menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33: penantian dan persiapan penuh makna
Malam semakin larut, namun di dalam hati Raja Xavier, rasa kantuk sama sekali tak berani menyapa. Sejak pesan berharga itu ia terima dari Charon beberapa jam yang lalu, setiap detik terasa berjalan begitu lambat, seolah waktu sengaja mengulur langkahnya hanya untuk menguji ketabahan hati seorang raja yang sedang dilanda rindu mendalam. Di kamarnya yang luas dan megah, Xavier sama sekali belum menyentuh kasur empuknya. Ia justru melangkah menuju balkon lebar yang menjadi kebanggaan istana, tempat di mana ia bisa melihat hampir seluruh bagian dari Kerajaan Srinity—negeri yang selalu tampak damai, ceria, dan penuh kehangatan itu.
Di sana, di atas kursi kayu berukir indah yang terbuat dari kayu terbaik, Xavier duduk diam memandang ke bawah. Pemandangan di hadapannya sungguh menenangkan hati. Desa-desa yang tersebar di sekitar wilayah kerajaan tampak berkilauan oleh ribuan lampu minyak dan lentera yang digantung di depan rumah-rumah penduduk, membentuk lautan cahaya yang lembut dan indah, kontras namun selaras dengan kegelapan malam. Suasana begitu hening dan damai, hanya sesekali terdengar suara angin berdesir lembut melewati dedaunan, atau suara jangkrik yang bernyanyi riang menyelimuti malam.
Namun, di antara semua pemandangan indah itu, mata Xavier terhenti pada satu titik: sebuah pohon besar yang sangat tua dan menjulang gagah di tengah lapangan desa. Batangnya begitu besar hingga butuh puluhan orang untuk melingkari pelukannya, dan dahannya menjulur luas seolah menjadi payung raksasa bagi seluruh warga sekitar. Pandangan Xavier mengabur, dan ingatannya perlahan kembali melayang ke masa lalu, bertahun-tahun silam. Ia teringat betapa seringnya ia duduk di bawah pohon besar itu, dikelilingi oleh puluhan anak-anak desa yang matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Saat itu, Xavier masih muda dan sering kali berkeliling berbaur dengan rakyatnya tanpa ada sekat jabatan. Di bawah pohon itulah ia biasa membacakan kisah-kisah dari buku legendaris peninggalan leluhur, kisah tentang awal mula terciptanya segala sesuatu, tentang sihir, dan juga tentang penguasa dari negeri seberang yang sangat perkasa.
Ia masih ingat jelas bagaimana anak-anak itu akan gemetar ketakutan, bersembunyi di balik punggung satu sama lain, setiap kali ia menceritakan tentang sosok Ratu Elara—penguasa dari Kerajaan Obsidian Umpire yang dijuluki sebagai Sang Ratu Kematian. Di dalam kisah-kisah lama itu, nama Elara disebut sebagai sosok yang mengerikan, memiliki kekuatan dahsyat yang mampu mengubah nasib hidup dan mati seseorang hanya dengan satu kali lambaian tangan. Dulu, Xavier hanya tersenyum melihat reaksi polos anak-anak itu, namun kini hatinya tersentuh sendiri. Sosok yang dulu dianggap menakutkan dan mengerikan oleh banyak orang, justru adalah wanita yang kini sangat ia cintai, sosok yang hatinya selembut sutra dan seindah permata, jauh berbeda dari bayangan seram yang tertulis di lembaran-lembaran tua itu.
Sebuah gagasan indah tiba-tiba muncul di benak Xavier. Nanti, saat Elara sudah tiba di sini, ia pasti akan mengajak sang Ratu berjalan-jalan turun ke desa. Ia akan mengajaknya duduk kembali di bawah pohon besar ini, menemani dirinya bercerita kepada anak-anak desa yang sudah lama tak ia temui. Ia ingin menyaksikan sendiri ekspresi wajah anak-anak itu jika tahu bahwa sosok yang selama ini mereka anggap menakutkan, ternyata adalah wanita yang begitu cantik, anggun, dan penuh kasih sayang. Ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kekuatan besar tidak selamanya berarti menakutkan, dan legenda hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang sesungguhnya. Pikirannya terus berputar dengan rencana-rencana indah itu, membuat senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Duduk di bawah cahaya bulan purnama yang bersinar terang, Xavier kemudian mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit halus berwarna cokelat tua—buku harian yang selalu ia jaga baik-baik sejak ia masih remaja. Ia mengambil pena tinta emas, dan mulai menuliskan segala perasaan yang bergemuruh di dalam dadanya. Ia menuliskan betapa bahagianya ia saat menerima kabar kedatangan Elara, betapa besar rasa rindu yang ia pendam, serta betapa bangganya ia karena wanita pilihan hatinya akhirnya bersedia melangkahkan kaki keluar dari kerajaannya untuk datang menemuinya. Kata-kata yang tertulis mengalir begitu saja, tulus dan jujur, seolah ia sedang berbicara langsung dengan Elara sendiri di atas kertas itu.
