NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - Tangan Kanan Penguasa Timur

Menjelang sore, ketika matahari mulai perlahan turun ke arah cakrawala, sebuah desa kecil akhirnya terlihat di kejauhan. Bangunan-bangunan sederhana berdiri di antara hamparan pepohonan, sementara jalan utama desa membentang lurus menuju gerbang masuk yang terlihat cukup tua.

Ling Yue yang pertama kali menyadarinya segera menunjuk ke arah depan.

"Sepertinya itu desa berikutnya."

Tuan Xin mengikuti arah yang ditunjuknya lalu mengangguk pelan.

"Benar."

Tatapannya tertuju pada desa tersebut.

"Dan ini adalah desa terakhir sebelum kita tiba di Kota Timur."

Kemudian ia menambahkan, "Kota tempat Penguasa Benua Timur berada."

Mendengar itu, mata Cang Xuan langsung berbinar penuh semangat.

Selama berhari-hari mereka melakukan perjalanan untuk mencapai tujuan pertama mereka, dan kini tempat itu sudah terasa begitu dekat.

Dengan langkah yang sedikit lebih cepat, mereka terus berjalan hingga akhirnya memasuki desa tersebut.

Namun tidak lama setelah melewati gerbang, mereka mulai menyadari sesuatu yang aneh.

Desa itu memang terlihat normal pada pandangan pertama.

Rumah-rumah berdiri di sepanjang jalan.

Asap tipis masih terlihat keluar dari beberapa cerobong.

Bahkan penduduk desa juga masih terlihat beraktivitas.

Akan tetapi, suasananya terasa terlalu sunyi.

Tidak ada suara anak-anak bermain.

Tidak ada suara pedagang menawarkan dagangan.

Bahkan percakapan antarpenduduk hampir tidak terdengar.

Cang Xuan langsung mengerutkan kening.

"Desa ini terasa berbeda."

Tatapannya menyapu jalanan yang sepi.

"Kenapa sangat sepi?"

Belum ada yang sempat menjawab ketika sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Beberapa penduduk yang melihat kedatangan mereka tiba-tiba menunjukkan ekspresi panik.

Seorang wanita yang sedang membawa keranjang langsung mempercepat langkahnya menuju rumah.

Seorang pria tua yang sedang duduk di depan bangunan segera berdiri dan masuk ke dalam tanpa mengatakan apa pun.

Bahkan beberapa orang buru-buru menutup pintu rumah mereka begitu melihat kelompok Cang Xuan berjalan mendekat.

Suara pintu yang ditutup terdengar berulang kali di sepanjang jalan.

Dalam waktu singkat, jalan yang semula masih memiliki beberapa orang menjadi hampir kosong.

Pemandangan itu membuat suasana semakin tidak nyaman.

Cang Xuan, Ling Yue, Xu Kong, dan Tuan Xin saling bertukar pandang.

Jelas sekali bahwa para penduduk bukan sedang takut kepada mereka.

Melainkan takut terhadap sesuatu yang lain.

Ling Yue langsung menyipitkan matanya begitu melihat keadaan desa yang tidak wajar itu. Setelah memperhatikan beberapa rumah yang tertutup rapat dan para penduduk yang tampak ketakutan, ia berkata pelan, "Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di desa ini."

Xu Kong yang berjalan di sampingnya mengangguk setuju.

"Aku juga merasakan hal yang sama."

Di antara mereka berempat, hanya Tuan Xin yang tetap terlihat santai. Lelaki tua itu berjalan sambil menyesap araknya seolah suasana aneh di desa tersebut sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Namun tidak lama kemudian, sebuah teriakan tiba-tiba memecah kesunyian desa.

"Tolong!!"

Suara itu terdengar jelas dari kejauhan.

"Tolong aku!!"

Mata Cang Xuan langsung berubah.

"Itu suara orang minta tolong!"

Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menuju arah datangnya suara.

"Kita harus ke sana!"

Ling Yue, Xu Kong, dan Tuan Xin pun segera mengikuti dari belakang.

Tidak butuh waktu lama sebelum mereka tiba di sebuah halaman rumah yang cukup luas. Namun begitu melihat apa yang terjadi di sana, wajah Cang Xuan langsung berubah dingin.

Seorang pria berpakaian prajurit sedang mengangkat seorang warga desa dengan satu tangan sambil mencekik lehernya.

Warga itu terlihat ketakutan.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya gemetar.

Dengan susah payah ia memohon sambil menahan rasa sakit.

