NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Jejak Luka di Balik Senyum

Hujan gerimis menyapu halaman kecil rumah papan yang sudah mulai lapuk di pinggiran desa. Di sudut ruangan yang remang-remang, diterangi cahaya lampu temaram yang berkedip-kedip, duduklah seorang gadis berusia sembilan tahun. Namanya Naura. Di tangannya, ia memegang sebuah foto usang yang terbungkus rapi dengan plastik bekas. Di dalam foto itu terlihat sepasang suami istri yang tersenyum bahagia—itu adalah ayah dan ibunya, yang telah tiada setahun silam.

Kecelakaan lalu lintas yang tiba-tiba merenggut nyawa kedua orang tuanya telah mengubah seluruh jalan hidup Naura. Tidak ada harta warisan yang tersisa, hanya kenangan dan sebuah rumah kecil yang akhirnya harus dijual untuk menutupi utang biaya pengobatan terakhir. Sejak saat itu, Naura harus tinggal bersama satu-satunya kerabat yang dimilikinya: Paman Surya dan Bibi Rina.

Awalnya, Naura berharap ia akan mendapatkan kasih sayang, pelukan hangat, dan tempat berlindung seperti layaknya seorang anak. Namun, harapan itu perlahan-lahan pudar digantikan oleh kenyataan pahit. Paman Surya bekerja sebagai buruh serabutan yang pendapatannya tidak menentu, sedangkan Bibi Rina adalah wanita yang memiliki gaya hidup mewah di luar kemampuannya. Mereka sering membandingkan diri dengan tetangga yang hidupnya lebih berkecukupan, dan setiap kali ada masalah ekonomi, Naura selalu menjadi kambing hitamnya.

"Dasar anak pembawa sial! Kalau saja kamu tidak ada, mungkin hidup kami tidak akan sesulit ini," bentak Bibi Rina dengan suara nyaring yang memecah keheningan malam. Wanita itu berdiri di ambang pintu, tangannya terlipat di dada, menatap Naura dengan pandangan tajam yang membuat bulu kuduk meremang.

Naura menunduk dalam, menggenggam ujung baju lusuhnya. "Maaf, Bibi... Naura akan berusaha membantu," gumamnya pelan, suaranya hampir tertelan oleh suara hujan.

"Membantu? Apa yang bisa kamu lakukan? Kamu cuma memakan nasi kami saja!" Bibi Rina melangkah mendekat, lalu dengan kasar menyambar foto yang dipegang Naura. "Lihatlah foto ini! Orang tuamu bahkan tidak meninggalkan apa-apa selain kenangan tak berguna. Kami menyayangimu karena kewajiban, bukan karena keinginan!"

Jantung kecil Naura terasa diremas. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Sejak kecil, ia sudah diajari bahwa menangis tidak akan mengubah apa pun. Ia harus kuat.

Sehari-hari, hidup Naura tidak pernah tenang. Pagi-pagi buta, sebelum matahari terbit, ia sudah harus bangun. Tugasnya tidak hanya membersihkan seluruh rumah, mencuci pakaian kotor milik paman dan bibinya, tetapi juga harus mencari air bersih dari sumur yang jaraknya cukup jauh, serta menyiapkan sarapan meskipun seringkali ia sendiri hanya mendapat sisa makanan yang sedikit.

Suatu sore, saat Naura sedang berjalan pulang dari mengantarkan pesanan kue buatan tetangga untuk mendapatkan uang receh, ia melihat Paman Surya sedang duduk di teras sambil memegang selembar kertas. Wajah pria itu terlihat gelap. Begitu melihat Naura, ia langsung memanggilnya dengan nada tinggi.

"Naura! Kemari!"

Naura berjalan perlahan mendekat, jantungnya berdebar kencang. "Ada apa, Paman?"

Paman Surya melempar selembar surat dari sekolah. "Ini surat dari guru. Mereka bilang kamu harus membayar uang daftar ulang dan membeli buku pelajaran baru. Katakanlah, dari mana kami harus mengambil uangnya? Kamu pikir uang tumbuh di pohon?"

"Saya bisa mencarinya, Paman. Saya bisa membantu Ibu RT menjahit, atau membantu Pak Kades memetik sayur di kebunnya. Saya janji akan mengumpulkannya," jawab Naura dengan penuh semangat. Ia sangat ingin bersekolah. Pendidikan adalah satu-satunya jalan yang ia yakini bisa mengubah nasibnya kelak.

Bibi Rina yang baru keluar dari dalam rumah mendengar percakapan itu dan langsung menyahut, "Sekolah? Untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Nanti juga kamu akan menikah dan mengurus rumah tangga. Lebih baik kamu bekerja saja dan menyerahkan semua uangnya kepada kami. Kami butuh uang untuk membeli baju baru dan melunasi utang ke warung!"

"Tapi, Bibi... Ayah pernah bilang, kalau kita pintar, kita tidak akan diinjak-injak orang lain," bantah Naura pelan namun tegas.

