Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damien Knox's Plan
Lorong rumah sakit semakin ramai. Suara langkah tergesa mulai memenuhi lantai ICU. Beberapa wartawan bahkan sudah terlihat di area lobi bawah, setelah berita kecelakaan Julian Hayes menyebar ke mana mana. Nama pria itu terus muncul di layar televisi rumah sakit bersama foto mobil hangus yang kini memenuhi seluruh media nasional. Namun anehnya, di tengah semua kekacauan itu, Damien tetap terlihat tenang. Seolah pria itu memang sudah mengetahui bagaimana malam ini akan berjalan.
Damien berdiri perlahan dari kursinya lalu menggenggam tangan Serena.
“Ayo ikut denganku.”
Serena langsung menatapnya ragu. “Damien...”
“Kita tidak punya banyak waktu.” Nada suaranya rendah. Tidak keras. Namun cukup untuk membuat Serena berdiri tanpa sadar.
Pria itu menggiring Serena melewati lorong belakang rumah sakit yang jauh lebih sepi. Langkahnya cepat tetapi tetap tenang, satu tangannya terus berada di punggung Serena seolah takut perempuan itu akan runtuh kapan saja. Dan Serena mulai sadar sesuatu. Tidak ada satu pun staff rumah sakit yang menghentikan Damien. Justru mereka terlihat mengenalnya. Beberapa dokter membungkuk kecil saat pria itu lewat. Seorang kepala perawat bahkan buru buru membuka akses pintu privat tanpa perlu diminta dua kali.
Jantung Serena perlahan mulai berdetak tidak nyaman. Damien terlalu mudah mengendalikan semuanya.
Mereka akhirnya masuk ke sebuah ruang VIP di lantai atas rumah sakit. Ruangan itu jauh lebih sunyi dibanding area utama. Lampunya redup, dipenuhi aroma antiseptik samar dan suara mesin pendingin udara yang monoton.
Begitu pintu tertutup, Serena langsung menarik tangannya dari genggaman Damien.
“Aku tidak bisa melakukan ini.” Napas Serena mulai tidak teratur lagi. “Aku benar benar tidak bisa.”
Damien memperhatikannya beberapa detik tanpa bicara. Tatapannya terlalu tenang. Lalu pria itu berjalan mendekat perlahan sampai berdiri tepat di depan Serena.
“Kau takut.”
“Tentu saja aku takut.” Suara Serena bergetar sekarang. “Kita sedang membuat satu dunia percaya kalau Julian mati.”
“Tidak.” Damien menggeleng pelan. “Kita sedang menyelamatkannya.”
“Kau bahkan sudah menyiapkan semuanya sebelum aku setuju, bukan?”
Untuk pertama kalinya malam itu, Damien terdiam. Dan keheningan kecil itu sudah cukup menjadi jawaban.
Serena langsung mundur satu langkah. “Kau...” bisiknya lirih. “Kau memang sudah merencanakan ini.”
Damien mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengangkat tangan dan membelai wajah Serena lembut sekali.
“Kau pikir aku akan membiarkan laki laki itu benar benar mati malam ini?”
Sentuhan hangat itu justru membuat mata Serena terasa panas. Karena Damien terdengar tulus.
“Kau tidak mengerti,” lanjut pria itu rendah. “Begitu keluarga Julian datang, semuanya selesai. Mereka akan membawanya kembali ke kehidupan yang sama. Media akan mengikutinya ke mana-mana. Claire akan tetap menikah dengannya walaupun ia tidak mencintainya.”
“Dan aku?” Tatapan Damien berubah samar. “Aku bisa saja kehilanganmu lagi,” lanjut pria itu lirih.
Dan Serena membenci bagaimana dadanya tetap bereaksi mendengar suara Damien yang terdengar nyaris rapuh. Pria itu mendekat lagi lalu menangkup wajah Serena perlahan dengan kedua tangannya.
“Aku sedang memberimu jalan keluar.” Tatapannya turun lurus ke mata Serena. “Percayalah sekali lagi padaku.”
Napas Serena tercekat. Karena Damien selalu seperti ini. Ia mampu membuat sesuatu yang salah terdengar seperti cinta.
