Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK DATANG
ARMILA
Awalnya hanya membeli pakaian Affan. Namanya mata lihat barang bagus jadi jelalatan. Aku mampir ke berbagai counter di pusat perbelanjaan ini. Akhirnya beli juga barang yang menggoda isi rekening.
Ketika tangan ini menyentuh satu tas branded, pikiranku tiba-tiba tersadar.
Saat ini harus menghemat pengeluaran sebab prioritas biaya hidup setelah cerai. Bukankah aku akan pergi jauh dan tak lagi ada akses harta.
"Tasnya elegan, cocok untukmu!"
Aku sontak berpaling pada seseorang yang tiba-tiba bersuara. Jelas kaget sebab yang sekarang ada di sampingku adalah dokter Reiga.
"Kak Reiga sedang belanja juga?"
"Iya, maklumlah hidup sendiri jadi apa -apa sendiri!"
Kutanggapi jawabannya dengan senyuman. Ucapan itu kukhawatirkan memiliki makna lebih dari arti lafaznya.
"Gak jadi ambil tasnya?"
"Gak, di rumah masih banyak yang belum terpakai juga."
Pria itu terdiam sebentar, lalu mengambil tas yang telah kusimpan lagi di tempatnya.
"Ingat, gak dulu aku pernah membuat tasmu berlubang. Aku mau ganti, tapi belum sempat beli waktu itu. Nah, ini saja yang jadi gantinya!"
Aku menatap lelaki yang tengah menyodorkan tas itu. Ia menganggukkan kepala sambil menarik dua garis bibirnya.
"Itu'kan gak sengaja, jadi gak usah diganti. Lagipula tas biasa saja."
Aku tak enak kejadian masa lalu dijadikan alasan oleh lelaki ini untuk memberi hadiah. Modusnya bisa kutangkap dengan mudah meski berlindung atas nama mengganti barang.
"Mengganti itu memang bagusnya lebih baik dari barang yang dirusak. Nah, ayo terima, biar aku lega gak kepikiran terus!"
Aku kukuh menolak pemberiannya. Dia bersikeras ingin memberinya. Jadilah kami saling adu debat sampai diputuskan tas itu disimpan kembali di tempatnya.
"Ya, sudahlah aku lagi yang mengalah. Kamu belum berubah ternyata!"
"Belum berubah apanya? Aku udah ibu -ibu, loh!"
"Iya, Iya kamu ibu-ibu, aku bapak-bapak!"
Kami jadi tertawa bersama. Memang dari dulu kak Reiga suka mencandaiku, sekarang pun suka. Tapi lebih dikendalikan sebab paham kedudukanku.
"Mau minum dulu?"
"Kayaknya enggak, deh. Udah lama pergi soalnya, kasihan Affan ditinggal dari tadi."
"Kayaknya masuk mall belum lama, deh. Hmm, kok bilang lama. Jadi aku ganggu, nih?"
"Bukan gitu, tadi habis dari pengadilan agama-!"
Aku menutup mulut sebab keceplosan bicara. Kutepuk sepasang bibir ini dengan telapak tangan. Lalu, memalingkan wajah dari lelaki yang bola matanya melebar.
Emmm, anggap saja aku gak bicara itu. Tolong diskip. Maaf, aku pulang duluan, ya!"
Aku meninggalkan pria yang pasti di kepalanya sedang banyak pertanyaan. Hati ini benar-benar tak enak akibat ucapan itu. Semoga kak Reiga tak mengorek-ngorek keterangan lanjutannya.
Untunglah pria itu tak mengikuti langkahku. Entah karena keperluannya belum beres atau memang tak mau mengusik temannya ini,
*
Pada sidang mediasi mas Andra tak datang. Maka sidang ini hanya diwakili kuasa hukumnya. Sementara aku datang dan didampingi kuasa hukum juga.
Aku mengatakan alasan gugatan ini adalah perselisihan terus menerus sejak suami menikah lagi. Juga teror dan ancaman istri kedua yang menimbulkan ketidaktenangan hidup.
Kusampaikan beberapa kelakuan buruk Resti dan kelemahan mas Andra dalam menindak kejahatan tersebut.
Semua itu membuat kehidupanku dalam ketakutan dan kesengsaraan.
Aku pun mengatakan tak sanggup lagi hidup bersama lelaki yang tak bisa bersikap adil. Tidak bisa melindungi istrinya dari fitnah dan keburukan istri keduanya.
Karena alasan yang kusampaikan logis dan kukuh tak mau damai, mediasi dianggap gagal. Hasilnya sidang gugatan akan bisa dilaksanakan minggu depan.
Selesai sidang, aku langsung pulang. Namun, sesampainya di teras rumah, aku tak bisa masuk dulu sebab ada kak Reiga di sana. Ia terlihat asyik menggendong Affan.
"Kata bi Cicah, Affan rewel, aku periksa tadi. Kebetulan hari ini aku tak ke rumah sakit. Kurang enak badan," terang dokter Reiga sebelum aku bertanya. Mungkin ia tak ingin ada ketidakenakan sebab dirinya ada di sini.
"Oh, iya terima kasih, Kak. Maaf merepotkan!"
Aku mengambil Affan dari pangkuannya. Saat itulah wajahku jadi sangat dekat dengannya. Beberapa saat, baru sadar ternyata mata pria itu menatap sangat lekat padaku.
"Aku masuk dulu, terima kasih sekali lagi!"
"Aku mendukung apapun keputusanmu. Lebih baik melepaskan apa yang hanya mampu menciptakan derita pada hidup kita!"
Sejeda langkahku terhenti, aku menengok sebentar, lalu berkata.
"Terima kasih!"
"Aku pernah berada di posisimu.
Jangan ragu untuk melaju. Lepas dari dunia toxic membuat kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sempat hilang!"
*
Pada sidang kedua pun mas Andra tak datang. Entah apalagi alasannya. Apa sama dengan yang pertama, yaitu kerampokkan.
Terserahlah, aku tak peduli. Yang pasti sidang ini akan terus kujalani berapa lama pun itu. Satu yang kuinginkan adalah perpisahan. Aku tak bisa lagi hidup dengan lelaki yang bisa berjanji, tapi tak pernah sanggup menepati.
Keesokan harinya mas Andra menghubungiku. Katanya tak bisa datang karena rem mobilnya blong. Ia menabrak badan jalan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.
Untunglah luka nya tak parah, tapi tetap belum bisa ke mana-mana.
"Polisi sudah menangkap perampok yang merampokku. Katanya disuruh olehmu. Mereka hanya pura-pura merampok agar aku tak datang ke sidang. Apakah rem blong juga ulah orang suruhanmu? Jawab Armila!"
Astagfirullah, fitnah apalagi ini?