Mendengar itu, Bibi Rina marah besar. Ia mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Naura dengan keras. Plak! Suara itu terdengar jelas. Pipi gadis itu langsung memerah dan terasa perih.

"Berani kamu membantah saya! Ingat, kami yang memberimu makan dan tempat tinggal. Jadi, kamu harus menuruti semua perkataan kami!"

Naura memegang pipinya, air matanya akhirnya jatuh juga. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diperlakukan seperti ini. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi yatim piatu, ia tidak pernah meminta untuk hidup susah. Namun, di dalam hatinya, sebuah tekad mulai tumbuh semakin kuat. Ia tidak akan menyerah.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang melelahkan namun penuh perjuangan. Naura bangun pukul empat pagi, mengerjakan semua pekerjaan rumah, lalu berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sekolah. Pulang sekolah, ia tidak pernah langsung beristirahat. Ia akan membantu tetangga: mencuci piring, menyapu halaman, memungut sampah daun, hingga mengantar barang. Setiap rupiah yang ia dapatkan ia simpan rapi di dalam kotak kayu bekas yang ia sembunyikan di bawah kasurnya.

Tidak jarang, Paman dan Bibi menemukan tabungannya dan mengambilnya dengan paksa. "Ini untuk kebutuhan rumah tangga. Kamu masih kecil, tidak butuh uang banyak," kata mereka beralasan. Meski sakit hati, Naura tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya akan mengumpulkan kembali uang itu sedikit demi sedikit, lebih hati-hati lagi menyembunyikannya.

Teman-teman sekelasnya sering merasa kasihan melihat penampilan Naura yang sederhana, kadang baju yang dipakainya sudah terlihat tambal sulam. Namun, mereka juga kagum karena meski sering lelah dan kurang tidur, nilai pelajaran Naura selalu berada di peringkat teratas. Gurunya sering memujinya, mengatakan bahwa Naura memiliki potensi besar jika diberi kesempatan yang layak.

"Naura, kamu anak yang pintar dan rajin. Teruslah belajar, ya. Jangan biarkan keadaan membuatmu berhenti," nasihat Bu Guru di sela jam istirahat.

Naura tersenyum tipis, senyum yang terlihat manis namun menyimpan banyak cerita. "Terima kasih, Bu. Naura akan berusaha sekuat tenaga."

Beberapa tahun berlalu, dan Naura tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki wajah alami yang cantik, meski sering tertutup oleh debu dan lelah. Kulitnya sedikit kecokelatan karena sering bekerja di bawah terik matahari, namun matanya selalu bersinar penuh harapan. Ia melanjutkan pendidikan hingga sekolah menengah atas, tetap dengan perjuangan yang sama.

Saat teman-temannya sibuk bersenang-senang, Naura sibuk mencari nafkah. Ia bekerja paruh waktu di warung makan, membantu memasak dan melayani pembeli hingga malam hari. Uang yang didapatnya sebagian ia gunakan untuk membayar biaya sekolah, sebagian lagi terpaksa harus diserahkan kepada Paman dan Bibi agar mereka tidak mengusirnya atau membuat keributan.

Suatu malam, saat Naura sedang membaca buku pelajaran di bawah cahaya lampu yang redup, Bibi Rina datang menghampiri dengan wajah tidak puas.

"Naura, besok kamu harus berhenti bekerja di warung itu. Temanku menawarkanmu pekerjaan lain yang bayarannya lebih besar. Kamu akan bekerja di rumah orang kaya sebagai pembantu, dan gajinya akan langsung diserahkan kepada kami."

Jantung Naura berdegup kencang. "Tapi Bibi, kalau saya bekerja di rumah orang, kapan saya bisa belajar? Uang dari warung ini cukup untuk biaya sekolah saya."

"Belajar itu kapan saja bisa! Uang itu yang penting. Kami butuh uang untuk memperbaiki atap rumah dan membeli perabotan baru. Kamu tidak boleh menolak!" tegas Bibi Rina tanpa memberi kesempatan Naura untuk berargumen.

Naura terdiam. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah pikiran bibinya. Ia merasa seperti burung yang terperangkap di dalam sangkar, tidak bisa terbang bebas meski sayapnya sudah tumbuh kuat. Namun, di sudut hatinya, ia berjanji pada diri sendiri: suatu hari nanti, ia akan bebas. Ia akan hidup layak, dan bisa membantu orang lain yang mengalami nasib yang sama sepertinya.

Malam itu, Naura memeluk buku pelajarannya erat-erat. Ia membayangkan masa depan yang lebih cerah, meski saat ini jalan di depannya terlihat penuh duri. Ia tidak tahu, bahwa takdir sedang menyiapkan sebuah pertemuan yang akan mengubah seluruh hidupnya—pertemuan dengan seseorang yang awalnya terlihat sedingin es, namun kelak akan menjadi pelindung dan sumber kebahagiaannya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!