NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan diruang tamu

...----------------...

Tanpa mereka sadari, pertengkaran itu terdengar hingga ke lantai atas.

Di dalam kamar.

Arka yang sejak tadi tertidur karena kelelahan perlahan membuka matanya.

Keningnya berkerut saat mendengar suara ayah dan ibunya berdebat.

Setelah Arka tiba diruang tamu, ia melihat Laura yang berada di samping ayahnya sedang menunduk. Arka pun langsung menggenggam tangan istrinya.

"ada apa ayah, ibu" ucap Arka sambil menoleh kearah orang tuanya.

"tadi selingkuhan ayah kamu telepon" ucap singkat Rohaya membuat Arka kaget, ia juga heran mengapa Sinta masih berani menghubungi ayahnya

"ada perlu apa perempuan itu telepon ayah?" tanya Arka menoleh kearah ayahnya lalu Arman menjawab.

"dia menagih janjinya lagi dan ingin ayah mengakui Cia secara hukum" Arman menghela nafas panjang lalu ia duduk dikursi dengan tatapan kosong.

"Kenapa baru sekarang? Bukannya masalah seperti itu seharusnya sudah diurus sejak dulu?" kata Arka sambil mengerutkan kening.

Arman terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.

"dulu Sinta memang pernah menyuruh ayah mengurusnya, tapi ayah menolak"

Arka mengernyitkan dahi.

"kenapa?"

"karena ayah ingin mempertahankan keluarga ini" suasana ruang tamu mendadak hening. "ayah pikir masalah itu akan selesai seiring waktu. tapi ternyata tidak" lanjutnya

Arman menghela napas panjang. Tatapannya jatuh ke lantai, seolah sedang mengingat kesalahan yang selama ini berusaha ia lupakan

Rohaya yang sejak tadi terdiam pun akhirnya angkat bicara.

"itu makanya ibu suruh ayah kamu ini segera mengurusnya agar dia tidak mengganggu keluarga ini lagi!" rohaya menoleh kearah arman

Laura yang sejak tadi duduk disamping Arka hanya menundukkan kepala. Ia tidak ikut menyela pembicaraan mereka

Tangannya saling menggenggam diatas pangkuan. Entah mengapa suasana itu membuat dadanya terasa sesak

Ia melirik kearah Arman pelan, wajah pria itu sangat lelah. sementara Rohaya berdiri dengan wajah tegang

Tidak ada lagi kemarahan seperti tadi siang, yang terlihat justru kelelahan karena masalah yang tak kunjung selesai.

Laura kembali menundukkan kepalanya, ia memilih diam karena ia tahu ini bukan tempatnya untuk ikut campur.

Suasana diruang tamu kembali hening, tidak ada yang berbicara.

Arman masih menatap lantai sementara Rohaya berdiri dengan kedua tangan menyilang didada.

tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Semua orang yang ada diruang tamu itu menoleh

Bela yang sejak tadi berada dilantai atas perlahan menghampiri mereka.

Tatapannya bergantian menoleh kearah Arman dan Rohaya. "kalau ayah mengurus pengakuan hukum itu, berarti Cia akan menjadi bagian dari keluarga ini kan?" tanyanya

Suasana yang tadinya tenang berubah jadi tegang dengan pertanyaan itu. Lalu Rohaya menoleh kearah Bela.

"Cia memang anak kandung ayah mu" ucap Rohaya dengan sinis tapi Bela tampak tidak menyangka dengan jawaban itu.

"tapi Bu"

"ibu belum selesai bicara" sahut Rohaya dengan suara tegas. "apa yang dilakukan Sinta dulu, tidak akan pernah ibu lupakan" ia menghela napas panjang.

"tapi Cia tidak pernah minta dilahirkan dalam keadaan seperti ini" lanjutnya

"jadi, ibu menerima mereka?" sahut Bela

"tidak!" jawaban Rohaya membuat semua orang menoleh kearahnya.

"ibu tidak menerima apa yang telah Sinta lakukan, tapi ibu tidak menutup mata bahwa Cia adalah anak kandung ayah kamu" lanjutnya

Tatapan Rohaya berubah menjadi tajam, ia menoleh kearah Arman.

"urus hak anak itu kalau memang perlu, tapi jangan pernah berpikir aku akan menerima perempuan itu sebagai bagian dari keluarga ini!"

lalu ia berbalik badan dan melangkah kearah kamarnya meninggalkan suasana ruang tamu yang mendadak hening.

