NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Menjadi Antagonis

Air hangat sudah disiapkan di dalam bak mandi porselen yang mewah, uapnya membubung tipis memenuhi ruangan. Luvya berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang mungil perlahan mulai melepas satu per satu kancing gaun tidur sutranya.

​Begitu kain mahal itu luruh ke lantai, langkah Luvya seketika membeku.

​Ia menatap pantulan tubuhnya di cermin dengan mata membelalak. Di balik kemewahan kain yang membungkusnya tadi, tubuh gadis berusia dua belas tahun ini dipenuhi oleh jejak-jejak mengerikan. Luka lebam yang sudah menguning bersinggungan dengan bekas cambukan tipis yang masih memerah di bagian punggung dan bahunya.

​Luvya menyentuh salah satu luka lebam di pinggangnya. "Sshhh..." Ia meringis. Rasa perih itu nyata, bukan sekadar bayangan.

​Di dalam novel A Healer for the Crown, Luvya Vounwad digambarkan sebagai antagonis yang haus perhatian dan kejam. Ia dibenci oleh Duke Vounwad karena statusnya sebagai anak haram, hasil dari kesalahan masa lalu sang Duke yang memalukan. Karena itulah, Luvya selalu disembunyikan di kediaman ini, tak pernah sekalipun diizinkan menapakkan kaki di acara sosial manapun.

​Namun, tidak ada satu pun baris dalam novel itu yang menceritakan detail ini.

​"Jadi ini alasannya?" bisik Luvya parau.

​Suaranya bergetar, namun perlahan berubah menjadi tawa kecil yang getir. Luvya tertawa di tengah kesunyian kamar mandi itu. Ia tertawa meratapi nasib gadis kecil yang jiwanya telah ia tempati sekarang.

​"Ini gila," gumamnya sambil terus tertawa miris. "Di novel, aku sangat membencimu karena kau begitu jahat pada pemeran utama. Aku mengutukmu karena kau haus kekuasaan. Tapi ternyata..."

​Luvya menatap matanya sendiri di cermin, mata biru yang tampak begitu hancur.

​"Ternyata kau disiksa seperti ini sebelum kau sempat menjadi jahat? Kau diperlakukan seperti sampah bahkan sebelum kau dikirim ke biara terkutuk itu?"

​Rasa sesak menghimpit dada Luvya. Sebagai Lily yang dulu hidup susah, ia tahu rasanya sakit fisik. Tapi disiksa oleh orang yang seharusnya menjadi pelindungnya adalah level penderitaan yang berbeda.

​Duke Vounwad bukan hanya menyembunyikan Luvya karena malu. Pria itu sedang menghancurkan Luvya secara perlahan sebelum akhirnya benar-benar membuangnya ke tempat penebusan dosa, tempat di mana Luvya asli akhirnya kehilangan kewarasannya.

​Luvya mengepalkan tangannya kuat-kuat, membuat kuku-kukunya memutih.

​"Kau benar-benar malang, Luvya," ucapnya dengan nada dingin yang baru. "Tapi tenang saja. Aku sudah pernah mati sekali karena ketidakadilan dunia. Aku tidak akan membiarkan kita mati untuk kedua kalinya dengan cara yang sama."

​Luvya melangkah masuk ke dalam bak mandi. Air hangat yang menyentuh luka-lukanya memberikan rasa perih yang menyengat, namun ia tidak menangis. Matanya justru berkilat tajam. Jika ayahnya menginginkan dia menjadi anak haram yang tak terlihat dan hancur, maka Luvya akan memastikan Duke Vounwad menyesal telah membiarkannya tetap hidup.

​Jika naskah aslinya berjalan sesuai urutan, kepulangan Duke Vounwad dari perang kali ini bukan hanya sekadar kepulangan biasa. Pria itu tidak akan datang sendirian.

​"Kael..." bisik Luvya.

​Nama itu adalah kunci utama kehancurannya kelak. Di dalam novel, Kael hanyalah seorang bocah termuda dari desa terpencil yang terjebak di tengah medan perang. Namun, bukannya lari ketakutan, anak itu justru melakukan hal gila: ia ikut andil dalam pertempuran dan berhasil menghabisi salah satu jenderal musuh yang sangat penting.

