Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 35
Mahesa berdiri terpaku, dikelilingi oleh puing-puing kehancurannya sendiri. Gemerlap lampu ballroom yang tadi terasa megah kini berubah menjadi sorot lampu interogasi yang menusuk mata. Di bawah sana, Clarissa masih mengerang kesakitan, terpojok oleh beberapa tamu yang melampiaskan kemarahan mereka. Tidak ada satu pun orang yang sudi membantunya.
Papa Raharjo tidak membuang waktu lagi. Dengan satu isyarat tangan, beliau memerintahkan tim keamanan untuk menyeret Mahesa dan Clarissa keluar dari gedung tersebut. Tidak ada lagi sapaan hangat, tidak ada lagi jabatan tangan, hanya tatapan jijik yang dilemparkan para kolega bisnis yang dulu menjilat padanya.
"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi!" teriak Mahesa, suaranya parau dan bergetar, namun tidak ada yang peduli.
Saat mereka diseret melewati pintu keluar yang megah, Mahesa sempat melirik ke arah Mama Karina yang memalingkan wajah dengan bahu terguncang oleh tangis. Hati Mahesa sempat terbersit rasa menyesal. Bukan karena dia telah menyakiti Inara, melainkan karena dia menyadari betapa cepatnya segalanya lenyap.
Padahal dia sudah menunggu moment pelantikan ini. Dan dengan kuasa yang nantinya dia miliki. Tak ada satupun yang bisa membantah keputusannya. Termasuk kembali dan menikah dengan Clarissa. Namun semuanya gagal, tak sesuai dengan rencana awal.
Udara malam yang dingin menyambut mereka dengan kasar. Mahesa dan Clarissa dilempar begitu saja ke atas aspal parkiran. Jas mahalnya yang tadi disetrika sempurna kini kusut, sepadan dengan martabatnya yang hancur lebur.
Clarissa, yang wajahnya kini dipenuhi bekas cakaran dan riasan yang luntur karena air mata, berusaha meraih lengan Mahesa.
"Mahesa... kita harus pergi sekarang? Apartemen yang kamu berikan bukan uang perusahaan kan? Sehingga aku masih bisa tinggal di sana! Kamu masih punya tabungan untuk mencukupi kebutuhan kita kan, kita bisa memulai...!"
"Berhenti bicara!" Mahesa menepis tangan Clarissa dengan kasar, membuat wanita itu tersungkur kembali.
Baru saja Mahesa hendak merogoh saku untuk mengambil kunci mobilnya. Mobil mewah keluarga Dirgantara, seorang pengawal pribadi Papa Raharjo melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun, dia menyita kunci mobil, kartu akses gedung, dan dompet yang berisi kartu-kartu kredit korporasi milik Mahesa.
"Instruksi Tuan Raharjo," ucap pengawal itu dingin.
"Semua fasilitas ini adalah milik perusahaan. Anda tidak memiliki hak sepeser pun. Dan Anda juga! Berikan kartu yang sebelumnya di berikan Pak Mahesa!"
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tak mau menjadi miskin!" Clarissa mencoba mempertahankan tasnya. Namun mereka tak peduli dan mengambil kartu yang di berikan Mahesa selama ini.
Mahesa tercengang. Dia kini berdiri di tengah jalan raya, hanya mengenakan pakaian yang melekat di tubuhnya, tanpa uang, tanpa transportasi, dan tanpa arah. Ia menoleh ke arah Clarissa yang kini menatapnya dengan pandangan yang perlahan berubah dari rasa takut menjadi keresahan yang nyata.
"Mahesa..." Panggil Clarissa lirih.
"Diam! Aku harus pergi!" kesal Mahesa dan menghentikan taxi membayar dengan uang yang tersisa di dompetnya.
Mahesa sampai di depan rumahnya dengan napas yang memburu dan pakaian yang kuyup. Dia tidak memedulikan rasa dingin yang menusuk tulang atau cemoohan orang-orang yang mungkin melihatnya sebagai gelandangan tak beraturan di depan rumah mewah itu.
Dia menekan kode akses rumah dengan tangan yang gemetar hebat.
BEEEEPP
BEEEEPP
Kode itu ditolak.
