Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Senina
"Berhenti lah bergaul dengan pemuda tidak jelas seperti itu, Na." Pak Cipto membuka suara ketika sang anak baru pulang di malam hari.
"Apa? memangnya aku bergaul dengan siapa!" Senina menoleh dan langsung menjawab dengan tegas.
"Jangan kau berpikir Ayah tidak tahu bahwa selama ini kau terus saja bergaul dengan Fitra!" Pak Bambang mulai emosi.
"Aku hanya berteman saja dengan dia dan tidak ikut campur dalam urusan yang dia miliki." Senina tetap mengelak karena dia menutup semua masalah yang ada.
"Aku hanya memberi peringatan satu kali tentang masalah yang akan kau hadapi nanti, bila suatu saat ada masalah serius maka aku tidak akan pernah ikut campur lagi." ujar Pak Cipto.
Senina yang mendengar hal itu tentu saja hanya bisa terdiam dan tidak bisa mau protes banyak tentang apa yang telah terjadi, bukan karena dia menyesal atas apa yang dia lakukan tapi karena di dalam hati dia telah mengumpat bahwa selama ini dia sudah menyelesaikan masalah itu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Orang tua gadis ini adalah broken home sehingga dia bisa dikatakan kurang mendapat kasih sayang karena tinggal dengan seorang ayah, kadang pak Cipto juga tidak mengerti apa yang anak ini inginkan sehingga dia agak kurang dekat bila bersama dengan gadis tersebut.
Senina juga adalah pribadi yang tertutup karena dia merasa kurang nyaman saja bila berbicara panjang lebar terhadap Pak Cipto karena jelas pria itu tidak akan paham tentang wanita, jadi komunikasi diantara mereka memang begitu buruk sekali sehingga tidak bisa bila untuk saling berbicara banyak tentang hubungan mereka di dalam rumah tersebut.
Pak Cipto tidak mau bila sang anak terjerumus dalam pergaulan yang semakin bebas karena dia tahu bahwa Fitra bukanlah pria yang baik, siapa orang kampung ini yang tidak mengenal tindak tanduk pria tersebut karena mereka semua sudah mengetahui tapi mereka hanya merasa sungkan saja kepada Pak bujang untuk mengusir dia.
Jadi para orang tua hanya bisa melarang anak-anak mereka bila ingin bergaul dengan Fitra, sebab sebenarnya mereka juga takut bila nanti sang anak akan terjerumus dalam hal buruk seperti itu, hidup manusia bila sudah terjerumus dalam hal sabu maka tidak akan pernah bisa untuk normal kembali lagi.
Senina ini yang paling ditakuti oleh Pak Cipto karena dia tidak mau bila nanti sang anak masuk dunia itu dan dia kesulitan untuk membawa sang gadis kembali, namun Senina begitu keras kepala dan beralasan bahwa sebenarnya dia hanya berteman dengan Airin dan Fitra ini adalah kekasih dari Airin sehingga mau tidak mau mereka akan berteman.
"Cuma berteman saja dia sudah sibuk sekali seperti itu." Senina membanting pintu kulkas setelah dia usai minum.
Jreeeeng.
"Hah!" Senina kaget secara mendadak karena tadi dia melihat seperti ada sebuah kepala di dalam kulkas tersebut.
"Ah tidak mungkin, aku pasti salah lihat saja tadi." bantah gadis ini.
Namun rasa penasaran itu jauh lebih tinggi sehingga walau tangan itu gemetar namun dia tetap saja mencoba untuk membuka pintu kulkas, perasaan takut semakin besar yang timbul namun mau tidak mau dia terus berusaha dan ketika menoleh Pak Cipto sudah tidak ada lagi di ruangan ini sehingga sudah jelas dia hanya sendirian saja.
"Tidak, aku pasti salah lihat tadi." Senina terus berusaha untuk menguatkan diri.