Sementara Laura menatap Bela dengan kesal. Ia masih tidak habis pikir mengapa Bela tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Rohaya.

Padahal Bela tahu bahwa dialah yang menyuruh Laura pergi ke apotek. Namun wanita itu memilih diam dan membiarkan Laura disalahkan.

Bela yang menyadari tatapan Laura langsung menoleh kearahnya.

"kenapa kamu lihat aku seperti itu?" tanyanya dengan nada tidak senang

Laura pun mengalihkan pandangannya, sementara Arka langsung menoleh kearah Laura.

Bela mendekati Laura dengan langkah perlahan. "jawab. Punya mulut kan"

Laura menggelengkan kepalanya "bukan apa-apa kak cuma ngelihat aja" setelah mengatakan itu, Laura pun mengalihkan pandangannya.

"tidak punya sopan santun ya kamu menatap kakak ipar kamu dengan tatapan sinis" Bela menyipitkan mata

Arka yang sedang duduk disamping Laura pun hanya menghela napas nya, ia merasa lelah dengan drama yang ada dirumah

"kak Bela, Laura juga punya mata jadi dia bebas dong melihat siapa saja" Arka pun angkat bicara membela istrinya

"tapi tatapan istri kamu ini sinis ke kakak kamu!" sontak Bela dengan perasaan kesal

Laura pun berdiri dari tempat duduknya sambil melihat kearah Bela "aku tidak bermaksud apa-apa kak" lalu ia pun menarik tangan arka "Arka sudah larut ayo kita tidur"

Arka dan Laura pun pergi menuju kamarnya meninggalkan Arman dan Bela yang sedang diruang tamu.

Setelah melihat Arka dan Laura menaiki lantai atas, Arman pun berdiri dari duduknya dan melihat kearah Bela

"Bela, kamu mendapatkan foto Laura tadi siang darimana?" tanya Arman dengan perlahan agar Bela tidak tersinggung dengan pertanyaannya

"kenapa memangnya yah? Kok ayah jadi ikut campur gitu sih?" Bela kesal sambil mengepalkan tangannya

"bagaimana tidak ikut campur? Laura sudah jadi bagian dari keluarga ini Bel, jadi kalau ada apa-apa sama Laura, ayah harus ikut campur" Arman menjelaskannya dengan pelan

"tapi anak ayah itu aku bukan Laura" sahut Bela sambil menatap mata ayahnya lalu Bela pun bergegas pergi sebelum ayahnya mulai mencurigainya lagi

Arman hanya bisa menatap punggung putrinya hingga menghilang dari pandangannya. Lalu ia pun langsung menyusul Rohaya yang sudah berada dikamarnya.

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, Tidak ada lagi suara perdebatan di ruang tamu. Hanya kesunyian yang memenuhi setiap sudut rumah.

Namun di balik keheningan itu, masing-masing orang menyimpan pikirannya sendiri.

Arman memikirkan kesalahan masa lalu yang kembali menghantuinya.

Rohaya berusaha menenangkan luka lama yang kembali terbuka.

Sementara di lantai atas, Laura duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong.

Arka yang sedari tadi memperhatikan, mulai merasa ada yang berbeda dari istrinya.

Ia menatap istrinya dalam diam.

Entah hanya perasaannya atau memang benar, tetapi ia merasa Laura sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

Namun Arka memilih tidak bertanya malam itu. Ia tahu Laura akan bercerita jika sudah siap.

Meski begitu, perasaan tidak tenang tetap mengusik pikirannya.

Arka pun duduk disamping istrinya dan menggenggam tangannya. "kamu kenapa? kok diam saja dari tadi?" Laura menatap Arka dengan tersenyum pelan

"aku hanya memikirkan perasaan ibu, kasian juga ya jadi ibu. saat hamil, dia terpaksa pergi keluar kota untuk mencari ayah dan ternyata ayah sedang selingkuh" air mata Laura mengalir lagi

Tapi sebenarnya Laura bukan soal memikirkan itu, ia memikirkan tentang masalahnya tadi siang. Ia ingin bercerita ke suaminya tapi ia tidak tau harus mulai dari mana

Bersambung....

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. semangat terus.

btw saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel. tinggal tekan profile, terima kasih /Grin/
Kim Borahae: nicee
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!