NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

BAB 4: Topeng Kepalsuan dan Firasat Sang Tuan Muda

Matahari baru saja terbenam saat taksi yang membawa Elva berhenti di depan gerbang besi rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, perasaan Elva tidak tenang. Jantungnya berdegup cermat oleh kecemasan yang tidak beralasan. Dia sudah bersiap mental untuk menerima sapaan dingin atau makian ketus dari ibunya seperti yang terjadi kemarin malam.

Namun, begitu Elva melangkah melewati pintu utama, suasana rumah terasa sangat berbeda. Lampu gantung kristal di ruang tengah menyala terang benderang. Wangi masakan mewah tercium sampai ke koridor depan.

"Eh, Elva sudah pulang? Sayang, kamu kok pulangnya naik taksi? Kenapa tidak menelepon Sopir joko untuk menjemput?"

Elva mematung di tempatnya berdiri. Dia mengerutkan kening, mengira salah dengar. Larasati berjalan mendekat dengan senyuman yang begitu lebar—jenis senyuman yang biasanya hanya ditujukan untuk rekan-rekan sosialitanya atau untuk Nadine.

"M-Ma? Elva biasanya memang pulang naik angkutan umum atau taksi," jawab Elva gugup.

Larasati langsung merangkul pundak Elva lembut, membuat bulu kuduk Elva meremang karena tidak terbiasa. "Aduh, itu kan kemarin-kemarin. Mulai besok, kamu harus diantar jemput mobil sendiri. Ayo, ganti bajumu sekarang ya. Papa sudah menunggumu di meja makan. Kita makan malam bersama."

"Papa ikut makan malam?" tanya Elva, suaranya naik satu oktaf karena terkejut. Biasanya, Narendra hanya makan malam bersama jika ada Nadine dan adik laki-lakinya, atau saat ada jamuan bisnis penting. Elva hampir selalu melewatkan makan malam sendirian di dapur atau di kamarnya.

"Tentu saja, Elva. Papa sengaja meluangkan waktu dari kantor khusus untuk makan malam dengan putri Papa yang cantik ini," sebuah suara berat menimpali dari arah ruang makan.

 Narendra berjalan keluar sambil membenarkan letak kacamata bermereknya. Di wajah tegasnya terukir senyum ramah yang terasa asing bagi Elva.

Elva hanya bisa mengangguk pasrah dalam kebingungan yang teramat sangat. "I-iya, Pa. Elva ganti baju dulu."

Sepuluh menit kemudian, Elva sudah duduk di kursi makan berbahan kulit mewah. Di atas meja bundar itu, terhidang berbagai steak daging premium, sup asparagus, dan makanan kelas atas lainnya. Di sebelah kanannya, Nadine—kakak perempuannya yang biasa menatapnya penuh kebencian—malam ini justru sibuk memotongkan daging steak untuknya.

"Nih, Elva, cobain dagingnya. Ini dipesan langsung dari Australia lho. Kamu kan kurus banget, harus makan yang banyak," ucap Nadine dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin.

"Terima kasih, Kak," jawab Elva lirih, memandang potongan daging di piringnya dengan tatapan sangsi.

Narendra berdehem pelan, meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Elva dengan intens.

"Elva, bagaimana sekolahmu akhir-akhir ini? Semuanya lancar?"

"Lancar, Pa. Nilai tugas-tugas Elva juga tidak ada masalah," jawab Elva jujur.

"Bagus, bagus. Papa selalu tahu kamu anak yang pintar," Narendra tersenyum bangga, membuat Elva semakin merasa ada yang aneh.

"Oh ya, Papa dengar dari teman Papa... kemarin dan hari ini, kamu sedang dekat ya dengan anak pemilik yayasan Pelita? Siapa namanya itu, Ma?" Narendra berpura-pura lupa dan melirik istrinya.

"Zayn Dominic, Pa. Anak tunggal dari keluarga besar Dominic Group," Larasati buru-buru menyahut dengan mata yang berbinar penuh ambisi.

Darah Elva seketika berdesir dingin. Sekarang dia paham dari mana asal usul semua kemanisan mendadak ini. Sifat ramah, pelukan hangat, dan steak mahal ini bukan karena mereka akhirnya menyayanginya. Semua ini karena nama Zayn Dominic.

"K-kami tidak dekat, Pa. Zayn cuma... cuma menolongku kemarin saat aku diganggu di perpustakaan," jelas Elva, suaranya mencicit pelan. Ada rasa kecewa yang mendalam kembali menggores hatinya. Lagi-lagi, dia hanya dihargai karena nilai keuntungannya bagi orang lain.

Narendra tertawa kecil, melambaikan tangannya di udara. "Ah, jangan merendah begitu, Sayang. Hendra bilang, Zayn sampai mengeluarkan ancaman keras di sekolah demi membelamu. Laki-laki dari keluarga Dominic tidak akan repot-repot mengotori tangannya jika perempuan itu tidak spesial bagi dia."

Narendra memajukan tubuhnya ke arah meja, menatap Elva dengan pandangan menuntut.

"Elva, kamu harus pintar-pintar memanfaatkan kesempatan ini. Besok atau lusa, ajak Zayn untuk datang main ke rumah kita. Bilang padanya, Papa dan Mama ingin mengucapkan terima kasih secara langsung karena sudah menjagamu di sekolah."