Setelah selesai menulis dan menutup bukunya, Xavier mengambil surat balasan dari Elara yang sangat berharga itu. Dengan hati-hati, ia menaruh surat itu ke dalam sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu mahoni dan dilapisi kaca bening. Di dalam kotak itu tersimpan berbagai jenis kristal berwarna-warni yang berkilau indah, benda-benda berharga yang pernah ia kumpulkan seumur hidupnya. Namun, bagi Xavier, selembar surat bertuliskan tangan Elara itu jauh lebih berharga dan bernilai dibandingkan seluruh kristal permata yang ada di dunia ini. Benda itu kini tersimpan rapi di antara kemilau batu-batu indah lainnya, sebagai harta paling berharga di dalam istananya.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya cahaya remang mulai tampak di ufuk timur, menandakan bahwa malam telah berlalu dan pagi pun tiba. Sinar matahari pertama menyelinap masuk melewati celah tirai, menyentuh wajah Xavier yang sepanjang malam hampir tak terpejam. Namun, meski lelah, semangatnya justru berkali lipat lebih besar dari biasanya. Ia yakin, berdasarkan isi surat dan kebiasaan Elara yang selalu teliti dan cermat dalam segala hal, sang Ratu pasti akan membutuhkan waktu satu atau dua hari lagi untuk menyiapkan segala sesuatu yang penting sebelum berangkat. Maka, ia memastikan dirinya bahwa Elara akan sampai di sini lusa, dan hari ini adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan persiapan terakhir.
Setelah selesai menyantap sarapannya dengan tergesa namun tetap berwibawa, Xavier segera memanggil para pengurus istana, penjaga keamanan, serta para kepala desa di sekitar wilayah kerajaan. Ia menyampaikan keinginannya agar seluruh wilayah Kerajaan Srinity, mulai dari gerbang utama istana hingga ke sudut-sudut desa yang paling jauh, dihias seindah mungkin dengan bunga-bunga segar, pita warna-warni, dan segala ornamen kebahagiaan yang biasa digunakan saat perayaan besar.
“Dengarkan baik-baik,” ucap Xavier dengan suara tegas namun penuh senyum bahagia, “Wanita yang akan datang berkunjung ke sini adalah calon istriku, dan kelak akan menjadi Ratu yang memimpin Kerajaan Srinity bersamaku. Ia adalah wanita yang sangat mulia, dan aku ingin seluruh tanah ini menyambutnya dengan penuh keindahan dan kehangatan.”
Xavier sengaja tidak menyebutkan jati diri asli Elara sebagai Sang Ratu Kematian atau penguasa Obsidian Umpire kepada warga biasa maupun para pengawalnya. Ia tahu nama itu membawa kesan seram dan ketakutan bagi banyak orang, dan ia tidak ingin kedatangan wanita pujaannya kali ini dibayangi oleh rasa takut atau prasangka apa pun. Ia ingin Elara datang sebagai dirinya sendiri, sebagai wanita yang dicintainya, dan diterima oleh rakyat Srinity dengan rasa suka cita yang tulus, bukan karena rasa hormat yang berbalut ketakutan.
Mendengar perintah dan kabar gembira itu, seluruh rakyat yang ada di sana bersorak gembira. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, mereka segera bergerak bahu-membahu. Pagi itu, suasana di seluruh kerajaan terasa begitu hidup. Warga desa muda dan tua, anak-anak hingga orang dewasa, semuanya ikut membantu membawa karangan bunga, menganyam hiasan, membersihkan jalanan, dan memperindah setiap sudut tempat. Mereka bekerja dengan penuh semangat dan hati gembira, karena mereka tahu persiapan ini dilakukan untuk menyambut wanita yang akan menjadi pendamping hidup raja mereka yang sangat dicintai. Di tengah hiruk-pikuk persiapan itu, Xavier berdiri di tengah mereka, ikut tersenyum dan membantu mengatur segalanya, hatinya dipenuhi rasa bahagia yang meluap-luap, semakin yakin bahwa pertemuan yang akan datang akan menjadi awal dari babak terindah dalam hidupnya.