Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Tengah Pesta
Lantai dansa yang tadinya terasa seperti panggung mimpi, mendadak berubah jadi lantai eksekusi. Jantungku rasanya berhenti berdetak saat melihat barisan notifikasi di layar ponsel yang menyembul dari tas kecilku. Viral di Twitter. Nama keluarga Wijaya terseret. Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. Bagaimana mungkin? Aku sudah sangat berhati-hati menyamarkan semuanya, tapi internet memang tempat yang mengerikan untuk menyimpan rahasia.
"Nara? Kamu mendengarku?" Suara Clara yang melengking menarikku kembali ke realita yang tidak kalah menakutkan.
Wanita itu masih berdiri di depanku, memegang gelas sampanye dengan keanggunan yang mengancam. Matanya yang tajam menelisik wajahku yang mungkin sudah sepucat kertas. Di sampingku, Bimo masih menggenggam lenganku, tapi aku bisa merasakan otot lengannya menegang. Dia pasti menyadari ada yang salah denganku.
"Maaf, Clara. Nara sedikit kurang enak badan. Kami permisi sebentar," ucap Bimo dingin. Suaranya tidak meninggalkan ruang untuk perdebatan.
Bimo menarikku menjauh dari kerumunan, membawa langkahku menuju area balkon yang lebih sepi. Begitu udara malam yang dingin menerpa wajahku, Bimo langsung melepaskan genggamannya dan berbalik menatapku. Matanya yang gelap seolah ingin menguliti setiap rahasia yang aku simpan.
"Ada apa? Kamu gemetar sejak melihat ponselmu," tuntutnya. Suaranya rendah tapi penuh tekanan.
Aku menarik napas panjang, mencoba mencari oksigen di tengah rasa sesak yang menghimpit. "Bimo... ini gawat. Novelku... ada yang menghubungkannya dengan keluargamu."
Bimo terdiam sejenak. Keheningan di antara kami terasa sangat berat, hanya suara musik klasik dari dalam aula yang terdengar samar-samar. "Maksudmu?"
Aku menyodorkan ponselku dengan tangan gemetar. "Lihat ini. Ada akun anonim yang membedah setiap detail di novelku dan mencocokkannya dengan profil keluarga Wijaya. Mereka bahkan mulai membahas tentang... kakekmu."
Bimo menyambar ponselku. Aku melihat matanya bergerak cepat membaca barisan kata di layar. Rahangnya mengeras. Aura di sekitarnya mendadak berubah jadi sangat mencekam, jauh lebih menyeramkan daripada saat dia mengancamku di kafe pertama kali.
"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak membuat masalah?" desisnya. "Aku sudah memperingatkanmu, Nara. Nama baik keluargaku bukan mainan untuk bahan tulisan picisanmu!"
"Aku sudah menyamarkannya, Bimo! Aku nggak pakai nama asli, nggak pakai lokasi asli!" belaku dengan suara parau. "Ada orang yang sengaja membocorkannya. Ada yang tahu kalau aku tinggal di rumahmu!"
Pikiranku langsung tertuju pada satu nama: Panji. Asisten pribadi yang semalam memeras buku catatanku. Tapi sebelum aku sempat mengucapkannya, pintu balkon terbuka. Panji muncul di sana dengan wajah yang—untuk pertama kalinya—kelihatan panik.
"Pak Bimo, kita harus pergi sekarang. Kakek sudah melihat beritanya. Beliau sangat marah dan meminta Bapak segera menemuinya di ruang privat hotel," lapor Panji cepat. Matanya sempat melirikku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara puas dan waspada.
Bimo mengembalikan ponselku dengan kasar. "Masuk ke mobil. Panji, bawa dia pulang dan pastikan dia tidak menyentuh internet sampai aku kembali."
"Bimo, aku bisa jelasin—"
"Diam, Nara!" Bimo memotong kalimatku dengan bentakan yang membuatku bungkam seketika. "Kamu sudah menghancurkan lebih dari sekadar kontrak malam ini. Pulang."
Aku tidak punya pilihan selain mengikuti Panji. Sepanjang jalan menuju parkiran, aku merasa semua orang di pesta itu sedang menatapku dan berbisik-bisik. Rasanya memuakkan. Masuk ke dalam mobil, suasana jadi sangat sunyi. Panji menyetir dengan tenang, terlalu tenang untuk orang yang baru saja memicu ledakan besar.
"Puas, Mas?" tanyaku sinis saat kami sudah berada di jalan raya.
Panji melirikku lewat spion tengah. "Puas untuk apa, Nona?"
"Nggak usah akting. Mas kan yang membocorkan akun novelku ke Twitter? Biar harga rahasiaku naik? Atau biar aku diusir sama Bimo?"
Panji tertawa kecil, suara yang paling kubenci saat ini. "Nona Nara terlalu banyak baca fiksi. Saya memang suka uang, tapi saya tidak sebodoh itu untuk menghancurkan reputasi keluarga Wijaya demi uang receh. Kalau reputasi Pak Bimo hancur, saya juga kehilangan pekerjaan mewah saya. Pikirkan itu."
Aku terdiam. Kalau bukan Panji, lalu siapa? Clara? Atau mungkin ada orang lain di rumah itu yang diam-diam mengawasiku?
