Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
INI BUKTINYA!!
Bukti transaksi pribadi antara pengacara lawan, Rina Wijaya, dan dokter Hari Darsono!
Sebagai seorang psikiater, tentu saja sangat mudah bagi Hari untuk mengeluarkan surat keterangan gangguan jiwa atau depresi berat. Di zaman sekarang, isu kesehatan mental sedang ramai dibicarakan, jadi siapa pun bisa dengan mudah mengaku sakit jiwa untuk lepas dari tanggung jawab.
Dan bukti yang dilayangkan Arga bagaikan bom nuklir yang meledak seketika!
Siaran langsung yang ditonton ribuan orang langsung heboh! Komentar-komentar berjejalan membanjiri layar.
[APA?? SERIUS??]
[GILA! JADI DEPRESINYA PALSU SEMUA?!]
[BISA GITU YA CARANYA? SURAT DOKTER BISA DIBELI GITU AJA?]
[JAHAT BANGET! JADI LARAS SAMA TANIA ITU CUMA BERAKTING YA? MEREKA YANG REKAM ORANG, TERUS NUDUH ORANG REKAM MEREKA, BIKIN THREAD FITNAH, PAS UDAH KETAHANAN LEMAH, LANGSUNG PAKE ALASAN SAKIT JIWA. JIJIK BANGET SI!]
[MEREKA HARUS DIHUKUM! GAK BISA DIAM AJA INI!]
[EMANG BOLEH ADA DOKTER KAYA GINI? KELUARIN SURAT PASTU SEMBARANGAN? BUDAK!]
Melihat suasana sudah mendukung, Arga kembali mengambil alih perhatian. Wajahnya dingin dan tegas saat bersuara lantang.
"Saya menuntut hukuman berat untuk Pengacara Rina Wijaya! Masukkan dia ke penjara! Dan cabut izin advokatnya SEUMUR HIDUP! Dunia hukum tidak butuh orang yang memanipulasi keadilan seperti dia!"
"Saya juga menuntut hal yang sama untuk Dokter Hari Darsono! Sebagai tenaga medis, dia mengeluarkan surat keterangan dengan semena-mena. Bayangkan kalau ini dibiarkan? Besok-besok ada orang mau membunuh, tinggal minta surat sakit jiwa, terus lepas dari hukuman? Berbahaya sekali! Saya minta lisensinya dicabut permanen dan dia diproses hukum sesuai pasal yang berlaku!"
Sesaat setelah Arga selesai bicara, antusiasme penonton livestream memuncak.
[PUAS BANGET BACOTNYA! 🔥🔥]
[ARGA BOS! GOKIL BISA NEMU BUKTI SEKUAT INI!]
[MASUK PENJARA KALIAN SEMUA!]
[EMANG BOLEH ORANG KAYA GITU JADI PENGACARA? JADI DOKTER? NGELUARIN SURAT SESUKA HATI?]
[TAANGKAP HARI DARSONO!]
[JAHANAM KALIAN BERDUA! RINA WIJAYA SAMA DOKTER ITU SAMPAH MASYARAKAT!]
[GAK AKAN PUAS KALO GAK DIHUKUM BERAT!]
Di ruang sidang, suasana menjadi mencekam. Hakim Ketua, Santoso, menatap tajam ke arah Rina Wijaya.
"Pengacara dari pihak tergugat, apa ada pembelaan atau sanggahan?"
Sementara itu, panitia pengadilan sedang memverifikasi keaslian bukti yang diajukan Arga.
Wajah Rina Wijaya memerah padam, ia langsung membantah dengan nada tinggi, "Yang Mulia, video itu palsu! Itu ilegal! Hak apa Arga merekam pembicaraan pribadi kami?! Dia sudah melanggar berat hak privasi saya! Saya laporkan Arga sudah memasang alat sadap dan kamera tersembunyi di hotel! Saya minta Yang Mulia menghukum dia berat!"
Rina benar-benar sudah panik bukan main. Jantungnya rasanya mau copot saat melihat video itu diputar ulang.
Gimana bisa ketemu? Gimana bisa terekam?
Pikirannya kacau balau. Dia tahu, kalau dia mengakui ini, habis sudah segalanya. Kariernya hancur, izin dicabut, dan yang paling parah... dia pasti masuk bui.
Membuat dan menggunakan bukti palsu di pengadilan, apalagi dia seorang ahli hukum yang tahu aturan, hukumannya pasti makin berat.
Padahal awalnya rencananya manis. Sejak awal kasus ini bergulir, Rina memang sengaja menemui Hari. Dia meminta dibuatkan surat keterangan depresi berat untuk Laras dan Tania.
