaksanakan agenda bakti sosial dan pemetaan vegetasi lanjutan.

Suasana di sekitar area tenda utama pun mendadak lengang, hanya menyisakan deru angin dan kepulan asap tipis sisa pembakaran kayu semalam.

Namun, di dalam tenda komando khusus pengurus OSIS, atmosfer terasa begitu hangat, tenang, dan terisolasi seutuhnya dari dunia luar. Pendaran matahari siang yang terik menyusup masuk melalui celah-celah ventilasi kanvas tebal, menciptakan berkas-berkas cahaya keemasan yang menari di atas karpet bulu abu-abu.

Zayn Dominic duduk bersandar di atas kasur lipat empuk dengan sebelah kaki panjangnya ditekuk kasual. Kaos lengan panjang hitam yang dikenakannya melekat pas di dada bidangnya yang kokoh. Wajah tampannya hari ini dihiasi oleh beberapa plester medis baru di pelipis mata elangnya, serta memar kebiruan yang mulai samar di sekitar rahang tegasnya—sisa dari perkelahian brutal melawan Christian Narendra semalam.

Meskipun statusnya sedang menjalani hukuman 'tahanan tenda' dari Pak Baskoro, tidak ada sedikit pun gurat penyesalan atau kekalahan di wajah Zayn. Sebaliknya, sudut bibirnya yang sedikit pecah justru terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan kepuasan mutlak.

Di sebelahnya, Elva Ileana duduk lesehan sambil memangku sebuah papan jalan kayu yang menjepit tumpukan berkas administrasi OSIS. Sweater rajut putih tebal yang dikenakannya memberikan kesan sangat murni dan kontras dengan aura dingin yang biasa menguar dari tubuh Zayn. Rambut hitam panjangnya yang halus digerai bebas, menutupi sebagian bahunya yang mungil.

"Zayn, nomor absen kelompok tiga ini belum dimasukkan ke data logistik. Kamu yang pegang salinannya, kan?" tanya Elva lembut, mendongak menatap Zayn dengan sepasang mata bulatnya yang jernih.

Zayn tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya justru mengunci fokus sepenuhnya pada pergerakan bibir manis Elva. Sifat cemburu posesifnya yang ekstrem sejak sidang pagi tadi belum sepenuhnya reda. Bagi Zayn, hukuman pengalihan tugas ini adalah skenario paling sempurna yang diberikan sekolah.

Dia tidak perlu berbagi pandangan atau membiarkan mentari kecilnya berada di bawah radar pengawasan Christian di luar sana. Di dalam ruang tertutup ini, Elva adalah miliknya secara mutlak tanpa celah gangguan dari pihak mana pun.

Zayn mengulurkan tangan kekarnya, meraih lembar dokumen di samping tempat duduknya tanpa melepaskan pandangan dari Elva.

"Ada di sini. Biar gue yang tulis bagian itu, lo istirahat aja," ketus Zayn rendah, suaranya terdengar begitu berat, serak, namun sarat akan kelembutan yang hanya ditujukan khusus untuk gadis di depannya.

"Nggak apa-apa, Zayn. Kan tugas aku hari ini membantu kamu menyelesaikan laporan administrasi ini," balas Elva dengan senyuman murni yang sangat manis, mencoba meraih pulpen di dekat lutut Zayn.

Namun, sebelum jemari lentik Elva menyentuh pulpen tersebut, Zayn dengan satu gerakan cepat dan impulsif meraih pinggang mungil Elva. Dengan kekuatan lengannya yang kekar, dia mengangkat tubuh kecil gadis itu dengan sangat mudah, memindahkannya dari posisi semula untuk duduk sepenuhnya di atas pangkuannya.

"Z-Zayn?!" Elva terbelalak kecil, kedua tangan kecilnya refleks bertumpu pada bahu tegap Zayn untuk menjaga keseimbangan.

Papan jalan kayu di pangkuannya hampir saja merosot jika tangan kiri Zayn tidak dengan sigap menahannya.