​Duke Vounwad yang haus akan kekuatan tentu saja langsung terkesan. Ia menyukai keberanian dan ketangkasan anak tak bernama itu. Karena itulah, sang Duke memutuskan untuk membawanya pulang, mengadopsinya, dan memberikan nama Kael, nama yang kelak akan menjadi simbol teror bagi musuh-musuhnya.

​Luvya memejamkan mata, membiarkan ingatannya meluncur lebih jauh.

​"Setelah Kael tiba di mansion ini dan berkembang dengan cepat... di situlah giliranku," gumam Luvya getir.

​Di novel, sang Duke menganggap keberadaan Luvya sebagai aib yang harus disingkirkan agar Kael bisa naik menjadi pewaris tunggal tanpa gangguan. Begitu Kael dianggap cukup kuat, Duke akan segera mengirim Luvya ke Kuil Penebusan Dosa.

Luvya merapatkan giginya, merasakan kengerian merayapi punggungnya. Kuil Penebusan Dosa itu sejatinya adalah penjara suci bagi para kriminal kelas berat yang dianggap perlu "disucikan".

​"Kenapa anak sekecil Luvya harus masuk ke tempat mengerikan seperti itu?" gumamnya tak habis pikir.

​Di dalam novel aslinya, Luvya yang baru berusia dua belas tahun akan hancur secara mental di sana. Karena kesepian dan rasa sakit, ia akan kehilangan arah dan terjebak ke dalam Sekte Iblis Api. Sebuah organisasi rahasia yang bahkan para Pendeta Matahari pun tidak mengetahuinya. Mereka adalah orang-orang tersesat yang memuja kekuatan gelap untuk membalas dendam pada dunia.

​"Dan puncaknya..." Luvya menelan ludah, "Iblis itu akan mencari inang."

​Ia ingat betul bagian paling tragis itu. Iblis Api yang dipuja sekte tersebut akhirnya akan merasuki tubuh Lucius Lindman, kakak dari sang second lead pria yang malang. Sejak saat itu, dunia dalam novel benar-benar berubah menjadi neraka yang dipenuhi api dan kehancuran.

​Luvya menggerutu kesal, menyipratkan air bak mandi dengan tangannya yang mungil.

​"Kisah macam apa ini?!" keluhnya pada langit-langit kamar mandi yang mewah. "Peperangan, sekte sesat, iblis api, naga, sampai sihir hitam... semuanya ada! Kenapa dunia ini harus semengerikan ini?"

​Ia memijat pelipisnya yang mendadak pening. Sebagai Lily, hidupnya sudah cukup berat dengan masalah biaya rumah sakit dan kemiskinan. Ia berharap jika memang harus berpindah dunia, setidaknya ia masuk ke dalam novel romansa ringan bertema komedi yang alurnya hanya seputar pesta minum teh atau dikejar-kejar pangeran tampan yang baik hati.

​"Kenapa bukan novel romansa yang alurnya ringan saja sih? Kenapa harus novel hardcore seperti ini?" gerutunya lagi.

​Namun, di balik gerutuannya, Luvya sadar satu hal. Ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Iblis api itu, sekte sesat itu, dan Duke yang kejam itu adalah nyata di dunia ini. Jika ia ingin selamat, ia tidak boleh hanya menjadi penonton.

​"Aku tidak akan menjadi bagian dari sekte itu. Aku tidak akan membiarkan Lucius dirasuki, dan aku pasti... tidak akan sudi menginjakkan kaki di Kuil Penebusan Dosa itu."

Setelah keluar dari bak mandi, Luvya duduk di depan meja rias yang cerminnya masih sedikit beruap. Willy, pelayan pribadinya, dengan tangan gemetar mulai menyisir rambut pirang Luvya yang panjang dan lembut. Suasana kamar itu hening, hanya terdengar suara gesekan sisir kayu pada helai rambut.