Mereka berniat memainkan kartu korban. Karena di media sosial banyak yang menyerang kedua gadis itu, mereka pikir dengan surat dokter ini, mereka bisa dapat simpati publik, memojokkan Bimo, dan lepas bebas dari segala tuntutan hukum.
Siapa sangka ujung-ujungnya malah jadi boomerang buat diri sendiri?
Rina mengira rencananya sempurna. Lagipula depresi kan penyakit yang "abstrak", gampang dimanipulasi. Banyak orang mengalaminya, jadi bikin suratnya juga gampang.
Tapi dia lupa satu hal... Arga itu bukan lawan main yang biasa.
Mana mungkin Arga bisa nemu video itu? Padahal kan di kamar hotel...
Hakim Santoso menoleh ke arah tim forensik digital.
"Sudah diverifikasi?"
"Sudah, Yang Mulia. Video tersebut asli, tidak ada rekayasa atau editing."
Habis sudah. Putusan sudah terlihat jelas di depan mata.
Arga tersenyum tipis, lalu menimpali, "Mohon maaf, saya tegaskan sekali lagi. Video ini bukan saya yang rekam, bukan juga saya yang pasang kameranya. Saya hanya menemukannya di dunia maya dan menyerahkannya sebagai bukti. Jika Bu Rina merasa dirugikan soal privasi di hotel, silakan tuntut pihak hotelnya, bukan saya."
Wajah Rina Wijaya langsung pucat pasi, seputih kertas. Tangannya gemetar hebat.
Selesai. Kali ini beneran selesai.
Bukti mutlak sudah ada di tangan. Mereka tidak hanya gagal menjebak Bimo, tapi malah menyeret diri sendiri ke dalam lubang.
Bukti sah, saksi ada. Game over.
Tidak butuh waktu lama, petugas kepolisian yang berjaga langsung melangkah maju dan memborgol tangan Dokter Hari Darsono.
Dokter yang tega menjual surat keterangan medis itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pihak rumah sakit tempat dia bekerja juga sudah mengeluarkan surat keputusan lisensi praktik dicabut secepat kilat.
Hari terbukti menerima suap dan menerbitkan dokumen palsu. Hukumannya minimal tiga tahun penjara!
Di ruang sidang, keputusan diambil dengan cepat karena buktinya sangat kuat dan jelas.
"Hakim menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa Hari Darsono, pidana penjara selama 3 tahun, dan dicabut segala izin praktik kedokteran secara permanen," ujar Hakim Santoso tegas.
Sedangkan untuk Rina Wijaya, masih perlu proses penyelidikan lebih lanjut untuk menjatuhkan vonis.
"Sidang ditunda. Sidang akan dilanjutkan kembali dalam waktu dua jam," putus Hakim.
Di sisi lain, Laras dan Tania sudah gemetar ketakutan. Wajah mereka pucat melihat realita yang terjadi.
"Kak Rina... gimana ini? Kita bakal masuk penjara nggak, Kak?" tanya Laras dengan suara terbata-bata, matanya sudah berkaca-kaca.
Tania juga tampak bingung setengah mati. Awalnya mereka pikir mereka bakal menang, bakal lepas begitu saja.
Tapi nyatanya? Pengacara mereka sendiri bakal ditangkap!
Kalau Rina masuk penjara, siapa yang bakal membela mereka? Arga sepertinya memang berniat menghancurkan hidup mereka sampai ke akar-akarnya.
Bayangan masa depan mulai meneror pikiran mereka. Kalau sampai punya catatan kriminal dan masuk penjara, hidup mereka hancur lebur. Nggak bakal bisa kerja di tempat bagus, nggak bisa kuliah di universitas ternama, siapa juga yang mau mau menikah dengan orang yang pernah tinggal di jeruji besi?
"Kak Rina... tolongin kami, Kak. Jangan biarin kami masuk penjara," rengek Laras sambil menarik-narik lengan baju Rina.
Namun Rina Wijaya hanya bisa diam terpaku. Wajahnya lesu, tak berdaya.
Kalau saja dia tidak mau ambisius mengambil kasus ini, mungkin dia masih aman-aman saja. Sekarang? Dia ikut terseret dan pasti akan dihukum juga.
Semua karena pengacara muda bernama Arga itu.
Bukannya dia cuma pengacara magang? Kok bisa sehebat ini melawan saya?
Hanya dengan beberapa langkah cerdas, Arga sudah menyajikan bukti mematikan yang siap mengirimnya masuk ke dalam sel.
Rina menutup matanya perlahan. Dia sadar... kariernya sudah tamat hari ini.
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