Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Fondasi yang Mengakar
Langkah kaki Andra Bayu bergema tegas di atas koridor lantai 17 Apex Media pada keesokan paginya. Kemeja katun premium berwarna biru navy yang melekat di tubuh tegapnya tampak rapi, menyembunyikan sepenuhnya jejak-jejak pergolakan gairah panas di atas meja rapat jati belasan jam yang lalu.
Statusnya memang masih seumur jagung di perusahaan ini, namun pagi ini, aura yang dipancarkan Andra telah berubah total. Tatapan matanya yang hitam kini memiliki fokus yang dingin dan tajam—sebuah transformasi insting maskulin yang lahir karena keharusan untuk melindungi Nadia dari ancaman Gunawan.
Di tangannya, Andra mendekap draf kontrak kosmetik miliaran rupiah yang telah ditandatangani. Misi pagi ini hanya satu: membawa berkas ini ke Menara SCBD dan memastikan Diana mengesahkan klausul pembayaran termin pertama tanpa celah.
Sebelum melangkah ke lift, Andra melewati ruangan Managing Director. Pintu kaca itu sedikit terbuka. Di dalam, Nadia sedang duduk di balik meja kerjanya dengan setelan blazer formal. Wajahnya tidak lagi sepucat kemarin. Saat pandangan mereka bertemu melewati celah pintu, ada binar keintiman yang mendalam dan penuh rahasia di mata Nadia—sebuah tatapan dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh raga dan kerapuhannya pasrah di bawah kuasa Andra. Nadia memberikan anggukan kecil, sebuah isyarat kepercayaan penuh bagi asisten pribadinya itu.
Pukul sepuluh pagi, Andra sudah berdiri di lantai 22 Menara Kasa SCBD. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini Andra melangkah masuk ke dalam Divisi Hukum dengan kepala tegak.
Ketika pintu ruang kerja Direktur Hukum terbuka, Diana sedang berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit Jakarta. Wanita matang itu mengenakan blus sutra ketat berwarna krem yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang, dipadukan dengan rok span hitam belahan tinggi.
(Kamu datang lebih cepat dari yang kukira, Andra Bayu,) ucap Diana, membalikkan badannya perlahan.
Diana melepaskan kacamata berbingkai tipisnya, lalu melangkah mendekati Andra dengan senyuman misterius yang sarat akan dominasi. Aroma parfum kayu cendana yang mewah langsung menyergap indra penciuman Andra.
(Saya kemari untuk memohon pengesahan formal terkait jadwal pembayaran termin pertama, Ibu Diana. Agar tim produksi di Apex Media bisa segera bergerak,) ujar Andra dengan nada bariton yang rendah, menyerahkan map di tangannya.
Diana menerima map tersebut, namun jemari lenturnya sengaja bergeser, mengusap punggung tangan Andra dengan gerakan lambat yang disengaja. Mata elang Diana menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Andra, mencoba membaca pergolakan batin pemuda di hadapannya.
(Urusan kertas ini sangat mudah, Andra. Aku bisa menyelesaikannya dalam waktu lima menit,) bisik Diana, suaranya merendah, parau dan penuh godaan. Ia berjalan memutari tubuh Andra, seolah mengunci pergerakan pria muda itu. (Aku dengar Gunawan mengamuk hebat kemarin di ruang rapatmu. Nadia pasti ketakutan setengah mati, bukan?)
Diana berhenti tepat di depan dada Andra, mendongak menatap rahang tegas Andra yang mengencang. Tangan Diana naik, merapikan kerah kemeja Andra dengan gerakan yang sangat intim, sementara tubuh bagian depannya sengaja ditekan tipis ke dada bidang Andra.
(Nadia terlalu lemah untuk melindungimu dari hiu seperti Gunawan, Andra. Pernikahan mereka mengikat kakinya. Tapi aku... aku tidak memiliki batasan itu di gedung ini. Jika kamu bersedia memberikan apa yang aku inginkan, aku bisa menjamin kariermu melesat tanpa perlu takut pada ancaman siapa pun,) lanjut Diana, tatapannya beralih ke bibir tebal Andra, memberikan tawaran perlindungan hukum yang sudah bergeser menjadi gairah yang agresif.
Andra merasakan detak jantungnya kembali berpacu. Godaan Diana berbeda dengan Nadia yang pasrah; Diana menggoda dengan otoritas dan kendali penuh yang menuntut ketundukan fisik. Namun, mengingat janjinya pada Nadia di ruang rapat kemarin, Andra mundur satu langkah dengan sopan, menjaga jarak profesionalnya.
(Saya sangat menghargai kebaikan dan perlindungan dari Anda, Ibu Diana. Namun, fokus saya saat ini adalah membuktikan tanggung jawab saya atas proyek ini,) jawab Andra, suaranya tetap stabil dan jantan.
