NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Riuh rendah suara bas dari pelantang suara raksasa berdentum, menggetarkan permukaan tanah di halaman utama fakultas DKV sore itu. Kota Bandung yang biasanya dingin, kali ini terasa hangat oleh energi ratusan mahasiswa yang memadati festival tahunan kampus. Stan-stan pameran berjejer rapi di bawah naungan tenda kanvas putih, dihiasi lampu-lampu tumblr yang mulai berpijar kuning keemasan menyambut senja.

Di salah satu sudut yang cukup strategis, Zivara Arthea duduk tenang di balik meja kayunya. Bersama Dina, sahabat dekatnya, mereka membuka stan jasa menggambar wajah berkonsep karikatur cepat. Jemari tangan kiri Zivara bergerak begitu lincah di atas kertas sketsa tebal, menggoreskan sebatang arang karbon dengan ritme yang stabil.

"Vara, antrean kita semakin panjang saja! Aku sampai kewalahan merapikan uang kembalian," bisik Dina setengah berteriak, mencoba mengalahkan suara musik latar festival yang kian membumbung tinggi.

Zivara hanya tersenyum tipis, sebuah guratan senyum anggun yang menyimpan ketenangan luar biasa. Kepalanya mengangguk pelan tanpa menghentikan gerakan tangannya. Di balik penampilan kasualnya yang mengenakan kemeja denim longgar dan rambut yang digulung asal, isi kepala Zivara bekerja jauh lebih cepat daripada coretan pensilnya. Jiwa dewasanya yang berusia tiga puluh tahun sama sekali tidak terdistraksi oleh kemeriahan semu di sekelilingnya. Ia tahu benar, di balik gemerlap lampu panggung pentas seni yang sedang dipersiapkan di ujung lapangan, ada badai yang sengaja dirancang untuk menghancurkannya.

Beberapa puluh meter dari stan karikatur, Kaizar Ravindra berdiri di tengah barisan panitia inti. Sebagai ketua pelaksana festival, penampilannya sore itu terlihat sangat karismatik dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya yang tegas tampak kaku, sesekali memberikan instruksi dingin kepada penanggung jawab panggung lewat handy talky di genggamannya.

Sorot mata elang Kaizar bergerak dinamis. Di antara kesibukan mengecek tata lampu dan sistem suara panggung, pandangannya selalu kembali terkunci pada siluet Zivara di kejauhan. Lengan kanannya masih terasa sedikit linu di balik pakaiannya, tetapi rasa cemasnya jauh lebih mendominasi. Ia tahu festival ini adalah momen krusial, tempat di mana banyak mata memandang, sekaligus tempat paling rawan bagi seseorang untuk menyelinap ke dalam kegelapan.

Kontras yang tajam mulai terbangun seiring matahari yang tenggelam di balik bangunan bioskop kampus. Panggung utama menyala megah, menembakkan sorot lampu moving beam berwarna ungu dan biru yang membelah langit malam Bandung. Ribuan pasang mata tertuju pada penampilan band pembuka, menciptakan sorak-sorai yang memekakkan telinga.

Sementara di area koridor belakang gedung teater yang remang-remang, Luna berdiri mengendap-endap di balik pilar beton. Sepasang matanya menatap tajam ke arah gelas kertas berisi minuman boba matcha yang baru saja dibelinya dari salah satu stan kuliner. Tangan Luna bergetar pelan saat mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari dalam saku tasnya. Di dalamnya terdapat cairan bening—obat afrodisiak dosis tinggi yang sengaja ia beli lewat jaringan gelap Adrian.

Luna tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh kebencian yang merusak paras cantiknya. Rencananya sudah matang dan sangat rapi. Ia akan meminta seorang mahasiswa baru untuk mengantarkan minuman yang telah diberi obat ini kepada Zivara sebagai hadiah dari penggemar karikaturnya. Setelah obat itu bereaksi dan membuat Zivara kehilangan kesadaran serta kendali tubuhnya, beberapa preman bayaran yang sudah disiapkan Adrian di area gudang genset belakang kampus akan mengambil alih. Malam ini, Luna ingin memastikan nama baik anak tunggal diplomat itu hancur lebur di bawah kaki semua orang.

Luna menuangkan cairan itu seluruhnya ke dalam gelas, lalu memasang kembali sedotan plastiknya dengan hati-hati. Ia berbalik, bersiap mencari mangsa untuk mengantarkan minuman tersebut.

"Mencari seseorang untuk mengantarkan itu, Luna?" sebuah suara bariton yang dingin dan sangat familier mendadak terdengar dari arah kegelapan koridor.