"Tolong..."

Air mata mulai mengalir dari matanya.

"Ampuni aku..."

Suaranya terdengar putus asa.

"Aku masih punya anak kecil."

Ia berusaha melepaskan cekikan di lehernya.

"Kalau aku mati, dia akan hidup sendirian tanpa orang tua."

Tatapannya dipenuhi ketakutan.

"Aku tidak ingin itu terjadi..."

Namun prajurit itu justru tertawa sinis.

"Memangnya aku peduli dengan manusia Dunia Bawah seperti kalian?"

Tatapannya penuh penghinaan.

"Kau berani menyembunyikan barang daganganmu."

Kemudian ia mempererat cekikannya.

"Itu kejahatan besar."

Senyum kejam muncul di wajahnya.

"Aku akan membunuhmu."

Melihat pemandangan tersebut, Cang Xuan tidak bisa lagi menahan diri.

Ia langsung melangkah maju.

"Lepaskan dia!"

Suara itu membuat prajurit tersebut menoleh.

Tatapan dinginnya segera jatuh pada kelompok yang baru datang.

"Oh?"

Ia memandangi mereka dari atas sampai bawah.

"Ada orang yang berani mencampuri urusanku?"

Namun Cang Xuan tidak mundur sedikit pun.

Tatapannya tetap teguh.

"Lepaskan dia sekarang."

Prajurit itu tertawa kecil sebelum tersenyum dingin.

"Sepertinya kalian tidak tahu siapa aku."

Nada suaranya dipenuhi kesombongan.

"Aku adalah tangan kanan kedua Tuan Murong Ye."

Mendengar nama tersebut, Cang Xuan langsung menoleh ke arah Xu Kong.

"Murong Ye?"

Xu Kong mengangguk pelan.

"Itu nama Penguasa Benua Timur."

Barulah Cang Xuan memahami situasinya.

Prajurit di hadapan mereka bukan sekadar penjaga biasa.

Ia adalah bawahan langsung dari orang yang sedang mereka cari.

Prajurit itu menatap mereka dengan senyum penuh penghinaan sebelum kembali mempererat cekikannya pada warga desa yang malang tersebut. Sama sekali tidak terlihat rasa kasihan di matanya saat ia berkata dengan santai, "Tunggu sebentar. Setelah aku membunuh orang ini, aku akan membunuh kalian juga."

Mendengar ancaman itu, wajah Cang Xuan langsung menjadi semakin dingin. Namun sebelum siapa pun sempat bergerak, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Wuussh!

Sosok Tuan Xin tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri.

Pergerakannya begitu cepat hingga mata Cang Xuan sama sekali tidak mampu mengikutinya.

Bahkan Ling Yue hanya sempat melihat bayangan samar yang melintas.

Sesaat kemudian, Tuan Xin sudah berdiri beberapa meter di belakang kelompok mereka dengan kendi arak yang masih berada di tangannya. Di sampingnya berdiri warga desa yang tadi dicekik, kini sudah terbebas dan terbatuk-batuk sambil berusaha mengatur napas.

Pemandangan itu membuat seluruh halaman mendadak hening.

Prajurit tersebut langsung membelalakkan mata.

"Bagaimana mungkin?!"

Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan.

"Aku bahkan tidak melihat pergerakanmu!"

Bukan hanya dirinya yang terkejut.

Cang Xuan juga terpaku di tempat.

Ini adalah pertama kalinya ia melihat Tuan Xin bergerak dengan serius sejak mereka bertemu. Selama ini lelaki tua itu selalu terlihat santai, malas, dan lebih sering minum arak daripada menunjukkan kemampuannya.

Namun barusan...

Ia bahkan tidak mampu melihat bagaimana Tuan Xin berpindah tempat.

Jangankan melihat, ia bahkan tidak menyadari kapan lelaki tua itu mulai bergerak.

Di sisi lain, Xu Kong yang menyaksikan semuanya merasakan keringat dingin mengalir perlahan di punggungnya.

Tatapannya tertuju pada Tuan Xin dengan ekspresi yang semakin serius.

Dalam hati, berbagai pikiran mulai bermunculan.

Orang tua ini...

Dia jelas bukan berasal dari Dunia Bawah.

Xu Kong sangat yakin akan hal itu.

Sebagai seseorang yang pernah hidup di Dunia Tengah, ia tahu tingkat kekuatan para kultivator di sana. Namun kecepatan yang baru saja diperlihatkan Tuan Xin jauh melampaui kebanyakan kultivator yang pernah ditemuinya.