Diana menaikkan satu alisnya, tampak sedikit kecewa namun di saat yang sama justru semakin terangsang oleh penolakan halus Andra. Pria murni yang tulus seperti ini justru membuat hasrat berkuasanya meledak.
(Baiklah... kita mainkan sesuai aturanmu untuk saat ini, Andra Bayu,) ucap Diana dengan senyuman tipis yang penuh arti. Ia kembali ke mejanya, membubuhkan paraf hukum penjaminan modal, lalu menyerahkan berkas itu kembali. (Dana termin pertama akan cair sore ini. Tapi ingat, ini baru awal dari satu tahun kontrak kita. Kita akan sangat sering bertemu setelah ini.)
Satu Tahun Kemudian...
Waktu bergulir bagaikan roda yang berputar cepat di atas aspal panas Jakarta. Dua belas bulan telah berlalu sejak badai konfrontasi di ruang rapat Apex Media. Proyek kosmetik raksasa yang sempat menjadi medan pertempuran itu sukses besar di pasaran, mencetak angka keuntungan yang fantastis bagi para investor SCBD.
Dampak dari kesuksesan itu mengubah total garis takdir seorang Andra Bayu.
Di bawah langit Jakarta yang temaram pada jam pulang kantor, sebuah mobil sedan eksekutif berwarna hitam metalik meluncur mulus keluar dari area parkir bawah tanah Menara SCBD. Di balik kemudi, duduk Andra Bayu.
Ia tidak lagi mengendarai motor bebek tua yang kerap mogok jika diguyur hujan. Penghasilannya sebagai Account Executive utama yang memegang bonus persentase proyek miliaran telah mengubahnya menjadi pria mapan. Kemeja yang dikenakannya kini adalah setelan pesanan khusus yang melekat sempurna di tubuhnya yang kian tegap dan berisi. Wajah sawo matangnya kini memancarkan karisma pria matang kota besar yang tenang, berwibawa, namun guratan ketulusan di matanya tetap tidak terkikis oleh gemerlap kemewahan.
Selama satu tahun ini, Gunawan terpaksa mundur dan gigit jari di Bali. Kekuatan hukum dari draf kontrak Diana, ditambah dengan performa kerja Andra yang tanpa cacat, membuat Gunawan tidak memiliki alasan legal sedikit pun untuk menyentuh posisi Andra di Apex Media, meskipun kebencian dan dendam di dada pria tua itu justru kian menggunung, menanti waktu yang tepat untuk meledak.
Namun, kemapanan yang diraih Andra harus dibayar dengan harga yang sangat mahal bagi batinnya.
Selama satu tahun ini pula, hubungan rahasianya dengan Nadia telah mengakar sangat jauh. Apartemen mewah di Kebayoran Baru telah menjadi saksi bisu ritual intim yang rutin dan semakin berani di antara mereka. Nadia, yang kini semakin ketergantungan secara fisik dan emosional, telah menyerahkan seluruh hidupnya di atas ranjang sutra kepada Andra, menjadikan pelukan kekar pemuda itu sebagai satu-satunya surga pelarian dari ketakutan akan suaminya.
Di sisi lain, Diana tidak lagi bermain di balik bayangan. Satu tahun melihat transformasi Andra yang kian rupawan dan gagah membuat sang Direktur Hukum kehilangan sisa kesabarannya. Kode-kode hukum yang dulu digunakannya kini telah berubah menjadi tindakan agresif yang terang-terangan. Diana mulai menggunakan wewenang jabatannya untuk mengunci Andra di ruang kerjanya yang sepi, menuntut keintiman fisik yang kian berani sebagai bayaran atas perlindungan hukum yang selama ini ia berikan.
Andra Bayu kini berada di puncak kariernya, mengendarai mobil mewahnya membelah kemacetan SCBD. Namun di dalam dadanya, hatinya yang tulus terus bergolak hebat. Ia menyadari, dirinya kini telah sepenuhnya terikat dalam pusaran gairah terlarang dua wanita paling berkuasa di gedung itu.
Dan tepat ketika mobilnya berhenti di lampu merah, telepon genggam layar sentuh terbaru miliknya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Diana:
“Andra, draf audit tahunan sudah selesai. Datang ke ruanganku malam ini setelah seluruh staf pulang. Pintu sudah kukunci dari dalam, dan aku tidak menerima alasan penolakan kali ini.”
Andra menarik napas panjang, mencengkeram kemudi mobilnya dengan erat. Pusaran godaan ini telah mencapai titik didihnya, dan satu tahun masa tenang bersama Nadia tampaknya akan segera diguncang oleh badai gairah yang jauh lebih liar dan vulgar.