" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemaksaan
Malam yang diguyur hujan deras itu menyisakan ketegangan yang teramat pekat di Paviliun Barat. Di balik jeruji besi jendela yang dingin, Aksa masih berdiri kokoh di bawah curahan air, menolak untuk bergeser barang satu inci pun. Genggaman jemarinya pada tangan Valerian terasa begitu erat, hangat, dan posesif.
Dave..." bisik Valerian lirih, air matanya perlahan menyatu dengan rintik air hujan yang tempias di sela-sela besi jendela. "Clarissa sudah mengumumkan pembatalan Pertunangan kalian dengan mengkambing hitamkan Damian . Damian sekarang seperti orang gila di kantor pusat. Aku takut dia akan nekat."
Aksa sedikit merundukkan kepalanya, mendekatkan wajah tegasnya pada celah jeruji besi. "Jangan takut, ratuku.
Dengan gerakan dominan yang halus namun sarat akan romansa terlarang, Aksa menarik lembut tengkuk Valerian melewati celah yang sempit, mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman panas yang teramat dalam.
Ciuman di tengah guyuran hujan itu membakar habis rasa dingin yang membungkus Paviliun Barat, menyisakan deru napas yang saling beradu panas.
Setelah pagutan itu terlepas perlahan, Aksa mengusap lembut perut rata Valerian dengan jemari hangatnya yang terselip di sela besi bawah. Namun, kehangatan itu terpaksa terputus ketika bayangan pengawal mulai bergerak di ujung taman, memaksa Aksa menghilang kembali ke dalam kegelapan malam.
"Keesokan paginya, suasana di Paviliun Barat mendadak berubah menjadi horor psikologis bagi Valerian. Pintu kamar utama diketuk kasar sebelum akhirnya dibuka dari luar. Namun, yang melangkah masuk bukanlah pelayan atau Tuan Bagian, melainkan Damian.
Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas rapinya. Kemejanya kusut, matanya merah menyala akibat tidak tidur semalaman dan pengaruh sisa frustrasi bursa saham yang hancur.
Sifat temperamentalnya telah berevolusi menjadi kegilaan posesif yang teramat pekat dan berbahaya. Di dalam genggaman tangan kanannya, Damian membawa sebuah tas kulit kecil berlogo medis resmi.
Selamat pagi, istriku yang tercinta," sapa Damian dengan suara bariton yang serak dan senyuman sinis yang membuat bulu kuduk meremang.
Valerian seketika berdiri, mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur tiang ranjang. "Apa yang kau lakukan di sini, Damian? Ayah melarangmu masuk ke paviliun ini!"
Ayah sedang sibuk menahan kejatuhan saham di lantai bursa akibat ulah adik kesayanganmu itu, Valerian!" bentak Damian gila, melangkah lebar memotong jarak di antara mereka. Ia mengempaskan tas kulit itu ke atas meja, membukanya hingga memperlihatkan tiga buah botol kaca berisi cairan kimia bening dan sebuah jarum suntik steril.
Apa itu, Damian?!" tanya Valerian dengan nada suara yang berbobot namun bergetar oleh rasa syok yang luar biasa hebat demi melindungi di rahimnya.
Damian mengeluarkan jarum suntik tersebut, menatap cairannya dengan tatapan mata seorang penguasa hukum yang telah kehilangan seluruh akal sehatnya.
"Ini adalah serum ekstraksi hormon medis dari dokter kepercayaanku. Aku tidak perlu menunggu sembilan bulan untuk mengetahui siapa ayah dari janin ini, Valerian. Sifat keras kepalamu dan pembatalan pertunangan Clarissa kemarin membuktikan bahwa kau dan Aksa telah bermain gila di belakangku selama ini."
Damian merangsek maju, menangkap kedua pergelangan tangan Valerian dengan cengkeraman kasar yang begitu dominan dan merendahkan. Ego maskulinnya yang hancur berkeping-keping di restoran kemarin kini ingin ia tumpahkan seutuhnya sebagai bentuk pembalasan dendam yang kejam.
Lepaskan aku, Damian! Kau bisa membunuh janin ini jika melakukan ekstraksi paksa di usia kehamilan sedini ini! Hentikan, pria berengsek!" teriak Valerian histeris, air matanya meledak deras saat ia mencoba meronta, menendang, dan mencakar apa saja demi menjauhkan jarum suntik itu dari tubuhnya.
Aku tidak peduli jika janin ini mati, Valerian! Jika aku tidak bisa memiliki ahli waris dari rahimmu, maka Aksa pun tidak boleh memilikinya!" geram Damian parau, urat-urat lehernya menegang tajam saat ia berhasil mendorong tubuh seksi Valerian jatuh ke atas ranjang, mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan kekarnya.
Tangan kanan Damian yang memegang jarum suntik perlahan bergerak turun menuju ke arah lengan atas Valerian yang terekspos. Ujung jarum yang tajam dan berkilat dingin itu kini hanya berjarak beberapa milimeter dari permukaan kulit tipis Valerian yang sudah meremang hebat dalam ketakutan.
Tepat pada detik yang paling krusial itu, gema suara ledakan besar mendadak terdengar dari arah gerbang depan Paviliun Barat, disusul oleh suara pecahan kaca ruang tamu bawah yang hancur berantakan akibat hantaman paksa dari luar!