"Tapi, Pa... Zayn itu orangnya dingin dan tidak suka bersosialisasi. Aku tidak enak kalau harus mengajaknya ke rumah," tolak Elva halus, meremas jemarinya di bawah meja. Dia tidak mau ketulusan Zayn dikotori oleh kepentingan bisnis ayahnya.

Senyuman di wajah Narendra langsung memudar sedikit, digantikan oleh kilat ketegasan yang dingin. "Elva, ini demi kebaikan keluarga kita. Masa meminta hal sekecil itu saja kamu tidak bisa? Kamu mau melihat bisnis properti Papa hancur karena kita tidak bisa menembus jaringan keluarga Dominic? Ingat, kamu itu anak Papa, sudah kewajibanmu untuk berbakti pada keluarga."

Larasati ikut menimpali sambil menggenggam tangan Elva erat-erat, genggaman yang terasa seperti kekangan. "Benar kata Papa, Elva. Kamu kan anak yang penurut. Besok bicarakan hal ini baik-baik pada Zayn, ya? Mama yakin dia pasti tidak akan menolak permintaan gadis secantik kamu."

Elva hanya bisa menundukkan kepala, memandang piringnya yang kini terasa memuakkan. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Rumah ini benar-benar tidak pernah menjadi tempat yang aman baginya.

...****************...

Di tempat lain, di dalam kamar apartemen mewahnya yang bernuansa monokrom, Zayn Dominic sedang duduk bersandar di sofa kulit hitam. Di tangannya terdapat sebuah tablet yang menampilkan berkas informasi pribadi murid SMA Pelita. Jari-jarinya menggeser layar, menampilkan halaman profil data keluarga atas nama Elva Ileana.

Mata elang Zayn menyipit tajam saat membaca baris demi baris informasi mengenai keluarga Narendra Ileana. Sebagai calon penerus Dominic Group, Zayn sudah dilatih sejak kecil untuk membaca situasi politik dan bisnis, termasuk membaca karakter orang melalui pergerakan saham dan rekam jejak mereka.

"Narendra Ileana... pengusaha properti yang sedang agresif mencari investor untuk proyek barunya di Jakarta Barat," gumam Zayn lirih.

Ponsel Zayn yang terletak di atas meja kopi mendadak bergetar. Sebuah nama panggilan masuk tertera di layar: Leo. Zayn menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Halo," ucap Zayn pendek.

"Woi, Zayn! Lo lagi di mana? Anak-anak lagi nongkrong di kafe biasa nih, lo nggak gabung?" suara bising khas kafe terdengar dari seberang telepon.

"Nggak. Gue lagi males keluar," jawab Zayn dingin.

Di seberang sana, Leo terdengar menghela napas.

 "Halah, gaya lo. Oh ya, omong-omong soal kejadian siang tadi di kantin... lo beneran serius sama si Elva? Tadi sepupu gue yang satu angkatan sama Clarissa bilang, bokap nya Clarissa panik banget pas denger anaknya cari masalah sama lo. Dan tebak apa? Bokap nya Elva langsung dapet angin segar di kalangan pengusaha karena gosip lo deket sama anaknya."

Mendengar ucapan Leo, rahang Zayn seketika mengeras. Firasatnya terbukti benar. Orang-orang dewasa di sekeliling mereka selalu cepat memanfaatkan situasi demi uang. "Gue tahu," sahut Zayn singkat, suaranya mendadak turun beberapa derajat menjadi sangat mematikan.

"Wah, bahaya nih. Sifat protektif lo keluar lagi. Tapi jujur ya, Zayn, gue kasihan sama si Elva. Tadi gue sempet nanya-nanya anak anak IPS, katanya di rumah itu Elva emang kayak nggak dianggap. Kakaknya yang namanya Nadine itu yang selalu diagung-agungkan. Makanya pas ada gosip lo belain dia, pasti bokap nya langsung pasang aksi," lanjut Leo dengan nada suara yang kini terdengar agak serius.

Zayn terdiam sejenak. Pikirannya langsung melayang pada bayangan wajah polos Elva saat memberi makan kucing liar kemarin sore. Gadis setulus itu... bagaimana bisa dilahirkan di tengah keluarga yang penuh dengan kalkulasi bisnis dan kepalsuan?

"Leo," panggil Zayn memotong kalimat temannya.

"Kenapa, Zayn?"

"Mulai besok, awasi siapa saja orang yang mencoba mendekati Elva di kelasnya. Kalau ada yang aneh, langsung kasih tahu gue."

Di seberang telepon, Leo terdengar bersiul pelan. "Siap, Tuan Muda Dominic. Perintah dilaksanakan. Tapi inget ya, jangan terlalu posesif sampai bikin ceweknya ketakutan."

Zayn tidak membalas candaan Leo dan langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Dia meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu menatap layar tabletnya yang masih menampilkan foto formal Elva dengan seragam sekolah. Di dalam foto itu, mata Elva terlihat redup, menyimpan banyak kesedihan yang dipendam sendiri.

Zayn mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada dorongan amarah yang membakar dadanya saat menyadari bahwa keluarga Elva sendiri kemungkinan besar akan memanfaatkan kepolosan gadis itu untuk mendekatinya.

"Gue nggak akan biarin siapa pun memanfaatkan lo, Elva," bisik Zayn penuh penekanan pada kegelapan malam. "Bahkan orang tua lo sendiri sekalipun."

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!