Posisi mereka kini menjadi begitu intim di tengah keheningan tenda siang hari. Jarak yang terkikis habis membuat Elva bisa merasakan kehangatan dada bidang Zayn yang berdegup dengan ritme yang konstan, kuat, dan selaras dengan debaran di dalam dadanya sendiri. Aroma maskulin khas perpaduan mint dan parfum mahal dari tubuh Zayn menyeruak kuat, mengunci seluruh indra penciuman Elva dan memberikan rasa aman yang tak terbantahkan.

"Zayn... lepaskan dulu, ih. Nanti kalau tiba-tiba Leo atau Pak Baskoro masuk bagaimana?" cicit Elva dengan wajah yang seketika merona merah sempurna bagai buah stroberi matang. Dia mencoba menggeser tubuhnya, namun lingkar lengan kanan Zayn di pinggangnya justru semakin mengencang, mengunci tubuh mungil Elva agar melekat tanpa jarak pada dada bidangnya.

"Pintu tenda udah gue ritsleting rapat dari dalam. Nggak akan ada yang berani masuk tanpa izin gue," jawab Zayn lempeng, suaranya terdengar begitu kaku namun penuh dengan otoritas yang mutlak.

Zayn menyandarkan dagu tegasnya di atas pundak mungil Elva, membiarkan helaian rambut hitam panjang gadis itu menyelimuti sisi wajah mereka berdua. Ibu jarinya bergerak perlahan menelusuri permukaan leher Elva, menyentuh rabaan hangat pada tanda merah pekat baru yang dia buat tadi malam. Sentuhan kasar namun penuh kehati-hatian itu membuat Elva refleks menahan napas, meremang halus di bawah Kungkungan fisik Zayn.

"Gue benci fakta kalau ada cowok lain yang nyoba cari celah di dekat lo," bisik Zayn, suaranya bergetar rendah di dekat daun telinga Elva.

 "Dan gue nggak akan pernah membiarkan batas yang udah gue buat ini buram sedikit pun."

Elva memutar kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap mata elang Zayn dari jarak sedekat ini. Kedua tangan kecilnya naik, menangkup rahang tegas Zayn yang dipenuhi luka memar.

 "Zayn, aku kan sudah bilang berkali-kali... Christian atau siapa pun tidak akan pernah bisa mengubah apa pun. Hatiku sudah terkunci di kamu seutuhnya. Jadi, jangan cemburu lagi, ya?"

Pernyataan tulus dan pasrah dari mentari kecilnya seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan dinding es di kepala Zayn. Tatapan matanya meredup pekat, dipenuhi oleh gairah pelindung yang teramat sangat mendalam.

Zayn tidak lagi mengeluarkan perintah lisan yang kaku. Sebagai gantinya, tangan kekarnya di tengkuk Elva menekan perlahan, menuntun wajah gadis itu mendekat sementara bibir hangatnya langsung menyapu belahan bibir manis Elva. Ciuman kali ini dimulai dengan lumatan-lumatan kecil yang penuh tekanan lembut, seolah Zayn sedang menyerap seluruh rasa cemas dan kepasrahan Elva ke dalam dirinya.

Pagutan itu perlahan berubah menjadi lebih intens dan dalam. Bukannya mendikte lewat kata-kata, Zayn menggunakan gigitan kecil yang sensual di bibir bawah Elva, sebuah pancingan halus yang secara alami membuat Elva melenguh rendah dan reflek membuka sedikit belahan bibirnya.

Begitu celah itu tercipta, Zayn langsung merapatkan kedekatan mereka tanpa menyisakan ruang udara. Lidahnya menyusup masuk, menyapu, dan membelit lidah Elva dengan ritme yang luar biasa mendominasi namun penuh kelembutan yang memabukkan.

Dua tangan tegap Zayn yang semula mengunci pinggang Elva perlahan bergerak merayap naik ke balik sweater rajut putih tebal yang dikenakannya. Sentuhan telapak tangan Zayn yang besar dan hangat langsung bersentuhan dengan kulit pinggang Elva yang halus, mengirimkan gelombang sengatan panas yang membuat tubuh mungil Elva bergetar hebat di atas pangkuan cowok itu.

