NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENTUHAN TIPU DAYA

Suasanaa koridor lantai dua The Velvet Rose malam itu terasa berbeda bagi Kirana. Langkah kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi tidak lagi terasa seberat malam sebelumnya. Kata-kata Mbak Lastri tentang menyimpan duri hingga waktu yang tepat terus bergema di kepalanya, menjadi semacam mantra yang menguatkan hatinya. Ia tahu, menghadapi dunia Valerion tidak bisa lagi dengan ketakutan; ia harus menjadi bagian dari permainan itu sendiri jika ingin menghancurkan orang-orang yang telah menorehkan luka pada hidupnya.

​Saat ia melangkah menuju tangga tengah, aroma parfum maskulin yang sangat menyengat—perpaduan antara tembakau mahal dan alkohol—mendadak memenuhi indra penciumannya. Dari arah berlawanan, Adrian berjalan setengah sempoyongan bersama dua orang temannya. Begitu mata pemuda itu menangkap sosok Kirana yang anggun dengan gaun hijau zamrudnya, langkahnya langsung terhenti. Binar matanya yang kuyu seketika berubah menjadi penuh gairah.

​"Kirana!" panggil Adrian, suaranya agak keras hingga memicu beberapa pasang mata pelayan menoleh. Ia bergegas mendekat, mengabaikan teman-temannya yang tertawa mengejek di belakang. "Aku mencarimu ke mana-mana sejak satu jam lalu. Mami Rosa bilang kamu sedang istirahat di atas."

​Kirana tidak mundur. Alih-alih memasang wajah dingin atau tersenyum misterius seperti julukannya sebagai Mawar Hitam, ia sengaja menurunkan bahunya, memasang ekspresi wajah yang tampak sedikit terkejut namun perlahan melunak menjadi sebuah senyuman manis yang begitu hangat—sebuah senyuman yang belum pernah ia berikan kepada tamu mana pun di kelab ini.

​"Mas Adrian..." bisik Kirana lembut. Penggunaan kata 'Mas' yang terdengar tulus dan intim itu seketika membuat dada Adrian membusung bangga. "Maaf, saya tadi agak pusing jadi harus ke kamar sebentar. Tapi sekarang saya sudah jauh lebih baik... apalagi setelah melihat Mas di sini."

​Adrian tampak terperangah. Selama ini, ia harus merogoh kocek jutaan rupiah hanya untuk mendapatkan perhatian sekilas dari Kirana di meja bar utama. Namun malam ini, primadona kelab itu menatapnya dengan binar mata yang seolah menyiratkan bahwa Adrian adalah pria yang paling dinantikannya. Rasa bangga dan asmara buta seketika menguasai akal sehat pemuda naif itu.

​"Kamu... kamu benar-benar menungguku?" tanya Adrian, meraih jemari tangan Kirana dengan lembut. Kali ini, Kirana tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kulitnya bersentuhan dengan tangan Adrian, meski di dalam hatinya ia harus menahan rasa risi yang teramat sangat.

​"Tentu saja, Mas. Di tempat seramai ini, hanya Mas Adrian yang membuat saya merasa... dihargai sebagai seorang wanita," kebohongan itu meluncur dari bibir Kirana dengan nada yang begitu lirih dan sarat akan kepasrahan yang manis, membuat Adrian sepenuhnya tak berdaya. "Bagaimana kalau kita duduk di sudut yang agak tenang? Di sini terlalu bising."

​"Tentu, tentu! Di mana saja yang kamu mau, Manis," sahut Adrian cepat. Ia melambaikan tangan mengusir teman-temannya, lalu menuntun Kirana menuju salah satu sofa bilik di sudut aula bawah yang sedikit terlindung dari kilatan lampu strobo utama.

​Sambil mendampingi Adrian menuangkan gelas demi gelas wiskinya, Kirana memulai siasat alaminya. Ia tidak langsung mencecar Adrian dengan pertanyaan seputar bisnis atau politik. Ia tahu, pria yang sedang dimabuk asmara paling suka bertingkah sebagai pahlawan di depan wanita yang disukainya. Maka, Kirana memilih berperan sebagai gadis rapuh yang butuh perlindungan.

​"Mas Adrian..." Kirana berkata pelan sembari menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu kemeja Adrian, membiarkan jemari tangannya memainkan kancing kemeja pemuda itu dengan ritme yang lambat. "Sebenarnya, belakangan ini hati saya sering tidak tenang. Saya merasa takut tinggal di kota besar seperti Valerion ini."