Ponsel Damien tiba tiba bergetar. Pria itu tidak melepaskan tatapannya dari Serena saat menjawab panggilan tersebut.
“Ya.”
Suara laki laki terdengar samar dari seberang sana.
“Jet sudah siap, sir.”
“Dokternya?”
“Sudah menunggu di bandara.”
Damien mengangguk kecil. “Bagus.”
Serena langsung membeku.
Jet. Dokter. Bandara. Semuanya sudah disiapkan. Dan Damien bahkan tidak terlihat panik sedikit pun.
Pria itu memutus sambungan lalu kembali menatap Serena dengan tenang.
“Kita harus pergi sekarang.”
“Kau benar benar gila!”
Damien tersenyum miring. “Mungkin.”
Namun pria itu tetap terlihat sangat tenang saat mengatakannya. Seolah kegilaan ini hanyalah keputusan logis yang sudah dipikirkannya sejak lama.
Pintu ruangan tiba tiba terbuka. Seorang dokter berjas gelap masuk bersama dua perawat laki laki.
“Mereka sudah siap memindahkan pasien, Mr. Knox.”
Jantung Serena langsung berdetak semakin keras.
Damien mengangguk kecil sebelum akhirnya menoleh ke arah Serena.
“Mau melihatnya?”
Serena tidak langsung menjawab. Namun beberapa detik kemudian, perempuan itu tetap mengikuti Damien keluar ruangan. Mereka berjalan menuju lorong ICU privat yang jauh lebih sepi. Lampunya putih pucat, terlalu terang, membuat semua orang terlihat lebih dingin dan tidak manusiawi.
Dan di ujung lorong itu, Serena akhirnya melihat Julian. Tubuh pria itu terbaring diam di atas ranjang medis dengan berbagai alat terpasang di sekelilingnya. Kepalanya diperban, sebagian wajahnya dipenuhi luka dan memar gelap. Napasnya dibantu alat ventilator, sementara suara monitor jantung berdetak stabil memenuhi ruangan sunyi itu.
Serena langsung berhenti berjalan. Dadanya terasa diremas keras. Karena ini bukan lagi Julian yang tadi duduk tersenyum hangat di hadapannya. Pria itu terlihat rapuh sekali sekarang. Nyaris tidak dikenali.
“Ya Tuhan...” suara Serena pecah begitu saja.
Damien berdiri diam di belakangnya. Tatapannya bergerak pelan memperhatikan reaksi Serena sebelum akhirnya pria itu mendekat dan memeluk tubuh perempuan tersebut dari belakang.
“Dia masih hidup,” bisiknya rendah di dekat telinga Serena. “Dan aku bisa memastikan dia tetap hidup.”
Air mata Serena langsung jatuh lagi. “Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini.”
“Kau tidak meninggalkannya.” Damien memeluk Serena sedikit lebih erat. “Kau pergi bersamanya.”
Kalimat itu membuat Serena menoleh perlahan.
Dan untuk sepersekian detik, Damien terlihat hampir seperti penyelamat. Hampir. Sebelum kemudian Serena melihat sesuatu yang lain di mata pria itu. Kepastian. Damien sudah memutuskan semuanya sejak awal.
Pria itu mengusap pipi Serena perlahan lalu menunduk sedikit sampai dahi mereka hampir bersentuhan.
“Aku akan mengurus semuanya.” Suaranya sangat lembut sekarang. “Kau hanya perlu tetap berada di sisiku malam ini.”
Dan Serena membenci dirinya sendiri karena tetap merasa aman mendengar itu.
Beberapa menit kemudian, Julian mulai dipindahkan ke ranjang ambulans melalui akses belakang rumah sakit.
Hujan masih turun deras di luar. Lampu merah biru memantul di jalanan basah, sementara para petugas bergerak cepat di bawah payung hitam besar.
Damien menggenggam tangan Serena saat mereka berjalan menuju ambulans. Kota ini terlihat samar di kejauhan. Saat pintu ambulans akhirnya tertutup perlahan di belakang mereka, Serena tiba tiba sadar satu hal mengerikan.
Hidupnya baru saja berubah selamanya, hanya dalam satu malam.
...----------------...
......To be continue......