NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Jayantaka berdiri bergeming, matanya tidak berkedip sedikit pun saat melihat anak panah itu menghujam bahu Bagaskara. Tidak ada raut penyesalan, apalagi kata maaf. Ia justru tetap mengunci tatapannya pada setiap inci gerak tubuh Bagaskara, mencari setitik saja refleks aneh yang mungkin muncul secara naluriah.

​Namun, yang ia dapati hanyalah seorang pria yang jatuh terjungkal dengan rintihan kesakitan yang wajar.

​"Pemanah!" teriak Jayantaka dengan suara menggelegar, namun nada suaranya terdengar datar, seolah ia sedang membacakan perintah rutin. Ia menoleh ke arah dua prajuritnya. "Kalian berdua, cepat masuk ke dalam hutan! Kejar pengecut itu dan bawa kepalanya ke hadapanku!"

​"Sendika dawuh!"

​Kedua prajurit itu melesat secepat kilat, menghilang ke dalam rimbunnya pepohonan ke arah asal anak panah tadi. Ki Lurah Arjapati tampak pucat pasi, tubuhnya gemetar melihat darah yang mulai mengalir deras dari bahu Bagaskara.

​"Ki... Ki Senopati, ini gila! Bagaimana mungkin ada pemanah di siang bolong begini?" suara Ki Lurah terbata-bata.

​Jayantaka tak menyahut. Ia melangkah mendekati Bagaskara yang sedang dipangku oleh Nyai Lodra. Wanita itu menangis tersedu-sedu, jemarinya yang gemetar mencoba menahan darah yang merembes di sela-sela baju suaminya.

​"Tahan napasmu, Kisanak," ucap Jayantaka dingin. Matanya menyapu luka itu. Anak panah itu menancap cukup dalam. Jika Bagaskara adalah seorang ahli kanuragan, ia pasti secara tidak sadar akan mengeraskan ototnya (mengunci luka) agar pendarahan berhenti. Namun, darah itu tetap mengalir deras, membasahi lantai pendapa.

​Beberapa saat kemudian, kedua prajurit Jayantaka kembali dari hutan dengan napas tersengal. Mereka berlutut di hadapan sang Rangga.

​"Lapor, Ki Senopati. Kami sudah menyisir hingga ke dalam semak belukar, namun tidak menemukan siapa pun. Jejaknya hilang seolah tertelan bumi," lapor salah satu prajurit dengan kepala tertunduk.

​Jayantaka menyipitkan mata. Ia tahu betul tidak akan ada yang ditemukan, karena pemanah itu adalah orangnya sendiri—prajurit ketiga yang sengaja diperintahkan untuk melakukan uji nyawa ini.

​"Sialan. Sepertinya penyusup itu sangat ahli melarikan diri," gumam Jayantaka. Ia kembali menatap Bagaskara yang kini tampak pucat karena kehilangan banyak darah.

Jayantaka melangkah mendekat, bayangannya yang besar menutupi tubuh Bagaskara yang masih terduduk lemas. Ia berjongkok, menatap luka itu seolah sedang meneliti sebuah peta pertempuran.

​“Namamu Bagaskara, bukan?” tanya Jayantaka datar.

​“Ya...” jawab Bagaskara pendek sambil meringis, keringat dingin mulai membanjiri keningnya.

​“Aku bisa mengobatimu. Tapi sebelum itu, jawab aku jujur... apakah kau punya musuh,?”

​“Aku... aaaargh!”

​Kalimat Bagaskara terputus menjadi jeritan parau. Seakan belum puas menguji ketahanan sang petani, sebelum jawaban itu tuntas, tangan Jayantaka bergerak secepat kilat. Ia tidak mencabut anak panah itu dengan hati-hati; ia justru menghentak dan mengoyaknya lebih dulu untuk memperlebar luka, lalu menarik paksa batang kayu itu keluar dari daging Bagaskara.

​Mata Jayantaka tidak berkedip, ia mengunci setiap urat wajah dan gerak refleks otot Bagaskara. Ia berharap—sangat berharap—Bagaskara akan meledak, menghantam tangannya, atau setidaknya menunjukkan teknik pernapasan untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu.

​Namun, ia kembali harus menelan kekecewaan.

​Ki Bagaskara benar-benar tampak hancur. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi seputih kain kafan, dan rintihan kesakitannya terdengar sangat alami bagi seseorang yang tidak memiliki ilmu kanuragan.

​“Ki Senopati! Tidak seperti itu cara mencabut panah! Kau... kau kejam!” seru Nyai Lodra. Dengan gerakan cepat, ia merobek ujung kainnya dan langsung menekan luka suaminya untuk menghentikan pendarahan yang menyembur.

​Jayantaka bangkit perlahan, menyeka setetes darah yang tepercik ke tangannya. Matanya kini beralih pada Nyai Lodra, tajam dan penuh selidik.

​“Oh? Jadi kau tahu caranya, Nyai? Nyai Lodra namamu, kan?” tanya Jayantaka dengan nada sangsi. “Kau bilang kau hanya petani. Dari mana seorang wanita desa tahu teknik menangani luka panah yang benar?”

​Nyai Lodra mendongak, matanya berkaca-kaca namun menyiratkan keberanian yang terkendali. “Walau aku hanya petani, di masa mudaku aku sering masuk ke hutan untuk berburu. Kau tentu tahu sendiri, Ki Senopati... di hutan Wengker ini, terkadang kita bertemu dengan pemburu lain dan terjadi perselisihan yang tak diinginkan. Luka seperti ini bukan hal asing bagi kami yang hidup berdampingan dengan liar.”

​Jayantaka terdiam sejenak, menimbang kebenaran di balik alasan itu. Sebuah kilah yang cerdas, pikirnya. “Ah, kau benar, Nyai. Segalanya bisa terjadi di hutan. Namun, caraku memang berbeda—cepat dan tuntas. Sekarang, bukalah baju suamimu. Aku akan mengobatinya dengan serbuk obat dari kota raja.”

​Sebenarnya, Ki Bagaskara memiliki ramuan obat sendiri yang jauh lebih ampuh di dalam rumahnya, namun ia tak akan sebodoh itu untuk mengeluarkannya sekarang.

​Nyai Lodra ragu sejenak, ia melempar pandangan rahasia ke arah suaminya. Ada satu kekhawatiran yang tersisa: bekas rajah (tato) kuno di punggung kanan Bagaskara. Rajah itu dulunya adalah identitas posisi tertinggi mereka di klan. Namun, untungnya, jejak itu telah lama dihapus secara brutal dengan cara dibakar, menyisakan jaringan parut yang tak beraturan—seolah-olah itu hanyalah bekas luka bakar akibat kecelakaan di masa lalu.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Nyai Lodra mulai menyibak kain lurik suaminya, membiarkan mata sang Senopati menatap langsung ke kulit yang penuh rahasia itu.

1
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
saniscara patriawuha.
gasssss polllll
saniscara patriawuha.
🫰🫰🫰🫰🫰
saniscara patriawuha.
gasssdd...
saniscara patriawuha.
gassssss polllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!