​Luvya menatap pantulan dirinya di cermin, lalu bertanya dengan nada datar namun menuntut. "Willy, kapan Duke Vounwad akan kembali ke mansion?"

​Willy tersentak, gerakannya terhenti sejenak sebelum ia membungkuk hormat. "Menurut kabar terakhir dari burung pengirim pesan, rombongan Tuan Duke akan tiba sekitar lima hari lagi, Nona."

​Lima hari, batin Luvya sambil menyipitkan mata.

​Bagi orang lain, lima hari mungkin waktu yang singkat untuk bersiap menghadapi seorang monster. Namun bagi Lily—gadis yang terbiasa begadang demi mengejar peringkat pertama dan membedah tumpukan buku hukum—lima hari adalah waktu yang lebih dari cukup untuk memetakan dunia ini.

​Lima hari cukup untuk mencari tahu celah di dunia gila ini sebelum si monster itu datang membawa 'anak harimau' miliknya, pikir Luvya tegas.

​Begitu urusan rias wajah selesai, Luvya tidak membuang waktu. Ia langsung melangkah menuju perpustakaan pusat mansion Vounwad. Tempat itu luas, berdebu di beberapa sudut, namun menyimpan ribuan rahasia yang tidak pernah diceritakan di dalam novel.

​Beberapa jam kemudian, meja kayu ek yang besar di tengah perpustakaan itu sudah tidak terlihat lagi permukaannya. Tumpukan buku sejarah kekaisaran, peta wilayah utara yang gersang, hingga catatan silsilah kuno yang tintanya sudah memudar berserakan di sana.

​Luvya membolak-balik halaman dengan kecepatan yang luar biasa. Ia meringkas, memetakan faksi politik, dan menghafal aturan-aturan kerajaan yang kaku.

​"Ternyata di dalam novel aslinya, silsilah kerajaan dan aturan hukumnya tidak sedetail yang tercatat di sini," gumam Luvya pelan.

​Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besar, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Beruntung bagi Luvya, jiwanya adalah milik Lily—seorang murid pandai yang selalu menjadi juara sejak kecil. Memahami teks yang rumit dan menyerap informasi dalam waktu singkat sudah menjadi makanan sehari-harinya di kehidupan lalu.

​"Untung saja otakku masih berfungsi dengan baik," bisiknya dengan senyum tipis. "Sekarang aku tahu siapa musuhku yang sebenarnya."

Luvya kembali menyisir deretan rak buku yang paling gelap, mencari petunjuk tentang Sekte Iblis Api yang ia tahu akan muncul di Kuil Penebusan Dosa. Namun, nihil. Tidak ada satu pun catatan resmi yang membahas tentang keberadaan mereka. Seolah-olah, sekte itu benar-benar bayangan yang tidak meninggalkan jejak dalam sejarah tertulis.

​Namun, pencariannya tidak sepenuhnya sia-sia. Ia menemukan sebuah buku kuno bersampul kulit hitam yang membahas tentang entitas kegelapan. Di sana dijelaskan lebih detail: Iblis Api tidak sembarangan memilih inang. Mereka hanya akan merasuki jiwa yang memiliki ambisi sangat besar—jiwa yang haus akan kekuasaan hingga rela menukar kemanusiaannya.

​"Lucius Lindman..." gumam Luvya sambil menutup buku itu dengan berat.

​Di novel asli, Lucius adalah kakak dari Lucian. Meskipun dia hanyalah sepupu dari Putra Mahkota, ambisinya untuk menduduki tahta kekaisaran sangatlah membara. Itulah celah yang digunakan iblis untuk masuk.

​Luvya menyandarkan kepalanya ke meja kayu yang keras, menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah. Fokusnya beralih pada masalah yang lebih mendesak di depan mata.

​"Menghadapi iblis di masa depan itu sulit, tapi menghadapi Duke Vounwad dan Kael dalam lima hari lagi itu jauh lebih sulit," bisiknya frustrasi.

Luvya memijat pelipisnya. Ia tidak punya kekuatan sihir, tidak punya pengikut setia, dan yang paling parah, ia tahu Duke Vounwad bahkan sangat membenci wajahnya.