Bahkan jika dia berasal dari Dunia Tengah, aku seharusnya mengenalnya.

Semakin lama memikirkannya, semakin kuat firasat buruk yang muncul dalam dirinya.

Jangan-jangan...

Dia berasal dari Dunia Atas...

Pikiran itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Sementara Xu Kong dipenuhi berbagai dugaan, Ling Yue justru terlihat jauh lebih tenang dibandingkan yang lain. Ia hanya memandang Tuan Xin sejenak tanpa menunjukkan keterkejutan berarti.

Bagaimanapun juga, ia sudah mengetahui sebagian identitas asli lelaki tua tersebut. Meski tidak tahu seluruh rahasianya, apa yang baru saja dilakukan Tuan Xin masih berada dalam batas yang bisa ia terima.

Tuan Xin berjalan santai menghampiri warga desa yang baru saja diselamatkannya. Dengan ekspresi tenang, ia menepuk bahu pria itu lalu berkata, "Pergilah. Orang ini biar kami yang urus."

Warga tersebut langsung membungkuk berkali-kali dengan wajah penuh rasa syukur.

"Terima kasih! Terima kasih banyak!"

Tanpa berani tinggal lebih lama, ia segera berlari menjauh dari halaman itu dan menghilang ke dalam salah satu gang desa.

Melihat mangsanya berhasil lolos, wajah prajurit tersebut langsung berubah muram. Kemarahan yang sebelumnya masih ia tahan kini mulai terlihat jelas di matanya.

Sreet!

Dengan satu gerakan cepat, ia mencabut pedangnya dari sarung.

Aura energi spiritual segera memancar dari tubuhnya dan menyelimuti area sekitar. Tekanan yang dihasilkan membuat beberapa daun di tanah mulai bergetar pelan.

Tatapannya menyapu ke arah kelompok Cang Xuan dengan penuh niat membunuh.

"Kalian benar-benar mencari mati."

Senyuman kejam muncul di wajahnya.

"Aku akan menyiksa kalian sebelum kubunuh."

Namun ancaman itu sama sekali tidak memengaruhi Tuan Xin. Lelaki tua tersebut justru berjalan menuju sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari sana, lalu duduk dengan santai seolah sedang menikmati pemandangan sore.

Ia meneguk araknya sekali lagi sebelum berkata, "Urus dia sendiri. Aku hanya akan menonton."

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia kembali meminum araknya tanpa sedikit pun menunjukkan niat untuk ikut bertarung.

Dari cara duduknya, siapa pun akan mengira bahwa pertarungan yang akan terjadi hanyalah sebuah hiburan sore yang menarik untuk disaksikan.

Di sisi lain, Xu Kong mulai memutar tongkat panjangnya perlahan. Angin tipis berputar mengikuti gerakannya, sementara tatapannya terkunci pada lawan di depan.

Ling Yue juga tidak tinggal diam. Dengan gerakan ringan, ia menghunus pedangnya dan energi biru tua langsung mengalir di sepanjang bilah senjata tersebut, memancarkan tekanan yang tidak bisa diremehkan.

Sementara itu, Cang Xuan menggenggam erat pedangnya. Meskipun tingkat kultivasinya masih yang terendah di antara mereka bertiga, sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

Ketiganya berdiri berdampingan.

Tatapan mereka tertuju pada prajurit yang mengaku sebagai tangan kanan kedua Penguasa Benua Timur.

Untuk pertama kalinya sejak kelompok itu terbentuk, mereka akan bertarung bersama sebagai satu tim.

Penduduk desa yang mengintip dari balik jendela dan celah pintu menahan napas mereka. Tidak ada seorang pun yang berani mendekat, tetapi semua orang tahu bahwa bentrokan yang akan terjadi bukanlah pertarungan biasa.

Di satu sisi berdiri bawahan langsung Penguasa Benua Timur yang selama ini ditakuti oleh penduduk desa.

Di sisi lain berdiri tiga pengelana yang baru saja tiba, ditemani seorang lelaki tua misterius yang masih duduk santai sambil meminum arak.

Angin sore berembus melewati halaman yang kini dipenuhi ketegangan. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kedua pihak sudah menentukan pilihan mereka masing-masing.

Pertarungan antara tangan kanan Penguasa Benua Timur melawan Cang Xuan, Ling Yue, dan Xu Kong akhirnya tidak dapat dihindari lagi.

End Chapter 24

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!