​Adrian yang merasa mendapat giliran untuk pamer kekuatan langsung merangkul pundak Kirana dengan erat. "Takut kenapa, Kirana? Kamu kan bersamaku sekarang. Siapa yang berani mengganggumu? Katakan padaku, apa Mami Rosa memperlakukanmu dengan buruk?"

​Kirana menggelengkan kepala pelan di dada Adrian, mengembuskan napas panjang yang terasa hangat di kulit leher pemuda itu. "Bukan Mami, Mas... tapi tamu-tamu di sini. Kemarin malam, ada tamu paruh baya dari daerah stasiun lama, namanya Juragan Jaya. Dia datang bersama Tuan Bramanto. Cara dia menatap saya... membuat saya sangat ketakutan, Mas. Pria tua itu tampak begitu berkuasa dan kasar. Saya takut suatu hari nanti saya dipaksa melayaninya di ruang VIP."

​Mendengar nama Juragan Jaya disebut oleh wanita yang sedang didekatinya, ego Adrian langsung terusik. Sifat kekanak-kanakannya yang tidak mau kalah bersaing mendadak bangkit.

​"Oh, si Jaya tua bangka dari kampung itu?" Adrian mencibir dengan nada meremehkan, meneguk wiskinya hingga tandas. "Kamu tidak perlu takut pada orang udik seperti dia, Kirana. Dia memang punya banyak uang dari sawah-sawahnya di desa, tapi di Valerion ini, dia tidak ada apa-apanya dibanding keluargaku. Dia itu justru sedang mengemis bantuan pada ayahku!"

​Jantung Kirana berdesir tajam mendengar umpan alaminya langsung disambar dengan begitu mudah. Namun, ia tetap menjaga posisinya tetap tenang dan memasang wajah polos penuh kekaguman. "Mengemis bantuan? Bukankah dia orang kaya yang punya banyak proyek bersama Tuan Bramanto, Mas?"

​"Hahaha! Proyek pergudangan di Distrik Utara itu tidak akan pernah bisa berjalan kalau ayahku tidak menandatangani dokumen pemutihan pajak dan izin Amdal-nya, Kirana," racau Adrian yang mulai mabuk, lidahnya menjadi semakin ringan karena ingin terus dipuji oleh Kirana. "Bramanto dan Jaya itu cuma modal uang mentah. Tapi yang memegang kendali hukum dan birokrasinya itu ayahku. Bahkan, si Jaya itu sekarang sedang pusing karena ayahku memperlambat proses izinnya. Ayahku menuntut jaminan aset tambahan sebelum dokumen aslinya diserahkan bulan depan."

​"Wah... jadi ayah Mas Adrian begitu hebat, ya?" puji Kirana, menatap wajah Adrian dengan mata berbinar-binar seolah pemuda itu adalah putra seorang raja besar. "Lalu... apakah tidak berbahaya jika dokumen penting seperti itu diperlambat prosesnya, Mas?"

​"Bahaya apa? Semua dokumen asli perizinan proyek itu sekarang disimpan aman di dalam brankas ruang kerja rumah pribadi kami, bukan di kantor dinas. Jadi tidak ada pemeriksa atau orang luar yang bisa mengendus urusan ini," kata Adrian dengan nada sombong, mengusap rambut hitam Kirana dengan sayang. "Si Jaya tua itu harus menyetor uang tunai bersih sebesar lima milyar dulu ke rekening penampungan kami jika ingin dokumen itu keluar bulan depan. Jadi, selama kamu ada di sampingku, orang tua itu tidak akan berani menyentuhmu. Aku bisa meminta ayahku membatalkan izinnya dalam sekejap jika dia macam-macam denganku."

​Kirana tersenyum manis, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Adrian untuk menutupi binar matanya yang mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Informasi itu mengalir begitu saja secara alami dari mulut seorang pemuda yang buta karena cinta palsu.

​Kasus Juragan Jaya ternyata berkembang lebih lambat karena adanya konflik keserakahan internal di antara mereka sendiri. Transaksi utama ditunda hingga bulan depan demi memeras modal lebih banyak dari si tengkulak desa, dan seluruh bukti kejahatan aliansi itu tersimpan rapi di dalam brankas kediaman pribadi sang Kepala Dinas.

​Kirana mempererat pelukannya pada pinggang Adrian, mendengarkan detak jantung pemuda itu dengan perasaan muak yang luar biasa, namun di dalam kepalanya, ia tahu bahwa satu langkah penting dari siasat pembalasan dendamnya telah berhasil ditanam dengan sempurna malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!