Sekali lagi dia mencoba, kali ini dengan menekan kombinasi akses darurat yang dia tahu seharusnya masih tersimpan di sistem.
Access Denied. Permanent lock out activated.
"Inara! Buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam!" teriak Mahesa, suaranya parau.
Dia menggedor pintu kayu jati yang kokoh itu. Tidak ada jawaban. Tidak ada lampu yang menyala. Tidak ada suara langkah kaki di balik pintu.
Mahesa menarik napas panjang, mencoba mencari logika di tengah kepanikan. Dia kemudian beralih ke pintu belakang, area yang biasanya Inara gunakan untuk akses pelayan. Namun, setibanya di sana, dia menemukan sesuatu yang lebih menyesakkan daripada sekadar pintu terkunci.
Di sana, di dekat pintu garasi, terdapat tumpukan barang yang tertata rapi. Itu adalah koper-koper miliknya. Koper yang berisi pakaian, barang pribadi, dan semua barang yang ia tinggalkan tiga hari lalu sebelum tragedi di ballroom terjadi. Inara bahkan tidak repot-repot membuangnya atau menyimpannya. Dia hanya mengeluarkannya, seolah ia sedang membersihkan rumah dari kotoran yang tidak diinginkan.
Tidak ada catatan. Tidak ada surat yang ditinggalkan di atas tumpukan koper itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa Inara pernah merasa perlu untuk berpamitan atau menjelaskan perasaannya.
Keheningan itu justru jauh lebih mencekam daripada surat kemarahan.
Inara tidak membenci, ia tidak berteriak, dan ia tidak merasa perlu memberi Mahesa penutupan. Bagi Inara, Mahesa sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tidak layak mendapatkan satu detik pun dari waktunya untuk sekadar menuliskan pesan.
Mahesa terduduk di lantai teras yang basah, menatap kosong pada koper-kopernya. Dia mencari-cari petunjuk, mungkin sebuah pesan tersembunyi, sebuah petunjuk ke mana Inara pergi, atau sekadar tulisan kecil di cermin. Namun, semuanya bersih.
Inara pergi dengan efisiensi yang dingin, meninggalkan rumah itu dalam keadaan yang begitu steril, seolah-olah Mahesa tidak pernah ada di sana sebelumnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil patroli keamanan perumahan berhenti di depannya. Petugas yang turun dari mobil menatap Mahesa dengan tatapan datar.
"Tuan Mahesa, atas perintah dari pemilik sertifikat rumah ini, Pak Raharjo. Anda dilarang untuk berada di area properti ini lagi. Barang-barang Anda sudah dikeluarkan sesuai prosedur. Mohon segera pergi sebelum kami terpaksa menghubungi kepolisian atas tuduhan penerobosan," ucap petugas itu sopan namun tegas.
"Di mana dia? Katakan di mana Inara, istriku!" Mahesa menyambar kerah baju petugas itu.
"Untuk masalah itu kami tidak tahu. Karena kami hanya bekerja sesuai dengan perintah Pak Raharjo."
Mahesa terhempas kembali ke lantai. Dia kini menyadari bahwa penghinaan terbesar bukanlah kemarahan atau makian, melainkan ketidakpedulian. Inara tidak lagi menganggap Mahesa cukup penting untuk diberikan penjelasan.
Inara telah memutus total hubungannya, menghapus jejak Mahesa seolah ia hanya kesalahan teknis yang baru saja diperbaiki.
Di bawah guyuran hujan, di tengah sunyinya rumah yang dulu ia banggakan, Mahesa akhirnya sadar. Dia bukan lagi pusat semesta bagi siapa pun. Dia hanyalah pria yang ditinggalkan, tanpa suara, tanpa jejak, dan tanpa pintu yang akan pernah terbuka untuknya lagi.
"Papaa... Kenapa kamu malah bicara kepada Papa Inara!" teriak Mahesa frustasi.
trnyata hanya manusia yg Haus harta ,, 😒😒😒😒
giliran udh begini semua org dy salahin ,,
dah gembel masih ga sadar juga
karena sepandai pandain km menyimpan bangkai pasti akan tercium jg