Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal
BAB 9: O ESCÂNDALO (SKANDAL)
Pagi di Aethelion tidak pernah dimulai dengan ketenangan; ia selalu meledak. Hari itu, fajar baru saja menyingsing ketika layar-layar raksasa di sepanjang Sektor Finansial yang biasanya menampilkan grafik saham, tiba-tiba berubah menjadi lautan tajuk utama yang merah membara. Berita itu merambat seperti api yang disiram bensin, menghancurkan reputasi yang telah dibangun selama puluhan tahun dalam hitungan detik.
“SKANDAL PERDAGANGAN SENJATA ILEGAL: COUNT JULIAN TERHUBUNG DENGAN SINDIKAT SEPARATIS UTARA.”
Video amatir yang diambil secara sembunyi-sembunyi memperlihatkan Julian, yang biasanya tampil dengan keanggunan aristokrat, tampak panik dan berantakan saat dikerubungi oleh puluhan wartawan di lobi hotelnya. Ia mencoba menutupi wajahnya dengan tas kulit mahal, namun kilatan kamera mengejarnya tanpa ampun. Baginya, ini adalah lonceng kematian bagi karier dan status sosialnya. Di balik layar, intelijen Elian telah bekerja dengan presisi bedah, menyebarkan bukti-bukti transfer yang tidak bisa dibantah ke meja-meja redaksi media terbesar di benua itu.
Kemarahan Don Marco
Di kantor puncak gedung De la Vega, suasana jauh lebih mencekam daripada hiruk-pikuk di luar sana. Lyra Selene De la Vega duduk dengan kaki bersilang di balik meja kerjanya yang luas. Ia memegang cangkir kopi hitam, menatap layar televisi dengan tatapan yang dingin namun waspada. Meski hatinya bersorak melihat kehancuran pria yang hampir menjeratnya, ia tahu akting terbaiknya harus segera dimulai.
Pintu kantornya tidak sekadar terbuka; pintu itu dibanting dengan kekuatan yang hampir merusak engselnya. Don Marco De la Vega masuk dengan langkah yang menggetarkan lantai. Wajahnya merah padam, pembuluh darah di pelipisnya berdenyut kencang, dan di tangannya, sebuah tablet digital terus berdering karena panggilan dari dewan komisaris.
"Kau lihat ini, Lyra?!" suara ayahnya menggelegar, memenuhi ruangan yang luas itu. "Keluarga kita! Garis keturunan De la Vega yang suci! Kita hampir saja menjalin aliansi dengan seorang kriminal rendahan! Bajingan Utara itu telah mengkhianati kepercayaan kita!"
Lyra berdiri perlahan, meletakkan kopinya dengan tenang yang tampak seperti ketakutan yang terkontrol. "Ayah, tolong tenanglah. Kesehatanmu.."
"Bagaimana aku bisa tenang?!" Don Marco melemparkan tabletnya ke atas sofa kulit. "Reputasi kita dipertaruhkan! Jika pernikahan ini sempat terjadi, seluruh kerajaan bisnis kita akan terseret ke dalam sel militer bersamanya!"
Lyra menundukkan kepala, memainkan peran putri yang terpukul dengan sempurna. "Aku tidak menyangka, Ayah. Julian tampak begitu meyakinkan... namun, aku harus jujur. Sebenarnya, tim intelijen internal perusahaan yang aku bentuk telah menemukan kejanggalan pada aliran dana pribadinya tadi subuh. Aku merasa ada yang tidak beres, jadi aku segera meneruskan temuan itu kepada otoritas tanpa berkonsultasi lebih dulu karena waktu sangat mendesak."
Don Marco terdiam sejenak. Amarahnya yang meluap perlahan berubah menjadi rasa bangga yang terselubung. Ia menatap putrinya, melihat ketegasan yang selama ini ia harapkan. "Kau yang melaporkannya?"
"Aku harus menyelamatkan De la Vega, Ayah. Itu adalah prioritas tunggal bagi saya," jawab Lyra mantap.
Don Marco menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit meluruh. "Kau menyelamatkan kita dari kehancuran sosial total, Lyra. Perjodohan ini dibatalkan sekarang juga! Aku akan memastikan Julian tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki lagi di kota ini tanpa borgol di tangannya."
Ancaman di Balik Bayangan
Namun, kemenangan Lyra terasa seperti debu yang tertiup angin saat ayahnya meninggalkan ruangan. Sore harinya, sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim diletakkan di atas mejanya. Di dalamnya bukan berkas bisnis, melainkan selembar foto berkualitas tinggi yang diambil dari sudut yang hampir mustahil.
Foto itu memperlihatkan Lyra yang menempel di pagar balkon Villa d'Este, dengan Elian Theron Valerius yang sedang mendekapnya dari belakang. Meski topeng menutupi sebagian wajah mereka, gaun merah unik milik Lyra dan tanda lahir kecil di bahu Elian yang terlihat karena kemejanya yang terbuka adalah bukti yang tak terbantahkan.