Luna tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Ia menoleh patah-patah, mendapati Zivara berdiri di sana, bersandar pada dinding semen dengan kedua tangan bersedekap di dada. Pencahayaan temaram dari sisa lampu jalan membuat siluet Zivara tampak begitu mengintimidasi, jauh dari kesan gadis pemalu berusia delapan belas tahun yang biasa Luna tindas.

Zivara melangkah maju perlahan, ketukan sepatunya di atas lantai beton terdengar begitu konstan dan menekan mental. Menggunakan seluruh pengetahuan dari masa depannya tentang cara kerja licik Luna, Zivara sengaja membiarkan dirinya menjadi umpan sejak awal sore demi bisa memutarbalikkan jebakan ini dengan caranya sendiri.

"Z-Zivara... sejak kapan kamu ada di sini?" gagap Luna, mencoba menyembunyikan gelas di balik punggungnya dengan gerakan panik.

"Sejak kamu membuka saku tasmu," jawab Zivara datar, tanpa ada sedikit pun getaran ketakutan di wajahnya. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Luna. "Kamu tidak pernah berubah, selalu menggunakan metode murahan yang sama untuk menyingkirkan orang yang tidak kamu sukai."

Luna mencoba membangun kembali keberaniannya, rahangnya mengeras. "Jangan asal bicara ya! Aku tidak melakukan apa-apa!"

"Oh, ya?" Zivara tersenyum meremehkan, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Layar ponsel itu menampilkan rekaman video berdurasi penuh yang baru saja diambil oleh Dina dari sudut atas pilar—menampilkan dengan sangat jelas detik-detik saat Luna memasukkan obat tersebut ke dalam gelas.

Wajah Luna seketika berubah pucat pasi, seluruh persendian tubuhnya terasa lemas.

"Aku punya dua pilihan untukmu malam ini, Luna," bisik Zivara, suaranya terdengar sangat anggun namun menyimpan ancaman yang mematikan bagi masa depan Luna. "Pilihan pertama, aku menekan tombol kirim dan video ini akan langsung sampai ke ponsel dekan fakultas, serta akun resmi kepolisian Bandung dalam waktu tiga detik."

Zivara maju satu jengkal lagi, menatap langsung ke dalam manik mata Luna yang kini dipenuhi rasa ketakutan yang masif. "Atau pilihan kedua... kamu sendiri yang meminum seluruh isi gelas ini sekarang juga, lalu silakan nikmati malam indahmu bersama preman-preman yang sudah kamu sewa di belakang gudang genset."

Luna gemetar hebat, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Air mata keputusasaan mulai menetes di pipinya saat ia menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam sarang serigala yang ia gali sendiri. Tangannya yang memegang gelas kertas itu semakin goyah.

Tepat pada detik menegangkan itu, langkah kaki berat berderap cepat mendekati koridor sepi mereka. Kaizar muncul dari balik belokan dengan napas terengah-engah, memegang handy talky-nya yang masih menyala. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di tangan Luna dan ponsel di tangan Zivara.

Sebelum Kaizar sempat mengeluarkan suara untuk menenangkan situasi, Adrian tiba-tiba melompat keluar dari balik pintu darurat di ujung koridor, langsung mencengkeram kasar pergelangan tangan Zivara dan merebut ponselnya. Namun, gerakan Adrian yang terlalu agresif membuat tubuh Zivara terdorong keras ke arah pembatas koridor yang langsung runtuh karena rapuh. Tubuh Zivara limbung, melayang jatuh ke arah kegelapan lantai bawah panggung utama yang dipenuhi kabel tegangan tinggi, tepat di saat lampu panggung utama meledak mengeluarkan percikan api besar yang memicu jeritan histeris dari seluruh area festival.

***

1
nur
dobel up thor 😄
nur
akn berlbuh kmna dua orng ini dgn msa lalunya
Anonim
yang penting GANTENG lu aman .. mau red Flag juga asal GANTENG gak Masalah
nur
emg bner2 sush lari dari masa lalu kayaknya
,udh ke luar negri dlu vara
falea sezi
lanjut entah masih g rela aja balik ke kaisar karena dia di masa lalu jahat oon 😒
Crazy_Girls: setuju 😭
total 1 replies
falea sezi
🤣 orang kaya woy kasih lah anak gadis muda bodyguard bayangan😒 miskin kali. ya kau bapak nyewa orang buat jaga anak gadis kau tak bisa😕
falea sezi
pantes di benci laki. laknat semoga g balik ya thor😒
Sri Murtini
bermainlah yang sportif
Sri Murtini
bersiaplah luna ini pertunjukan blm dimulai baru pemanasan
🤣🤣🤣
Soraya
alurnya bikin bingung🤔
Soraya
mampir thor
Sri Murtini
takdir mempertemukan zivara dg kaisar
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!