Adrenalin pasca-berantem semalam dan gairah posesif yang menumpuk membuat kendali diri Zayn perlahan mulai goyah. Pagutan bibirnya bergeser turun ke arah rahang, menghisap kuat kulit leher Elva, lalu turun lebih jauh menuju tulang selangka gadis itu. Zayn menggigit kecil area sensitif di sana, mengabaikan kancing sweater bagian atas Elva yang tanpa sadar terlepas karena tarikan jemarinya yang menuntut.

"Z-Zayn... bentar... ah..." Elva melenguh tertahan, kedua tangannya mencengkeram erat rambut hitam acak-acakan Zayn. Sensasi sentuhan tangan Zayn di kulit telanjang pinggangnya dan kecupan-kecupan intens di tulang selangkanya membuat dadanya naik-turun memburu napas. Dia merasa Zayn sore ini bener-bener berbeda—begitu menuntut, liar, dan nyaris melewati batas kewajaran hubungan mereka selama ini.

Zayn terus mendominasi, ciumannya kian memanas di atas dada bagian atas Elva, sementara tangannya bergerak merayap lebih tinggi di balik pakaian gadis itu. Gairah pelindung dan ego kepemilikan mutlaknya mendesak Zayn untuk mengunci Elva seutuhnya di bawah dekapannya malam ini, melupakan fakta bahwa mereka saat ini masih berada di dalam tenda komando area sekolah. Atmosfer di dalam tenda seketika berubah menjadi begitu pekat, panas, dan berbahaya.

Tepat saat jemari Zayn nyaris bergerak lebih jauh ke area yang paling sensitif, sebuah suara deheman keras yang disengaja tiba-tiba terdengar dari arah luar kanvas tenda, memotong seluruh keheningan intim di antara mereka.

"Zayn! Ini gue, Leo. Berkas logistik babak kedua dari desa udah dateng, perlu lo tanda tangani sekarang sebagai ketua OSIS," seru Leo dari balik ritsleting tenda yang tertutup rapat. Leo sengaja berteriak dan tidak langsung membuka pintu, memberikan jeda waktu karena dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di dalam sana.

Suara Leo seketika bagai siraman air es yang mendadak mengembalikan seluruh akal sehat Zayn yang sempat menguap. Zayn menghentikan gerakan tangannya yang berada di balik sweater Elva. Dia memejamkan mata elangnya erat-erat, menyandarkan kepalanya di ceruk leher Elva sambil mengembuskan napas pendek yang sangat memburu dan panas. Otot-otot di rahang tegasnya menegang kuat, mencoba menekan kembali gairah ekstrem yang nyaris membuatnya lepas kendali.

Zayn menarik perlahan tangannya keluar dari balik pakaian Elva, lalu dengan gerakan telaten yang sangat lembut, tangan kekarnya membantu merapikan kembali kerah sweater Elva dan mengancingkan kembali kancing bagian atas yang sempat terlepas. Dia menatap wajah polos Elva yang kini sudah merah sempurna dengan napas yang masih terengah-engah dan sepasang mata bulat yang sayu karena terhanyut.

"Maaf.... gue hampir kelewatan," bisik Zayn serak, suara baritonnya terdengar begitu dalam dan penuh dengan rasa proteksi yang tulus. Dia mengecup kening Elva dengan sangat lama, menyalurkan rasa bersalah sekaligus rasa cintanya yang kian mengakar kuat.

Zayn membantu Elva turun dari pangkuannya dengan hati-hati, membiarkan gadis itu kembali duduk rapi di atas kasur lipat untuk menenangkan diri. Zayn membetulkan letak kaos hitamnya, lalu berbalik ke arah pintu tenda tanpa membuka ritsleting seutuhnya.

"Taruh aja berkasnya di kotak drop depan tenda, Yo. Nanti gue ambil," jawab Zayn dengan nada suara yang kembali dingin, kaku, dan sarat akan otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Di dalam isolasi hangat tenda komando siang hari ini, momen yang nyaris melewati batas itu justru meninggalkan ikatan emosional yang jauh lebih pekat dan menggairahkan di antara mereka.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!