Jantung Lyra seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Siapa pun yang memiliki foto ini memiliki kunci untuk menghancurkan mereka berdua sekaligus. Ia segera meraih perangkat komunikasinya yang terenkripsi dan mengirimkan sinyal darurat ke Elian.
"Sektor 0. Darurat."
Pertemuan di Bunker Pribadi
Malam itu, di kediaman resmi Perdana Menteri, Lyra tidak masuk melalui pintu depan. Ia menggunakan lorong bawah tanah yang terhubung dengan sistem bunker intelijen pribadi Elian, sebuah ruangan beton yang kedap suara, dikelilingi oleh layar monitor yang memantau aliran data global secara real-time.
Suasana di bunker itu terasa dingin dan steril. Elian berdiri di tengah ruangan, menatap foto yang sama di atas meja baja. Cahaya biru dari monitor membuat wajahnya tampak semakin seperti pahatan marmer yang kaku. Amarahnya kali ini berbeda; ia tidak meledak, namun terasa seperti badai yang mengendap di bawah permukaan laut.
"Siapa pun yang mengambil foto ini tidak menginginkan uang kita, Lyra," suara Elian terdengar seperti desisan logam yang bergesekan. "Jika mereka menginginkan uang, mereka akan memeras kita secara langsung. Mereka menginginkan kehancuran total. Mereka ingin melihat kita terbakar."
Lyra mondar-mandir di ruangan itu, langkah sepatunya bergema di lantai beton. Rambutnya sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya, topeng "The Iron Rose" benar-benar retak. "Ayahku akan membunuhku jika dia melihat ini, Elian. Dan karier politikmu... pemilihan bulan depan akan menjadi panggung eksekusimu. Kita terjebak."
Elian tiba-tiba berhenti dan melangkah mendekat. Ia tidak menerjang Lyra dengan gairah seperti biasanya. Kali ini, ia menarik Lyra ke dalam pelukannya dengan sangat lembut, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya yang bidang. Ia bisa merasakan tubuh Lyra yang sedikit gemetar karena kecemasan yang luar biasa.
"Dengarkan aku, Lyra," bisik Elian, suaranya kini lebih lembut, penuh otoritas yang menenangkan. Ia mengelus rambut Lyra dengan gerakan yang teratur, mencoba meredam detak jantung wanita itu yang berpacu liar. "Kita tidak akan hancur. Kita tidak akan membiarkan bayangan ini menang."
Lyra mendongak, matanya berkaca-kaca karena tekanan yang mengimpit lehernya. "Bagaimana caranya? Foto itu nyata."
Elian menatap mata Lyra dengan keyakinan yang matang. "Aku sudah memerintahkan unit bayangan intelijen untuk melacak metadata dari foto ini dan melacak asal pengirimannya. Kita punya waktu dua puluh empat jam sebelum mereka melakukan langkah selanjutnya. Sementara itu, aku akan merilis pernyataan mengenai 'serangan siber dan manipulasi gambar' yang dilakukan oleh pendukung separatis Utara sebagai balasan atas penangkapan Julian. Kita akan membuat foto ini terlihat seperti rekayasa musuh negara sebelum mereka sempat menyebarkannya."
Lyra menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang mulai merayapi sistem sarafnya berkat kehadiran Elian. "Lalu bagaimana dengan Isabella? Ayahnya akan semakin agresif jika melihat Julian jatuh."
"Isabella adalah masalah kecil," Elian tersenyum dingin, tangannya masih mendekap pinggul Lyra dengan protektif. "Setelah apa yang terjadi pada Julian, tidak akan ada satu pun orang tua di kota ini yang berani memasangkan anak mereka dengan cepat ke lingkaran kekuasaan yang sedang 'panas'. Kita punya waktu, Lyra. Dan waktu adalah senjata yang paling mematikan jika kita tahu cara menggunakannya."
Malam itu, di dalam bunker yang tersembunyi dari dunia luar, mereka tidak melepaskan hasrat dalam bentuk seksual. Mereka duduk bersama di atas sofa kecil di sudut ruangan, menyusun rencana langkah demi langkah untuk melenyapkan sosok misterius yang memegang kamera itu. Keintiman mereka malam itu adalah keintiman strategis, sebuah persatuan dua pikiran yang paling tajam di Aethelion untuk melawan musuh yang tidak terlihat.
"Kita akan melacak mereka, Lyra," janji Elian seraya mengecup kening Lyra dengan lembut. "Dan ketika kita menemukannya, mereka akan menyesal karena telah mengintip ke dalam kehidupan kita."
Lyra mengangguk, energinya kembali pulih. Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, mereka bertempur dari dalam bayang-bayang yang mematikan.
lanjutkan kak