Bagaimana cara seorang anak perempuan berusia dua belas tahun, yang bahkan tidak boleh menunjukkan wajahnya di meja makan, bisa menjinakkan seorang monster?

Luvya menatap tangannya yang kecil dan halus. "Haruskah aku mengikuti alur cerita novel saja?" gumamnya lirih pada keheningan perpustakaan.

​"Membiarkan diriku diusir, tapi sebelum itu aku mencuri harta mansion dan kabur dari kuil terkutuk itu?"

​Ia terdiam sejenak, menimbang ide itu. Namun, detik berikutnya ia menggeleng keras. Ingatan tentang Luvya yang asli kembali menghantamnya. Luvya yang asli sudah sering mencoba melarikan diri, namun dunia ini kejam bagi seorang gadis tanpa pelindung. Yang ia dapatkan hanyalah tertangkap kembali dan berakhir terkurung lebih rapat di dalam kuil.

​"Luvya yang asli itu jahat. Dia hanya tahu cara menindas orang yang lebih lemah darinya, bahkan di kuil pun dia menindas orang-orang baik di sana hanya karena rasa frustrasinya," Luvya menggerutu kesal. "Tapi cara itu tidak akan membawaku ke mana-mana. Menindas tidak akan memberiku keamanan."

​Ia memijat keningnya yang mendadak terasa berdenyut kencang. Ia benar-benar pusing sendiri. Di satu sisi, ia ingin lari secepat mungkin. Di sisi lain, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk hidup tenang adalah dengan menghancurkan rantai yang mengikatnya sejak dari akarnya—yaitu Duke Vounwad.

​"Sial," umpatnya pelan. "Jiwa Lily-ku yang biasa hidup lurus di fakultas hukum benar-benar ditantang di sini. Aku tidak punya pedang, tidak punya sihir, dan wajahku adalah kutukan bagi ayahku sendiri."

​Ia menutup buku di depannya dengan suara debam yang keras, seolah sedang menutup pintu bagi rasa ragunya.

​"Hanya ada satu pilihan," gumam Luvya sambil menatap peta wilayah kekaisaran yang terbentang di meja.

​"Aku akan mengikuti alur cerita novel ini. Aku akan membiarkan diriku diusir tanpa perlawanan."

​Luvya menyandarkan punggungnya, matanya menyipit penuh rencana. "Tapi, aku tidak akan sampai ke Kuil Penebusan Dosa itu. Sebelum kereta kuda itu menginjakkan kaki di wilayah kuil, aku harus sudah kabur. Aku akan mencuri harta mansion secukupnya sebagai modal, lalu menghilang."

Luvya membayangkan sebuah kehidupan yang jauh dari kemewahan mansion yang mencekik ini. Sebuah panti asuhan di pinggiran kota yang jauh, atau mungkin desa kecil yang tenang. Sebagai Lily yang terbiasa hidup sederhana, panti asuhan terdengar jauh lebih masuk akal daripada harus menghadapi Duke atau Sekte Iblis Api.

​"Aku bisa hidup di panti asuhan. Dengan pengetahuanku, aku bisa mengajar atau bekerja apa saja di sana. Yang penting aku bebas dari takdir mati di tiang gantungan."

​Luvya menghela napas, rasa pusing yang tadi menghimpitnya sedikit mereda. Rencana ini terasa lebih aman daripada mencoba 'menjinakkan' Duke yang monster itu.

​"Lagipula, untuk apa aku mencoba menarik perhatian pria yang bahkan membenci wajahku? Lebih baik aku dianggap mati oleh dunia, dan hidup tenang sebagai orang biasa."

​Luvya menutup bukunya perlahan. Tekadnya sudah bulat. Lima hari lagi, saat Duke datang, ia hanya perlu berakting menjadi anak yang patuh dan 'pasrah' untuk dibuang.

​"Tunggu saja, Duke Vounwad. Buanglah aku secepat mungkin, karena itulah saat di mana aku akan benar-benar lepas dari genggamanmu."

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!