NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Aku Tidak Akan Membiarkan Kalian Terluka

Sejak percakapan mereka di taman sore itu, hati Rubi terasa jauh lebih tenang.

Meski Alexander mengatakan masalah dengan Viktor belum selesai, entah kenapa ia mempercayai pria itu.

Bukan karena Alexander selalu menang.

Bukan karena Alexander kuat.

Melainkan karena setiap kali pria itu berjanji, ia selalu menepatinya.

Dan Alexander sudah berjanji akan melindungi mereka.

Rubi mengusap perutnya yang semakin membesar sambil berdiri di balkon kamar.

Hari mulai menjelang malam.

Langit berubah jingga.

Pemandangan yang sangat indah.

Namun perhatian Rubi justru tertuju ke taman bawah.

Di sana Alexander sedang berbicara dengan beberapa pengawal.

Meski jaraknya jauh, aura dingin pria itu tetap terasa.

Berbeda sekali saat berada di dekatnya.

Kadang Rubi merasa hanya dirinya yang bisa melihat sisi lembut Alexander.

Dan pikiran itu membuat senyum kecil muncul di wajahnya.

---

"Ayahmu sedang bekerja lagi."

gumam Rubi kepada bayi dalam kandungannya.

Seolah mengerti, bayi itu bergerak pelan.

Membuat Rubi tertawa kecil.

Belakangan ini ia semakin sering berbicara dengan bayinya.

Tentang apa saja.

Tentang cuaca.

Tentang makanan.

Tentang Alexander.

Terutama Alexander.

Karena pria itu kini menjadi bagian terbesar dari kehidupannya.

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu kamar diketuk.

"Masuk."

Pintu terbuka dan kepala pelayan masuk.

"Nyonya muda, makan malam sudah siap."

Rubi mengangguk.

"Baik."

Namun sebelum keluar kamar, ia kembali melirik ke arah taman.

Alexander sudah tidak terlihat.

Mungkin sudah masuk ke dalam mansion.

Entah kenapa hatinya sedikit kecewa.

Ia berharap bisa makan malam bersama pria itu.

---

Saat tiba di ruang makan, Alexander memang sudah ada di sana.

Pria itu sedang membaca sesuatu di tabletnya.

Mendengar langkah Rubi, ia langsung mengangkat kepala.

"Kau terlambat."

ucapnya.

Rubi langsung mendelik.

"Hanya lima menit."

"Sepuluh menit."

koreksi Alexander.

"Itu tidak jauh berbeda."

Alexander menggeleng kecil.

Melihat mereka berbincang seperti itu membuat para pelayan diam-diam tersenyum.

Hubungan keduanya benar-benar berubah jauh dibanding beberapa bulan lalu.

Dulu ruang makan ini selalu sunyi.

Sekarang hampir setiap hari terdengar percakapan ringan.

Meskipun sebagian besar dimulai oleh Rubi.

---

Saat makan malam berlangsung, Alexander beberapa kali terlihat memeriksa ponselnya.

Awalnya Rubi tidak terlalu memperhatikan.

Namun semakin lama ekspresi pria itu semakin serius.

Sampai akhirnya Rubi tidak tahan.

"Ada masalah?"

tanyanya.

Alexander mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Lalu pria itu meletakkan ponselnya.

"Sedikit."

jawabnya.

"Sedikit yang bagaimana?"

Alexander terdiam sesaat.

"Kami menemukan beberapa orang Viktor di dekat salah satu gudang milikku."

Senyum Rubi perlahan menghilang.

Meski Alexander berbicara santai, ia tahu itu bukan kabar baik.

"Kamu akan pergi lagi?"

tanyanya pelan.

Alexander tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Hati Rubi langsung terasa tidak nyaman.

---

Setelah makan malam selesai, mereka berjalan menuju ruang keluarga.

Biasanya Alexander akan langsung masuk ke ruang kerja.

Namun malam itu pria tersebut memilih duduk di sofa dekat perapian.

Rubi ikut duduk tidak jauh darinya.

Suasana hening beberapa saat.

Sampai akhirnya Rubi berkata,

"Aku tidak suka ini."

Alexander menoleh.

"Apa?"

"Kamu selalu pergi menghadapi bahaya sendirian."

ucap Rubi jujur.

Pria itu memperhatikannya cukup lama.

Kemudian menghela napas pelan.

"Ini pekerjaanku."

"Aku tahu."

"Tapi tetap saja."

Rubi menunduk.

Tangannya saling menggenggam.

"Aku khawatir."

akuinya.

Kalimat itu membuat dada Alexander menghangat.

Karena tidak banyak orang yang pernah mengkhawatirkannya.