Dan ketika pintu kulkas itu terbuka lebar maka dia tidak menemukan ada yang aneh, namun hati gadis ini tetap saja resah karena tadi dia melihat kepala itu seperti terletak begitu saja di atas sebuah piring yang ternyata terisi buah semangka separuh.
"Hanya semangka seperti itu, fajar tadi aku salah melihat." ujar Senina sambil menutup kembali.
"Haaaaahh sudah dua kali aku mengalami hal buruk seperti ini, apa sebenarnya yang sedang mengejar aku sekarang?" batin Senina dengan perasaan yang mulai resah bukan main.
Duk, Duk.
Mendadak saja telinga gadis ini menangkap sesuatu yang tidak biasa dan dia penasaran dengan suara tersebut, suara itu berasal dari kamar mandi sehingga Senina bergegas untuk mendatangi walau perasaan dia gemetar tidak karuan namun tetap saja rasa penasaran yang timbul di dalam hati jauh lebih besar di banding dengan rasa takut itu sendiri.
"Kenapa aku mendadak merinding seperti ini?" Senina bingung sendiri dengan perasaan dia.
Bahkan ketika telah memegang handle pintu kamar mandi dia pun merasa tidak sanggup untuk mendorong pintu itu ke dalam, seolah di dalam kamar mandi itu sudah ada sesuatu yang begitu besar bisa mengancam nyawa dia sekarang juga.
Braaaaak.
Wuuutttt.
"Aaagkkkk!"
Belum sempat Senina melihat wujud dari seseorang yang ada di dalam kamar mandi ini, mendadak saja sebuah kekuatan besar sudah menarik dia masuk ke dalam kamar mandi itu dan menangkap tubuh dia sehingga tidak bisa bergerak sama sekali.
"Matiioooo...
"Lepaskan aku, lepaskan aku sekarang!" Senina berteriak karena dia ketakutan dan ingin melihat siapa orang yang sudah menyakiti dia di dalam kamar mandi ini.
Namun tenaga lawan jauh lebih besar dan untuk berteriak besar Dia seolah tidak memiliki tenaga sehingga gadis ini hanya bisa memberontak dengan kekuatan yang tinggal tersisa sedikit itu, meski di dalam hati dia berusaha untuk tetap tenang agar bisa lepas namun tetap saja rasa takut itu sangat besar.
"Kau adalah penghianat yang tidak akan pernah bisa diberi maaf!" bisik suara serak menggema di dalam telinga Senina.
"Ka..kau!"
"Ya ini aku, bagus bila kau tidak lupa dengan diriku." jawab suara tersebut sembari menyeringai menampakkan gigi berwarna hitam.
Jantung Senina seolah berhenti begitu saja karena tidak sanggup untuk melihat seringai yang sangat menakutkan di mata dia, tidak pernah terbayangkan dalam hidup ini bahwa dia akan berhadapan langsung dengan roh halus seperti sekarang ini dan bahkan langsung mengancam nyawa sehingga membuat dirinya gemetar tidak karuan.
Hoooorkkkk.
Braaaaak.
"Aaaaggkk sakit sekali." Senina menjerit kesakitan karena kepala dia menghantam bak mandi itu.
Braaaaak.
Braaaaak.
Braaaaak.
Darah mengucur deras dari kepala yang berulang kali menghantam tersebut karena sudah pasti kebocoran akan terjadi, Senina sungguh tidak memiliki kesempatan untuk melawan walau hanya sedikit saja karena ini sungguh sangat menyakitkan untuk dia yang memiliki kekuatan lemah.
Pak Cipto juga sama sekali tidak mendengar bahwa sang anak Tengah di ujung kematian di dalam kamar mandi ini karena bertemu dengan arwah tak kasat mata, dosa yang dilakukan oleh gadis itu begitu besar sehingga pembalasan dendam langsung terjadi di dalam hidup dia sekarang.
Selamat malam, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.