Begitu sampai di rumah, Panji benar-benar menjalankan perintah Bimo. Dia menyita ponselku dan memintaku tinggal di kamar. "Ini demi keamanan Nona juga. Di luar sana, netizen sedang berusaha mencari tahu siapa sosok 'Nara' yang sebenarnya."
Aku mengunci diri di kamar. Tanpa ponsel, tanpa laptop, aku merasa lumpuh. Aku mondar-mandir di kamar yang luasnya sekarang terasa seperti sel penjara. Pikiranku melayang pada proyek novelku yang sedang viral itu. Di satu sisi, sebagai penulis, aku seharusnya senang karena ceritaku meledak. Tapi di sisi lain, aku tahu ini adalah awal dari kehancuranku.
Target 85 bab yang aku rancang... mungkinkah ceritanya akan berakhir lebih cepat? Di bab 4 ini saja, aku sudah berada di ujung tanduk.
Tengah malam, aku mendengar suara mobil masuk ke halaman. Itu pasti Bimo. Aku menunggu dengan jantung berdebar, berharap dia akan mengetuk pintu penghubung kami. Benar saja, beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka dengan kasar.
Bimo berdiri di sana. Rambutnya berantakan, dasinya sudah lepas, dan dia terlihat sangat lelah sekaligus murka. Dia melemparkan sebuah map ke atas tempat tidurku.
"Apa ini?" tanyaku pelan.
"Surat pernyataan pembatalan kontrak dan tuntutan hukum atas pelanggaran privasi," jawabnya dengan suara yang sangat dingin hingga membuatku menggigil. "Kakek memintaku untuk menyingkirkanmu secepat mungkin. Kamu punya waktu sampai besok pagi untuk mengemasi barang-barangmu."
Rasa panas menjalar di mataku. "Bimo, dengar dulu. Aku benar-benar nggak bermaksud—"
"Aku tidak peduli dengan maksudmu, Nara! Faktanya, saham perusahaan turun tiga persen malam ini gara-gara gosip 'pernikahan kontrak' yang kamu tulis itu viral. Orang-orang mulai meragukan integritasku sebagai pemimpin!" Bimo mendekat, mencengkeram bahuku dan memaksaku menatap matanya. "Kamu tahu apa yang paling menyedihkan? Aku sempat berpikir kalau kamu berbeda. Aku sempat berpikir kalau mungkin... aku bisa mempercayaimu."
Kalimat terakhir itu seperti sembilu yang menyayat hatiku. Ada rasa sakit yang nyata di mata Bimo, bukan cuma kemarahan.
"Aku tidak membocorkannya, Bimo. Sumpah," bisikku, air mata mulai jatuh di pipiku. "Aku memang menulis tentang kita, tapi aku menyimpannya dengan sangat rahasia. Ada orang lain yang sengaja melakukan ini."
Bimo melepaskan cengkeramannya. Dia membelakangiku, menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota. "Siapa pun orangnya, nasi sudah jadi bubur. Kamu harus pergi."
"Beri aku waktu dua puluh empat jam," pintaku nekat. "Aku akan cari tahu siapa yang melakukannya. Kalau aku bisa membuktikan itu bukan aku yang membocorkannya, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya."
Bimo tertawa getir tanpa berbalik. "Memperbaikinya? Bagaimana?"
"Aku akan buat pengakuan di akunku. Aku akan bilang kalau ceritaku murni fiksi dan kemiripannya hanya kebetulan. Aku akan mengalihkan opini publik. Aku penulis, Bimo. Aku tahu caranya memutarbalikkan narasi."
Bimo terdiam cukup lama. Dia berbalik, menatapku dengan pandangan ragu. "Dua puluh empat jam. Jika besok malam kamu tidak punya bukti dan narasi itu tidak berubah, aku sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi."
Dia keluar dan membanting pintu penghubung. Aku terduduk di lantai, menangis sesenggukan. Aku hanya punya waktu satu hari untuk menyelamatkan hidupku, karierku, dan mungkin... satu-satunya pria yang diam-diam mulai aku pedulikan meskipun dia menyebutku orang asing yang mudah dibuang.
Aku segera berdiri, mengusap air mataku. Aku butuh ponselku kembali. Dan satu-satunya cara adalah menghadap Panji. Tapi saat aku hendak keluar kamar, aku melihat secarik kertas terselip di bawah pintu utama kamarku.
Aku mengambilnya dan membacanya.
'Cek CCTV di ruang perpustakaan jam 10 malam kemarin. Ada tamu yang tidak kamu duga.'
Tanpa nama. Tanpa identitas.
Siapa yang mengirim ini? Apakah ada sekutu rahasia di rumah ini, atau ini hanya jebakan lain? Aku meraba buku catatanku yang masih tersisa. Aku harus bergerak cepat sebelum bab 4 ini benar-benar menjadi akhir dari segalanya.
'Permainan baru saja dimulai,' tulisku di secarik kertas sebagai pengingat bagi diriku sendiri. 'Dan kali ini, aku bukan lagi sekadar penulis yang mengamati. Aku adalah pemain utama yang sedang bertaruh nyawa.'
Aku menyelipkan kertas itu di saku gaun biruku yang belum sempat kuganti, lalu melangkah keluar kamar dengan hati yang dipenuhi tekad. Aku akan membuktikan bahwa penulis kecil seperti aku tidak bisa diremehkan begitu saja, bahkan oleh seorang 'Iblis' seperti Bimo.