Bahkan mungkin tidak ada.

Selain Rubi.

---

Alexander memandang wanita itu diam-diam.

Rambut panjang yang tergerai.

Wajah cantik yang terlihat sedikit murung.

Dan perut yang membesar karena mengandung anak mereka.

Pemandangan sederhana itu justru membuat sesuatu bergerak di dalam dadanya.

Perasaan yang selama ini berusaha ia abaikan.

Namun semakin hari semakin sulit disembunyikan.

"Aku akan berhati-hati."

ucapnya akhirnya.

Rubi mengangkat kepala.

"Sungguh?"

Alexander mengangguk.

"Sungguh."

Meski begitu, ekspresi Rubi tidak berubah banyak.

Karena yang ia inginkan bukan sekadar kehati-hatian.

Ia ingin Alexander selalu pulang.

Selalu kembali kepadanya.

Namun ia tidak berani mengatakannya.

---

Malam semakin larut.

Di luar, angin bertiup cukup kencang.

Membuat suasana terasa dingin.

Rubi mulai mengantuk.

Tetapi bayi dalam kandungannya justru sedang aktif.

Beberapa kali bergerak sampai membuatnya meringis.

Alexander langsung menyadarinya.

"Sakit?"

tanyanya.

"Sedikit."

jawab Rubi.

Tanpa berpikir panjang, Alexander berpindah duduk lebih dekat.

Lalu meletakkan tangannya di atas perut Rubi.

Seperti biasa.

Dan seperti biasa pula, bayi itu langsung bergerak.

Tap.

Alexander tersenyum tipis.

Sedangkan Rubi memperhatikan wajahnya diam-diam.

Sungguh aneh.

Pria yang ditakuti banyak orang itu selalu berubah setiap kali berhubungan dengan anak mereka.

Menjadi lebih lembut.

Lebih hangat.

Lebih manusiawi.

Dan Rubi menyukai sisi itu.

Sangat menyukainya.

---

Tiba-tiba bayi itu bergerak lebih kuat.

Membuat Rubi meringis.

Refleks Alexander langsung memegang tangannya.

"Kau baik-baik saja?"

Nada suaranya terdengar khawatir.

Rubi mengangguk pelan.

"Hanya tendangan kuat."

Alexander terlihat masih tidak tenang.

Bahkan setelah Rubi tersenyum meyakinkannya.

Hal itu membuat hati Rubi menghangat.

Karena pria ini benar-benar peduli.

Bukan sekadar kepada bayi mereka.

Tetapi juga kepadanya.

---

Beberapa saat kemudian, Rubi mulai merasa lelah.

Alexander langsung menyadarinya.

"Kau harus tidur."

ucapnya.

Rubi tidak membantah kali ini.

Memang tubuhnya terasa berat.

Saat hendak berdiri, Alexander membantu menopang tangannya.

Membuat Rubi kembali gugup.

Mereka berjalan perlahan menuju kamar.

Koridor mansion terasa sunyi.

Hanya langkah kaki mereka yang terdengar.

Sesampainya di depan kamar, Rubi berhenti.

Lalu menoleh ke arah Alexander.

Pria itu masih berdiri di sampingnya.

Menunggu sampai ia masuk.

Seperti yang selalu dilakukan beberapa minggu terakhir.

"Alexander."

panggil Rubi.

"Hm?"

Wanita itu menggigit bibir bawahnya.

Seolah sedang mengumpulkan keberanian.

Kemudian akhirnya berkata,

"Kalau nanti kamu pergi lagi..."

Alexander menatapnya.

"...jangan terluka."

Suara Rubi sangat pelan.

Namun cukup membuat jantung Alexander berdetak keras.

Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam.

Lalu perlahan mengangkat tangannya.

Mengusap pipi Rubi dengan lembut.

Gerakan yang membuat wanita itu membeku.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Alexander tidak berusaha menyembunyikan perasaannya.

"Aku tidak akan membiarkan kalian terluka."

ucapnya pelan.

"Kalian?"

ulang Rubi.

Alexander melirik perutnya.

Kemudian kembali menatap wajah Rubi.

"Kau dan anak kita."

Kalimat sederhana itu membuat mata Rubi memanas.

Karena ia tahu.

Pria ini mungkin belum mengucapkan kata cinta.

Namun semua tindakannya sudah mengatakan hal yang sama.

Dan malam itu, saat Alexander berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan penuh kelembutan, Rubi merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia.

Tanpa mereka sadari, hubungan mereka sudah semakin dekat menuju titik yang tidak bisa lagi dipungkiri.

Titik di mana hati keduanya sudah memilih satu sama lain.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!