Asap putih membubung tinggi dari arah ruang tamu lantai bawah Paviliun Barat, membawa serta aroma mesiu dan debu semen yang pekat. Suara alarm tanda bahaya internal rumah kembali meraung-raung, saling bersahutan dengan pekikan panik para pelayan yang berlarian menyelamatkan diri.
Siapa... siapa yang berani menghancurkan tempat ini?!" geram Damian parau, cengkeraman kasarnya pada kedua tangan Valerian sedikit melonggar akibat fokusnya yang terbelah paksa.
Valerian tidak menyia-nyiakan celah sempit itu. Menggunakan sisa kekuatan batin dan insting protektif seorang calon ibu, ia menarik kakinya lalu menendang dada Damian dengan sentakan yang teramat keras.
Damian terjungkal ke belakang, menabrak meja medis kecil hingga botol-botol kaca berisi cairan kimia itu menggelinding di atas lantai marmer. Jarum suntik di tangannya terlepas, jatuh berdentang tepat di dekat kaki ranjang.
Valerian segera bangkit, menarik robekan jubah tidur sutra hitamnya untuk menutupi dadanya yang naik-turun memburu napas.
Ia berlari menjauh ke sudut ruangan dekat jendela berjeruji, memeluk perut ratanya dengan kedua tangan yang bergetar hebat. "Jangan pernah kau berani mendekatiku lagi, Damian! Kau sudah gila!" teriaknya dengan nada suara yang humanis, serak oleh air mata ketakutan kuadrat yang mengalir deras di pipinya.
Sebelum Damian sempat berdiri dan meluapkan murka kegilaannya kembali, daun pintu kamar jati itu dihantam terbuka hingga engselnya jebol menumbuk dinding.
Brak!!!
Bukan Aksa yang melangkah masuk terlebih dahulu, melainkan Tuan Bagian Wardhana. Pria tua itu datang dengan napas yang tersengal-sengal, wajah tuanya yang dipenuhi kerutan tampak mengeras menahan amarah yang luar biasa masif.
Di belakangnya, enam pengawal pribadi bersenjata lengkap langsung merangsek masuk, mengamankan ruangan dan mengunci pergerakan Damian dalam hitungan detik.
Gila! Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Damian!" bentak Tuan Bagian dengan suara baritonnya yang berat, menunjuk wajah anak sulungnya dengan jari yang bergetar hebat.
"Kau mencoba melakukan ekstraksi medis ilegal di dalam propertiku?! Kau ingin menghancurkan satu-satunya jaminan stabilitas saham kita esok pagi?!"
Damian berdiri sambil menyeka sudut bibirnya yang kembali mengeluarkan darah akibat gerakan kasarnya tadi. Seringai sinis dan sakit muncul di wajahnya yang bengkak. "Jaminan saham, Ayah? Wanita ini... wanita jalang ini telah menyerahkan tubuhnya pada Aksa! Janin di dalam rahimnya itu adalah anak haram yang akan meruntuhkan takhta kita! Mengapa Ayah masih melindunginya?!"
Tutup mulutmu, Damian!" teriak Tuan Bagian, suaranya menggelegar memutus argumen hukum anaknya. Pria tua itu berbalik, menatap tajam ke arah Valerian yang masih mematung di sudut ruangan.
"Bawa Damian keluar dari sini! Kunci dia di ruang bawah tanah kediaman utama hingga bursa efek ditutup besok sore. Jangan biarkan dia menyentuh gawai atau membuat pernyataan apa pun kepada media!"
Baik, Tuan Besar," sahut para pengawal tegap itu. Mereka langsung memegangi kedua lengan Damian dengan paksa, menyeret pria yang terus meronta dan memaki gila itu keluar dari Paviliun Barat.
Setelah keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar, Tuan Bagian berjalan perlahan mendekati meja medis yang berantakan. Ia membungkuk, memungut salah satu botol kaca berisi cairan kimia bening yang tadi dijatuhkan oleh Damian. Matanya yang jeli meneliti label medis yang tertera di sana.
Valerian yang memperhatikan gerak-gerik mertuanya dari sudut ruangan perlahan melangkah maju.
Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh cairan itu, Ayah?" tanya Valerian dengan nada suara yang datar, dingin, namun menuntut kejelasan yang transparan. "Damian mengatakan itu serum ekstraksi DNA.
Tuan Bagian menoleh lambat, memasang kembali topeng wibawa kepemimpinannya yang kaku. "Ini bukan urusanmu, Valerian. Tugasmu hanya satu: pastikan kandunganmu tetap aman di dalam paviliun ini hingga aku menyelesaikan masalah bursa dengan Aksa. Jangan mencoba bermain api lebih jauh jika kau masih ingin melihat anak itu lahir ke dunia."
Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Tuan Bagian menyimpan botol kimia tersebut ke dalam saku jasnya, lalu melangkah lebar meninggalkan kamar dengan kawalan sisa pengawalnya.
"Semuanya berkumpul siang ini di ruang tamu beritahu pada semua tuan dan nyonya rumah ini " titah tuan Wardhana pada para pelayan denganwajah yang mengintimidasi.
" baik tuan " sigap para pelayan atas instruksi tuan Wardhana.